
"Pasti karena tadi aku mengatakan kalau mama menyuruhnya memakai pakaian itu, jadi Rubby tak menggantinya." Fikir Arya.
Ternyata perkiraan Mama Dewi benar, Rubby akan tetap memakai pakaian itu. Namun untuk malam pertama, sepertinya masih jauh dari jangkauan mereka.
* * *
Entah sudah jam berapa sekarang. Tapi sepertinya masih tengah malam. Rubby merasakan sesuatu di atas perutnya, ternyata itu adalah tangan Arya yang tengah memeluknya.
Mata Rubby mengerjap beberapa kali, memastikan dirinya tak salah lihat. Ternyata benar, suaminya itu tengah memeluknya. Posisi mereka bahkan begitu rapat. Entah melayang ke mana guling yang menjadi pemisah di antara mereka tadi.
Arya pasti memeluknya tanpa sadar. Rubby hendak memindahkan tangan itu, tapi ia takut membuat Arya terbangun. Rubby tersenyum sejenak sambil menatap suaminya, dan akhirnya memilih untuk melakukan hal yang sama. Yaitu melingkarkan tangannya di tubuh Arya, membalas pelukan itu. Kedua matanya kembali terpejam, merasakan kehangatan dan kenyamanan yang melingkupinya. Lagipula tak ada salahnya memeluk suami sendiri bukan?
Beberapa jam berlalu... Suara alarm membuat Arya membuka matanya. Diambilnya ponsel yang terletak di atas nakas dan mematikan alarm tersebut. Arya kembali pada posisinya, ia merasa begitu nyaman karena memeluk sesuatu yang hangat dan empuk. Hingga membuatnya enggan untuk bangun.
Tunggu, sejak kapan guling berubah menjadi hangat? Rasa empuknya pun berbeda. Seperti...
Dengan cepat Arya mengalihkan pandangannya, ia menyipitkan matanya. Mencoba memperjelas pengelihatannya di kamar yang hanya di terangi cahaya temaram itu. Seketika matanya terbelalak menyadari apa yang tengah di peluknya.
Rubby!
Bagaimana bisa istrinya itu berada dalam pelukannya? Dan bukannya tadi ada guling di antara mereka? Ke mana guling itu?
Arya menoleh ke sisi lainnya. Ternyata guling itu sudah berpindah di sampingnya. Mungkin tanpa sadar dirinya memindahkan guling itu. Sambil menutup mata dan dengan sangat perlahan Arya mencoba mengangkat tangannya yang di jadikan bantal oleh Rubby. Tubuh bagian atas Rubby sangat jelas terlihat karena selimutnya juga sudah melorot ke bawah.
"Kenapa susah sekali?" Keluh Arya saat kesulitan mengangkat tangannya. Ia tak ingin sampai membangunkan Rubby dan melihat mereka dalam posisi sedekat ini. Padahal tadi Rubby sudah menyadarinya lebih dulu dan malah memilih untuk membalas pelukannya.
Karena merasa ada gerakan, akhirnya Rubby terbangun. Dilihatnya pertama kali suaminya yang sedang berusaha mengangkat tangannya sambil memejamkan mata.
"Mas Firaz..." Panggilnya dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. Refleks Arya membuka mata. Pandangan keduanya bertemu.
"Maaf, apa aku mengganggu tidurmu?" Tanya Arya. Rubby menggeleng pelan.
"Apa sudah masuk waktu subuh?" Tanya Rubby sambil mengucek matanya.
"Iya, tadi alarm di ponselmu berbunyi." Jawab Arya sambil mengalihkan pandangannya. Rubby beranjak bangun dari tidurnya, dan duduk di sisi tempat tidur sambil merapikan dan mengikat rambut panjangnya.
__ADS_1
Arya kembali menatap Rubby. Leher jenjang nan mulus itu terlihat jelas, membuat gairahnya kembali bangkit. Ingin sekali rasanya ia memeluk Rubby dari belakang, dan menuntaskan hasratnya yang ia tahan sejak semalam.
Astaga! Apa yang ada di dalam fikiannya? Kenapa fikirannya jadi kotor seperti ini? Arya menggeleng cepat dan bangun dari tidurnya, sementara Rubby sudah berada di kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Arya mengacak-ngacak rambutnya, ia tidak akan membiarkan Rubby memakai pakaian sexy itu lagi. Kalau tidak, dirinya akan terus-terusan tersiksa seperti ini.
*****
Sementara itu di tempat lain...
Andika sudah nampak bersiap untuk pergi bekerja, sedangkan Intan hanya duduk memperhatikannya. Wanita muda itu terlihat tak bersemangat pagi ini.
"Kenapa?" Tanya Andika sambil mengangkat dagu istrinya.
"Tidak." Jawab Intan singkat.
"Jangan bohong. Aku melihatmu seperti ini sejak kemarin. Apa yang kau fikirkan?" Tanya Andika lagi yang kemudian duduk di samping istrinya. Terlihat Intan membuang nafas berat.
"Aku hanya memikirkan Kak Rubby. Bagaimana keadaannya? Biasanya setiap hari aku bertemu dan bersama dengannya."
"Bagaimana kalau Kak Rubby tidak bahagia dengan pernikahannya?" Tanya Intan dengan sendu.
"Hei, kenapa berfikiran seperti itu?" Andika menangkup wajah istrinya.
"Aku hanya takut saja." Lirih Intan. Entahlah, sejak menikah kemarin Intan malah jadi memikirkan sang kakak. Kakaknya yang tak pernah dekat dengan pria tiba-tiba saja harus menikah karena dirinya. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Rubby karena Arya, Intan mungkin orang pertama yang paling merasa bersalah.
"Intan, kakakku pria yang baik. Kak Arya tidak akan menyakiti Kak Rubby." Jawab Andika yang sebenarnya juga merasa ragu. Apalagi kemarin ia melihat dan mendengar sendiri kalau Arya ternyata masih saling berhubungan dengan Mega.
"Sudahlah. Jangan berfikir yang aneh-aneh. Sebaiknya kita keluar dan sarapan. Anak kita pasti sudah lapar di dalam sana." Kata Andika sambil mengusap lembut perut Intan yang masih rata.
Intan mengangguk pelan, dan mendaratkan kecupan singkat di bibir suaminya.
* * *
Kediaman Mama Dewi
__ADS_1
Sepasang netra itu bergantian menatap suami istri yang duduk di hadapannya.
"Kenapa mereka terlihat biasa saja? Apa rencanaku gagal?" Tanya Mama Dewi dalam hati.
"Arya!" Panggilnya di sela makannya. Mereka bertiga kini sedang menikmati sarapan bersama.
"Iya, Ma." Sahut Arya sambil mengalihkan pandangannya pada Mama Dewi.
"Bagaimana? Apa kau suka?" Tanya Mama Dewi membuat Arya mengerutkan keningnya.
"Suka apanya?" Arya balik bertanya.
"Lingerie yang semalam Mama berikan untuk istrimu. Rubby pasti terlihat cantik saat memakainya kan?" Tanya Mama Dewi dengan memasang tampang polosnya.
"Uhuk! Uhuk!" Seketika itu juga Arya tersedak makanannya.
"Pelan-pelan, Arya. Rubby ambilkan minum untuk suamimu."
Rubby mengambilkan segelas air untuk suaminya. Dengan cepat Arya meneguknya.
"Mama!" Seru Arya setelah acara tersedaknya terhenti.
"Kenapa?" Wajah Mama Dewi terlihat tanpa dosa.
"Aku tak akan mengizinkan Rubby untuk memakai pakaian seperti itu lagi." Tegas Arya namun dengan suara rendah.
"Kenapa memangnya? Bukannya Rubby terlihat sexy?" Tanya Mama Dewi sambil mengangkat salah satu alisnya. Sedangkan Rubby memilih fokus pada makanan di hadapannya saja. Ia tidak akan ikut campur dengan perdebatan antara suami dan ibu mertuanya.
"Bukan terlihat sexy, Rubby malah terlihat seperti perempuan penggoda." Tukas Arya. Rubby menghentikan gerakan tangannya yang akan menyuap makanan.
"Jadi aku terlihat seperti perempuan penggoda semalam? Pantas saja Mas Firaz tidak mau melihatku..." Batin Rubby.
"Arya, jaga bicaramu. Bisa-bisanya kau bilang istrimu seperti perempuan penggoda." Sembur Mama Dewi, ia tak akan terima menantunya di katakan seperti itu.
"Memang seperti itu. Pokoknya aku tak mengizinkan Rubby memakai pakaian itu lagi." Tegas Arya lagi.
__ADS_1