
Arya meraih ponselnya yang terletak di atas meja menghubungi Rubby. Seperti saran Indra tadi, ia akan memberi kejutan kecil untuk istrinya. Mungkin dengan mengajak makan malam di luar.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya Rubby mengangkat panggilannya.
"Assalamuala'ikum, Mas." Ucap Rubby di balik poselnya.
"Waalaikumsalam. Rubby kau di mana? Apa kau dan Mama sudah pulang?" Tanya Arya.
"Kami sekarang ada di rumah Ayah, Mas." Jawab Rubby. Arya mengerutkan keningnya.
"Di rumah Ayah? Kenapa tidak memberi tahuku?" Tanyanya.
"Maaf, Mas. Aku lupa. Tadi kami langsung kemari begitu Mama selesai dengan urusannya. Kita menginap di sini saja ya malam ini?"
"Oh, kau ingin menginap?" Arya balik bertanya.
" Iya, Mas. Bunda meminta kita menginap, Mama juga." Jawab Rubby.
"Baiklah, nanti aku pulang ke sana." Sahut Arya.
"Iya, Mas. Sudah dulu ya, Aku mau membantu Bunda memasak untuk makan malam." Ucap Rubby.
"Iya, Rubby. Assalamuala'ikum."
"Waalaikumslaam." Mereka menutup panggilannya. Arya menghela nafas kasarnya ke udara, niatnya untuk mengajak sang istri makan di luar pupus sudah.
__ADS_1
_
_
_
Sore harinya, Arya sudah bersiap untuk pulang. Para pegawainya pun selesai dengan pekerjaan mereka. Kali ini Arya pulang paling akhir tidak seperti biasanya.
Mobil hitam miliknya baru saja melaju meninggalkan halaman parkir, tak sengaja ia melihat adiknya yang berjalan seorang diri.
"Andika!" Panggilnya. Yang di panggil sontak menghentikan langkahnya.
"Ada apa, Kak?" Tanya Andika yang sudah berdiri di samping mobil Arya.
"Kenapa kau jalan kaki? Mana motormu?" Tanya Arya tanpa keluar dari mobilnya.
"Kenapa tidak di bawa ke bengkel?" Tanya Arya lagi.
"Aku belum gajian, Kakak. Sekarang kebutuhan keluargaku bertambah, jadi ke bengkelnya aku tunda dulu." Jawab Andika apa adanya.
"Rasanya gaji yang ku berikan untukmu lebih dari cukup untuk sekedar memperbaiki motor." Tukas Arya.
"Kakak lupa apa kalau sekarang Intan sedang hamil lagi? Aku kan harus rajin menabung untuk biaya persalinan Intan nanti. Memperbaiki motor bisa di tunda." Sahut Andika.
"Itu salahmu sendiri, tidak bisa bermain aman." Timpal Arya membuat Andika mencebik kesal. Walau memang begitu kenyataannya.
__ADS_1
"Sudah cepat masuk!" Titah Arya.
"Masuk ke mana?" Andika menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Masuk ke dalam mobilku, Dika." Arya menggeram. Masa iya Andika tidak tahu maksudnya?
"Kita kan beda arah, Kak."
"Aku mau pulang ke rumah Ayah. Rubby dan Mama akan menginap di sana." Arya menjelaskan.
"Oh..." Pemuda itu hanya ber oh ria sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
"Ya sudah, cepat masuk. Kenapa masih diam di sana?!" Seru Arya dengan emosi yang mulai naik. Andika langsung patuh.
"Iya, Kakak. Jangan galak-galak, aku tidak mau anakku mirip Kakak nantinya." Celetuk Andika yang baru saja masuk ke dalam mobil dan duduk di samping sang kakak.
"Apa maksudmu?" Tanya Arya dengan kedua alis yang saling bertaut.
"Ya kan kalau Kak Arya marah-marah terus, nanti aku sebal dengan Kak Arya. Sedangkan istriku sedang hamil. Menurut mitos yang beredar di negara ini, anak yang di kandung jika sudah lahir nanti akan mirip dengan orang yang tidak di sukai oleh orang tuanya." Andika menerangkan panjang kali lebar. Arya tercengang mendengarnya.
"Kau percaya dengan mitos seperti itu?" Tanya Arya kemudian.
"Percaya tidak percaya. Yang jelas aku tidak ingin anakku mirip dengan Kakak." Tukas Andika.
...****************...
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊