
"Ternyata benar, aku sudah tak penting lagi di mata Mama." Batin Arya, terdengar helaan nafas berat darinya.
"Sudah, Ma. Aku mau ke kamar dulu." Arya berbalik, tapi Mama Dewi malah menarik tangannya.
"Heh, tunggu dulu." Serunya.
"Apalagi, Ma?" Tanya Arya malas.
"Ajak istrimu. Masa mau di tinggal?"
Arya mengalihkan perhatiannya pada Rubby yang sedari tadi diam dan senyum saja menyimak percakapannya dengan mamanya.
"Ayo, Rubby." Ajaknya. Rubby menjawab dengan anggukan. Padahal tanpa perlu di ajak, Rubby juga akan mengikuti langkahnya ke kamar.
"Iya, Mas."
Arya berjalan lebih dulu dengan Rubby yang mengekor di belakangnya. Mama Dewi memperhatikan mereka yang berjalan menjauh, lalu sebuah senyum usil terbit di bibirnya.
* * *
Selesai makan malam, Rubby terlebih dulu kembali ke kamar karena Mama Dewi ingin bicara dengan Arya.
Rubby merapikan kamar itu, kemudian melepas hijab dan kacamatanya dan bersiap untuk tidur. Tapi sesuatu mengalihkan perhatiannya. Nampak ponsel Arya yang terus berkedip namun tak bersuara. Tadi setelah sampai di rumah, Arya menghidupkan kembali ponselnya.
Rubby mendekati ponsel yang tergeletak di atas meja kerja suaminya, tanpa mengambil dari tempatnya Rubby hanya ingin melihat siapa yang menghubungi suaminya. Ada nama Mega di sana.
"Mega? Bukannya Mega mantan kekasih Mas Firaz? Untuk apa ia menelepon Mas Firaz?" Gumam Rubby. Tak lama terlihat beberapa pesan masuk. Pesan dari Mega tentunya.
DEG
Jantung Rubby berdetak lebih kencang melihat pesan Mega yang nampak di layar ponsel itu dan memanggil suaminya dengan sebutan 'Sayang'.
"Apa sebenarnya mereka masih saling berhubungan? Mega masih memanggil Mas Firaz dengan panggilan sayang." Mendadak hati Rubby terasa tercubit. Kalau memang Arya masih menjalin hubungan dengan Mega kenapa juga malah menikahinya? Kenapa ia tidak menikah dengan Mega saja?
Klek, pintu kamar terbuka. Arya masuk ke kamar dengan membawa sebuah paper bag di tangannya. Rubby yang melihatnya langsung beranjak dan kembali ke meja rias. Arya menghampirinya.
"Ini." Arya memberikan paper bag itu pada Rubby.
__ADS_1
"Apa ini, Mas?" Tanya Rubby sambil menerimanya.
"Mama bilang itu baju tidur untukmu. Dan kau di suruh untuk memakainya sekarang." Jawab Arya yang memang tak mengetahui isi dari paper bag itu. Tadi Mama Dewi melarang dirinya untuk melihatnya.
"Oh begitu? Ya sudah aku pakai dulu." Rubby beranjak ke kamar mandi. Sedangkan Arya menuju meja kerjanya.
Sementara itu, Mama Dewi tersenyum penuh arti di dalam kamarnya. Anak dan menantunya pasti menurut saja dengan permintaannya. Keduanya kan masih sama-sama polos.
Tadi siang Mama Dewi sengaja membelikan sesuatu untuk Rubby dan berharap keduanya bisa dekat dan lupa diri. Semoga saja malam ini bisa menjadi malam pertama untuk mereka berdua.
Di kamar Arya...
Arya meraih ponselnya yang terletak di meja kerjanya, dilihatnya ada panggilan tak terjawab dan juga beberapa pesan yang masuk.
Mega lagi, Mega lagi!
Astaga, kenapa wanita itu menghubunginya terus?
Tapi tiba-tiba Arya terdiam sesuatu terlintas di fikirannya, apa tadi Rubby melihat ponselnya? Bagaimana kalau istrinya itu melihat ada nama Mega di sana? Dan juga panggilan sayang?
Sedangkan di kamar mandi...
Sepasang netra Rubby terbelalak melihat isi dari paper bag yang di berikan Arya tadi.
"Pakaian apa ini? Kenapa tipis sekali?" Tangan Rubby mengangkat baju tidur berwarna hitam dan nyaris transparan itu.
"Apa aku harus memakainya? Tadi Mas Firaz mengatakan aku di suruh untuk mengenakan ini..."
Rubby terlihat bimbang, memilih untuk memakai pakaian sexy itu atau tidak.
Tok, Tok, Tok.
Suara ketukan pintu membuat Rubby terkejut.
"Rubby, apa kau sudah selesai? Aku ingin ke kamar mandi." Ucap Arya dari balik pintu.
"I, iya Mas. Sebentar." Sahut Rubby, kemudian ia memilih untuk memakai pakaian itu. Mama Dewi memintanya untuk memakainya bukan?
__ADS_1
Tak lama pintu kamar mandi itu terbuka, namun Rubby tak kunjung keluar. Arya yang bediri di depan pintu merasa heran kemudian melongok ke dalam kamar mandi.
"Rubby...?" Panggilnya. Namun sosok itu tak terlihat. Arya memilih masuk, ternyata istrinya berada di balik pintu.
Lelaki itu membeku melihat penampilan istrinya yang nampak begitu berbeda. Sementara Rubby hanya menunduk menyembunyikan wajahnya.
Mata Arya mengerjap beberapa kali, sebelum akhirnya tersadar.
"Rubby, apa yang kau pakai?" Tanya Arya sambil membuang pandangannya. Padahal tadi ia sudah sempat melihat pemandangan indah itu.
"Ini yang ada di dalam paper bag tadi, Mas." Cicit Rubby. Arya menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan kemudian keluar dari kamar mandi. Ini pasti rencana mamanya. Pantas saja tadi Mama Dewi melarangnya untuk melihat isi dari paper bag itu.
"Rubby keluarlah, aku ingin ke kamar mandi."
Rubby melangkah keluar, dilihatnya Arya yang memalingkan wajahnya. Di rasa Rubby sudah keluar dari sana, Arya langsung masuk ke dalam kamar mandi.
"Mama..." Geramnya sambil menatap pantulan dirinya di cermin yang terpasang di sana. Wajahnya nampak memerah. Arya mencoba meredam gairah yang tiba-tiba datang melingkupinya.
Ini pertama kalinya ia melihat wanita berpakaian sexy secara langsung. Walaupun biasanya Mega berpenampilan sexy, tapi tak seterbuka dan sejelas itu. Dan penampilan sexy Mega tak berdampak apapun padanya, tapi kenapa melihat Rubby malah membuat tubuhnya memanas?
Arya mencuci wajahnya berulang kali, berharap rasa panas itu segera mereda. Jangan sampai ia tak bisa mengendalikan diri dan menerkam Rubby malam ini. Tidak, Arya tidak akan melakukan hal itu. Ia tak ingin menjadikan Rubby sebagai pemuas nafsunya saja.
Sementara itu, Rubby sudah membaringkan tubuhnya di tempat tidur dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Pandangan wanita itu terlihat sendu.
"Mas Firaz tidak mau melihatku, padahal aku sudah berpenampilan sexy seperti ini. Apa aku memang tak menarik sedikitpun di mata suamiku sendiri? Lagipula ternyata Mas Firaz masih menjalin hubungan dengan kekasihnya. Lalu apa artinya pernikahan ini?" Lirihnya.
Perlahan mata Rubby terpejam, memikirkan suami dan pekerjaan ternyata membuatnya cukup lelah. Dan dalam sekejap ia sudah larut di dalam mimpi.
Arya akhirnya dapat keluar dari kamar mandi setelah keadaanya membaik. Dilihatnya Rubby yang sudah tertidur.
"Dia sudah tidur? Syukurlah." Gumamnya. Kemudian Arya membaringkan tubuhnya di samping istrinya dan juga meletakan guling di antara mereka. Rubby terlihat bergerak dalam tidurnya hingga membuat selimutnya tersingkap.
Dengan susah payah Arya menelan salivanya, pemandangan indah itu kembali terlihat di depan matanya.
"Kenapa Rubby masih memakai pakaian itu?" Keluhnya.
Tangan Arya mencoba meraih selimut untuk menutupi tubuh Rubby kembali. Sambil mencoba menekan hasrat untuk menyentuh, akhirnya Arya berhasil menutup kembali tubuh Rubby dengan sempurna.
__ADS_1