
Andika sesekali melirik Arya yang duduk di sebelahnya. Mereka sedang dalam perjalanan pulang.
Wajah Arya terlihat begitu tenang, apa Arya tidak sedih baru saja menceraikan istrinya?
Andika ingin bertanya, tapi diurungkannya.
Akhirnya mereka tiba di rumah, Andika membantu Arya turun dari mobil dan menuntunnya masuk ke dalam rumah.
"Assalamuala'ikum." Ucap kedua pria itu bersamaan.
"Waalaikumsalam." Jawab Mama Dewi yang menghampiri kedua putranya.
"Arya... Mama senang kau sudah pulang." Mama Dewi meraih Arya ke dalam pelukannya.
"Arya juga senang sudah kembali lagi ke rumah." Sahut Arya. Mama Dewi melepas pelukannya, kemudian melihat ke belakang seperti mencari sesuatu.
"Istrimu mana, Arya?" Tanyanya.
"Ma, sebaiknya kita duduk dulu." Ajak Andika yang kemudian menuntun Arya kembali ke sofa tamu.
"Ke mana Rubby?" Tanya Mama Dewi yang duduk berhadapan dengan kedua putranya.
"Ma, Rubby tidak ikut pulang kemari." Jawab Arya, Mama Dewi mengerutkan keningnya.
"Tidak ikut pulang? Apa kalian akan tinggal terpisah lagi?" Tanya Mama Dewi heran, karena setahunya mereka sudah berbaikan.
"Ya, kami akan tinggal terpisah. Mungkin untuk selamanya." Jawab Arya.
"Apa maksudmu, Arya?" Mama Dewi terlihat bingung.
"Arya sudah menjatuhkan talak pada Rubby. Arya juga sudah mengembalikkan Rubby pada Ayah Bakti dan Bunda Maya."
Wanita paruh baya itu menganga tak percaya mendengar apa yang baru di katakan putra sulungnya.
"Kau menceraikan Rubby?" Tanya Mama Dewi dengan nada terkejut.
"Iya, Mama. Dan ku harap, Mama bisa menghargai keputusanku." Jawab Arya.
"Tapi kenapa? Bukannya hubungan kalian sudah membaik?" Suara Mama Dewi terdengar kecewa, sama seperti Ayah Bakti tadi.
"Ma, semua sudah Arya fikirkan. Dan keputusan inilah yang terbaik untuk semuanya."
Arya kemudian bangun dari duduknya.
"Andika, tolong antar Kakak ke kamar." Pintanya.
"Iya, Kak."
__ADS_1
Sementara itu Mama Dewi terpaku di tempat duduknya, raut kecewa dan sedih tercetak jelas di wajahnya.
"Kenapa putraku malah menceraikan Rubby? Padahal hubungan mereka baru saja membaik."
Tak lama Andika kembali ke ruang tamu, tempat Mamanya berada. Pemuda itu duduk di samping Mama Dewi.
"Dika, kenapa jadi seperti ini? Tanya Mama Dewi sendu. Andika menggeleng pelan.
"Dika juga tidak tahu, Ma. Kak Arya tadi tiba-tiba saja menjatuhkan talak pada Kak Rubby." Jawab Andika.
"Tapi apa alasannya?"
"Kak Arya bilang tidak ingin membuat Kak Rubby bersedih lagi. Kak Arya juga tidak mau menyusahkan Kak Rubby."
Mama Dewi menutup wajahnya. Dia bisa merasakan bagaimana perasaan Arya yang sebelum begitu merasa sangat menyesal dengan apa yang sudah terjadi pada Rubby. Dan sekarang putranya itu tidak bisa melihat dan menganggap dirinya nanti akan menjadi beban untuk Rubby.
Tapi seharusnya perceraian bukan jalan yang di ambil Arya. Semuanya masih bisa dibicarakan dengan baik-baik.
"Ma, Kak Arya pernah bilang pada Dika. Kalau Kak Arya membuat Kak Rubby menangis lagi, Kak Arya akan melepaskan Kak Rubby. Mungkin ini maksud dari perkataannya." Ucap Andika kemudian.
"Arya bilang begitu?"
"Iya, Ma. Pada saat hendak menjemput Kak Rubby di rumah Ayah, Kak Arya bilang seperti itu pada Dika."
Mama Dewi memijat keningnya. Di satu sisi ada putranya yang tidak ingin lagi membuat sedih istrinya, dan sisi lain ada Rubby yang pasti akan semakin sedih dengan keputusan Arya.
"Ma, sebaiknya kita jangan membahas ini dulu di depan Kak Arya nanti."
_
_
_
Di dalam sebuah kamar, hanya terdengar suara isak tangis. Rubby menenggelamkan wajahnya pada bantal, entah sudah berapa lama gadis itu menangis.
"Rubby..." Bunda Maya mengusap lembut bahu putrinya.
"Kenapa Mas Firaz melakukan ini, Bunda? Apa salah Rubby?" Tanyanya di antara isak tangis. Suaranya pun sudah hampir menghilang karena terlalu lama menangis.
"Bukannya tadi Arya bilang, kalau dia tidak mau lagi membuatmu bersedih? Arya juga tak ingin menyusahkanmu?"
"Tapi Mas Firaz tidak pernah menyusahkan Rubby. Rubby pun ikhlas kalau harus merawat Mas Firaz seumur hidup Rubby, tapi kenapa Mas Firaz lebih memilih untuk mengakhiri semuanya?"
"Rubby, mungkin ini memang takdir yang harus kalian jalani." Bunda Maya mengusap-usap rambut panjang Rubby. Dirinya tidak tega melihat putrinya menangis seperti ini.
"Rubby sangat mencintainya, Bunda... Rubby tidak ingin berpisah..." Gadis itu menangis di pangkuan Bunda Maya.
__ADS_1
"Sabar, sayang..." Bunda Maya menghujani puncak kepala Rubby dengan kecupan sayang. Hanya itu kata-kata yang bisa Bunda Maya ucapkan. Ia juga tidak tahu harus berbuat apa, semua sungguh di luar dugaanya.
_
_
_
Tok. Tok. Tok.
"Masuk."
Mama Dewi masuk ke dalam kamar Arya dengan membawa sepiring makanan.
"Arya, Mama bawakan makan siang untukmu." Ucapnya sambil melangkah mendekat.
"Taruh di meja saja, Ma." Sahut Arya.
"Ini sudah siang, Arya. Sebaiknya kau makan dulu. Mama suapi ya?" Tawarnya.
"Ma, Arya bisa makan sendiri."
Mama Dewi tak mengindahkan ucapan putranya, ia duduk di sisi Arya.
"Biar Mama suapi. Kapan lagi Mama bisa menyuapi putra Mama?" Tanya Mama Dewi sedikit memaksa.
"Ya sudah terserah Mama saja." Mau tak mau Arya menurut.
Dengan telaten Mama Dewi menyuapi putranya.
"Ma, bisa Arya minta tolong?" Tanya Arya di sela makannya.
"Minta tolong apa, Arya?" Mama Dewi balik bertanya.
"Tolong bereskan barang-barang Rubby yang ada di kamar atas. Nanti Arya akan meminta pada Dika untuk mengantarkannya pada Rubby." Jawab Arya. Mama Dewi menghela nafas berat sepelan mungkin, rasanya tak rela jika harus melakukan itu.
"Iya, nanti akan Mama bereskan." Jawabnya pasrah.
"Terima kasih, Ma."
Untuk sementara ini Arya pindah kamar, dari semula di lantai atas kini jadi di lantai bawah. Tidak mungkin juga dirinya harus naik turun tangga dengan kondisinya sekarang. Beberapa hari lalu juga Arya meminta tolong pada Andika untuk memindahkan barang-barangnya, tapi tidak dengan milik Rubby.
"Sudah habis makannya, sekarang kau minum obat ya." Mama Dewi menyiapkan beberapa butir obat yang memang harus Arya minum untuk beberapa hari ke depan karena kondisinya yang memang belum benar-benar pulih.
"Terima kasih, Ma. Maaf kalau Arya menyusahkan Mama..." Lirih Arya. Mama Dewi menangkup wajah putra sulungnya, masih ada beberapa bekas luka di sana.
"Arya Firaz putra Mama, tidak pernah menyusahkan. Dulu kau bekerja sendirian untuk Mama dan juga Andika. Dan sekarang Mama ingin memanjakanmu kembali, bagaimanapun kau tetap bayi kecil Mama." Satu kecupan hangat mendarat di kening Arya.
__ADS_1
"Sekarang kau istirahat ya. Kalau butuh sesuatu, panggil Mama. Jangan pernah merasa sungkan pada Mama." Mama Dewi membantu Arya untuk berbaring, dan menyelimutinya sampai batas dada. Kemudian mengecup kembali keningnya, Arya menjawabnya dengan anggukkan.
*****