Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
Sketsa Wajahku?


__ADS_3

"Iya, Pak Arya. Tadi saya melayani istri saya dulu, karena istri saya sedang hamil jadi sangat manja pada saya." Jawab Andika sambil tersenyum lebar, memamerkan deretan giginya.


"Alasan." Celetuk Arya sambil menatapnya dengan datar.


"Bukan alasan, Pak. Memang faktanya seperti itu. Istri Pak Arya belum hamil. Jadi Pak Arya belum merasakannya." Timpal Andika.


"Itu salahmu sendiri. Masih kecil tapi sudah membuat anak kecil." Tukas Arya. Andika hanya bisa cemberut sambil memajukan bibirnya beberapa centi.


"Nanti siang belikan aku makanan." Sambung Arya sambil berlalu meninggalkan adiknya yang malah mentap heran padanya.


"Kak Arya tidak marah aku terlambat? Tumben sekali dia? Biasanya kalau ada pegawainya yang terlambat sudah kena ocehannya, kalau tidak di hukum potong gaji." Gumam Andika heran, pemuda itu menggaruk kepanya yang tidak gatal.


"Mungkin aku sedang beruntung kali ini."


_


_


_


Sebuah pesawat komersil baru saja mendarat.


Seorang gadis cantik dengan tubuh tinggi semampai berjalan dengan anggunnya sambil menyeret sebuah koper besar. Kacamata hitam yang ia kenakan serta rambut panjang cokelat sepinggang yang di biarkan terurai menambah daya tariknya. Tak sedikit mata yang memandangnya tanpa berkedip, mengagumi kecantikannya yang memang di atas rata-rata.


"Akhirnya aku kembali ke negara ini." Ucapnya sambil melepas kacamata hitamnya. Memandang pemandangan kota yang selalu terlihat padat itu.


"Arya Firaz, kita akan segera bertemu." Senyum lebar tercetak di wajah cantiknya.


_


_


_


Siang harinya.


Sedari tadi senyum tak henti tersungging di bibir Arya. Rasa bahagia seakan memenuhi hatinya hari ini. Mengingat ciuman pertamanya dengan sang istri.


Tok. Tok. Tok


Suara ketukan pintu membubarkan bayangan Rubby yang sedari tadi memenuhi fikiran Arya.


"Masuk!"


Pintu ruangan itu terbuka, Andika melangkah masuk dan duduk di hadapannya.


"Mau apa kau?" Tanya Arya sambil memandang heran adiknya.

__ADS_1


"Tentu saja aku membawakan makan siang untuk kakakku. Apa kakakku tersayang ini sudah lupa tadi memintaku untuk membelikan makan siang untuknya?" Tanya Andika sarkastik.


"Oh ya, aku lupa. Taruh saja di meja." Sahut Arya dengan entengnya.


"Selalu saja lupa." Andika menggerutu.


"Kau bilang apa?" Sambar Arya.


"Hehe... Tidak bilang apa-apa." Andika menggeleng cepat.


"Kakak kemarin ke mana? Kenapa tidak masuk?" Tanya Andika mengalihkan pembicaraan.


"Aku sakit, dan itu gara-gara dirimu." Jawab Arya yang langsung mendapat sorot mata protes dari adiknya itu.


"Kenapa Kakak jadi menyalahkan aku?"


"Ya karena kau yang sudah membuatku jatuh kemarin." Timpal Arya. Lelaki itu bangun dari duduknya dan mengambil makanan yang baru saja Andika belikan untuknya.


Arya berjalan menuju sofa, kemudian membuka makan siangnya. Tapi ia kembali mengalihkan pandangannya pada Andika.


"Kenapa kau masih di sini? Keluar sana." Usirnya.


"Aku ingin menumpang makan siang di sini." Celetuk Andika yang kemudian menaruh makanannya di atas meja kerja Arya.


"Hei, siapa yang memberimu izin untuk makan di ruanganku?" Tukas Arya, Andika mengendikkan bahunya.


"Ini ruangan kakakku. Jadi aku tidak perlu izin." Jawab Andika sekenanya.


"Dan sekarang adalah jam istirahat. Kak Arya bukan sedang menjadi atasanku, Kak Arya adalah kakakku sekarang." Lanjutnya acuh tak acuh. Arya menganga tak percaya mendengarnya.


Tapi yang di katakan Andika ada benarnya juga, ini memang jam istirahat.


"Terserah kau saja. Tapi jangan kotorkan mejaku." Sahut Arya pasrah.


Arya mulai memakan makan siang yang di bawa Andika. Daripada berdebat dengan adiknya itu lebih baik mengisi perutnya yang sudah kelaparan.


"Kak, bagaimana hubungan Kakak dengan Kak Rubby?" Tanya Andika.


"Baik-baik saja." Jawab Arya tanpa menoleh dan tetap fokus pada makanannya.


"Syukurlah. Lalu kapan aku akan punya keponakan?" Tanya Andika lagi.


"Keponakan?" Arya menghentikan gerakan tangannya yang hendak menyuap.


"Maksudku kapan Kakak akan membuat Kak Rubby hamil?" Terang Andika yang langsung mendapat tatapan tajam dari Arya.


"Jangan bilang kalau Kakak belum melakukannya Kak Rubby?" Andika membalas tatapan tajam kakaknya dengan tatapan curiga.

__ADS_1


"Andika!" Geram Arya.


"Jadi kalian belum melakukannya? Ck, ck, ck, kalian rugi sekali." Timpal Andika sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tutup mulutmu, atau makan siangmu akan melayang ke wajahmu." Ancam Arya tapi malah membuat Andika tergelak.


"Aku tidak mengerti dengan Kakak. Kenapa Kakak mengabaikan istri sebaik dan secantik Kak Rubby." Andika mulai membuka makan siangnya.


"Aku tidak mengabaikannya." Sahut Arya tidak terima.


"Lalu kenapa kalian belum...?" Andika menggantung ucapannya.


"Kami belum melakukannya karena kami belum saling mencintai. Dan aku tidak mau melakukan itu hanya karena dasar nafsu saja." Arya menjelaskan.


"Bukan sepertimu!" Tambahnya. Seharusnya Andika tahu dirinya tipe pria seperti apa.


"Kakak ini, aku melakukannya dengan Intan karena kami saling mencintai." Sergah Andika.


"Kalau cinta seharusnya kalian menikah dulu, baru melakukan itu." Ucapan telak Arya membuat Andika terdiam, yang di katakan kakaknya itu memang benar. Andika kembali fokus pada makan siangnya, tapi baru saja Andika hendak menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, sesuatu menarik perhatiannya.


"Apa ini?" Secarik kertas yang terselip di antara buku laporan di tarik Andika. Matanya meneliti sesuatu yang terdapat pada kertas itu.


"Sejak kapan Kakakku bisa menggambar sebagus ini?" Celetuknya.


"Andika." Arya menatap datar Andika. Kenapa setiap perkataan yang keluar dari mulut adiknya itu terdengar begitu menyebalkan?


"Gambar sketsa? Untuk apa Kakak menggambar sketsa wajah Kakak sendiri?" Tanya Andika sambil menunjukkan kertas itu pada Arya. Gambar sketsa yang beberapa hari lalu di buat Rubby nyatanya Arya bawa sampai ke tempat kerjanya.


"Apa kau bilang?" Arya balik bertanya.


"Ini sketsa wajah Kakak kan? Sejak kapan Kakak bisa membuat yang seperti ini?" Tanya Andika lagi. Karena setahunya Arya tidak bisa membuat gambar seperti itu.


"Sketsa wajahku?" Gumam Arya.


Arya menghentikan makannya dan menghampiri Andika.


"Memangnya gambar ini mirip denganku?" Tanyanya.


"Ya, tentu saja. Itu memang sketsa wajah Kakak kan?" Andika memandang heran pada kakaknya yang terlihat berfikir.


"Tunggu, tunggu. Sebenarnya ini gambar siapa, Kak?" Tanyanya bingung.


"Rubby." Jawab Arya. Andika kemudian tertawa.


"Ha...ha...ha... Sudah ku duga. Kakak tidak mungkin bisa menggambar sebagus ini." Ledeknya yang langsung mendapat tatapan datar dari Arya.


"Hentikan tawamu, Dika. Itu sangat menyebalkan." Tukasnya.

__ADS_1


"Okey, okey. Tapi kenapa Kak Rubby membuat sketsa wajah Kakak? Apa Kakak yang memintanya?" Tanya Andika begitu tawanya terhenti. Arya hanya mengangkat bahunya saja sebagai jawaban, dan kembali ke sofa untuk melanjutkan makan siangnya.


"Apa Kak Rubby lupa wajah suaminya, sampai harus membuat sketsa wajahnya segala?" Lanjut Andika dan meletakan kembali kertas itu ke tempatnya semula. Sedangkan Arya tak menanggapinya. Ia sibuk dengan fikirannya sendiri.


__ADS_2