Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
Kenapa Menyebut Nama Rubby?


__ADS_3

"Kau bercanda, Arya? Kau sudah punya kekasih, mana mungkin menikahi wanita lain." Kata Bara di sela tawanya.


"Kau tidak percaya? Tanyakan saja pada Rubby." Sahut Arya dengan tenangnya. Tawa Bara langsung terhenti, ia kembali mengalihkan pandangannya Rubby.


"Apa benar yang di katakan Arya kalau kalian sudah menikah?" Tanyanya. Rubby memandang sejenak ke arah suaminya, kemudian mengangguk.


"Iya, Tuan. Aku sudah menikah dengan Mas Firaz." Jawab Rubby, Bara menganga tak percaya mendengarnya. Dan apa tadi? Rubby memanggil Arya dengan sebutan Mas bukan Tuan seperti dirinya.


"Jadi kalian sudah menikah? Bagaiman bisa? Bukannya kalian juga baru saling mengenal?"


Bara bangkit dari duduknya, kenyataan yang baru di terimanya benar-benar sukar untuk di percaya.


Wanita yang selama ini dicintainya nyatanya sudah menikah dengan sahabatnya sendiri.


"Takdir yang sudah menjodohkan kami." Rubby menjawab.


Arya ikut bangun dari duduknya, ia memandang simpati pada Bara.


"Maaf, Bara. Bukan maksudku untuk mengecewakanmu. Tapi memang kenyataannya aku sudah menikah dengan Rubby, dan ku harap kau bisa menerimanya. Aku juga tidak tahu jika kau sudah menaruh perasaan lama pada Rubby. Tapi Rubby adalah istriku sekarang, ku harap kau bisa mengerti dan tidak berharap pada Rubby lagi. Aku yakin, suatu hari nanti kau akan menemukan wanita yang terbaik untuk jadi pendampingmu." Ujar Arya mencoba memberi pengertian pada sahabatnya itu. Tapi hanya ada sorot kecewa di mata Bara.


"Sekali lagi, aku minta maaf." Imbuhnya. Arya mengulurkan tangannya pada Rubby.


"Ayo Rubby, kita pulang." Rubby menyambut uluran tangan Arya.


"Iya, Mas." Rubby bangun dari duduknya.


"Tuan Bara, aku minta maaf kalau sudah mengecewakanmu. Aku permisi." Pamitnya.


Bara hanya bisa menatap nanar punggung Rubby yang menjauh, dilihatnya mereka memasuki mobil Arya yang terparkir tak jauh dari sana.


"Mereka sungguh sudah menikah?" Gumamnya yang masih belum bisa percaya. Sudah beberapa hari ini ia merencanakan untuk melamar Rubby, berbagai persiapan telah ia siapkan jika nanti Rubby menerima lamarannya. Tapi kini semuanya sia-sia belaka. Arya sudah lebih dulu menikahi gadis itu.


"Arya Firaz... Kau tega sekali melakukan ini padaku, kau sudah merebut wanita impianku." Bara menggeram. Terlihat kilat amarah di matanya yang sudah memerah.

__ADS_1


Jemari Rubby saling bertaut, sambil menggigit bibir bawahnya ia mencuri-curi pandang ke arah Arya yang tengah fokus mengemudi. Sedari tadi perjalanan mereka hanya di isi dengan keheningan.


"Apa Mas Firaz marah karena Tuan Bara tadi tiba-tiba saja melamarku?" Batin Rubby.


"Tapi aku kan tidak tahu kalau Tuan Bara akan melakukan itu." Rubby sibuk dengan fikirannya sendiri.


"Rubby..." Panggil Arya, Rubby langsung menoleh. Akhirnya suaminya itu bersuara juga.


"Ada apa, Mas?" Tanyanya.


"Bagaimana rasanya di lamar oleh seseorang yang mencintai kita?" Tanya Arya, tapi pandangannya tetap lurus ke depan. Lidah Rubby mendadak kelu, apa suaminya sedang membalas dendam atas pertanyaannya beberapa hari yang lalu?


"Pasti rasanya bahagia bercampur haru. Apalagi dia membawa cincin yang bentuknya sangat indah. Tidak sepertiku, aku melamarmu tanpa membawa apa-apa." Lanjut Arya dengan datarnya. Memang saat melamar Rubby Arya tidak membawa apa-apa karena semuanya serba mendadak dan niat mereka juga untuk melamar Intan.


Rubby kembali menggigit bibir bawahnya, kata-kata Arya terkesan menyindir baginya.


"Apa Mas Firaz sedang balas dendam padaku atas pertanyaanku kemarin?" Rubby memberanikan diri untuk bertanya.


"Tidak, tapi memang kenyataan seperti itu." Jawab Arya. Dan keheningan kembali menyelimuti perjalanan pulang mereka.


Malam harinya.


Seorang pria nampak berjalan seorang diri. Langkahnya gontai, pandangannya terlihat kosong. Ia berjalan sempoyongan, kakinya kemudian melangkah memutar hendak menyebrang jalan. Namun karena tak fokus, ia tak menyadari sebuah mobil yang sudah mendekat dari arah berlawanan.


TIIINNN!!!


Suara klakson terdengar cukup keras, karena sang pengemudi mobil terkejut tiba-tiba saja ada orang yang melintas di depannya. Untungnya dia sempat menginjak rem. Pengemudi mobil itu keluar dari mobilnya karena merasa tak asing dengan orang aneh yang nyaris ditabraknya tadi.


"Bara?" Mega menganga tak percaya melihat Bara tengah berdiri di depan mobilnya dengan penampilan yang begitu berantakan. Rambutnya acak-acakan, kancing kemejanya sebagian terbuka dan begitu kusut.


"Bara, kau kenapa?" Mega memegang kedua lengan pria itu.


"Lepas..." Bara berusaha menyingkirkan tangan Mega, tapi rasanya tenaganya sudah tak ada.

__ADS_1


"Kau mabuk?" Tanya Mega yang mencium bau alkohol menguar dari mulut Bara.


"Mabuk? Aku bukan mabuk, tapi aku patah hati... Hahaha...." Bara tertawa keras, kemudian jatuh terduduk di atas aspal. Mega memandang aneh pada temannya itu. Karena setahunya baik Bara, Arya maupun Indra mereka bertiga adalah pria baik-baik dan tidak mengkonsumsi alkohol.


"Bara, kau ini kenapa? Kenapa bisa sampai mabuk seperti ini?" Mega berjongkok di hadapan Bara. Tapi lelaki itu tak menjawab, hanya badannya yang bergerak ke kiri dan kanan. Mega menatapnya gemas, kemudian melihat keadaan sekelilingnya. Jalanan nampak sepi dan gelap. Tak ada mobil lain yang melintas.


"Ck, kau menyusahkanku saja!" Mega berdecak, ingin meninggalkan lelaki itu tapi tak tega karena ingat Bara adalah temannya.


Mega akhirnya mencoba membangunkan Bara dan memasukkannya ke dalam mobilnya. Dengan terpaksa Mega membawa Bara bersamanya, tidak mungkin juga meninggalkan di tengah jalan seperti ini.


"Rubby..." Terdengar erangan kecil dari Bara yang terbaring di kursi penumpang.


"Rubby?" Mega menoleh sejenak ke belakang, Bara masih terbaring sambil memejamkan matanya.


"Kenapa Bara menyebut nama Rubby? Rubby mana yang Bara maksud?" Mega bertanya-tanya dalam hati.


"Akh, itu tidak penting. Sebaiknya aku pergi dulu dari sini." Mega kembali melajukan mobilnya membelah jalanan yang sunyi dan gelap.


Akhirnya mereka sampai di tempat tujuan, dengan meminta bantuan satpam Mega membawa Bara ke apartemennya.Tubuh Bara kini terbaring di sofa ruang tamu, Mega masih berdiri di sampingnya.


"Rubby..." Lagi, Bara menyebut nama Rubby. Mega mendekat ke arahnya.


"Bara, sadarlah!" Mega mengguncang bahu Bara, tapi pria itu masih saja terpejam.


"Rubby, aku mencintaimu..."


Mega tersentak, Rubby mana sebenarnya yang Bara maksud? Tadi Bara juga mengatakan kalau dirinya sedang patah hati, apa yang sebenarnya terjadi? Apa hubungannya dengan Rubby?


Tak lama terdengar hembusan nafas teratur dari Bara, menandakan pria itu sudah tertidur.


"Sebenarnya Bara kenapa? Kenapa terus menyebut nama Rubby? Rubby mana di maksudnya? Apa Rubby wanita kampungan itu? Apa mereka saling mengenal?" Batin Mega bertanya-tanya.


Mega memandang Bara yang sudah terlelap di sofa.

__ADS_1


"Andai saja kau Arya, pasti tubuhmu sudah ku acak-acak." Celetuk Mega, kemudian pergi meninggalkan Bara seorang diri di ruang tamunya.


*****


__ADS_2