
Ayah dan anak itu berjalan berdampingan melewati koridor rumah sakit.
"Kau senang Rubby, Intan sudah melahirkan?" Tanya Ayah Bakti.
"Tentu saja Rubby senang Ayah. Rubby sudah memilik keponakan yang lucu sekarang." Jawab Rubby, binar kebahagiaan tercetak jelas di wajahnya.
"Apa kau tidak ingin memiliki bayi yang lucu juga?" Tanya Ayah Bakti lagi.
"Ayah kenapa bertanya seperti itu? Wanita mana yang tidak ingin memiliki bayi yang lucu?" Rubby balik bertanya.
"Kalau begitu, menikahlah Rubby." Ucap Ayah Bakti. Rubby menghentikan langkahnya, menatap sendu sang Ayah.
"Bukannya Rubby tidak ingin, tapi Rubby sedang menunggunya, Ayah." Lirihnya. Terdengar helaan nafas berat dari Ayah Bakti, tahu siapa yang di maksud putrinya.
"Yah, semoga saja kalian bisa bersama lagi." Ayah Bakti mengusap rambut Rubby yang tertutup hijab.
"Ayo Ayah, kita beli makan. Yang lainnya pasti sudah lapar." Ajak Rubby menggandeng lengan Ayahnya.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata sedari tadi memperhatikan percakapan mereka berdua.
"Semoga setelah ini, kau bisa bersama kembali dengan mantan suamimu. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku, Rubby." Ucap Dokter Malik dalam hati. Walaupun hatinya sakit, tapi ia tidak akan memaksakan kehendaknya. Melihat Rubby tersenyum, itu sudah cukup baginya.
Sedangkan di ruang rawat.
"Em... Sebenarnya ada yang ingin Mama katakan pada kalian." Ucap Mama Dewi yang masih menggendong cucu pertamanya, sambil menatap Bunda Maya, Intan, dan Andika bergantian.
"Ada apa Dew?" Tanya Bunda Maya.
"Tapi aku minta, jangan beritahu tentang ini pada Rubby." Ucap Mama Dewi membuat ketiga orang itu saling menatap.
"Ada apa, Ma? Apa sesuatu yang penting?" Tanya Andika penasaran.
"Em... Tadi Mama bertemu Dokter Malik, ada yang dia sampaikan pada Mama." Mama Dewi menjeda ucapannya.
"Dokter Malik? Apa Dokter Malik berencana melamar Kak Rubby lagi, Ma?" Tanya Intan, ketiga orang di sana langsung terperangah.
Mungkin saja Dokter Malik ingin membuat kejutan untuk Kakaknya dengan melamar dadakan lagi? Jadi Mama Dewi meminta untuk tidak memberi tahu ini pada Rubby. Fikir Intan.
"Bukan Intan." Sahut Mama Dewi cepat.
"Ini bukan tentang Dokter Malik." Sambungnya.
"Lalu tentang apa, Ma?" Andika bertanya.
"Em... Begini..." Mama Dewi kemudian mengatakan sama persis dengan apa yang di katakan Dokter Malik tadi.
"Benarkah?!" Tanya ketiga orang itu bersamaan begitu Mama Dewi selesai bicara. Wanita paruh baya itu mengangguk.
__ADS_1
"Tentu saja." Jawabnya.
"Tapi ingat pesan Mama tadi." Lanjutnya, mereka mengangguk serentak dengan senyum lebar di wajah masing-masing.
_
_
_
Tak lama kemudian Rubby dan Ayah Bakti kembali dengan membawa beberapa kantong makanan.
"Ada apa ini?" Tanya Ayah Bakti karena melihat keluarganya saling melempar tawa bahagia.
"Ayah..." Bunda Maya menghampiri suaminya.
"Kenapa Bunda? Sepertinya kalian senang sekali?" Tanya Ayah Bakti pada istrinya, lelaki paruh baya itu sepertinya penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.
"Tentu saja kami senang Ayah. Anggota keluarga kita kan bertambah." Jawab Bunda Maya dengan senyum lebar di wajahnya, tapi Ayah Bakti malah menatapnya curiga.
"Benar begitu?" Tanyanya.
"Nanti Bunda ceritakan." Jawab Bunda Maya setengah berbisik, Ayah Bakti mengangguk saja. Sementara Rubby terlihat bingung, yang lain pada tertawa dan kedua orang tuanya malah saling berbisik.
"Rubby, mana makan siangnya? Mama sudah lapar." Panggil Mama Dewi, menyadarkan Rubby yang tengah terdiam.
"Ayo kita makan siang dulu." Ajak Bunda Maya. Mereka menikmati makan siang bersama, sambil sesekali mengobrol ringan. Dan Baby Dikta masih terlelap dalam tidurnya.
_
_
_
Dua minggu berlalu...
Hari ini ada acara aqiqah baby Dikta di kediaman Ayah Bakti. Semua orang nampak sibuk menyiapkan berbagai hidangan untuk para tamu yang datang.
Seorang gadis berdiri di sudut ruangan setelah semua pekerjaannya di rasa selesai. Sepasang matanya mengedar berharap seseorang yang ditunggunya akan datang.
"Mas Firaz, kau di mana? Ini acara keponakanmu, apa kau tidak ingin datang?" Rubby menggumam sendiri, sementara kedua tangannya saling bertaut.
"Bahkan sejak anak Andika dan Intan lahir, Mas Firaz tidak pernah menampakan diri."
Sementara di belakangnya, Mama Dewi tengah memperhatikan gerak-gerik mantan menantunya yang terlihat gelisah.
"Rubby!"
__ADS_1
"Astagfirullah!" Rubby terjingkat kaget, Mama Dewi menepuk bahunya cukup keras.
"Mama..."
"Kau sedang apa di sini? Ayo bergabung dengan yang lainnya." Ujar Mama Dewi.
"Ma, apa Mas Firaz tidak datang?" Tanya Rubby.
"Kau menunggu Arya? Dia tidak datang Rubby." Jawab Mama Dewi membuat Rubby kecewa.
"Kenapa Mas Firaz tidak datang, Ma?" Tanya Rubby lagi.
"Rubby, Arya tidak ingin ke mana-mana. Selama ini juga Arya selalu mengurung diri di rumah." Jawab Mama Dewi sambil mengusap lengan gadis berkacamata itu.
"Rubby hanya ingin melihatnya, Ma. Sudah tujuh bulan sejak Mas Firaz mengucap kata talak, dan kami baru bertemu satu kali di taman itu." Ucap Rubby sendu.
"Saat Rubby datang ke rumah Mama pun, Rubby tidak bisa bertemu dengan Mas Firaz." Sambungnya. Rubby memang tak jarang datang berkunjung ke rumah Mama Dewi, tapi sayangnya yang ingin dilihatnya tidak pernah menampakan diri, karena Arya selalu diam di kamarnya.
Padahal melihat Arya dari jarak jauh saja sudah cukup untuk Rubby mengobati kerinduannya. Ia juga sadar kalau lelaki itu bukan miliknya lagi, tapi apa salah jika hanya ingin melihatnya saja?
"Rubby, jangan fikirkan Arya terus." Ucap Mama Dewi, ia hanya bisa merasa simpati.
"Tapi Mas Firaz selalu ada di fikiran Rubby, Ma."
"Sudah, ayo kita ke ruang tengah saja." Mama Dewi menarik lengan Rubby, mau tak mau gadis itu mengikutinya.
*****
*Kok Rubby begitu sih? Kayak ga ada cowok lain aja di dunia ini? Arya terus yang di fikirin?
#Dari awal kan udah di bilang, di sini Rubby yang duluan jatuh cinta dan cinta mati sama Arya. Karakter Rubby emang udah begini dari sananya. Tapi Rubby ga ngemis2 sama Arya minta balikan lagi, dia cuma berharap.
*Ga ngemis2 gimana? Itu Rubby datang terus ke rumah Arya?
#Datang untuk bersilaturahmi. Rubby tetap jaga hubungan baik dengan keluarga mantan suami karena mereka pisah bukan pengkhianatan, KDRT, atau orang ketiga. Ga salahkan? Lagian Rubby juga ga maksa buat ketemu ma Arya, kalo ketemu ya syukur, kalo engga ya udah.
*Tapi Rubby nangis mulu? Cengeng betul.
#Okey, gini deh. Kalau kalian mendadak di putusin pacar yang kalian cintai, kalian akan nangis atau malah ketawa2? Cuma sekedar pacar tapi kalian pasti nangis kan? Nah ini di talak mendadak sama suami yang di cintai, gimana rasanya? Sedih ga?
*Ya tapi ga usah sampe berbulan-bulan juga kali sedihnya.
#Realita ga semudah kata-kata 😉
Udah dulu ya, mau lanjut nulis lagi. Terima kasih bagi kalian bersedia membaca tulisan recehanku ini...
JANGAN LUPA LIKENYA YA, UNTUK SUPPORT AUTHORNYA YA 😊
__ADS_1