
"Sekali lagi kami minta maaf. Katakan apa yang harus kami lakukan untuk menebus kesalahan kami pada kalian?" Tanya Bara yang kali ini di iringi anggukkan oleh Mega.
"Ya Arya, Rubby, tolong katakan pada kami. Agar kami tidak merasa terus-terusan merasa bersalah pada kalian." Tambah Mega. Arya menggeleng pelan.
"Apa yang sudah kau lakukan itu sudah sangat cukup untukku. Karena dirimu aku jadi bisa melihat lagi, terima kasih Bara." Jawab Arya dengan tulus.
"Apa maksudmu, Arya?" Tanya Mama Dewi menyela.
"Ma, Bara yang sudah menjadi pendonor untuk Arya. Maka dari itu sekarang Bara yang tidak bisa melihat." Jawab Arya membuat Mama Dewi kembali terbelalak. Jadi selama ini yang menjadi pendonor untuk putranya adalah Bara?
Dulu Dokter Malik memang tidak memberi tahu padanya tentang siapa yang menjadi pendonor, Dokter itu hanya bilang kalau sudah ada donor kornea yang cocok untuk putranya.
"Tidak Arya, yang ku lakukan padamu tidak sebanding dengan rasa sakit yang kau terima." Sahut Bara.
"Bagaimana jika kita perbaiki hubungan kita lagi? Kita tetap menjadi teman seperti dulu?" Tanya Arya.
"Kau masih mau menjadi temanku? Setelah apa yang ku lakukan padamu?" Bara balik bertanya dengan nada tak percaya.
"Tentu, kita lupakan masa lalu kita. Dan mulai semuanya dari awal lagi sebagai teman seperti dulu." Jawab Arya.
"Terima kasih, Arya."
Arya memeluk singkat Bara.
"Rubby... Aku..."
"Kita juga bisa berteman kan?" Rubby menyela lebih dulu sebelum Mega bicara.
"Kau mau jadi temanku?" Tanya Mega ragu.
"Tentu, kita berteman mulai sekarang." Jawab Rubby dengan senyum simpul di wajahnya.
"Terima kasih, Rubby." Kini Mega yang memeluk singkat Rubby. Mega beralih pada Mama Dewi yang masih berada di sana.
"Tante, kami..."
"Hah, sudahlah. Arya dan Rubby juga sudah memaafkan kalian, Tante bisa apa? Tapi satu hal yang Tante minta, tolong jangan lakukan kesalahan seperti dulu lagi." Ucap Mama Dewi dengan serius.
"Tentu, Tante. Kami janji tidak akan melakukan kesalahan seperti dulu lagi." Ucap Mega dan Bara sungguh-sungguh.
"Ya, ya. Tante percaya." Sahut Mama Dewi. Benar kata Arya, tidak ada gunanya juga menyimpan dendam. Yang ada hanya menyakiti hati kita sendiri. Dengan memaafkan orang lain justru membuat hidup kita menjadi lebih tenang.
Perasaan bersalah yang dulu mengganjal di hati Mega dan Bara pun kini sudah tidak ada lagi. Karena mereka sudah saling memaafkan dan bahkan berteman kembali.
__ADS_1
_
_
_
"Rubby, sebaiknya kau jangan pergi ke toko hari ini." Pinta Mama Dewi begitu Mega dan Bara sudah berpamitan dari sana. Padahal Arya dan Rubby sudah hendak berangkat bekerja.
"Kenapa memangnya, Ma?" Arya bertanya.
"Mama pinjam istrimu dulu." Jawab Mama Dewi.
"Mama mau bawa Rubby ke mana?" Tanya Arya lagi.
"Urusan wanita, Arya. Dan pria di larang tahu!" Tukas Mama Dewi.
"Tapi Rubby istriku, Ma. Mama tidak mengajak Rubby untuk berbuat macam-macam kan?" Tanya Arya yang melayangkan tatapan curiganya terhadap Mama Dewi.
"Astaga, Arya! Kau fikir Mama mau membawa istrimu ke mana?" Mama Dewi menggeram kesal.
"Aku hanya takut Mama membawa Rubby ke tempat yang aneh-aneh." Jawab Arya.
"Memangnya Mama pernah pergi ke tempat yang aneh-aneh?" Tanya Mama Dewi kesal. Arya menggeleng.
"Lalu kenapa kau berfikir seperti itu, Arya?" Mama Dewi kembali menggeram. Tapi Arya malah melebarkan senyumnya.
"Maaf, Ma. Arya hanya bercanda. Ya sudah, Arya pamit dulu." Arya mengecup punggung tangan sang Mama, kemudian Rubby yang mengecup tangannya.
"Assalamuala'ikum."
"Waalaikumsalam."
Kedua wanita itu menatap mobil Arya yang menjauh hingga hilang dari pandangan mereka.
"Kita mau ke mana, Ma?" Tanya Rubby.
"Ke suatu tempat, Rubby. Sebentar, Mama siap-siap dulu ya." Ucap Mama Dewi, Rubby mengangguk sebagai jawaban.
_
_
_
__ADS_1
Rubby mengerutkan keningnya setelah sampai di tempat yang di tuju. Sebuah klinik. Untuk apa ibu mertuanya mengajaknya ke klinik?
"Kenapa kita kemari, Ma? Apa Mama sakit?" Tanya Rubby khawatir.
"Tidak, sayang. Mama tidak sakit, Mama hanya ingin cek kesehatan saja." Jawab Mama Dewi membuat Rubby menghembuskan nafas lega.
"Rubby kira Mama sakit." Ujarnya.
"Tidak Rubby, ayo kita masuk." Ajak Mama Dewi, dan Rubby menurut saja.
Mereka kini sedang menunggu antrian, beruntung pasien yang mendaftar belum terlalu banyak.
"Kenapa Mama tidak meminta Mas Firaz untuk mengantar kita kemari?" Tanya Rubby.
"Tidak perlu, Rubby. Nanti yang ada Arya malah mengintrogasi Mama." Jawab Mama Dewi membuat Rubby tertawa pelan. Siapa juga yang tidak khawatir jika di ajak ke klinik?
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya kini tiba giliran nomor antrian Mama Dewi yang di panggil.
"Rubby, kau tunggu di sini dulu ya." Ucap Mama Dewi sebelum masuk ke ruangan dokter.
"Mama tidak mau Rubby temani?" Tanya Rubby heran.
"Tidak perlu, Rubby. Ini hanya sebentar." Mama Dewi beranjak dari duduknya dan masuk ke ruangan itu, tidak lama kemudian Mama Dewi keluar lagi tapi hanya di ambang pintu.
"Rubby, ayo kemari." Panggilnya sambil melambaikan tangan, Rubby menurut saja dan masuk ke ruangan itu.
"Jadi ini menantu saya, Dok." Ucap Mama Dewi begitu Rubby datang ke sana.
"Oh begitu. Ya sudah kita langsung periksa saja. Bu Rubby silakan berbaring ya." Titah Dokter wanita paruh baya tersebut, tapi yang di suruh hanya diam berdiri.
"Ma, Rubby tidak sakit. Kenapa harus di periksa?" Tanya Rubby yang terlihat bingung.
"Sudah, Rubby. Ikuti kata dokter saja." Ujar Mama Dewi, dan lagi Rubby hanya bisa menurut. Ia berbaring di sebuah brankar di mana ada layar monitor kecil di sampingnya.
"Sebentar ya, saya periksa dulu." Dokter wanita itu mengoleskan sesuatu seperti gel di perut Rubby. Beruntung hari ini Rubby memakai setelan rok, bukan baju gamis seperti biasanya. Jadi memudahkan dokter tersebut melakukan pekerjaannya.
Dokter wanita itu kemudian meletakan dan menggerakan sebuah alat kecil yang terhubung langsung ke layar monitor. Nampak sebuah gambar di sana.
"Bagaimana, Dok?" Tanya Mama Dewi yang antusias sekaligus penasaran.
"Dugaan ibu benar. Selamat Bu Rubby sedang mengandung." Ucap sang dokter. Sudut kedua bibir Mama Dewi terangkat membentuk senyuman. Sedangkan Rubby masih belum sadar dengan apa yang terjadi pada dirinya.
*****
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKENYA YA, UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊