Cinta Pertamaku Menjadi Suamiku

Cinta Pertamaku Menjadi Suamiku
64


__ADS_3

Lili berdiri di depan toko buku


matanya melirik kekanan dan kiri mencari seseorang yang dia tunggu dari tadi.


‘’Hay.’’Diki menepuk dahu Lili


dari belakang membuat Lili terkejut.


‘’Yak,ngatetin aja sih.’’Kata Lili


sebal.


‘’Maaf,sudah nunggu lama.’’Kata Diki


sedikit bersalah.


‘’Menurut lo!gue disini udah


jamuran nunggu e’lo dari tadi.’’Kata Lili


‘’Mana jamurnya mau gue petik buat


di jadiin jamur krispi.’’Canda Diki.


‘’Nih jamurnya.’’Lili mengangkat


tangannya yang terkepal ke wajah Diki.


‘’Hehehehe.’’Diki tersenyum.


‘’Cie ,kayanya Lili yang dulu udah


enggak ada lagi.’’Kata Diki lagi dengan wajah menyebalkan.


‘’Kenapa e’lo enggak suka.’’Kata


Lili sinis.


‘’Gue suka, malah lebih suka yang


ini.’’Kata Diki sedikit menggoda.


‘’Jangan gombal mulu,ayo.’’Lili


menarik tas Diki masuk ke toko buku,Diki yang di tarik hanya pasrah.


‘’Menurut lo bagus ini apa yang


ini.’’Kata Lili menunjukan dua buah buku.


Lili ingin membeli buku manual dan


karna Tia kerja  sedangkan Adel dia


sedang galau, Lili berencana  pergi


sendiri tapi Diki datang entah darimana dan mengajukan diri menemani Lili.


‘’Dua –duanya bagus ,kenapa enggak


beli dua duanya aja.’’Kata Diki.


‘’Enggak bisa uangnya enggak cukup,


soalnya ada buka lain yang mau gue beli juga.’’Kata Lili.


‘’Ya udah pakai uang gue aja dulu.’’Kata


Diki.


‘’Terima kasih tapi enggak ,gue


enggak mau berhutang.’’Tolak Lili.


‘’Berhutang apa! kita kan


teman.’’Kata Diki.


‘’Baiklah, yang kiri kayanya lebih


bagus.’’Kata Diki yang mengalah dia tau kalau Lili itu masih sungkan padanya.


Yang Diki tahu Lili itu tipe orang


yang tak suka menerima bantuan dari orang yang belum dia kenal baik,jadi kalau


dia belum  terlalu dekat, Lili akan


merasa sungkan beda halnya dengan mereka yang sudah dia kenal dan percaya dia


tak akan sungkan sungkan.


‘’Emangnya buka apa yang mau lo


beli .’’Tanya Diki.


‘’Hanya buku panduan untuk para


komikus.’’Kata Lili yang sedang mencari buku yang di maksud.


‘’Lo seriusan mau jadi komikus.’’Kata


Diki yang ikut memcari.


‘’Serius kan lumayan,setidaknya


sebelum dapat kerjaan gue masih bisa menghasilkan uang.’’Kata Lili.


‘’Eh,ini dia.’’Lili mengambil buku


tersebut lalu ke kasir untuk membayar buku yang dia beli.


‘’Sebagai ucapan terima kasih


karna sudah menemani gue .’’Kata Lili yang sudah keluar dari toko buku.


‘’Gue akan teraktir lo


makan.’’Tambahnya.


‘’Katanya uang lo enggak


cukup.’’Kata Diki.


‘’Ya gue enggak akan mentraktir lo


di kafe atau restoran.’’Kata Lili.


‘’Terus kita makannya


dimana?’’Tanya Diki.


‘’Udah ikut aja, ayo.’’Kata Lili.


Lili menaiki motor Diki mereka meninggalkan

__ADS_1


toko buku dan pergi ke tempat yang di maksud Lili .


‘’Disini.’’Kata Diki setelah


sampai di tempat yang di maksud Lili.


‘’Iyah.’’Lili turun dari motor


Diki.


‘’Kenapa? lo enggak pernah


makan-makanan di pinggil jalan gini.’’Kata Lili yang melihat Diki terlihat


enggan dan masih duduk di motornya.


‘’Iyah,ini pertama kali gue makan


di pinggil jalan.’’Kata Diki jujur.


‘’Kalau gitu e’lo harus coba,pasti


lo bakal ketagihan.’’Kata Lili lalu tersenyum pada Diki dan menariknya.


‘’Pak Hasan pesen pecelnya dua


porsi sama teh angetnya dua .’’Kata Lili sebelum duduk resehan di bawah.


‘’Iyah neng.’’Jawab Pak Hasan


penjual pecel.


‘’E’lo kenal sama


penjualnya.’’Tanya Diki setelah mereka duduk.


‘’Gue sama temen –temen gue udah


langganan di sini,soalnya pecel di sini enak banget apa lagi sambelnya.’’Kata


Lili yang tak sabar makan.


‘’Ini neng pesenannya.’’Pak Hasan


menaruk piring pecel di meja panjang pendek di di tengah –tengah mereka.


‘’Makasih pak.’’Jawab Lili.


‘’Itu pacarnya yah neng.’’Tanya


pak Hasan saat melihat Diki.


‘’Bu-bukan pak dia teman


saya.’’Jawab Lili gugup ada sedikit rona mereh di kedua pipinya.


‘’Oh,kirain itu pacarnya eneng,


soalnya kalian berdua cocok.’’Kata pak Hasan.


‘’Apa kami beneran cocok


pak.’’Kata Diki, dia ingin menggoda Lili dan lihat Lili sudah memolototinya.


‘’Iyah den kalian cocok


banget.’’Kata pak Hasan lagi.


‘’Do’ain aja pak semoga jadi


‘’Amin akan bapak do’ain.’’Kata


pak Hasan lalu pergi membiarkan mereka untuk memakan makanannya.


‘’Apa?’’Tanya Diki yang pura pura


tak tahu.


‘’Hah,sudahlah makan saja ke buru


dingin nanti jadi enggak enak.’’Lili memakan makanannya,Diki terkekeh melihat


tingkah Lili.


Diki pun memakannya dia terkejut


ternyata benar apa yang di bilang Lili pecelnya enak banget Diki dengan lahap


memakan pecelnya.


‘’Enakkan.’’Kata Lili saat melihat


Diki makan dengan lahap.


‘’Iyah,ini pecel terenak yang


pernah gue makan.’’Kata Diki matanya berbinar.


‘’Apa gue bilang ,enggak kalahkan


dengan masakan restoran dan kafe –kafe.’’Kata Lili dengan bangga.


‘’Ini lebih enak dari pecel di


restoran.’’Kata Diki.


‘’Cobain juga sambelnya ,pasti lo


enggak nyesel.’’Kata Lili


Diki menuruti perkataan Lili dan


mencoba sambel pecelnya dan benar sambelnya tak kalah enak.


Lili menggelengkan kepala melihat


Diki yang makan pecel yang ke tiga kalinya,dia tidak menyangka Diki beneran


bakal ketagihan.


‘’Udah kenyang.’’Tanya Lili pada


Diki yang sudah selesai.


‘’Sebenarnya gue masih pengen


makan tapi perut gue udah tak sanggup lagi.’’Kata Diki sambil mengusap –usap


perutnya.


‘’Maruk sih e’lo.’’Lili


menghampiri pak Hasan untuk membayar.


‘’Pak Hasan ini uangnya,terima

__ADS_1


kasih pecelnya enak seperti biasa.’’Kata Lili memberikan uangnya.


‘’Terima kasih neng ,nanti manpir


lagi.’’kata Pak Hasan.


‘’iyah pak kapan kapan mampir


lagi.’’Kata Lili lagi.


‘’Pak pecelnya enak banget saya


sampai ketagihan.’’Kata Diki yang sudah berada di samping Lili.


‘’Terima kasih yah den,nanti kalau


mampir kesini lagi semoga sudah token.’’Kata pak Hasan.


‘’Wih bapak tau token juga,


keren.’’Kata Diki mengajungkan jempolnya.


‘’Iya dong gini gini bapak tak mau


kalah sama anak muda.’’Kata pak Hasan.


‘’Hahahaha.’’Mereka tertawa


Lili tersenyum melihat Diki dengan


mudahnya bergaul dengan orang lain yah walau kadang ngeselin dan suka mengagetkannya


dan suka tiba –tiba datang kaya setan.


‘’Diki kalau e’lo mau terus


mengobrol sama pak Hasan , gue pulang duluan.’’Kata Lili lalu pergi dari sana.


‘’Tunggu,kalau gitu pak saya pergi


nanti saya kesini lagi.’’Diki pamit pada pak Hasan dan menyusul Lili.


‘’iyah den di tunggu.’’Kata pak


Hasan.


‘’Ayo gue anterin e’lo


pulang.’’Kata Diki menaiki motornya.


‘’Enggak usah rumah kita kan


berlawanan arah.’’Tolak Lili.


‘’Anggap aja ini sebagai ucapan terima


kasih karna lo udah mentraktir makanan yang enak banget.’’Kata Diki.


‘’Lagian gue ini cowok jadi harus


bertanggung jawab untuk memastiin kalau lo pulang dengan aman.’’Tambahnya.


‘’Lebay lo.’’Kata Lili dan naik ke


motornya.


Diki menganter Lili pulang ke


rumahnya ,sepanjang jalan Diki terus saja berbicara tentang pecel tadi dan


meminta Lili merekomdasikan tempat lain hingga mereka tak sadar kalau sudah


melewati rumah Lili.


‘’Stoppp.’’Lili menepuk bahu Diki.


‘’E’lo mau bawa gue kemana.’’Kata


Lili karna Diki terus melajukan motornya dan melawati rumahnya .


‘’Eh,kenapa rumah e’lo kan bukan


yang ini.’’Kata Diki yang melihat rumah yang ada di samping karna dulu dia


pernah mengantar Lili pulang jadi dia tau rumah Lili.


‘’Tentu saja bukan ,karna rumah


gue terlewat.’’Kata Lili sedikit kesal.


‘’Terlewat,benarkah.’’Diki melihat


sekeliling.


‘’Gue turun di sini saja.’’Lili


turun dari motor.


‘’Serius mau turun disini.’’Tanya


Diki.


‘’Iyah ,lagian rumah gue enggak terlalu


jauh .’’Kata Lili.


‘’Makasih yah udah mau menemati


gue beli buku.’’Tambah Lili tersenyum manis.


‘Manis,kok gue baru sadar


yah.’Batin Diki melihat Lili tersenyum.


‘’E’lo kaya sama siapa aja,kita


kan teman enggak usah terima kasih segara, tapi beneran enggak mau di


anterin.’’Kata Diki merasa tak enak.


‘’Enggak usah lagian cuman lewat


dua rumah doang.’’Lili menolak tawaran Diki.


‘’Yah udah,kalau gitu gue


pulang.’’Kata Diki menyalakan motornya lagi dan pergi.


‘’Hati-hati.’’Lili melambaikan


tangan pada Diki.


DI CHAPTER INI AKU NULIS LILI SAMA DIKI TAKUT PADA BOSEN MEMBACA ADEL


DAN DAVIAN MULU DAN DISINI SIFAT LILI JUGA SAYA UBAH SEDIKIT DI KARENAKAN

__ADS_1


PEMAMPILANNYA LILI UDAH BERUBAH JADI SAYA UBAH JUGA SIFATNYA SEDIKIT.


__ADS_2