Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
Tidak Akan Berpengaruh


__ADS_3

"Apa setelah menalakmu, Arya mau menemuimu? Tidak kan? Arya sudah tidak ingin bertemu denganmu, Arya juga selalu menolak kedatanganmu. Lalu apa yang masih kau harapkan darinya?" Tanya Bunda Maya, Rubby terdiam sejenak. Memang benar yang di katakan Bundanya itu. Tapi entah mengapa, Rubby masih berharap bisa bersatu kembali dengan Arya.


"Temui pria itu dulu, kau bisa menolaknya langsung jika merasa tidak cocok dengannya." Sambung Bunda Maya. Rubby tak menjawab, hanya isakannya yang masih terdengar.


Tok. Tok. Tok. Seseorang kembali mengetuk pintu kamar Rubby.


"Masuk." Sahut Bunda Maya.


"Bunda, Kak Rubby..." Rupanya Intan yang datang.


"Ada apa, Intan?" Tanya Bunda Maya.


"Pria yang mau melamar Kak Rubby sudah datang." Jawab Intan, matanya melirik ke arah Rubby. Kakaknya itu terlihat risau.


"Iya, Intan. Bilang padanya kami akan segera menemuinya." Ucap Bunda Maya yang di jawab anggukan oleh Intan.


"Iya, Bunda. Intan permisi." Ibu muda itu berlalu dari kamar.


"Dia sudah datang. Ayo kita temui dia." Ajak Bunda Maya, namun Rubby tak bergeming.

__ADS_1


"Sebelum bertemu, sebaiknya kita rapikan dulu penampilanmu." Ucap Bunda Maya yang baru menyadari penampilan putrinya yang terlihat berantakan akibat menangis tadi.


"Biarkan seperti ini saja, Bunda. Biar dia tidak tertarik dan langsung pergi begitu melihat Rubby." Celetuk Rubby yang langsung mendapat protes dari Bundanya.


"Tidak boleh seperti ini, Rubby. Bagaimanapun kita harus menyambut tamu kita dengan keadaan yang baik. Sini Bunda rapikan dulu hijab dan riasan wajahmu." Bunda Maya membuka hijab Rubby dan mulai merapikan kembali wajah Rubby yang sudah sangat kusut.


Beberapa saat kemudian, gadis berkacamata itu sudah terlihat cantik kembali.


"Sudah cantik, ayo kita keluar." Ajak Bunda Maya sambil menarik tangan Rubby, mau tak mau Rubby terpaksa mengikutinya.


Semenjak keluar kamar, Rubby terus menunduk dan menyembunyikan wajahnya. Terlihat seorang pria tampan tengah duduk berdua saling berhadapan dengan Ayah Bakti. Sedangkan Intan dan Andika sudah berada di kamar untuk menidurkan bayi mungil mereka, dan Mama Dewi sedang beristirahat di kamar tamu.


"Perkenalkan. Ini Rubby Az Zahra, putri pertama kami." Ayah Bakti mengenalkan Rubby pada pria itu, terlihat pria itu mengangguk pelan. Sementara Rubby masih enggan untuk mengangkat wajahnya. Ia juga tidak tahu bagaimana tampang pria yang di kenalkan padanya. Tapi mau setampan apapun pria itu, tidak akan berpengaruh apapun pada Rubby. Gadis itu sudah memutuskan untuk menolaknya.


"Bagaimana, apa kau merasa cocok dengan Rubby?" Tanya Ayah Bakti, Rubby meraih tangan Ayahnya dan menggenggamnya erat. Seolah protes, kenapa malah langsung menanyakan hal itu.


Lagi, pria itu mengangguk. Namun tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.


"Jadi kau merasa cocok dengan putri kami? Kau akan menikahinya hari ini juga?" Tanya Ayah Bakti lagi. Rubby semakin menggenggam erat tangan Ayah Bakti. Bagaimana bisa Ayahnya langsung mengambil keputusan untuk menikah.

__ADS_1


Pria itu mengangguk lagi sebagai jawaban.


Rubby sebenarnya merasa penasaran kenapa pria di hadapannya itu tak kunjung bicara. Apa pria itu bisu? Namun rasa penolakan di hatinya lebih mendominasi membuatnya enggan untuk sekedar mengangkat wajah.


"Alhamdulillah, kalian bisa menikah hari ini." Ayah Bakti mengucap syukur pun dengan Bunda Maya. Tapi tidak dengan Rubby.


"Ayah, Rubby tidak ingin menikah." Ucap Rubby dengan suara tertahan, ia melepas genggamannya pada Ayah Bakti. Air mata Rubby menetes lagi, dengan cepat ia menghapusnya. Namun Rubby masih menundukkan wajahnya.


"Rubby, dia sudah bersedia menikahimu, dan niat baik seseorang tidak boleh di tolak." Timpal Ayah Bakti. Rubby menggeleng pelan.


"Tidak, Rubby tidak mau." Gadis itu masih tetap pada pendiriannya.


"Rubby, jangan seperti ini. Sebaiknya kau lihat dulu wajah calon suamimu. Mungkin kau akan tertarik setelah melihat wajahnya." Bunda Maya ikut bersuara membujuk putrinya. Tapi lagi-lagi, Rubby menggeleng sebagai jawaban. Tampang tidak akan berpengaruh bagi Rubby.


"Calon suamimu itu tampan, lebih tampan di banding Dokter Malik." Ucap Bunda Maya. Jemari Rubby saling bertaut, kenapa juga jadi bawa-bawa Dokter Malik? Atau jangan-jangan pria itu adalah Dokter Malik yang datang kembali melamarnya?


*****


JANGAN LUPA LIKENYA YA, UNTUK SUPPORT AUTHORNYA YA 😊

__ADS_1


__ADS_2