
‘’Adel,menurut gue e’lo agak
keterlaluan deh sama Reno.’’Kata Tia,saat mereka sudah berada di kelas.
‘’Reno kan cuman bermaksud belain
lo doang.’’Tambahnya.
‘’Gue tahu!hanya saja gue enggak
suka seseorang di salahkan karna ke cerobohan yang gue lakukan sendiri.’’Kata
Adel
‘’Kaki gue bisa terkilir itu karna
gue terlalu senang bisa mencetak tiga angka bukan karna latihan yang di berikan
Davian.’’Kata Adel lagi.
‘’Iyah tapi setidaknya lo bisa
sedikit baik padanya.’’Kata Tia
‘’Dia itu sudah menyukai lo dari dulu.’’Tambahnya.
‘’Kenapa tiba tiba kau membela
Reno apa kau menyukainya.’’Tanya Adel sedikit heran.
‘’Enggak,gue kasihan aja sama Reno
,dia kan terus terusan berusaha mengejar lo.’’Kata Tia.
‘’Apa lo enggak bisa memberinya
kesempatan?’’Tanya Tia
‘’Kesempatan yah?’’Kata Adel
‘’Menurut gue dari pada lo terus
terusan mengejar Davian yang enggak jelas, lebih baik dengan Reno yang sudah
jelas jelas menyukai lo.’’Kata Tia,sejujurnya dia tidak mau kalau Adel terus
berharap pada Davian dan berujung sakit hati.
‘’Jujur Reno itu baik sangat baik malah ,tapi sikapnya Reno itu berlebihan
membuat gue jadi risih dan juga malu.’’Kata Adel
‘’Tentu gue senang kalau ada yang
perhatian dan selalu belain gue tapi kalau terlalu berlebihan membuat tak
nyaman juga jadinya.’’Tambah Adel
‘’Gue ngerti.’’Kata Tia
mengganggukan kepala karna menurutnya juga kelakuan Reno bikin kesel.
‘’Di tambah gue sudah terlanjur
mencintai Davian.’’Kata Adel
‘’Tapi beneran e’lo enggak punya
perasaan sama Reno.’’Tanya Adel.
‘’Enggaklah.’’Kata Tia,lalu dia
tersenyum manis membayangkan seseorang.
‘’Tia lo kenapa?’’Tanya Adel tapi
tak di dengar Tia.
‘’E’lo enggak sedang kerasukan
setankan.’’Kata Adel sedikit takut.
‘’Tia lo jangan nakutin gue
dong.’’Kata Adel
‘’Tia,Sintia.’’Panggil Adel sambil
menepuk menepuk lengannya tapi tak di respon Tia.
‘’Berhenti mengobrol dan duduk di
bangku masing masing,pelajaran akan segera di mulai.’’Teriak dosen yang
memasuki kelas.
Semua kalang kabut untuk duduk di
tempat mereka dosen itu melihat sekeliling memastikan semua sudah duduk lalu
dia melihat Tia yang tersenyum tak menyadari keberadaannya.
‘’Tia sadar,cepat sadar nanti lo
bisa di hukum.’’Adel berusaha menyadarkan Tia saat dia melihat dosen yang
terkenal galak menatap tajam Tia.
‘’Kau yang di sana,kalau kamu
tidak mau mengikuti pelajaran yang saya ajarkan sebaiknya keluar .’’Teriak
Dosen sedikit lebih keras dari tadi.
‘’Hah.’’Tia terkejut dan tersadar
mendengar teriakan dosen tersebut.
‘’Keluar dari kelas saya
sekarang.’’Kata dosen tegas
‘’Salah saya apa pak kok tiba tiba
di suruh keluar.’’Kata Tia tak terima,Adel menepuk dahi.
‘’Aduh e’lo jangan nambah
masalah.’’Kata Adel pelan.
‘’Keluar saya bilang.’’Teriak
__ADS_1
dosen.
‘’Ya tapi salah saya apa,bapak
jangan seenaknya.’’Kata Tia lagi yang belum sepenuhnya sadar siapa dosen yang
ada di depan.
‘Kayanya Tia beneran kesambet deh
sampai sampai berani ngelawan pak Bagas.’Pikir Adel merinding.
‘’KELUAR.’’Teriak pak Bagas keras.
Tia melangkah keluar kelas sambil
bergumam pelan namun itu tetap terdengar pak Bagas.
‘’Cih,galak amat jadi
dosen.’’Gumam Tia pelan.
‘’Kamu berdiri di dekat pintu
kelas sambil menjewer kedua telinga mu sampai pelajaran saya selesai.’’Kata Pak
Bagas sambil menatap Tia tajam.
‘’Kalau kamu melanggar akan saya
tambah hukuan kamu.’’Kata pak Bagas lagi saat Tia mau protes.
Tia pun menuruti perintah pak
Bagas berdiri di dekat pintu kelas dan menjewer ke dua telinganya sambil
cemberut.
‘’Tuh kenapa sih pak Bagas galak
banget ,salah gue apa coba.’’Kata Tia sepelan mungkin supaya pak Bagas tak
mendengarnya.
‘’Tunggu….tadi gue bilang apa?pak
Bagas!’’Kata Tia merasa aneh lalu melihat ke dalam kelas dan betapa terkejut
dia kalau yang ada di dalam beneran pak Bagas dosen yang terkenal galak.
‘’EEEHHHHHH.’’Teriak Tia yang baru
menyadarinya.
‘’Yang di luar diammm.’’Kata pak Bagas
keras,Tia pun langsung ciut.
‘’Astaga gue barusan ngelawan pak
Bagas gina ini,mampus gue.’’Kata Tia pelan dan takut.
Setelah pelajaran selesai Lili
menemui Adel dan Tia untuk mengajaknya mereka makan di kafe yang baru buka
dekat kampus mereka dia sangat penasaran.
Lili yang melihat Tia berdiri di dekat pintu sambil menjewer kedua telinganya.
‘’Lo lagi ngapain berdiri dekat
pintu.’’Tanya Lili heran.
‘’Hwuaaaa.’’Tiba tiba Tia
menerjang Lili.
‘’Eh e’lo kenapa?’’Tanya Lili binggung.
‘’Lili tolongin gue…huaa kayanya
gue besok enggak bisa kuliah di sini lagi huaaaa.’’Kata
Tia sambil menangis Bombay.
‘’Maksud lo apaan gue enggak
ngerti.’’tanya Lili
‘’Barusan gue habis debat sama pak
Bagas dan di hukum berdiri di luar terus pas tadi di pergi dia natap gue tajam
banget gue takut.’’Kata Tia yang sudah melepaskan Lili.
‘’Pak Bagas maksud lo pak Bagas
dosen yang galak itu.’’Tanya Lili.
‘’Iyah.’’Ucap Tia
‘’Kok bisa! kesambet apaan e’lo
sampai- sampai berani sama pak Bagas.’’Kata Lili yang tak habis pikir dengan
Tia.
‘’Gue juga binggung dia kesambet
apa sampai dia berani gitu.’’Kata Adel yang sudah berada bersama kedua
temannya.
‘’Padahal tadi gue udah
memperingatinya.’’Tambah Adel.
‘’Terus gue harus gimana.’’Tanya
Tia dengan mata sayu,Adel dan Lili menggangkat bahu mereka.
‘’Sudah lah ayo ikut, gue mau
nunjukin tempat yang bagus buat kalian.’’kata Lili
‘’Tempat apaan?’’Tanya Adel.
‘’Tempat yang bisa membuat Tia
melupakan masalahnya.’’Jawab Lili
__ADS_1
Mereka pun pergi ke tempat yang di
maksud Lili ,Tia dengan lesunya berjalan mengikuti Lili.
‘’Kenapa lo Ren.’’Tanya Denis,yang
dari tadi melihat Reno mengaduk ngaduk mie goreng di piringnya.
‘’Kalau lo enggak mau makan sini
biar gue aja yang makan.’’Kata Denis,Reno mendorong piringnya ke depan Denis.
‘’Lo masih sakit Ren.’’Tanya
Fadli.
‘’Lesu amat.’’Tambahnya,tapi Reno
tetap diam.
‘’Tumben lo belum ke klub basket
bisanya lo semangat bener .’’Kata Candra yang baru datang.
‘’Benar juga,kenapa lo.’’Kata
Denis sambil memakan mienya Reno.
‘’Lo juga tumben masih di kampus
biasanya udah pergi pacaran.’’Tanya Denis sinis.
‘’Jangan jangan e’lo udah di
putusin yah.’’Kata Denis senang.
‘’Enak aja,gue lagi nunggu dia
selesai dengan klubnya.’’Bantah Candra.
‘’Bisa diam tidak sih kalian enggak
liat apa gue lagi gegana .’’Kata Reno
yang kesal dengan ke tidak pekaan teman temannya.
‘’Kaya cewek aja pake gegana
segala.’’Ketus Denis.
‘’Adel nyuekin lo lagi.’’Kata
Fadli yang dengan lahap memakan baksonya.
‘’Gue binggung deh kenapa Adel
selalu saja membela Davian padahal kan dia itu selalu di ejek dan di siksa Davian.’’Kata
Reno sebal.
‘’Namanya juga suka ya pasti
belain mulu.’’Kata Denis.
‘’Gue juga enggak memuin Adel pas
istirahat tadi,apa dia beneren marah sama gue yah.’’Kata Reno lesu.
‘’Gue saranin e’lo nyerah aja
Ren.’’Kata Candra.
‘’Lebih baik lo nyari cewek lain
aja masih banyak cewek yang cantik enggak cuma Adel.’’Kata Candra.
‘’Enggak bisa Can hati gue itu
udah mentok.’’Kata Reno.
‘’Menurut gue sih lo yang salah
Ren.’’Kata Fadli.
‘’Kok gue yang salah.’’Tanya Reno
yang tak mengerti perkataan Fadli
‘’Cara lo untuk menarik perhatian
Adel itu salah bukan salah sih tapi lo terlalu berlebihan.’’Kata Fadli.
‘’Kalau gue jadi Adel juga pasti
bakal menjauh dari lo karna risih.’’Tambahnya.
‘’Masuk akal,apa lagi lo lakuin
itu dari kelas 10 SMA pasti itu membuat Adel kurang nyaman.’’Kata Candra
membenarkan.
‘’Kalian enggak di suruh Diki
untuk membujuk gue kan.’’Kata Reno curiga.
‘’Maksud lo.’’Kata Fadli tak
mengerti apa hubungannya dengan Diki.
‘’Perkataan kalian hampir sama
dengan nya.’’Kata Reno.
‘’Ah sudahlah.’’Reno pergi
meninggalkan mereka.
‘’Lah malah kabur dia.’’Kata
Denis.
Adel memasuki ruang klub basket
lebih awal karna dia sudah tiga hari tidak masuk jadi dia ingin memeriksanya.
‘’Senior.’’Adel terkejut melihat
ada Satria di dalam sambil memutar mutar bola basket dengan aura yang mendung
dan mencekam di sekitarnya.
__ADS_1