
Hubungan Adel dan Andreas semakin dekat,mereka juga beberapa
kali jalan bersama.
Namun sebaik apa pun hubungan mereka, Adel hanya bisa
menganggap Andreas sebagai sosok seorang kakak tak lebih.
Hati masih di gengam Davian walau pun dia tahu kalau dia
sudah tidak memiliki kesempatan lagi. Sekali pun om Marselo dan tante Marisa
mendukungnya tapi baginya yang
terpenting kesedian Davian menerimanya untuk menemani di sisa usianya.
Saat Adel ingin ke bawah dia berpapasan dengan Davian .
‘’Eh! Davian,lo sudah pulang?’’Tanya Adel ,mencoba untuk
bersikap biasa.
‘’Iya,kenapa?tidak boleh!.’’ Jawab Davian datar.
‘’Enggak,hanya tumben saja lo sudah pulang jam segini.’’Kata
Adel merasa tak enak.
Karna beberapa hari ini Davian selalu pulang telat dan pergi
kencan dengan Reina terkadang makan
malam di luar.
‘’Bagaimana hungungan e’lo dengan Reina?’’Tanya
Adel,tangannya memilin ujung bajunya.
‘’Baik,dia sempurna,pinter, baik,cantik dan berbakat.’’Kata
Davian datar.
Davian mengatakan apa yang dia lihat dan yang orang lain bilang
tetang Reina tanpa memakai perasaan namun Adel salah paham dan mengira kalau
Davian sudah menyukai Reina.
‘’Apa kalian benar benar akan……menikah?’’matanya sudah
berkaca kaca,
Perih! Satu kata yang mewakili hati Adel saat Davian memuji
wanita lain yang notabennya adalah orang yang di jodohkan pada nya.
‘’Menikah?’’Sejujurnya Davian bingung apa dia akan melanjutkannya dan berakhir menikah dengannya atau
tidak.
‘’Mungkin.’’Kata Davian
‘’Bukankah pernikahan adalah akhir dari
perjodohan.’’Lanjutnya,hatinya jadi sesak saat mengatakan itu.
Davian langsung masuk ke kamarnya,entah kenapa hatinya sakit
melihat Adel yang hampir menangis.
Adel menyangga tubuhnya di sofa kakinya lemas tak bisa
menopang badannya dan duduk.
‘’Hiks..hiks…hiks…’’Air matanya tak bisa di bendung lagi Adel
menggigit bibirnya agar meredam tangisannya supaya Davian tidak mendengarnya.
Daniel berdiri di ujung tangga atas tak sengaja mendengar
obrolan kakaknya dan Adel.
Sebenarnya dia kasihan pada Adel dan kakaknya tapi dia juga
tak bisa berbuat apa apa,kalau kakak sudah memutuskan sesuatu akan sulit untuk
di bujuk.
Setelah masuk ke kamarnya Davian hanya berdiri dan
menyandarkan tubuhnya ke pintu,matanya terpejam dengan tangan yang mencengkram
dadanya saat mendengar isak tangis Adel.
…….
Andreas mengajak Adel makan di restoran faporitnya,mereka berkencan
untuk kesekian kalinya.
Adel berusaha dengan keras untuk melupakan Davian dengan
kehadiran Andreas.
‘’Seharusnya itu bagian ku yang membayar bukan kak Andre
__ADS_1
terus.’’Kata Adel.
‘’Mana ada yang kencan perempuan yang membayar.’’Kata
Andreas.
‘’Itu sudah keharusan bagi laki laki membayar apa pun saat
mengajak perempuan berkencan,Delia.’’Lanjutnya sambil tersenyum.
‘’Lagi pula bisa menghabiskan hari dengan adalah hal yang
membuat ku bahagia.’’Kata Andreas
Adel tersenyum mendengar ucapan Andreas ,dia benar benar di
perlakukan seperti seorang ratu oleh Andreas.
‘’Kau tahu Delia,senyum di wajah mu adalah hal terindah di
dunia. Dan ku harap aku bisa melihat senyuman mu setiap hari,setiap pagi agar
hari ku lebih semangat.’’Kata Andreas.
‘’Kenapa?’’Tanya Andreas bingung melihat Adel yang
memperhatikan wajahnya sambil tersenyum.
‘’Apa ada sesuatu di wajah ku.’’Tanyanya lagi.
‘’Ada yang aneh mempel di wajahku.’’Kata Andreas.
Adel menggeleng dan tersenyum manis membuat Andreas ikut
tersenyum.
‘’Terima kasih untuk semuanya,kak Andreas bener benar orang
yang sangat baik.’’Kata Adel
‘’Apa pun untuk mu tuan putri.’’Kata Andreas dengan nada
bercanda.
‘’Em..Lalu Kita mau kemana lagi sekarang kak?’’Tanya Adel
mengalihkan.
‘’Bagaimana kalau kita pergi ke Han River?’’Tanya Andreas.
‘’Kamu bisa melihat pemandangan yang indah di sana terutama
saat malam hari,kamu pasti suka.’’Jelas Andreas karna merihat sepertinya tidak
‘’Oh,baiklah ayo ke sana.’’Kata Adel.
Andreas pun menuntun Adel ke tempat yang dia maksud kebetulan
tidak jauh dari restoran jadi mereka memutuskan untuk berjalan kaki sekalian
melihat pemandangan kota di malam hari.
Sementara itu,Davian juga mengajak Reina ke Han River.
‘’Wah Han River memang sangat bagus.’’Teriak Rein.
Dia bisa melihat lampu warna warni yang sangat indah menerangi
kota di bawah dan suasana ofdoor sehingga mereka bisa melihat bintang membuat
kesan seperti planetarium[maaf kalau salh tulis].
‘’Iyah Han River memang sangat indah.’’Kata Davian ,mereka
sengaja memilih meja dekat pembatas agar bisa melihat dengan jelas pemandangan
yang tersaji.
‘’Belakangan ini sepertinya kamu sedang banyak pikiran.’’Tanya
Reina lalu duduk di kursi.
‘’Apa pembuatan gamenya berjalan dengan baik?’’Tanya Reina
lagi
‘’Papa bilang itu adalah terobosan terbaru dalam pergame-man.’’Lanjutnya.
‘’Berjalan baik dan tidak ada kendala yang besar meski ada
beberapa yang harus di sesuaikan.’’Jawab Davian.
‘’Karna kami akan membuat semacam ‘Blue Frog’.’’Lanjutnya.
‘’Blue Frog?’’Tanya Reina tak mengerti.
‘’itu semacam 3D,aku berencana membuat yang berbeda dengan
3D,ya mirip seperti animasi.’’Jelas Davian.
‘’Waw,itu ide yang hebat.’’Puji Reina.
‘’Ku dengar Ada beberapa perusahaan yang ingin membuat sebuah
game jadi terlihat nyata,seperti animasi.’’Kata Reina.
__ADS_1
Davian menjelaskan tentang game yang dia kembangkan, dia
terlihat senang dan menikmati.
Reina tersenyum karna Davian merespon obrolannya dengan
panjang dan nyaman tidak singkat seperti biasanya itu pun kebanyakan dia yang
berbicara.
Dia bisa melihat kalau Davian menikmati dalam setiap proses
pembuatan game yang dia buat.
‘’Wah kamu benar benar hebat,pantas papa sangat menyukai mu.’’Kata
Reina.
Senyum yang tadi saat Davian menjelaskan tentang game yang
kebangkan hilang saat Reina bilang papa nya menyukainya bahkan raut wajahnya
jadi datar.
Segera Davian mengangkat
cangkir kopi lalu meminumnya untuk menutupi rasa tidak sukanya.
Dia sadar kalau yang memutuskan untuk menyutujui perjodohan
itu tapi entah kenapa hati semakin goyah setiap kali melihat raut sendu di
wajah Adel apa lagi mendengarnya menangis hati sakit bagai di tusuk pedang.
‘’Apa ini tempatnya?’’Tanya Adel saat melihat bangunan
berlantai dua.
‘’Bukannya ini kafe yah.’’Tanya Adel lagi.
‘’Kamu benar,ayo kita ke atas di sana pemandangannya sangat
bagus.’’Andreas membawa Adel naik ke lantai dua.
Adel tertegun saat melihat Davian dan seorang wanita yang
sangat cantik,beranjak dari kursi .
Sama halnya dengan Davian,dia juga tertegun saat melihat Adel
ada di sana bergandengan tangan dengan Andreas. Ada rasa marah dan tak suka
saat melihat Adel bersama laki laki lain.
‘’Eh…Davian e’lo di sini juga?’’Tanya Andreas.
‘’Kalian sedang berkencan.’’Tanya Davian.
‘’Benar dan kelihatnya kalian juga sedang berkencan juga.’’Jawab
Andreas karna dia melihat seorang wanita di samping Davian.
‘’Iya,benar.’’Kata Davian datar tapi bila lebih cermat ada
nada gugup terselip di nada bicara Davian.
‘’Apa kalian teman Davian?’’Tanya Reina.
‘’Kenalin nama saya Reina Putri Wijaya,aku calon tunangan
Davian.’’Kata Reina sambil mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan mereka
dengan senyuman yang mampu membuat kaum adam terpesona.
‘Jadi dia yang di jodohkan dengan Davian.’Batin Adel sendu.
‘’Nama gue Andreas dan ini…Delia,panggil aja Adel soalnya
nama itu kusus untuk gue aja.’’Kata Andreas memperkenalkan dirinya dan Adel.
Adel hanya tersenyum sendu tangannya mencengkram erat tali
tas nya saat Reina memperkenalkan dirinya.
Berusaha agar air matanya tidak keluar lagi apalagi di depan
Davian,dia tidak mau terlihat lemah dan menyedihkan.
‘’Bagaimana kalau kita pergi bersama kebetulan kami mau
pergi.’’Tawar Reina yang tak menyadari suasana telah berubah di sekitar mereka.
Davian melirik Adel yang diam saja sejak datang tadi,Andreas
juga menyadari hal itu lalu memutuskan membawa Adel pergi dari sana atau lebih
tepatnya menjauh dari Davian.
‘’Terima kasih atas tawarannya tapi kami akan pergi ke tempat
lain.’’Kata Andreas lalu mengandeng tangan Adel turun.
‘’Oh,baiklah.’’Balas Reina heran dan bingung melihat mereka
pergi padahal kan mereka baru sampai.
__ADS_1