Cinta Pertamaku Menjadi Suamiku

Cinta Pertamaku Menjadi Suamiku
123


__ADS_3

Hubungan Adel dan Andreas semakin dekat,mereka juga beberapa


kali jalan bersama.


Namun sebaik apa pun hubungan mereka, Adel hanya bisa


menganggap Andreas sebagai sosok seorang kakak tak lebih.


Hati masih di gengam Davian walau pun dia tahu kalau dia


sudah tidak memiliki kesempatan lagi. Sekali pun om Marselo dan tante Marisa


mendukungnya  tapi baginya yang


terpenting kesedian Davian menerimanya untuk menemani di sisa usianya.


Saat Adel ingin ke bawah dia berpapasan dengan Davian .


‘’Eh! Davian,lo sudah pulang?’’Tanya Adel ,mencoba untuk


bersikap biasa.


‘’Iya,kenapa?tidak boleh!.’’ Jawab Davian datar.


‘’Enggak,hanya tumben saja lo sudah pulang jam segini.’’Kata


Adel merasa tak enak.


Karna beberapa hari ini Davian selalu pulang telat dan pergi


kencan dengan Reina terkadang  makan


malam di luar.


‘’Bagaimana hungungan e’lo dengan Reina?’’Tanya


Adel,tangannya memilin ujung bajunya.


‘’Baik,dia sempurna,pinter, baik,cantik dan berbakat.’’Kata


Davian datar.


Davian mengatakan apa yang dia lihat dan yang orang lain bilang


tetang Reina tanpa memakai perasaan namun Adel salah paham dan mengira kalau


Davian sudah menyukai Reina.


‘’Apa kalian benar benar akan……menikah?’’matanya sudah


berkaca kaca,


Perih! Satu kata yang mewakili hati Adel saat Davian memuji


wanita lain yang notabennya adalah orang yang di jodohkan pada nya.


‘’Menikah?’’Sejujurnya Davian  bingung apa dia akan melanjutkannya dan berakhir menikah dengannya atau


tidak.


‘’Mungkin.’’Kata Davian


‘’Bukankah pernikahan adalah akhir dari


perjodohan.’’Lanjutnya,hatinya jadi sesak saat mengatakan itu.


Davian langsung masuk ke kamarnya,entah kenapa hatinya sakit


melihat Adel yang hampir menangis.


Adel menyangga tubuhnya di sofa kakinya lemas tak bisa


menopang badannya dan duduk.


‘’Hiks..hiks…hiks…’’Air matanya tak bisa di bendung lagi Adel


menggigit bibirnya agar meredam tangisannya supaya Davian tidak mendengarnya.


Daniel berdiri di ujung tangga atas tak sengaja mendengar


obrolan kakaknya dan Adel.


Sebenarnya dia kasihan pada Adel dan kakaknya tapi dia juga


tak bisa berbuat apa apa,kalau kakak sudah memutuskan sesuatu akan sulit untuk


di bujuk.


Setelah masuk ke kamarnya Davian hanya berdiri dan


menyandarkan tubuhnya ke pintu,matanya terpejam dengan tangan yang mencengkram


dadanya saat mendengar isak tangis Adel.


…….


Andreas mengajak Adel makan di restoran faporitnya,mereka berkencan


untuk kesekian kalinya.


Adel berusaha dengan keras untuk melupakan Davian dengan


kehadiran Andreas.


‘’Seharusnya itu bagian ku yang membayar bukan kak Andre

__ADS_1


terus.’’Kata Adel.


‘’Mana ada yang kencan perempuan yang membayar.’’Kata


Andreas.


‘’Itu sudah keharusan bagi laki laki membayar apa pun saat


mengajak perempuan berkencan,Delia.’’Lanjutnya sambil tersenyum.


‘’Lagi pula bisa menghabiskan hari dengan adalah hal yang


membuat ku bahagia.’’Kata Andreas


Adel tersenyum mendengar ucapan Andreas ,dia benar benar di


perlakukan seperti seorang ratu oleh Andreas.


‘’Kau tahu Delia,senyum di wajah mu adalah hal terindah di


dunia. Dan ku harap aku bisa melihat senyuman mu setiap hari,setiap pagi agar


hari ku lebih semangat.’’Kata Andreas.


‘’Kenapa?’’Tanya Andreas bingung melihat Adel yang


memperhatikan wajahnya sambil tersenyum.


‘’Apa ada sesuatu di wajah ku.’’Tanyanya lagi.


‘’Ada yang aneh mempel di wajahku.’’Kata Andreas.


Adel menggeleng dan tersenyum manis membuat Andreas ikut


tersenyum.


‘’Terima kasih untuk semuanya,kak Andreas bener benar orang


yang sangat baik.’’Kata Adel


‘’Apa pun untuk mu tuan putri.’’Kata Andreas dengan nada


bercanda.


‘’Em..Lalu Kita mau kemana lagi sekarang kak?’’Tanya Adel


mengalihkan.


‘’Bagaimana kalau kita pergi ke Han River?’’Tanya Andreas.


‘’Kamu bisa melihat pemandangan yang indah di sana terutama


saat malam hari,kamu pasti suka.’’Jelas Andreas karna merihat sepertinya tidak


‘’Oh,baiklah ayo ke sana.’’Kata Adel.


Andreas pun menuntun Adel ke tempat yang dia maksud kebetulan


tidak jauh dari restoran jadi mereka memutuskan untuk berjalan kaki sekalian


melihat pemandangan kota di malam hari.


Sementara itu,Davian juga mengajak Reina ke Han River.


‘’Wah Han River memang sangat bagus.’’Teriak Rein.


Dia bisa melihat lampu warna warni yang sangat indah menerangi


kota di bawah dan suasana ofdoor sehingga mereka bisa melihat bintang membuat


kesan seperti planetarium[maaf kalau salh tulis].


‘’Iyah Han River memang sangat indah.’’Kata Davian ,mereka


sengaja memilih meja dekat pembatas agar bisa melihat dengan jelas pemandangan


yang tersaji.


‘’Belakangan ini sepertinya kamu sedang banyak pikiran.’’Tanya


Reina lalu duduk di kursi.


‘’Apa pembuatan gamenya berjalan dengan baik?’’Tanya Reina


lagi


‘’Papa bilang itu adalah terobosan terbaru dalam pergame-man.’’Lanjutnya.


‘’Berjalan baik dan tidak ada kendala yang besar meski ada


beberapa yang harus di sesuaikan.’’Jawab Davian.


‘’Karna kami akan membuat semacam ‘Blue Frog’.’’Lanjutnya.


‘’Blue Frog?’’Tanya Reina tak mengerti.


‘’itu semacam 3D,aku berencana membuat yang berbeda dengan


3D,ya mirip seperti animasi.’’Jelas Davian.


‘’Waw,itu ide yang hebat.’’Puji Reina.


‘’Ku dengar Ada beberapa perusahaan yang ingin membuat sebuah


game jadi terlihat nyata,seperti animasi.’’Kata Reina.

__ADS_1


Davian menjelaskan tentang game yang dia kembangkan, dia


terlihat senang dan menikmati.


Reina tersenyum karna Davian merespon obrolannya dengan


panjang dan nyaman tidak singkat seperti biasanya itu pun kebanyakan dia yang


berbicara.


Dia bisa melihat kalau Davian menikmati dalam setiap proses


pembuatan game yang dia buat.


‘’Wah kamu benar benar hebat,pantas papa sangat menyukai mu.’’Kata


Reina.


Senyum yang tadi saat Davian menjelaskan tentang game yang


kebangkan hilang saat Reina bilang papa nya menyukainya bahkan raut wajahnya


jadi datar.


Segera Davian  mengangkat


cangkir kopi lalu meminumnya untuk menutupi rasa tidak sukanya.


Dia sadar kalau yang memutuskan untuk menyutujui perjodohan


itu tapi entah kenapa hati semakin goyah setiap kali melihat raut sendu di


wajah Adel apa lagi mendengarnya menangis hati sakit bagai di tusuk pedang.


‘’Apa ini tempatnya?’’Tanya Adel saat melihat bangunan


berlantai dua.


‘’Bukannya ini kafe yah.’’Tanya Adel lagi.


‘’Kamu benar,ayo kita ke atas di sana pemandangannya sangat


bagus.’’Andreas membawa Adel naik ke lantai dua.


Adel tertegun saat melihat Davian dan seorang wanita yang


sangat cantik,beranjak dari kursi .


Sama halnya dengan Davian,dia juga tertegun saat melihat Adel


ada di sana bergandengan tangan dengan Andreas. Ada rasa marah dan tak suka


saat melihat Adel bersama laki laki lain.


‘’Eh…Davian e’lo di sini juga?’’Tanya Andreas.


‘’Kalian sedang berkencan.’’Tanya Davian.


‘’Benar dan kelihatnya kalian juga sedang berkencan juga.’’Jawab


Andreas karna dia melihat seorang wanita di samping Davian.


‘’Iya,benar.’’Kata Davian datar tapi bila lebih cermat ada


nada gugup terselip di nada bicara Davian.


‘’Apa kalian teman Davian?’’Tanya Reina.


‘’Kenalin nama saya Reina Putri Wijaya,aku calon tunangan


Davian.’’Kata Reina sambil mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan mereka


dengan senyuman yang mampu membuat kaum adam terpesona.


‘Jadi dia yang di jodohkan dengan Davian.’Batin Adel sendu.


‘’Nama gue Andreas dan ini…Delia,panggil aja Adel soalnya


nama itu kusus untuk gue aja.’’Kata Andreas memperkenalkan dirinya dan Adel.


Adel hanya tersenyum sendu tangannya mencengkram erat tali


tas nya saat Reina memperkenalkan dirinya.


Berusaha agar air matanya tidak keluar lagi apalagi di depan


Davian,dia tidak mau terlihat lemah dan menyedihkan.


‘’Bagaimana kalau kita pergi bersama kebetulan kami mau


pergi.’’Tawar Reina yang tak menyadari suasana telah berubah di sekitar mereka.


Davian melirik Adel yang diam saja sejak datang tadi,Andreas


juga menyadari hal itu lalu memutuskan membawa Adel pergi dari sana atau lebih


tepatnya menjauh dari Davian.


‘’Terima kasih atas tawarannya tapi kami akan pergi ke tempat


lain.’’Kata Andreas lalu mengandeng tangan Adel turun.


‘’Oh,baiklah.’’Balas Reina heran dan bingung melihat mereka


pergi padahal kan mereka baru sampai.

__ADS_1


__ADS_2