
‘’Lili bisa e’lo membawa Adel besok untuk menonton
pertandingan babak penyisihan.’’Kata Diki.
‘’Untuk apa gue bawa Adel menonton pertandingan.’’Tanya Lili.
‘’Ya ,agar Reno dan Rendy jadi bersemangat bermain
basketnya.’’Jawab Diki.
‘’Dan membuat Adel semakin sakit hati melihat ke mesraan
Davian dan Laura.’’Kata Lili.
‘’Tidak.’’Tolak Lili.
‘’Davian dan Laura enggak mungkin bermesraan di saat
pertandingan kali.’’Kata Diki malas.
‘Jika benar akan gue timpuk pake bola,enak aja dia bisa
bermesraan sedang kan gue gagal mulu.’Batin Diki kesal.
‘’Anggep aja liburan buat Adel biar enggak jenuh melihat buku
tebal mulu dan sekalian sebagai penyemangat Reno.’’Kata Diki
‘’Iyah kan, sekali dayung dua tiga pulau
terlampowi.’’Tambahnya
‘’Bilang aja e’lo mau Lili menonton pertandingan e’lo.’’Kata
Tia.
‘’Tahu pake bawa –bawa Reno segara, bilang aja yang yang
sejujurnya.’’Kata Fadli ikutan.
‘’Jadi laki –laki yang jentel dong jangan menjadikan orang
lain sebagai alasan.’’Kata Tia lagi.
‘’Jangan jadi seorang pengecut yang selalu mencari cari
alasan.’’Kata Fadli.
‘’Apaan sih ,kalian berdua ikut –ikutan aja.’’Kata Diki
kesal.
‘Kenapa malah gue yang kena,ya walau sebenarnya gue juga
berharap Lili datang untuk menonton pertandingan gue.’Pikir Diki.
‘’Mulut –mulut kita iyah kan Fad.’’Tanya Tia pada Fadli.
‘’Yap,siapa e’lo larang larang kita bicara.’’Balas Fadli.
‘’Gue itu lagi bicara dengan Lili,orang yang tidak ada
kepentingan jangan ikut campur.’’Kata Diki.
‘’Kita kan punya telinga jadi wajar dong berkomentar.’’Kata
Fadli.
‘’Ngapain sih e’lo di sini ganggu aja,pergi sana.’’Kata Diki
yang sudah jengkel.
‘’E’lo enggak lihat? gue itu lagi potong rambut.’’Kata Fadli
yang memang dia sedang memotong rambutnya.
‘’Yang harusnya pergi itu e’lo bukan gue.’’Tambahnya.
‘’Enak saja e’lo nyuruh pelanggan gue pergi.’’Kata Tia
mengacungkan tangan yang memegang sisir pada Diki,dia sedang memotong rambut
Fadli.
‘’Laki kok motong rambutnya di salon.’’Kata Diki.
‘’Eh jangan salah yah salon ini tuh pernah motong rambut
artis pria yang lagi naik daun.’’Kata Tia.
‘’Lili bantuin gue dong,gue di keroyok mereka .’’Kata Diki
meminta bantuan pada Lili yang sedang asyik menggambar.
‘’Cih! cemen minta bantuin sama cewek.’’Kata Tia meledek
Diki.
‘’Lili enggak usah di bantuin si Diki,di amah cuman mau caper
doang.’’Kata Fadli.
‘’Kalian berdua cocok sama –sama menyebalkan, kenapa tidak
jadian saja.’’Kata Diki
‘’Nanti saja kita jadiannya setelah e’lo dengan Lili jadian
terlebih dulu.’’Kata Fadli santai.
Ketiga orang yang mendengar ucapan Fadli yang terlewat santai
begong bahkan Tia dan Lili menghentikan kegiatan mereka.
Karna saat ini salon sedang sepi yang ada hanya mereka
berempat dan karyawan yang lainnya sedang pergi istirahat.
‘’Gue mau beli makanan ada yang mau nitip.’’Kata Lili memecah
keheningan, perutnya sudah lapar minta di isi.
__ADS_1
‘’Gue nitip nasi goreng.’’Kata Tia.
‘’Gue juga tapi pedas yah.’’Kata Fadli.
‘’E’lo mau nitip juga.’’Tanya Lili pada Diki.
‘’Nggak, gue menemani e’lo saja.’’Diki bangkit dari sofa.
‘’Gue enggak mau jadi nyamuk di sini.’’lanjutnya.
Lili tak menangapi ucapan Diki lalu mereka pergi keluar untuk
membeli makanan meninggalkan Tia dan Fadli.
‘’E’lo seriusan tetang tadi Fadli?’’Tanya Tia.
‘’Yang mana?’’Tanya Fadli balik.
‘’Soal pacaran.’’Jawab Tia.
‘’Lihat aja entar kalau jodoh kan tidak akan kemana.’’Kata
Fadli,Tia mengangkat bahunya lalu melanjutkan memotong rambut Fadli.
Lili dan Diki sedang menunggu pesanan mereka karna Tia dan
Fadli pesen nasi goreng Lili pun ikut biar enggak menunggu lagi.
‘’Ini neng pesanannya.’’Kata penjual nasi goreng.
‘’Terima kasih pak.’’Lili menerima bungkusan dan memberikan
uangnya.
Mereka kembali ke salon tempat Tia bekerja di perjalanan Lili
melihat Davian yang sedang berjalan dengan Laura.
‘’Bukannya itu Davian yah?’’Tanya Lili sambil menunjuk ke
arah Davian.
‘’Mana……ah benar,kenapa dia bersama Laura?ayo kesana!.’’Diki
menarik tangan Lili menghampiri Davian dan Laura.
‘’Makasih yah sudah menemani gue membeli buku.’’Kata Laura
sambil tersenyum.
‘’Tidak perlu,lagian sekalian gue juga mau beli beberapa
buku.’’Jawab Davian.
‘’Lain kali bagaimana kalau kita pergi lagi.’’Kata Laura.
‘’Boleh.’’Kata Davian.
‘’Davian ….Laura.’’Panggil Diki.
‘’Kalian habis dari mana?’’Tanya Diki.
‘’Kalian sendiri darimana .’’Lanjut Laura lalu dia melihat
Diki menggemgam tangan Lili.
‘’Kalian sedang kencan yah.’’Tanya Laura.
‘’Tidak,kami hanya habis membeli makanan saja, tidak
lebih.’’Jawab Lili.’’
‘’Oh,maaf! Gue pikir kalian sedang kencan.’’Kata Laura merasa
tak enak.
‘’Gue duluan yah,takut nanti mereka nungguin.’’Pamit Lili
pada Diki.
‘’Iyah,nanti gue nyusul.’’Kata Diki.
‘’Dah Davian,Laura.’’Setelah pamit Lili pergi.
‘’Mereka,kalian lagi hengout yah.’’Tanya Laura.
‘’Enggak,cuma mengantar Fadli potong rambut di salon tempat
Tia bekerja dan kebetulan Lili juga ada disana.’’Jawab Diki,setegah berbohong.
‘’Adel juga.’’Tanya Davian.
‘’Tumben e’lo tanya soal Adel,kenapa?’’Tanya Diki mengoda
Davian.
‘’Tidak ada apa –apa, biasanya kan kalau ada mereka Adel juga
ada.’’Kata Davian santai tak terpengaruh dengan godaan Diki.
‘’Kalau Adel di sana gue enggak bisa membujuk Lili untuk
membawa Adel ke pertandingan besok.’’Kata Diki.
‘’Yang ada nanti kepala gue di timpuk lagi pake buku yang
super tebal itu,sekarang saja kepala gue masih terasa sakit.’’Lanjut Diki.
‘’Tidak terima kasih gue masih ingin otak gue tetap
utuh.’’Tambahnya.
‘’Salah e’lo sendiri.’’Kata Davian.
‘’Cih.’’Diki mendecik kesal.
‘’Ngapain e’lo mau membujuk Adel untuk menonton pertandingan
besok.’’Tanya Laura penasaran.
‘’Hm…..untuk membuat Reno dan Rendy bertambah semangat,kan
__ADS_1
kalau ada Adel pasti mereka bersemangat dan bermain bagus juga biar terlihat
keren di mata Adel.’’Jawab Diki sambil tersenyum jahil.
‘’Bilang aja biar e’lo di mainkannya hanya sebentar dan
membiarkan Reno dan Rendy menggantikan e’lo.’’Kata Davian yang sudah hapal
dengan akal bulusnya Diki.
‘’Hehehe,tahu aja.’’Kata Diki cengengesan.
‘’E’lo emang sahabat gue yang paling pengertian.’’Tambahnya
sambil mengancungkn jempolnya.
‘’Dah yah gue nyusul Lili ,sampai jumpa.’’Diki pamit pada
Davian dan Laura lalu pergi menyusul Lili yang sudah jauh.
‘’Ada –ada aja si Diki itu.’’Kata Laura lalu tersenyum lega
dengan jawaban Diki meski dia kesal dan tak mau Adel di sana dan kemungkinan
bisa mengganggunya dan Davian.
‘’Tapi…. kenapa dia tidak meminta e’lo yang membujuk Adel,
kan pasti Adel langsung mau.’’Tambahnya,karna penasaran.
‘’Karna dia tahu kalau gue enggak mau melakukan itu.’’Jawab
Davian.
‘’Ah…benar juga.’’Kata Laura membenarkan,meski dia baru
mengenal Davian karna dia dan Davian hampir mempunyai sifat yang sama.
‘’Laura gue pulang duluan,sorry gue enggak bisa antar e’lo
pulang,enggak apa apakan.’’Kata Davian berpamitan.
‘’Iyah tenang saja.’’kata Laura sambil tersenyum walau
sebenarnya dia kecewa.
Bagaimana tidak kecewa setiap mereka pergi Davian tidak
pernah mengantarnya pulang.
Setiap wanita pasti ingin diantar pulang ke rumahnya oleh pria
yang dia sukai. Walau Davian tidak pernah bersikap acuh terhadapnya seperti
yang dia lakukan pada wanita lain tapi seolah ada pembatas yang membatasinya.
‘’Ya sudah hati –hati yah.’’Kata Davian lalu pergi
meninggalkan Laura sendirian.
‘’Kenapa e’lo tidak pernah sekali pun mengantar gue
pulang?’’Tanya Laura saat melihat Davian semakin menjauh.
‘’Harus sedekat apa agar gue bisa mendapatkan perlakuan
berbeda dari e’lo,Davian.’’Tambahnya.
Cukup lama Laura berdiri di tepi jalan memandang ke pergian
Davian, Satria yang kebetulan lewat melihat Laura yang berdiri di tepi jalan.
Tid tid tid
Suara kelakson yang Satria bunyikan menarik perhatian Laura dan
menoleh padanya.
‘’Laura kamu sedang apa?’’Tanya Satria saat Laura sudah
menatapnya.
‘’Apa kamu mau pulang?’’Tanya Satria lagi karna Laura tidak
menjawabnya.
‘’Ayo aku akan mengantar mu pulang.’’Ajak Satria sambil
tersenyum tulus.
‘’Tidak usah senior,gue bisa pulang sendiri.’’Kata laura
sambil tersenyum.
‘’Taksi’’Laura menyetop taksi dan masuk.
‘’Kalau gitu gue pulang duluan,senior hati –hati di
jalan.’’Kata Laura dia dalam mobil dengan jendela yang terbuka.
‘’Sampai jumpa,pak jalan.’’Setelah berpamitan dengan Satria
Laura meninta pak supirnya untuk menjalankan mobilnya.
Satria memandang taksi yang di tumpangi Laura dengan sendu
dan kecewa.
‘’Gue cuman mau mengantar e’lo sampai rumah dengan aman dan
selamat.’’Guman Satria.
‘’Gue hanya ingin jagain e’lo doang,tak apa kalau e’lo tak
mau membalas perasaan gue tapi bisakah gue jadi teman e’lo dan jagain
e’lo.’’Lanjutnya.
‘’Cuman itu yang gue mau!.’’Tambahnya.
Satria kembali menjalankan motornya pergi ke kost’sannya.
__ADS_1