Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
CDS 108


__ADS_3

Arya langsung menatap datar istrinya. Apa katanya tadi? Dia sudah tidak tampan hanya gara-gara pintu? Dan ini semua karena Andika, awas saja adiknya itu!


Rubby yang memperhatikan perubahan wajah suaminya langsung tertawa.


"Aku hanya bercanda, Mas. Tidak usah cemberut begitu." Jemari Rubby mengusap-usap pipi Arya.


Cup.


Di kecupnya sebelah pipi suaminya agar tidak cemberut lagi.


"Di sini juga." Arya menunjuk sebelah pipinya. Dan Rubby patuh, satu kecupan mendarat lagi di pipi Arya.


Cup.


Sudut kedua bibir pria itu terangkat membentuk senyuman.


"Ayo makan, Mas. Aku sudah bawakan makan siang untukmu." Rubby menyiapkan makanan yang tadi di bawanya. Di ruangan itu sudah tersedia peralatan makan, dan juga westafel jadi Rubby tidak perlu keluar dari sana.


Wanita berhijab itu duduk di samping suaminya.


"Mau ku suapi?" Tawar Rubby, Arya langsung mengangguk. Kapan lagi bisa bermanjaan dengan istrinya? Sedangkan di rumah, Mama Dewi selalu menggodanya jika ia manja pada Rubby sedikit saja.


"Kau sudah makan?" Tanya Arya.


"Sudah, Mas." Dengan telaten Rubby mulai menyuapi suaminya.


"Rubby, kenapa kau sampainya cepat sekali?" Tanya Arya yang baru sadar, tadi rasanya belum lama Rubby menelepon dirinya.


"Tadi aku mengantarkan pesanan di dekat sini, Mas." Jawab Rubby.


Tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Arya fokus pada makan siangnya, dan Rubby fokus menyuapi suaminya, sambil sesekali menyeka bibir Arya.


"Bukankah aku sangat beruntung memiliki istri seperti Rubby? Dan tidak ada alasan bagiku untuk berpaling darinya." Arya tersenyum dalam hati.

__ADS_1


Setelah beberapa menit, makanan di piring itupun tandas tak bersisa.


"Aku cuci ini dulu ya, Mas." Rubby beranjak dari sana, Arya mengikutinya.


"Kau akan kembali ke toko kue?" Tanya Arya sambil melingkarkan tangannya di pinggang ramping istrinya.


"Ya, tentu saja. Masih ada pekerjaanku yang belum selesai." Jawab Rubby.


"Hm, ku kira kau akan tetap di sini." Ucap Arya.


"Jangan nakal, Mas!" Seru Rubby saat merasakan tangan Arya beranjak naik.


"Aku hanya ingin menyentuhnya." Sahut Arya dengan entengnya.


"Kita masih bisa berduaan di rumah nanti." Sahut Rubby yang sudah menyelesaikan acara cuci piringnya.


"Oh ya, Mas. Aku punya seorang teman baru." Rubby berbalik hingga keduanya saling berdiri berhadapan. Arya melepaskan pelukannya.


"Teman? Lelaki atau perempuan?" Tanya Arya dengan tatapan menyelidik.


"Indah? Kau kenal di mana?" Tanyanya lagi.


"Di toko kue. Sebenarnya dia datang dari kemarin, tapi sebelumnya sikapnya lumayan jutek. Tapi tadi dia berubah ramah, dan mengajakku berteman." Rubby menjelaskan.


"Oh iya, dia membeli cake red velvet. Dia bilang untuk lelaki yang di sukainya." Lanjut Rubby, wajah Arya seketika berubah. Tidak salah lagi, yang dinmaksud istrinya pasti Indah yang sama.


"Jadi benar Indah menyukaiku?" Batin Arya.


"Kau tahu, Mas? Indah sangat cantik, dan lelaki itu sungguh beruntung di sukai gadis secantik Indah." Ujar Rubby lagi, tapi Arya malah terdiam.


"Apa kau akan tetap merasa seperti itu jika kau tahu pria yang di maksud Indah adalah suamimu sendiri?" Tanya Arya tapi hanya dalam hati. Apa ia harus mengatakan hal itu pada Rubby?


"Mas kenapa diam?" Tanya Rubby menyadarkan Arya dari lamunannya.

__ADS_1


"Em, Rubby. Sebaiknya kau jangan terlalu dekat dengan orang asing." Ucap Arya kemudian.


"Orang asing? Tapi sepertinya Indah gadis yang baik." Sahut Rubby.


"Jangan tertipu dengan penampilan seseorang, Rubby." Arya menasehati. Rubby hanya bisa mengangguk patuh.


"Baiklah." Jawabnya. Ia mengalihkan pandangannya pada jam yang terpasang di dinding.


"Mas, sepertinya aku harus kembali ke toko sekarang." Ujar Rubby.


"Mau ku antar?" Tawar Arya.


"Tidak perlu, Mas. Aku kan bawa motor." Sahut Rubby.


"Ya sudah, aku antar ke sampai parkiran saja."


Arya menggandeng tangan Rubby hingga ke parkiran. Rubby memakai helmnya, dan menghidupkan mesin motor maticnya. Sebelum pergi, seperti biasa ia mengadahkan tangan dan mencium punggung tangan suaminya.


"Hati-hati di jalan. Kalau berhenti, jangan terlalu ke tengah. Takutnya ada motor yang menyerempet, dan kau bisa jatuh cinta pada penolongmu." Ucap Arya dengan cepat, Rubby terdiam mendengarnya, Apa yang di katakan suaminya?


"Mas bilang apa tadi?" Tanyanya, karena tadi memang ucapan Arya tidak terlalu jelas. Apalagi Arya mengatakannya dengan cepat.


"Aku bilang, hati-hati di jalan, Rubby." Jawab Arya, tapi Rubby terlihat ragu.


"Bukan yang itu, aku masih dengar saat Mas mengatakannya. Setelah Mas bilang hati-hati di jalan, Mas bilang apa lagi?" Tanya Rubby penasaran.


"Ck, aku hanya bilang hati-hati saja." Arya berdecak, tapi ia menahan tawanya. Rubby terlihat berfikir.


"Ini sudah siang Rubby, kau bilang tadi masih ada pekerjaan?" Tanya Arya, membubarkan lamunan istrinya.


"Iya, aku pergi dulu. Assalamuala'ikum."


"Waalaikumsalam."

__ADS_1


*****


JANGAN LUPA LIKENYA YA, UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊


__ADS_2