Cinta Pertamaku Menjadi Suamiku

Cinta Pertamaku Menjadi Suamiku
105


__ADS_3

Adel melangkahkan kakinya bontai memasuki rumah, wajahnya


masam dan sedih,berulang kali menghela nafasnya.


‘’Hah.’’


‘’Eh…ayah !’’Adel berjalan kearah Tomi.


‘’Ayah kok ada di sini?’’Tanya Adel.


‘’Oh kamu sudah pulang Adel.’’Kata Tomi.


‘’Iyah,ayah sendiri tumben jam segini sudah ada di


sini.’’Tanya Adel


‘’Ah,tadi siang Marisa menghubungi ayah ,katanya malam ini


akan mengadakan makan malam keluarga.’’ Jawab Tomi.


‘’Jadi ayah menutup restoran lebih awal.’’Lanjunya.


‘’Oh begitu,tapi tante Marisa tidak bilang apa apa pada ku.’’Kata


Adel.


‘’Katanya hari ini kamu  akan mengikuti ujian masuk keperawatan yah ,bagaimana


ujian?.’’Tanya Tomi.


‘’Em,itu….soal ujian masuk.’’ Kata Adel gugup.


‘’Adel …kamu sudah pulang sayang.’’Teriak Marisa saat melihat


Adel dan Tomi.


‘’Kapan kamu pulang? Kenapa tidak menghubungi Davian biar di


jemput.’’Tanya Marisa.


‘’Baru saja Tante,Adel tidak mau merepotkan Davian mangkanya


Adel pulang sendiri.’’Jawab Adel


‘’Siapa bilang kamu merepotkan,ah …sudah – sudah sekarang


kamu mandi kita akan makan malam bersama.’’Titah Marisa.


‘’Baik,ayah Adel ke kamar dulu.’’Pamit Adel pergi ke kamar.


‘’Iyah.’’Jawab Tomi.


‘’Sepertinya Adel sedang sedih.’’Kata Tomi melihat punggung


anaknya yang naik ke atas.


‘’Mungkin ada hubungannya dengan ujian,nanti saja kita tanya.’’Kata


Marisa.


‘’Yah sudah aku ke dapur dulu.’’Pamit Marisa.


‘’Aku akan membantu mu.’’Kata Tomi.


‘’Tidak perlu ,lebih baik kau temani suami ku saja dia bilang


rindu dengan mu karna akhir akhir ini kau  jarang kemari.’’Tolak Marisa.


‘’Yah sudah.’’Tomi pergi ke ruang keluarga yang dimana Marselo


yang sedang menunggunya sambil menikmati secangkir kopi.


Makan malam berlangsung dengan hening hanya dentingan sendok


serta garpuh dan piring yang terdengar hingga, Marisa menanyakan soal ujian


Adel.


‘’Adel bagaimana dengan ujian mu,apa berjalan dengan


baik?’’Tanya Marisa.


‘’Eu…itu.’’Adel menunduk sambil memainkan jarinya.


Kilas balik


Adel memulai memeriksa nafasnya lalu memberi nafas


buatan,saat akan mulai memompa dadanya juri yang tadi bertanya pada Adel menghentikannya.


‘’Apa kau tidak akan melaporkannya?’’Tanyanya.


‘’Seseorang bisa telepon ambulan.’’Kata Adel.


Lalu memulai memompa dadanya ,saking gugupnya Adel memompa


dengan ritme yang kacau.


‘’Stop,cukup.’’Kata juri menghentikan Adel.


‘’Kau tahu apa kesalahan yang kau lakukan.’’Tanyanya.


Adel menggeleng tak tahu dibagian mana kesalahannya.

__ADS_1


‘’Saat kau menyuruh seseorang menelepon ambulan,kau pikir di


saat ada keadaan panic seperti itu akan ada yang mendenger, kebanyakan orang


orang akan saling mengandalkan dan akhirnya tidak akan ada yang  memanggil ambulan dan ambulan tidak akan


datang tepat waktu.’’ Jelasnya.


‘’Jika telambat dan si pasien tidak mendapat udara dalam lima


menit akan menyebabkan kerusakan pada otak dan lebih dari sepuluh menit bisa


menyebabkan kematian.’’ Katanya lagi,membuat Adel kaget,hal yang di anggap


sepele bisa menyibabkan kematian pada orang lain.


‘’Jika di kehidupan nyata kamu sudah membunuh


seseorang.’’Katanya.


‘’Kami tidak bisa menerima seorang pembunuh sebagai


perawat.’’Lanjutnya.


Kilas balik selesai.


‘’Ya ampun kenapa orang itu selalu saja menyusakan Adel di


setiap ujian.’’Keluh Marisa mendengar cerita Adel.


‘’Lagian sudah tahu otak dan mental kak Adel hanya segitu


,malah sho –shoan mau jadi perawat.’’Kata Daniel


‘’Daniel!.’’Tegur Marselo.


‘’Adel jangan di dengerin ucapan Daniel yah,kamu kan tahu


bagaimana sikapnya.’’ Kata Marisa membari pengertian sambil menatap tajam


Daniel.


‘Sebenarnya yang anak kandung di sini siapa sih.’Pikir Daniel


kesal.


‘’Tidak apa apa tante,yang di katakan Daniel itu benar.’’Kata


Adel.


‘’Tuhkan.’’Saut Daniel yang kembali mendapat tatapan tajam


bukan hanya dari Marisa tapi Marselo juga.


‘’Saat juri memberitahu ku kalau bisa saja seseorang yang


walau sebaik apa pun niatnya menolong,dia tetap seorang pembunuh.’’Kata Adel


nanar.


‘’Itu membuat ku tambah gelisah dan membuat ku sedikit hilang


fokus.’’ Lanjutnya .


‘’Apa lagi saat mereka bilang aku sudah membunuh satu boneka


itu membuatku sadar atas ketidak mampuanku dan kurang kuatnya mentalku .’’Kata


Adel.


‘’Padahal  tenaga medis


itu  di hadapkan dengan keselamatan dan


hidup/matinya seseorang setiap harinya.’’Lanjutnya.


‘’Aku Baru di hadapkan soal yang begini saja, sudah gugup dan


gelisah apa lagi kalau itu kasus beneran ,mungkin aku akan gemeter ketakutan


tanpa bisa melakukan apa apa,’’Tambahnya.


‘’Tante,om,ayah…aku sudah selesai,jadi aku pamit  duluan .’’Pamit Adel meninggalkan meja makan.


‘’Hah,kenapa sih dia itu selalu memilih melakukan hal hal


yang sulit.’’Kata Marisa menatap sendu kearah perginya Adel.


‘’Kita do’akan saja semoga Adel tidak berputus asa dengan  mimpinya dan memdapat yang terbaik.’’Kata


Marselo.


‘’Iyah,tenang saja Marisa Adel itu tidak akan menyerah dengan


apa yang sudah dia putuskan.’’Kata Tomi yang mempercayai putri semata


wayangnya.


Daniel menyengritkan dahinya saat melihat kakaknya menatap


kepergian Adel dengan tatapan yang sulit di artikan dengan senyum tipis


tercetak di wajahnya.

__ADS_1


Karna suasananya yang tak mendukung mereka pun langsung pergi


ke kamar masing masing setelah selesai makan malam.


‘’Haaaahhh.’’Adel terduduk di jendela kamarnya yang dia buka.


‘’Berhenti menghela nafas,itu mengganggu.’’Kata Davian.


‘’Eh.’’Adel hampir terjatuh karna terkejut.


‘’Davian sejak kapan e’lo di sana?’’Tanya Adel yang baru


menyadari kalau Davian pun membuka jendelanya juga.


‘’Sejak tadi,dan melihat seseorang yang kurang kerjaan dengan


membuang buang nafas .’’Jawab Davian,Adel tersipu malu mendengar jawaban


Davian.


‘’Kalau begitu jangan di lihat.’’Kata Adel kesal.


‘’Aku tidak buta dan tuli sehingga tak melihat apa yang ada


di samping ku.’’Balas Davian.


‘’Ck.’’Adel berdecik kesal.


‘’Em,jadi bagaimana rasanya membunuh boneka.’’Tanya Davian.


‘’Apa kamu akan membunuh boneka lainnya atau malah berhenti?’’Tanya


Davian.


Wajah Adel memerah,marah tak tahu kah kalau saat ini Adel itu


butuh penghiburan dan penyemangat bukan cibiran.


‘’Tak bisa kah kau perduli pada ku sedikit saja.’’Kata Adel


nanar.


‘’Jika e’lo enggak ada niat untuk menghibur gue, lebih baik


tinggalkan gue sendiri ,jangan ganggu!.’’Lanjutnya sinis.


‘’Aku bukan artis atau pun comedian yang bisa menghibur


mu.’’Kata Davian yang menatap Adel.


‘’Kamu terlalu terburu buru dan memaksakan diri.’’Lanjutnya.


‘’Aku tidak memaksakan diri, dari pada kau terus mengejek


ku,lebih baik kau memikirkan masa depan mu saja sana.’’Kata Adel yang sudah


jengkel.


‘’Untuk apa memikirkan masa depan ku yang jelas jelas sangat


cerah.’’Kata Davian.


‘’Aku bisa melakukan apa pun yang aku mau bahkan tampang ku


saja bisa mendatangkan uang.’’Kata Davian percaya diri.


‘’Percaya diri sekali kau.’’ Kata Adel.


‘’Apa aku salah?’’Tanya Davian.


‘Memang tidak salah sih,tapi aku tidak mau mengakuinya.’


Batin Adel sebal.


‘’Kau terlalu narsis.’’Kata Adel.


‘’Hahahaha.’’Davian tertawa.


‘’Aku yang harusnya di hibur kenapa dia yang


tertawanya.’’Kata Adel di buat heran oleh Davian.


‘’Kamu tidak cocok murung begitu,lebih cocok bersikap tak


tahu malu begini.’’Kata Davian.


‘’Apa sih mau mu Davian dari tadi mengejek ku terus?’’ Tanya


Adel yang sudah tak tahan lagi.


‘’Jangan terlalu di pikirkan soal kamu membunuh satu boneka


hari ini.’’Kata Davian.


‘’Justru bunuhlah sebanyak banyaknya boneka untuk


menyelamatkan satu manusia.’’Lanjutnya


‘’Maksudnya?’’Kata Adel tak mengerti.


‘Kenapa Davian menyuruh ku membunuh boneka?’Pikirnya


UNTUK CPR NYA MAAF KALAU SALAH AKU TIDAK TAHU SOAL

__ADS_1


GITUAN,MOHON DI MAKLUM.


TERIMA KASIH.


__ADS_2