
Sudah dua hari ini diam-diam Rubby selalu menunggu kedatangan suaminya. Setiap sore, ia berdiri di samping jendela kamar mungkin saja Arya datang menemuinya. Tapi yang diharapkan tak kunjung datang.
Rubby yang pada awalnya berfikir dengan tinggal terpisah, akan membuat Arya melupakannya dan akhirnya mengakhiri pernikahan mereka. Tapi justru malah dirinya lah yang semakin tersiksa. Arya juga tidak menghubungi dan mengirim pesan padanya.
Padahal Arya sengaja melakukan itu, agar Rubby bisa menenangkan hatinya dulu. Dan setelah Rubby tenang baru dia akan meminta maaf dan mengajaknya tinggal bersama kembali.
Tanpa terasa akhirnya sepasang mata Rubby pun terpejam.
_
_
_
Arya sudah berdiri di depan pintu rumah Ayah Bakti. Terdengar pria itu menghela nafas panjang sebelum mengetuk pintu rumah itu. Ia harus menetralkan detak jantungnya dulu, dan mempersiapkan dirinya jika Rubby kembali menolaknya.
Tok. Tok. Tok.
"Assalamualaikum." Arya mengucap salam.
"Waalaikumsalam." Seseorang menyahut dari dalam.
"Arya?" Bunda Maya membuka pintu.
"Bunda." Arya mencium punggung tangan Bunda Maya.
"Kau ke mana saja Arya, kenapa baru datang sekarang?" Tanya ibu mertuanya.
"Maaf Bunda. Arya baru datang sekarang, Arya menunggu kemarahan Rubby reda dulu. Arya tidak ingin Rubby mengusir Arya lagi." Jawab Arya dengan senyum getir di wajahnya. Bunda Maya memandang iba pada menantunya. Dirinya dan Ayah Bakti sudah tahu apa alasan Rubby menolak kehadiran Arya, Intan yang sudah menceritakannya.
"Ayo, masuk." Ajak Bunda Maya.
"Iya, Bunda."
Arya mendaratkan tubuhnya di sofa tamu.
"Bunda panggilkan Rubby ya?"
"Tidak Bunda." Cegah Arya.
__ADS_1
"Kenapa? Bukannya kau kemari untuk bertemu dengan Rubby?" Tanya Bunda Maya heran.
"Arya ingin bicara dulu dengan Ayah Bakti." Jawab Arya.
"Oh, begitu. Sebentar, Bunda panggil Ayah dulu." Bunda Maya berlalu dari sana. Arya menghembuskan nafas berat ke udara. Dirinya sudah memutuskan untuk mengatakan semuanya pada kedua orang tua Rubby. Dan biarkan nanti Rubby yang mengambil keputusan tentang hubungan mereka berdua.
"Arya..." Sapa Ayah Bakti yang datang bersama Bunda Maya.
"Ayah..." Arya mencium punggung tangan ayah mertuanya.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Ayah Bakti seraya duduk di sebrang menantunya dan istrinya duduk di sampingnya.
"Kurang baik, Ayah." Jawab Arya sendu.
"Sabar, Arya. Di awal pernikahan memang selalu ada ujian."
"Iya, Ayah. Ayah sebenarnya ada yang ingin Arya katakan." Ucap Arya, tapi pria itu terlihat ragu.
"Ada apa, Arya?" Tanya Ayah Bakti menatap serius pada menantunya.
"Ayah. Sebenarnya...."
"Ayah, Bunda, maafkan Arya..." Arya duduk bersimpuh di hadapan Ayah Bakti dan bunda Maya. Pria itu baru saja mengatakan semuanya. Semua yang terjadi pada awal pernikahannya dengan Rubby. Tentang dirinya yang nyatanya masih berhubungan dengan Mega, tentang perlakuannya yang selama ini kurang perhatian terhadap Rubby. Dan yang terakhir tentang Mega dan Bara yang bekerjasama untuk merusak hubungan mereka. Tidak ada yang di tutupinya sama sekali, semua Arya katakan apa adanya.
"Ayah bisa mengerti kalau kau belum bisa menerima Rubby sepenuhnya menjadi istrimu. Karena bagaimanapun kalian tidak saling mengenal sebelumnya dan langsung kami nikahkan. Kami juga bersalah dalam hal ini." Tuturnya.
"Tidak Ayah. Ini bukan salah Ayah, Bunda ataupun Mama. Semua orang tua tentunya ingin yang terbaik untuk anaknya. Dan kini Arya menyadari, bahwa Rubby lah yang terbaik untuk Arya. Maka dari itu Arya mohon pada Ayah dan Bunda tolong beri Arya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan Arya. Aku ingin kembali bersama Rubby..." Ucap Arya memelas, pun dengan pandangannya yang sendu.
Ayah Bakti dan Bunda Maya saling memandang. Arya terlihat benar-benar menyesal dengan apa yang sudah terjadi. Permintaan maafnya benar-benar tulus, dan mereka juga tahu semua yang di ceritakan Arya tadi adalah kejadian yang sebenarnya.
"Kau ingin kembali bersama Rubby?" Ayah Bakti bertanya. Arya mengangguk, posisinya masih bersimpuh di hadapan kedua mertuanya.
"Iya, Ayah." Jawabnya.
"Bangunlah, Arya." Arya kemudian duduk di samping ayah mertuanya.
"Kau ingin tetap kembali, walaupun Rubby membencimu?" Tanya Ayah Bakti lagi.
"Tidak apa jika Rubby membenci Arya. Arya akan menerimanya, karena memang semua adalah salah Arya..." Lirihnya pasrah. Ayah Bakti menarik dalam nafasnya, ia merasa kasihan pada Arya.
__ADS_1
"Arya, sebenarnya ada yang ingin Ayah tanyakan."
"Apa itu, Ayah?"
Ayah Bakti kembali saling pandang dengan istrnya, Bunda Maya kemudian mengangguk. Ayah Bakti mengalihkan pandangannya, menatap serius pada Arya.
"Begini Arya. Kau tahu kan kalau Bara sudah menyentuh istrimu?" Tanyanya. Arya terdiam sejenak mencoba mencerna pertanyaan ayah mertuanya.
"Iya, Ayah. Lalu?" Arya balik bertanya.
"Sudah ada lelaki lain yang menyentuh istrimu. Bahkan lelaki itu melihat istrimu tanpa hijabnya. Sedangkan selama ini Rubby selalu menjaga dan membatasi dirinya dari pria." Ayah Bakti menjeda ucapannya. Arya masih menyimaknya dengan serius.
"Apa kau masih bersedia menerima Rubby sebagai istrimu sedangkan sudah ada lelaki lain yang menyentuhnya? Kau tahu, terkadang Rubby mengigau dalam tidurnya, dirinya sudah merasa kotor dan tidak pantas lagi untukmu. Rubby juga takut kalau kau merasa jijik dengannya." Lanjut Ayah Bakti sambil menatap lekat menantunya.
Arya terhenyak mendengarnya. Pria itu kemudian menggeleng.
"Ayah, Arya tidak pernah pernah berfikir seperti itu." Ucapnya sendu.
"Rubby tetap istriku bagaimanapun keadaanya."
Ayah Bakti menepuk bahu menantunya, ia tahu Arya pasti akan tetap menerima putrinya.
"Ada satu hal lagi yang harus kau tahu. Rubby sama sekali tidak pernah membencimu, alasannya menolak kehadiranmu adalah hal yang tadi Ayah sampaikan. Rubby terpaksa bersikap dingin dan sedikit kasar padamu, padahal dalam hatinya menangis melakukan semua itu." Tuturnya.
Arya membisu, tak ada satu kata pun keluar dari mulutnya. Hanya cairan bening yang perlahan mengalir di wajahnya mewakili perasaannya.
_
_
_
Pintu kamar Rubby terbuka, seseorang masuk ke dalam sana.
Bunda Maya yang melihat Rubby tertidur, berjalan menghampirinya. Niatnya ingin membangunkan Rubby, tapi pandangannya teralihkan oleh sebuah buku dengan sampul tebal yang ada di sisi Rubby.
"Buku apa ini?" Bunda Maya membolak-balikkan buku itu. Ia melirik sejenak ke arah Rubby yang masih terlelap.
"Rubby, kau tidur sambil membawa buku, nanti kalau bukunya rusak karena tertindih bagaimana?" Gumamnya. Bunda Maya ingin menyimpan buku itu kembali di rak buku, tapi tanpa sengaja buku itu malah terjatuh dengan posisi terbuka. Bunda Maya mengambil buku itu kembali. Tapi sesuatu menarik perhatiannya.
__ADS_1
"Gambar apa ini?" Wanita paruh baya itu menilik dengan serius gambar yang ada di sana. Gambar sketsa wajah seorang pria yang sangat di kenalnya.