Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
Apa Ada Wanita Lain?


__ADS_3

"Oh, syukurlah. Mama kira..." Mama Dewi menggantung ucapannya.


"Kenapa, Ma?" Tanya Rubby.


"Tidak. Mama kira ada pengunjung yang berbuat tidak mengenakan padamu." Celetuk Mama Dewi. Arya langsung melirik ke arahnya.


"Tidak, Ma. Semua baik-baik saja. Em, Rubby sudah selesai, Rubby ke kamar dulu ya, Ma." Pamit Rubby. Mama Dewi mengangguk sebagai jawaban.


"Arya!" Panggilnya begitu Rubby sudah tidak ada di sana.


"Ada apa, Ma?" Sahut Arya malas, mamanya itu pasti akan mengintrogasi dirinya. Fikir Arya.


"Kau apakan istrimu?" Tanya Mama Dewi dengan tatapan mengintimidasinya.


Benar kan? Mama Dewi mengintrogasinya. Dirinya sudah seperti seorang tersangka hari ini. Tadi Andika dan sekarang Mama Dewi mengitrogasinya. Bukan tidak mungkin besok-besok Ayah Bakti dan Bunda Maya melakukan hal yang sama.


"Arya tidak melakukan apa-apa." Jawab Arya sambil memasang tampang polosnya. Memang dirinya tidak melakukan apa-apa kan?


"Jangan bohong, Arya." Tukas Mama Dewi.


"Ma, Arya tidak melakukan apa-apa." Ulang Arya.


"Lalu kenapa istrimu berubah?" Cecar wanita paruh baya itu.


"Berubah bagaimana?" Arya balik bertanya.


"Jangan pura-pura tidak tahu, Arya!" Seru Mama Dewi. Arya membuang nafas berat, kemudian meraih gelas di sampingnya dan meneguk isinya sampai habis.


"Seharusnya Mama bertanya pada Rubby. Sudahlah, Arya ke kamar dulu." Ujarnya sambil berlalu dari meja makan. Lebih baik pergi saja daripada di curigai terus-menerus.


"Dasar Arya, di tanya malah kabur." Mama Dewi menggerutu.


_


_


_


Sementara itu di sebuah apartemen yang terbilang mewah. Seorang gadis cantik tengah melamun di atas pembaringannya. Menatap hampa pada langit-langit kamarnya.


"Ada apa dengan Arya? Kenapa sikapnya berubah padaku?" Mega bertanya-tanya sendiri.


Sejak bertemu tadi sampai sekarang Arya pun sama sekali tidak mengiriminya pesan. Mega memang sengaja tidak menghubungi Arya lagi, di fikirnya nanti Arya yang akan menghubungi lebih dulu dan meminta maaf karena tadi mengusirnya dari coffe shop. Tapi ternyata ia salah, Arya malah seakan tidak peduli dengannya.


"Apa ada wanita lain di hati Arya? Dan Arya sudah tidak mencintaiku lagi?"


Mega menggigit bibir bawahnya, merasa takut jika apa yang di fikirkannya menjadi kenyataan.


"Tidak-tidak." Mega menggeleng kuat.


"Itu tidak mungkin. Arya sangat mencintaiku, dan tidak akan berpaling dariku." Mega berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Tapi bagaimana kalau kenyataannya seperti itu?" Gumamnya takut.


"Argh!" Tiba-tiba saja gadis cantik itu berteriak, mengacak-acak rambut indahnya.


"Sebaiknya aku keluar, aku butuh udara segar."


Mega meraih kunci mobilnya di atas meja, sepertinya ia memang perlu udara malam untuk menyegarkan fikirannya.


_


_


_


Setelah mengelilingi jalanan dengan tujuan yang tidak jelas, Mega akhirnya memakirkan mobilnya di sebuah rumah makan.


"Aku tidak biasa makan di jam segini. Tapi fikiranku sedang benar-benar kacau sekarang." Gumamnya. Tanpa fikir panjang Mega memasuki rumah makan itu. Mungkin makan bisa menghilangkan kegalauannya.


Mega duduk di sudut ruangan dan menunggu makanan pesanannya datang. Setelah beberapa menit, pesanannya pun tiba.


"Sepertinya enak." Sepasang netra Mega nampak berbinar melihat mie goreng seafood yang terhidang di hadapannya. Selama ini Mega menghindari makan mie karena ia harus menjaga berat badannya.


"Mega?!" Sebuah suara menghentikan gerakan tangan Mega yang hendak menyuap makanan ke mulutnya.


Seorang pria berjalan menghampiri Mega. Mega menautkan kedua alisnya, rasanya pria itu tidak asing.


"Bara?" Tebaknya.


"Tentu saja aku masih ingat, kita teman kuliah dulu." Jawab Mega.


"Kau di sini? Bukannya kau sedang berada di Paris? Kapan kau kembali?" Tanya Bara lagi.


"Pagi tadi." Jawab Mega. Gadis itu mulai menyantap makanannya.


"Bagaimana kabarmu?" Tanya Bara.


"Baik-baik saja. Kau sendiri?" Mega balik bertanya.


"Seperti yang kau lihat, aku masih seperti ini." Jawab Bara, Mega tertawa kecil.


"Apa kau mau makan? Biar aku yang mentraktirmu." Tawar Mega di sela makannya. Seketika Bara tertawa mendengarnya.


"Hei, apa kau lupa kalau rumah makan ini milikku?" Tanya Bara, Mega terdiam sejenak sambil mengunyah makanan dalam mulutnya.


"Ini rumah makan milikmu?" Tanyanya kemudian.


"Iya, ini rumah makan milikku. Salah satu rumah makan yang dulu aku, Indra dan Arya dirikan." Terang Bara. Mega mengangguk-anggukan kepala. Ia ingat sekarang, ketiga pria itu dulu mempunyai usaha bersama tapi sekarang sudah di bagi rata.


"Oh ya, kau sendiri? Mana Arya?" Lanjut Bara. Mega mengendikkan bahunya.


"Di rumahnya mungkin." Jawab Mega acuh. Bara menyipitkan matanya.

__ADS_1


"Jadi benar hubunganmu dan Arya sudah berakhir?" Tanyanya, Sepasang netra Mega terbelalak mendengarnya.


"Uhuk! Uhuk!" Gadis itu langsung tersedak mie goreng yang baru saja melewati kerongkongannya.


"Pelan-pelan makannya." Bara memberikan segelas minuman pada Mega, dengan cepat Mega meneguknya.


"Kau tadi bilang apa?" Tanya Mega setelah acara tersedaknya berhenti.


"Hubunganmu dengan Arya sudah berakhir." Ulang Bara.


"Siapa yang mengatakan seperti itu?" Sambar Mega. Bara menautkan kedua alisnya.


"Arya." Jawabnya. Seketika Mega tersentak.


"Arya yang mengatakannya?" Tanya Mega dengan nada tak percaya.


"Sebenarnya Arya tidak mengatakan secara langsung. Tapi..." Bara terlihat bingung, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Arya memang tidak mengatakan langsung kalau hubungannya dengan Mega sudah berakhir, tapi Arya tidak menyangkalnya ketika itu.


"Sebentar, jadi hubunganmu dengan Arya bagaimana?" Bara balik bertanya.


"Hubunganku dengan Arya baik-baik saja." Jawab Mega yang tak kalah bingungnya.


Dirinya memang merasa hubungannya dengan Arya tidak ada ada masalah. Tapi kenapa Bara mengatakan kalau sudah berakhir?


"Em... Mega. Aku tidak ingin ikut campur masalahmu dengan Arya. Tapi saranku, sebaiknya kau tanyakan langsung pada Arya tentang kejelasan hubungan kalian." Ucap Bara, ia tidak ingin terlibat hingga salah satu dari kedua orang itu berakhir menyalahkan dirinya.


Mega terdiam. Niatnya untuk mencari ketenangan, tapi fikirannya malah semakin kacau balau.


_


_


_


Sementara itu di kamar Arya.


Rubby tengah menyisir rambutnya di depan cermin, pandangannya sendu. Bayangan Arya nampak di balik cermin dan berjalan mendekatinya.


"Rubby, aku ingin bicara." Ucap Arya yang sudah berdiri di belakang istrinya.


"Apa yang ingin Mas bicarakan?" Sahut Rubby masih tetap dengan posisinya.


"Tatap aku jika sedang bicara, Rubby." Ucap Arya karena Rubby masih saja membelakanginya. Rubby menghela nafas berat, kemudian berbalik namun gadis itu masih terduduk.


"Apa kau marah padaku?" Tanya Arya. Keduanya saling bertatapan.


"Marah? Marah untuk apa? Kesalahan apa yang sudah Mas buat hingga aku harus marah?" Tanya Rubby beruntun.


"Kedatangan Mega." Jawab Arya.


"Kenapa kedatangan Mega harus membuatku marah? Aku bahkan tidak punya hak untuk marah." Sahut Rubby yang kemudian bangun dari duduknya.

__ADS_1


__ADS_2