
Rubby sedang duduk bersandar di tempat tidur dengan sebuah buku kecil di tangannya. Ia mulai mencorat-coret selembar kertas di buku itu.
Klek, pintu kamar terbuka. Arya baru masuk ke dalam kamarnya. Entah darimana suaminya itu, setelah makan malam menghilang begitu saja.
"Mas darimana?" Tanya Rubby menghentikan langkah Arya yang akan menuju kamar mandi.
"Taman belakang." Jawab Arya singkat, kemudian melanjutkan langkahnya ke kamar mandi.
Tak lama pintu kamar mandi terbuka kembali. Arya keluar dengan wajah dan rambut yang sedikit basah. Rubby menelan salivanya, suaminya terlihat sangat menggoda jika seperti itu. Mendadak Rubby ingat sesuatu.
"Aku sudah pernah tidur dengan suamimu. Kami bahkan melakukannya beberapa kali. Aku juga sempat mengandung anak Arya. Tapi sayangnya aku tidak tahu kalau aku sedang hamil, hingga akhirnya aku keguguran. Arya sangat marah ketika itu." Perkataan Mega siang tadi.
Rubby harus memastikannya. Apa benar suaminya seperti yang Mega katakan?
"Mas aku ingin bicara." Ucap Rubby. Ia menutup bukunya dan menyimpannya di atas nakas.
"Ada apa?" Arya duduk di sisi tempat tidur.
"Apa Mas Firaz marah padaku karena..."
"Itu tidak penting." Arya menyela lebih dulu.
"Aku sudah tahu, Bara memang menyukaimu." Lanjutnya.
"Mas sudah tahu?" Rubby terperanjat.
"Ya, Bara sendiri yang mengatakan padaku kalau dia menyukaimu. Tapi aku tidak tahu kalau dia berencana untuk melamarmu." Jawabnya.
Arya hendak membaringkan tubuhnya namun Rubby mencegahnya.
"Mas, aku belum selesai bicara."
"Apalagi Rubby? Aku lelah, aku ingin tidur." Keluh Arya.
"Lalu bagaimana hubungan Mas dengan Bara? Apa kalian masih berteman?" Tanya Rubby.
"Aku tidak ingin hubungan pertemanan kalian yang sudah lama terjalin jadi rusak gara-gara diriku." Cicit Rubby. Bagaimanapun Rubby tahu, Arya dan Bara sudah berteman dari zaman kuliah dan sampai mempunyai usaha bersama.
"Aku tidak tahu, Rubby. Aku bagaimana Bara saja. Aku juga tidak akan memaksanya jika dia tidak mau lagi berteman denganku." Jawab Arya pasrah.
__ADS_1
Arya hendak merebahkan tubuhnya kembali, namun lagi-lagi Rubby mencegahnya.
"Mas, ada satu hal lagi yang ingin ku tanyakan." Ucap Rubby, ia menarik lengan Arya yang hendak berbaring.
"Ada apa lagi, Rubby?" Tanya Arya, sebenarnya ia sudah mengantuk. Tapi Rubby masih saja mengajaknya bicara.
"Ada sesuatu yang ingin ku tanyakan padamu."
"Apa?"
"Tadi siang Mega datang ke toko kue." Ujar Rubby. Arya langsung menoleh dan menatapnya.
"Lalu dia bilang..." Mendadak ucapan Rubby terhenti, ia jadi ragu sendiri untuk mengatakannya.
"Mega bilang apa?" Tanya Arya, tatapannya terlihat menyelidik. Mega pasti sudah berkata macam-macam pada istrinya.
"Mega bilang... Kalian..." Ucapan Rubby kembali menggantung.
"Apa yang Mega katakan padamu?" Desak Arya, ia merasa gemas pada istrinya yang sedari tadi bicara hanya sepotong kata saja. Rubby menatap Arya sejenak.
"Mega bilang kalian pernah tidur bersama." Jawab Rubby pelan, Arya menatap datar padanya. Rasa kantuknya hilang seketika. Benar dugaannya, Mega sudah berkata yang aneh-aneh pada istrinya.
"Lalu apalagi yang Mega katakan?" Tanyanya.
"Apa Mas Firaz marah?" Batinnya.
"Kau percaya dengan apa yang di katakan Mega?" Tanya Arya datar sedatar tatapannya.
"Aku... Aku hanya ingin memastikan saja." Jawab Rubby.
"Kau percaya dengan apa yang di katakan Mega?" Arya kembali mengulang pertanyaannya. Rubby menggigit bibir bawahnya, sepertinya ia sudah salah berucap.
"Mas, aku..."
"Kau lebih percaya Mega daripada aku?"
Rubby menggeleng cepat mendengar pertanyaan suaminya.
"Bukan begitu, Mas. Aku hanya ingin memastikan saja, lagipula kalian sudah lama berpacaran dan saling mencintai..." Sanggah Rubby, ia menelan salivanya dengan getir. Apalagi melihat perubahan ekspresi dari Arya.
__ADS_1
"Itu artinya sama saja kau tidak percaya padaku." Timpal Arya.
"Bukannya aku sudah pernah mengatakan padamu, kalau aku tidak pernah berbuat macam-macam dengan Mega walaupun kami sudah lama berpacaran?" Sambung Arya, terlihat sorot kecewa di matanya. Nyatanya istrinya lebih percaya ucapan orang lain di banding dirinya.
"Mas..."
"Asal kau tahu, Rubby. Aku tidak pernah menyentuh Mega lebih dari pegangan tangan. Aku tidak pernah memeluk atau bahkan menciumnya. Kau, kau adalah satu-satunya wanita yang ku sentuh lebih, itupun karena kau adalah istriku. Mama selalu berpesan kepadaku untuk tidak merusak wanita. Dan aku selalu mengingat hal itu." Arya menegaskan, pun dengan tatapan matanya. Raut bersalah nampak di wajah Rubby. Seharusnya ia tidak percaya kata-kata Mega dan meragukan suaminya.
"Mas, maaf aku..."
"Sudahlah Rubby, jangan bahas Mega lagi. Aku mengantuk. Aku ingin tidur." Arya membaringkan tubuhnya, membelakangi Rubby.
Hari ini terasa begitu melelahkan sekaligus menyebalkan bagi Arya. Pagi-pagi sudah bertemu Mega di tempat parkir, dan lagi ada banyak pekerjaan di coffe shop dan Arya juga tadi pergi ke rumah makannya karena salah satu karyawannya melapor ada masalah di sana. Maka itu tadi dirinya telat menjemput Rubby. Begitu sampai di toko kue, ia malah harus menjadi saksi acara lamaran istrinya sendiri. Di tambah lagi ternyata Mega malah memfitnahnya, dan berusaha mempengaruhi istrinya. Yang paling menyakitkan, Rubby telah percaya ucapan Mega.
Rubby menatap nanar pada punggung Arya yang membelakanginya. Kilat bening nampak di mata sayunya. Tanpa fikir panjang Rubby melingkarkan tanganya di tubuh Arya dan menyandarkan kepala di punggungnya.
Mata Arya kembali terbuka merasakan sesuatu yang basah di belakangnya. Perlahan Arya melepaskan tangan Rubby yang tengah memeluknya, Arya memutar tubuhnya menghadap Rubby.
"Rubby..." Arya mengangkat dagu istrinya, terlihat wajah Rubby yang sudah basah.
"Kenapa menangis?" Tanyanya. Rubby menggeleng cepat dan kembali memeluk Arya. Menenggelamkan wajahnya di dada pria itu. Arya hanya bisa menghela nafas panjang, tangannya membelai lembut rambut istrinya.
"Tidak bisakah kau percaya padaku, Rubby?" Ucapnya sambil mengecup puncak kepala Rubby.
"Maaf..." Cicit Rubby yang semakin tenggelam di dalam dekapan suaminya.
_
_
_
Azan subuh sudah berkumandang beberapa menit yang lalu. Sepasang suami istri itu baru saja selesai melaksakan sholat subuh. Rubby merapikan kembali perlengkapan sholatnya, kemudian duduk di sisi tempat tidur. Wajahnya masih terlihat sendu.
"Rubby..." Arya duduk di sampingnya.
"Iya, Mas." Pandangan keduanya saling bertemu.
"Dengarkan aku, di awal pernikahan aku memang tak jujur padamu tentang aku yang masih berhubungan dengan Mega. Tapi sekarang hubunganku dengan Mega sudah benar-benar berakhir. Jika Mega datang lagi dan mengatakan hal yang tidak-tidak tentangku, tolong kau jangan percaya. Dia hanya ingin merusak hubungan kita." Ucap Arya mengingatkan. Rubby mengangguk pelan.
__ADS_1
"Iya, Mas." Jawabnya.
"Maaf tentang semalam." Sambungnya.