Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
Keputusan Yang Salah?


__ADS_3

"Andika, kau kenapa?" Tanya Mama Dewi yang melihat wajah putra keduanya berubah setelah bertemu dengan sang Kakak.


"Dika hanya kecewa saja dengan sikap Kak Arya sekarang." Jawab Andika.


"Kak Arya jadi lemah dan mudah menyerah, Kak Arya tidak seperti dulu lagi. Dika merindukan Kakak Dika yang dulu, Ma." Lanjut Andika dengan suara tercekat. Tangan Mama Dewi terangkat, mengelus lengan putranya.


"Dika, Kakakmu sedang berada di titik terendah hidupnya. Tolong jangan memaksanya." Ucap Mama Dewi mencoba memberi pengertian pada Andika.


"Tapi Dika ingin Kak Arya seperti dulu lagi, Ma. Kak Arya yang tegas dan juga selalu mengajak Dika berdebat." Dika mengusap matanya yang sudah siap mengalirkan cairan bening.


"Dika, bukan maksud Mama untuk membela Kakakmu. Tapi coba lihat masalahnya dari sudut pandang Arya, jangan dari sudut pandangmu." Ucap Mama Dewi.


"Dika ingin memberi semangat untuk Kak Arya. Dika ingin Kak Arya dan Kak Rubby bersatu kembali. Karena bagaimanapun pernikahan mereka dulu terjadi karena kesalahan yang Dika buat. Dika ingin bertanggung jawab." Ucap Andika, pemuda itu menundukkan wajahnya.


"Jodoh itu tidak bisa di paksakan. Tapi kalau memang Arya berjodoh dengan Rubby, mereka pasti akan kembali. Kau cukup mendoakan yang terbaik untuk mereka." Mama Dewi menangkup wajah putranya.


"Sudahlah, Dika. Kau jangan terlalu memikirkan Kakakmu, biar waktu yang menjawab semuanya. Lebih baik kau fokus pada istrimu, dua bulan anakmu akan lahir kan? Apa kau sudah menyiapkan kebutuhannya?" Mama Dewi mengalihkan pembicaraan, ia tidak ingin Andika terus merasa bersedih.


"Ya, kami sudah membeli beberapa kebutuhan pokok untuk anak kami, Ma. Yang lainnya nanti akan menyusul." Jawab Andika.


"Ya sudah, sebaiknya sekarang kau pulang. Temani istrimu. Ini hari liburmu, waktu untuk kalian berdua."


"Iya, Ma. Kalau begitu, Dika pamit dulu." Andika mencium punggung tangan Mama Dewi.


"Assalamuala'ikum."


"Waalaikumsalam."


Mama Dewi masih berdiri di depan pintu, hingga sepeda motor milik Andika menghilang dari pandangannya. Tak lama terlihat sebuah motor matic memasuki halaman rumahnya. Seorang gadis berhijab turun dari sana.


"Assalamualaikum, Ma." Sapa Rubby sambil menyalami Mama Dewi.


"Waalaikumsalam, Rubby. Kau kemari? Apa ada sesuatu?" Tanya Mama Dewi.


"Em... Tidak. Rubby hanya ingin berkunjung saja." Jawab Rubby dengan senyum di wajahnya.


"Ya sudah, ayo masuk." Ajak Mama Dewi pada mantan menantunya.


Rubby menghempaskan tubuhnya di sofa tamu dan Mama Dewi duduk di sampingnya.


"Bagaimana kabarmu, Sayang?" Tanya Mama Dewi. Walaupun Arya dan Rubby sudah berpisah, Mama Dewi tetap menganggap Rubby seperti anaknya sendiri.


"Lebih baik, Ma." Jawab gadis berhijab itu sambil menarik kedua sudut bibirnya namun matanya tidak dapat berbohong. Ia kemudian menyerahkan sekotak kue yang memang sengaja dibawanya.

__ADS_1


"Oh ya, Ma. Rubby bawa chesse cake untuk Mama dan..." Rubby menghentikan ucapannya, ia menggigit bibir bawahnya.


"Mas Firaz." Lanjutnya dengan lirih. Mama Dewi tersenyum dan menerimanya.


"Terima kasih, Rubby." Ucapnya dan meletakkan kotak kue itu di atas meja.


"Ma, bagaimana kabar Mas Firaz?" Tanya Rubby, gadis itu menundukkan wajahnya.


"Arya baik-baik saja, Rubby. Terima kasih karena kau masih peduli padanya."


Mama Dewi mengangkat dagu gadis di hadapannya, sepasang netra di balik kacamata itu sudah memerah dan berkaca-kaca. Rubby tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak menangis. Sedari tadi ia coba untuk menguatkan hatinya, namun akhirnya pertahannya runtuh juga. Mama Dewi meraihnya ke dalam pelukannya.


"Jangan menangis, sayang." Wanita paruh baya itu mengusap lembut punggung Rubby.


"Rubby merindukannya, Ma..." Lirihnya di antara isak tangis.


"Kenapa Mas Firaz melakukan ini pada Rubby? Padahal tanpa di pinta pun, Rubby ikhlas jika harus merawat dan melayani Mas Firaz seumur hidup Rubby."


"Rubby, jangan menangis terus. Kalau kau ikhlas untuk merawat Arya, kau juga harus ikhlas menerima keputusannya."


Perlahan Rubby melepaskan pelukannya dan menatap Mama Dewi.


"Rubby mencoba untuk menerima keputusannya, Ma. Tapi Rubby tidak bisa membohongi hati Rubby sendiri. Rubby selalu berharap, Mas Firaz akan menarik kata-katanya kembali."


Mama Dewi hanya bisa menghela nafasnya. Di sini Rubby selalu berharap Arya kembali, sedangkan di sisi lainya Arya sudah merasa tidak pantas lagi untuk Rubby. Astaga, kenapa jadi serumit ini? Padahal ini sudah beberapa bulan sejak kata talak itu terucap.


Sementara itu, Arya menyandarkan punggungnya di pintu kamarnya. Ia bisa mendengar semua yang Rubby katakan karena letak kamarnya tepat di depan ruang tamu.


"Kita sudah berpisah, Rubby. Tapi kenapa aku tetap saja membuatmu menangis? Bahkan aku mendengar sendiri suara tangisanmu. Apa aku sudah salah mengambil keputusan? Aku hanya ingin kau bahagia, tapi kenapa malah jadi seperti ini?"


_


_


_


Malam harinya. Rubby baru tiba di rumahnya selepas isya.


"Assalamuala'ikum." Ucapnya sambil membuka pintu rumahnya.


"Waalaikumsalam." Bunda Maya menjawab salamnya.


"Kau baru pulang, Rubby? Apa sedang banyak pekerjaan di toko kue?" Tanya Bunda Maya, karena biasanya Rubby pulang jam enam sore.

__ADS_1


"Rubby tadi ke rumah Mama Dewi dulu, Bunda." Jawab Rubby apa adanya.


"Kau ke rumah Mama Dewi?" Ulangnya.


"Iya, Bunda. Rubby mengantarkan kue ke sana." Jawab Rubby jujur.


"Ya sudah, sekarang kau bersihkan tubuhmu. Kita makan malam bersama."


"Iya, Bunda. Rubby ke kamar dulu." Pamitnya.


Bunda Maya ikut melangkah masuk, mengambil ponselnya yang terletak di atas meja dan menghubungi seseorang.


"Halo, Dew." Sapanya begitu panggilannya terhubung.


"Iya, May. Ada apa?" Tanya Mama Dewi di balik ponsel.


"Apa benar tadi Rubby ke rumahmu?" Tanya Bunda Maya, ia hanya ingin memastikan saja.


"Iya, May. Rubby mengantarkan chesse cake untuk kami." Jawab Mama Dewi.


"Oh, begitu? Apa Rubby bertemu dengan Arya di sana?"


"Tidak, May. Mereka tidak bertemu, kau seharusnya tahu itu, May. Rubby hanya mengobrol denganku saja. Kenapa memangnya?"


"Tidak apa-apa. Aku hanya memastikan saja Rubby memang benar ke rumahmu. Soalnya Rubby pulang terlambat. Tadi aku hanya khawatir saja takut terjadi apa-apa dengannya."


"Rubby memang benar ke rumahku. Em, May. Apa kita tidak bisa membantu anak-anak kita? Aku tidak tega, tadi Rubby menangis di sini lumayan lama." Ujar Mama Dewi.


"Dew, aku sudah sering menghibur dan juga menasehati Rubby. Tapi memang sepertinya sangat sulit bagi Rubby untuk melupakan Arya." Ucap Bunda Maya.


"Sebaiknya kau bujuk Arya. Mungkin Arya bisa merubah keputusannya." Lanjutnya, terdengar Mama Dewi membuang nafas berat.


"Ya, nanti akan ku coba. Sudah dulu ya, May. Aku mau mengambilkan Arya makan malam dulu."


"Iya, Dew. Assalamuala'ikum."


"Waalaikumsalam." Kedua wanita itu menutup panggilannya. Mama Dewi meletakan ponselnya di atas meja, dan kembali mengambilkan makanan untuk Arya.


*****


*Di sini ceritanya Rubby itu jatuh cinta sama Arya pada pandangan pertama dan Rubby itu cinta mati sama Arya*


Jadi ga heran kalau Rubby sampai sebegitunya sama Arya, karena alurnya emang begini.

__ADS_1


__ADS_2