Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
Mimpi Indah


__ADS_3

Arya menatap dalam istrinya yang terlihat menundukkan wajahnya.


"Tadi lenganku gatal, Mas. Jadi aku garuk dan malah jadi merah begini." Jawab Rubby tanpa menatap mata suaminya.


"Kau jangan bohong." Ucap Arya membuat Rubby mengangkat wajahnya. Kenapa suaminya bisa tahu ia berbohong?


"Ti.. Tidak Mas." Jawabnya terputus sambil menepis tangan Arya yang masih memegang lengannya.


"Jawab yang jujur, Rubby." Suara Arya berubah datar begitupun dengan tatapannya. Terlihat kebingungan di mata Rubby.


"Ini... Ini karena... Tadi pagi...." Rubby tak melanjutkan ucapannya.


"Tadi pagi?" Ulang Arya. Terlihat Rubby menggigit bibir bawahnya.


"Tadi pagi Mas mencengkram lenganku..." Jawab Rubby begitu pelan, akhirnya ia memilih jujur daripada suaminya mengintrogasinya terus.


Wajah Arya kontan berubah, ia kemudian ingat tadi pagi dirinya sudah emosi pada istrinya karena gambar sketsa itu. Tak di sangka, ternyata ia sendiri yang sudah menyakiti istrinya.


Arya mengusap wajahnya, sambil menghela nafas berat.


"Maaf aku tak sengaja menyakitimu. Aku tidak sadar sudah mencengkram lenganmu..." Ucapnya dengan raut wajah bersalah.


"Tidak apa-apa, Mas." Jawab Rubby dengan senyum di wajahnya.


"Apa masih sakit?" Tanya Arya kembali. Rubby menggeleng pelan.


"Tidak, Mas...." Jawabnya. Memang lengannya sudah tak terasa sakit, tapi sayangnya bekas itu masih tertinggal.


"Duduklah..." Arya memaksa Rubby untuk duduk kembali, sedangkan dirinya beranjak dari sana dan mengambil sesuatu di kotak obat yang terletak di laci meja.


"Mas tidak perlu..." Rubby mencoba menolak.


"Diamlah, Rubby." Tukas Arya.


Dengan lembut Arya mengoleskan salep di lengan Rubby. Rubby hanya diam sambil terus memandangi suaminya. Ini pertama kalinya Arya memberi perhatian lebih padanya.


"Mas Firaz... Andai Mas Firaz perhatian seperti ini padaku setiap hari..." Lirih Rubby dalam hati.


"Sudah." Arya kembali menutup salep itu begitu selesai. Pandangan keduanya bertemu, dan mereka saling bertatapan. Arya melihat sorot sendu di mata Rubby. Apa istrinya itu sedih karena ia telah menyakitinya?


Tentu saja. Bodoh sekali dia. Mana ada istri yang tidak sedih jika suaminya sudah menyakitinya.


"Sekali lagi aku minta maaf." Ucapnya pelan. Lelaki itu benar-benar merasa bersalah.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Mas." Rubby tersenyum tipis kemudian beranjak bangun.


"Aku tidur dulu ya." Lanjutnya sambil melangkah ke tempat tidur. Membaringkan tubuhnya di sisi tempat tidur dan membalut seluruh tubuhnya dengan selimut. Arya hanya memperhatikannya dari jauh.


Setitik air mata Rubby menetes.


"Apa untuk mendapat perhatianmu, kau harus menyakitiku dulu? Setelah itu kau baru merasa bersalah, akhirnya meminta maaf padaku dan aku mendapat perhatianmu? Kalau memang harus seperti itu, kau boleh terus menyakitiku... Setidaknya setelah itu, kau jadi perhatian terhadapku..."


Rubby menggenggam erat ujung selimutnya, menahan sesak di dadanya. Hubungannya dengan Arya memang sudah membaik. Namun selayaknya seorang istri, ia ingin mendapat perhatian lebih dari seorang suami. Dan selama ini Arya hanya 'sekedar' saja memberi perhatian terhadapnya. Apalagi masih saja ada jarak di antara mereka berdua.


_


_


_


Arya memandangi wajah polos yang tengah terpejam. Terlihat begitu tenang dan damai. Sekarang sudah tengah malam, namun ia masih saja terjaga.


"Kau menyukai seorang pria hingga kau buat gambar wajahnya?"


"Mana mungkin tidak ada pria yang tak menyukaimu, Rubby. Kau ini cantik, kau juga wanita yang mandiri. Dan Mama yakin, kalau sebenarnya di luar sana ada banyak pria yang menyukaimu. Namun mereka takut atau malu untuk mendekatimu."


Kata-kata itu seakan terus terngiang di benak Arya.


Arya terus menatap dalam wajah itu, sampai tak sadar tangannya membelai lembut wajah Rubby dan bibirnya mendarat di kening Rubby. Namun sesaat kemudian Arya tersadar.


"Apa yang ku lakukan?" Ia tersentak, terkejut dengan tindakannya sendiri. Untungnya tak ada reaksi apapun dari Rubby yang begitu terlelap dalam tidurnya.


"Kenapa aku menciumnya?" Arya meraba bibirnya sendiri. Tidak pernah ia mencium wanita manapun sebelumnya, dan hanya Rubby wanita pertama yang di ciumnya. Itupun pada saat dirinya selesai melakukan ijab qobul.


*****


Pagi harinya.


Perasaan bahagia tengah menyelimuti hati Rubby, semalam gadis itu bermimpi indah. Suaminya tengah membelai wajahnya dan juga mencium keningnya. Mimpi yang begitu terasa nyata bagi Rubby.


Walaupun hanya sekedar mimpi, tapi Rubby sudah cukup bahagia. Senyum pun tak lepas dari wajahnya. Berbeda dengan Arya, pria itu terlihat lesu.


"Mas kenapa? Mas sakit?" Tanya Rubby yang melihat suaminya tak bersemangat, wajahnya pun nampak pucat.Semalaman Arya tak dapat tidur karena fikirannya yang bercabang ke mana-mana.


"Aku baik-baik saja. Apa lenganmu masih sakit?" Arya balik bertanya.


"Ini tidak sakit sama sekali, Mas."

__ADS_1


Arya hanya tersenyum mendengarnya.


"Benar Mas tidak apa-apa?" Sekali lagi Rubby bertanya, matanya terus memperhatikan wajah suaminya.


"Iya, Rubby. Ayo kita sarapan." Ajaknya sambil beranjak dari duduknya.


Ketiganya menikmati sarapan bersama. Sesekali Arya memegang kepalanya yang terasa berdenyut. Kurang tidur benar-benar membuat kepalanya sakit.


"Kau kenapa, Arya?" Tanya Mama Dewi yang sedari tadi memperhatikan putranya itu.


"Tidak kenapa-kenapa, Ma." Jawab Arya.


"Kau sakit? Kalau sakit jangan bekerja dulu." Lanjut Mama Dewi.


"Arya baik-baik saja, Ma." Sahut Arya sambil terus melanjutkan makannya walaupun sebenarnya ia sedang tidak selera.


Mama Dewi melirik ke arah menantunya, seolah bertanya melalui tatapannya. Rubby mengangkat bahunya dan menggeleng pelan sebagai jawaban.


Sementara itu di kediaman Ayah Bakti.


Andika sedang memperhatikan penampilannya di depan cermin. Pemuda itu sudah nampak rapi dengan seragam kerjanya. Intan melangkah mendekat dan memeluk tubuh suaminya dari belakang. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang sudah menjadi candu baginya. Andika membalas pelukannya, mengeratkan tangan Intan yang melingkar di pinggangnya. Ia senang jika istrinya manja seperti ini.


"Andika, apa kau tahu..." Tanya Intan tepat di telinganya.


"Tahu apa?" Andika balik bertanya.


"Kak Rubby dan dan Kak Arya..."


"Kenapa dengan para kakak kita?"


Intan menghela nafas panjang, lalu menjawab.


"Mereka belum melakukan malam pertama."


Andika menoleh ke arahnya, membelai lembut rambut istrinya.


"Kau tahu dari mana?" Tanya Andika. Wajah Intan berubah sendu.


"Kemarin aku bertanya pada Kak Rubby, dan..."


"Intan, mungkin bukan hal yang mudah bagi mereka untuk dekat satu sama lain." Andika menyela lebih dulu. Intan melepaskan pelukannya. Andika menangkup wajah mungil istrinya.


"Intan, aku tahu bagaimana kakakku. Kak Arya tidak mudah dekat dengan wanita. Tapi jika dia sudah jatuh cinta, dia akan sangat setia. Kak Arya juga bukan tipe perusak wanita. Ia tak akan menyentuh wanita sebelum jatuh cinta dan mereka memiliki hubungan yang sah." Terangnya.

__ADS_1


__ADS_2