Cinta Pertamaku Menjadi Suamiku

Cinta Pertamaku Menjadi Suamiku
87


__ADS_3

Davian melempar asal tas berisi buku ke sofa,dia duduk dan


menyandarkan kepalanya ke sofa.


Dia kesal saat teringat ucapan Diki yang ingin membujuk Lili


agar bisa membawa Adel ke pertandingan untuk memberikan semangat pada Reno dan


Rendy.


Seolah olah dia ingin menjodohkan mereka pada Adel dan Diki


melakukannya secara terang terangan di depan Davian.


‘’Apa maksud Diki melakukan hal itu?’’Kata Davian,dia tahu


kalau Diki memiliki maksud tertentu.


‘’Lebih baik mandi saja dan mendinginkan kepala.’’Davian


beranjak ke kamar mandi.


Tok tok tok


‘’Kak,ini Daniel.’’Daniel mengetuk pintu kamar Davian.


‘’Apa kakak ada di kamar?’’Tanya Daniel.


‘’Kenapa tidak ada jawaban yah?’’Daniel bingung.


‘’Perasaan tadi aku mendengar suara motor kak Vian


deh.’’Lanjutnya.


Clek


‘’Kak.’’Daniel membuka pintu dan masuk ke dalam kamar Davian.


Daniel melihat ke sekeliling mencari Davian,terdengar suara


pintu terbuka Daniel menoleh ke arahnya.


‘’Daniel! Ada apa?’’Tanya Davian saat melihat Daniel di


kamarnya.


‘’Ada yang ingin aku tanyakan pada kakak.’’Jawab Daniel.


‘’Oh,duduklah.’’Kata Davian menyuruh Daniel duduk dan dia pun


duduk.


‘’Apa yang ingin kamu tanyakan.’’Tanya Davian.


‘’Ini….’’Daniel menunjukan sebuah pertanyaan yang ada di buku


yang di bawa.


‘’Aku tidak mengerti bagaimana mengerjakan ini.’’Tambahnya.


Davian menggeser buku Daniel dan mulai menjelaskan cara


mengerjakan soal itu,setelah selesai di jelaskan Daniel mengerjakan soal itu.


‘’Apa kakak berencana menjadi dokter?’’Tanya Daniel saat tak


sengaja melihat buku yang tergeletak di sofa depannya.


‘’Hm.’’Davian melirik buku sebentar lalu kembali melihat buku


yang dia baca.


‘’Kalau kakak akan jadi dokter berarti kakak bisa dong


menyembuhkan penyakit Ruri.’’Kata Daniel senang.


Marselo yang lewat kamar Davian mendengar pembicaraan Daniel


tentang Davian mau menjadi dokter.


‘’Davian bisa ikut papa sebentar.’’Kata Marselo menghampiri


kedua anaknya.


Davian dan Daniel sedikit terkejut dengan kedatangan Marselo.


‘’Baik.’’Davian bangkit dari sofa dan mengikuti papanya.


Mereka pergi menuju ke ruang kerja milik Marselo setelah


sampai Marselo memintanya Davian duduk di depannya.


‘’Papa mau tanya,apa benar apa yang di katakan Daniel


tadi?’’Tanya Marselo langsung.


‘’Apa kamu mau pindah jurusan? Dan berencana jadi dokter’’Tanyanya


lagi.


‘’Vian tidak tahu pah,Vian masih belum memutuskannya.’’Jawab


Davian,dia memang tidak bermaksud pindah jurusan,dia membeli buku tersebut itu


untuk Adel.


Davian mencari buku medis yang lebih sederhana dan mudah di


pahami untuk membantu Adel belajar.


‘’Papa tidak melalang kamu untuk pindah jurusan,tapi kamu kan


tahu kalau kamu itu anak sulung papa.’’Kata Marselo.

__ADS_1


‘’Kamu punya kewajiban untuk menteruskan perusahaan


papa.’’Lanjutnya.


‘’Kalau bukan kamu siapa lagi yang papa percaya untuk


menggantikan papa nanti.’’Tambahnya.


‘’Pah,Vian tidak tertarik dengan game.’’Kata Davian.


‘’Apa lagi mengurusi perusahaan.’’lanjutnya.


Baginya gema itu membosankan karna sesuatu yang sudah di


program oleh manusia itu sangat mudah di prediksi dan di tebak.


‘’Papa kan tahu aku sejak awal tidak mau kuliah dan ingin


langsung memasuki dunia kerja.’’Kata Davian.


‘’Aku kuliah karna paksaan kalian.’’Tambahnya.


‘’Papa tahu,tapi papa lakukan itu untuk masa depan


kamu.’’Kata Marselo.


‘’Sudahlah pah Vian mau istirahat besok Vian akan ada


pertandingan.’’Davian pamit pada papanya setelahnya pergi ke kamarnya.


Marselo menghela nafas dan mengusap kasar wajahnya,dia tidak


tahu lagi bagaimana menghadapi anak sulungnya.


Saat Davian keluar dari ruang kerja papanya dia melihat Adel


berjalan ke kamarnya.


‘’Kamu darimana.’’Tanya Davian.


‘’Hah.’’Kata Adel terkejut


‘’Itu dari restoran,tadi ramai pengunjung jadi gue bantuin


ayah dulu di restoran.’’Jawab Adel.


‘’Oh.’’Davian langsung masuk ke kamarnya setelah mendengar


jawab Adel.


Adel mengedip ngedipkan matanya mendengar jawab Davian.


‘’Gitu doang,gue udah jawab panjang kali lebar dia hanya


bilang ‘Oh’ ngapain juga bertanya bikin kesal saja.’’Keluh Adel lalu masuk ke


kamarnya.


Tanpa Adel tahu Davian melihat apa yang Adel lakukan,dia


‘Hmh,ternyata seru juga membuat dia kesal.’Batin Davian dia


tersenyum dan menutup pintunya dengan rapat.


Davian mengambil buku yang tadi dia beli dan mendudukan diri


di ranjang menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.


Dia membuka dan mulai membacanya dengan serius lalu bibirnya


tersenyum.


‘Menarik.’Batin Davian lalu melanjutkan membacanya.


Setelah makan malam mereka kembali ke kamar masing masing dan


istirahat.


Marisa yang menyadari kalau suami itu terlihat gelisah dan


banyak pikiran pun menghampiri Marselo.


‘’Pah ,ada apa? Apa terjadi sesuatu di kantor?’’Tanya Marisa


,dia duduk di samping suaminya.


‘’Tidak ada apa apa,semua baik baik saja.’’Jawab Marselo.


‘’Tapi mama perhatikan,kayanya papa seperti sedang banyak


pikiran.’’Kata Marisa.


‘’Coba bilang sama mama mungkin ada yang bisa mama


bantu.’’Lanjunya.


‘’Jangan di pemdam sendiri,nanti malah sakit lho.’’Tambahnya,Marselo


tersenyum melihat istrinya yang perhatian padanya.


‘’Ini soal Davian,tadi papa denger kalau dia mau menjadi


dokter.’’Kata Marselo.


‘’Davian mau jadi dokter,papa yakin.’’Tanya Marisa heran.


‘’Papa tidak tahu,tapi pas papa tanya dia belum kepikiran


untuk itu.’’Jawab Marselo.


‘’Terus apa masalahnya,kan Davian belum memutuskan.’’Tanya


Marisa.

__ADS_1


‘’Mama kan tahu selain Davian siapa lagi yang bisa menggantikan


papa dan Davian juga bilang kalau dia tidak tertarik untuk menggantikan


papa.’’Jawab Marselo


‘’Mama rasa lebih baik kita membujuknya perlahan lahan kalau


di paksa mama takut Davian akan benar benar tidak mau,kan papa tahu sendiri


bagaimana sifat Davian.’’Marisa memberi saran dan mengusap punggung tangan


suaminya.


‘’Tapi mama penasaran kenapa tiba tiba Davian tertarik dengan


dunia medis yah.’’Tanya Marisa heran.


‘’Papa juga tidak tahu dan penasaran juga.’’Kata Marselo.


‘’Apa mungkin ini ada hubungannya dengan Adel?’’Kata Marisa


curiga.


‘’Maksud mama?’’Tanya Marselo yang tak mengerti.


‘’Adel memberitahu mama kalau dia akan pindah jurusan saat


tahun kedua.’’Jawab Marisa.


‘’Dia bilang ingin pindah ke jurusan perawatan.’’Lanjutnya.


‘’Kenapa mama bisa yakin ini karna Adel?’’Tanya Marselo.


‘’Papa ingatkan saat Davian tidak mau melanjutkan


kuliah.’’Tanya Marisa.


‘’Iyah,lalu’’Kata Marselo.


‘’Setelah Adel membujuk Davian besoknya dia mau kuliah dan


lagi dia memilih kuliah di kampus yang sama dengan Adel.’’Kata Marisa.


‘’Jelas jelas Davian bisa kuliah di kampus mana pun yang


lebih bagus tapi dia malah memilih kuliah bersama -sama Adel,kan aneh


pah!’’Tambahnya.


‘’Benar juga apa yang mama katakan.’’Kata Marselo yang paham


maksud istrinya.


‘’Menurut mama kalau papa meminta Adel membujuk Davian dia


bakalan mau tidak yah.’’Tanya Marselo.


‘’Mama tidak tahu pah! Tapi nanti mama coba bicara dengan


Adel semoga dia bisa membantu kita.’’Kata Marisa.


‘’Yah semoga.’’Kata Marselo.


‘’Sudahlah pah ini sudah malam sebaiknya kita segera


tidur.’’Kata Marisa dan di angguki Marselo,mereka pun tertidur.


Ke esokan paginya saat Marisa akan menyiapkan sarapan untuk


keluarganya dia melihat Adel sudah berada di dapur.


‘’Selamat pagi Adel.’’Sapa Marisa.


‘’Ah tante ,selamat pagi.’’Adel membalas sapaan Marisa lalu


menutup kotak bekal dan memasukannya ke dalam kulkas.


‘’Kamu sedang membaut apa?’’Tanya Marisa penasaran.


‘’Hanya cemilan.’’Jawab Adel,Marisa hanya mengangguk saja.


‘’Tante mau buat sarapan apa?’’Tanya Adel.


‘’Adel bantu yah tante,boleh?.’’Tambahnya.


‘’Tentu  saja boleh


dong,kan kamu calon menatu tante.’’Kata Marisa membuat Adel merona.


Mereka pun membuat sarapan bersama dan tak lupa Adel


membuatkan bekal untuk Reno dan memasukannya ke dalam kotak bekal.


‘’Itu bekal untuk siapa,Adel’’Tanya Marisa,dia penasaran


untuk siapa Adel menyiapkan bekal selama ini karna selama ini dia tidak pernah


melihat Davian menaruh kembali kotak bekal yang selalu di buatkan Adel.


‘’Oh ini, untuk Reno tante!kebetulan hari ini mereka akan ada


pertandingan babak penyisihan jadi Adel buat lebih banyak dari porsi


sebelumnya.’’Jawab Adel santai,dia tidak melihat ekspresi Marisa yang scok.


Setelah merapikan kotak bekalnya Adel menaruhnya dan dia


mulai menyiapkan makanan untuk sarapan mereka.


‘Apa Adel sudah tidak menyukai Davian lagi dan mulai pindah


ke lain hati.’Pikir Marisa panic.

__ADS_1


‘Ini tidak bisa di biarkan Adel hanya milik Davian, titik


!tidak ada yang boleh merebutnya.’Lanjut Marisa.


__ADS_2