
‘’Udah beres semuanya?’’ Tanya Tomi saat memasuki ruangan
Marselo.
Marisa yang sedang mengemas pakaian suaminya menoleh kea
rahnya.
‘’Udah,semuanya udah beres.’’Jawab Marisa seraya menutup
tasnya.
‘’Ada apa kau kemari?’’Tanya Marselo.
‘’Jemput lo lah,gue kasihan sama lo enggak ada yang jemput
jadi dengan terpaksa gue kemari.’’Jawab Tomi bercanda.
‘’Sialan e’lo,kalau enggak ikhlas jangan di kesini sana
pulang ,hus..hus.’’Marselo melambaikan tangan mengusir Tomi.
‘’Rugi dong gue,udah buang buang bensin untuk kesini tapi
malah di usir.’’Kata Tomi pura pura kesal.
‘’Sudah kalian ini udah pada tua juga jangan sho kaya anak
muda.’’Marisa yang mulai jengah menghentikan pertengkaran yang tidak berpaedah
itu.
‘’Ayolah istri ku, aku kan masih terlihat muda belum tua tua
amat,belum juga punya cucu.’’Kata Marselo yang tak terima di katain tua oleh
Marisa.
‘’Iyah kan Tom.’’Lanjutnya mencari sekutu.
‘’Yoi.’’Balas Tomi beradu kepalan tangan dengan Marselo.
‘’Enggak sadar diri.’’Cibir Marisa.
‘’Udah ayo,anak anak pasti udah nungguin di rumah.’’Kata
Marisa keluar duluan.
Tomi dan Marselo juga keluar sambil membawa tas berisi
pakaian.
Tomi pergi ke parkiran mengambil mobil dan menjemput Marisa
dan Marselo yang menunggu di depan rumah sakit.
Setelah mereka masuk ke dalam mobil Tomi mengendarai mobilnya
meninggalkan rumah sakit menuju kediaman Pratama.
Sesampainya di rumah Marisa menyengrit heran karna rumah
terlihat sepi padahal sudah sore seharus anak anak sudah pulang semua.
‘’Kok sepi yah?’’Tanya Marisa.
‘’Pada kemana Daniel sama Adel?Davian juga apa dia belum
pulang?’’Lanjutnya.
‘’Entahlah,mungkin mereka ada di kamar.’’kata Marselo.
‘’Sudahlah ayo masuk kedalam jangan berdiam diri di ambang
pintu begini.’’Kata Tomi yang berdiri di belakang mereka .
‘’Kalian kan bukan tamu yang harus di sambut tuan
rumah.’’Kata Tomi.
Tomi masuk duluan dan menuntun Marselo dan Marisa menuju
ruang keluarga.
Duar
‘’Kejutan.’’Teriak Adel dan Daniel saat Marselo dan Marisa
sudah di ruang keluarga sambil memegang kompeti yang tadi mereka tarik.
‘’SELAMAT DATANG KEMBALI KE RUMAH.’’Teriak mereka berdua
lagi.
Davian yang berdiri di belakang mereka berdua hanya tersenyum
sambil menggelengkan kepala.
‘’Kekanak kanakan.’’Gumam Davian.
‘’Wah,kalian menyiapkan ini semua untuk papa.’’Kata Marselo
terharu atas sambutan anak anaknya.
‘’Terima kasih.’’Sambil menghapus air mata nya.
__ADS_1
‘’Ih papa kok malah nangis,harus senang liat mereka sudah
susah payah membuat sambutan buat papa.’’Kata Marisa melihat suaminya menangis.
‘’Lebay amat sih kau ini.’’Cibir Tomi.
‘’Hehe,maaf aku cuman terharu saja.’’Kata Marselo.
‘’Terima kasih kalian sudah repot repot buat kasih sambutan
ini.’’Marisa memeluk Adel dan Daniel.
‘’Ih mama lepas.’’Protes Daniel,dia memang tidak suka di
peluk peluk’ katanya malu udah gede masih mau di peluk,kaya anak kecil aja’.
‘’Kamu ini memang enggak kangen sama mama.’’Kata Marisa pura
pura sedih.
‘’Tiap pulang sekolahkan Daniel selalu berkunjung ke rumah
sakit,apanya yang perlu di kangenin.’’Balas Daniel.
Selama Marselo di rawat Daniel memang selalu ke rumah sakit
setelah pulang sekolah tapi hanya satu atau dua jam saja.
‘’Pa, bagaimana keadaan papa sekarang?’’Tanya Davian
menghiraukan drama yang mama-nya mainkan.
‘’Kata dokter papa sudah sembuh total tapi memang harus
cek’up sekali dua kali untuk memastikan kepala papa sudah baik baik
saja.’’Jawab Marselo.
‘’Syukurlah.’’Kata Davian lega.
‘’Om,Davian ayo kita makan dulu nanti di sambung lagi
ngobrolnya.’’Panggil Adel pada Marselo dan Davian yang masih mengobrol
sementara yang lain Marisa,Tomi dan Daniel mereka sudah pergi ke ruang makan.
‘’Ayo.’’Marselo melangkul Davian menuju ruang makan.
Disana Marisa,Tomi dan Daniel sudah duduk di kursi masing
masing di susul Adel lalu mereka berdua pun ikut duduk di kursi mereka.
Setelah Marselo dan Davian duduk mereka memulai makan dengan
tenang.
mengatakan soal perjodohannya dengan anak presdir Dirga.
‘Nanti saja lah selepas makan.’Batin Davian.
Setelah di rasa mereka selesai makannya Davian berdehem
mengalihkan fokus mereka yang sedang mengobrol selain Daniel yang sedang
memakan pudingnya.
‘’Pah,mah ada yang mau Davian sampaikan.’’Kata Davian serius.
‘’Ada apa nak,kau terlihat seruis?’’Tanya Marselo.
‘’Iya,tumben kamu serius sekali.’’Tanya Marisa yang penasaran
dengan nada serius anak sulungnya.
‘’Vian pikir lebih baik Vian yang lebih dulu memberitahu
kalian dari pada kalian dengar dari orang lain.’’Kata Davian.
Mendengar ucapan Davian membuat hati Marisa dan Adel merasa
tak enak dan gelisah dengan apa yang akan Davian sampaikan,begitu pun Marselo
dan Daniel yang penasaran banget pasalnya Davian itu jarang berbicara dengan
nada seruis begitu selalu datar.
‘’Pak Dirga pemilik WJ Compeny menjodohkan putri semata
wayangnya pada Viand an Vian juga sudah menerima perjodohan itu.’’Kata Davian.
Yah! Saat pertemuan tadi siang Davian sudah menerima
perjodohan itu dan Reina juga menerimanya namun dia ingin mengenal Davian lebih
dulu sebelum benar benar melanjutkan ke tahap selanjutnya dan Davian serta
Dirga menyetujuinya.
Hening
Mereka semua syok mendengar ucapan Davian,bahkan Daniel
menjatuhkan sendok puddingnya saking terkejutnya.
‘’APAA!’’Teriak mereka kecuali Tomi saat tersadar.
__ADS_1
‘’Apa maksud mu Davian?’’Kata Marisa marah atas keputusan
sepihak anaknya.
Adel meremas bajunyaa di bawah meja makan menahan rasa sakit
di hatinya,matanya sudah berkaca kaca namun Adel berusaha menahannya dia tidak
mau kalau sampai semua orang melihat dia menangis.
Tomi mengenggam tangan Adel menenangkan putrinya ,Adel
menoleh ke arah Tomi yang di balas senyuman hangat ,dia tahu hatinya pasti
hancur mendengar kalau Davian menerima perjodohan itu tanpa diskusi dulu,dia
juga tahu bagaimana perjuangan putrinya untuk membuat Davian menyukainya.
‘’Kami permisi.’’Pamit Tomi sambil membawa Adel meninggalkan meja
makan.
Karna ini malasah keluarga jadi Tomi merasa tak berhak ada di
sana seberapa dekatnya dia dengan Marselo dia bukan bagian dari keluarganya.
‘’Daniel juga,ada tugas yang harus di kerjakan.’’Pamit Daniel
yang di angguki kedua orang tuanya.
Daniel pergi ke kamarnya meski dia ingin tahu tapi dia sadar
dia masih anak kecil.
‘’Bisa kau jelaskan Davian.’’Kata Marisa lagi.
‘’Lebih baik kita bicara di ruanga papa aja.’’Ajak Marselo.
Marisa dan Davian mengikuti Marselo ke ruang kerjanya.
Sempainya mereka duduk di sofa yang tersedia di sana dengan Davian duduk di
sofa sebelah kanan dan Marisa di sofa di sebelah kiri sementara Marselo dia
duduk di sofa single di tengak tengah mereka.
‘’Apa yang kau rencakan hingga memutuskan menerima perjodohan
yang di tawarkan presdir Dirga tanpa memberitahu kami dulu.’’Kata Marisa to the
poins,dia benar benar marah.
‘’Kamu bilang semuanya baik baik saja,sebenarnya ada apa
dengan mu Vian? Kenapa kamu tidak cerita pada papa?’’Tanya Marselo yang sama
kecewanya karna tidak di beritahu sebelumnya.
‘’Apa kamu melukannya itu karna papa?’’Tanya Marselo lagi.
‘’Sekarang papa sudah baik baik saja jadi kamu usah melakukan
hal bodoh itu.’’Lanjutnya.
‘’Ini bukan hal bodoh pah.’’Kata Davian
‘’Bukan hal bodoh kata mu,kamu langsung menerima perjodohan
itu tanpa memberitahu papa dan mama.’’Kata Marisa.
‘’Ingat Vian perjodohan itu bukan hal sepele tapi itu
menyangkut orang yang akan berada di sisi mu dan menjaga mu sampai sisa umur
mu,ini tentang belahan jiwa mu.’’Lanjutnya.
‘’Mama enggak mau kau mengorbankan ke bahagian dan cinta
mu,Vian! Mama mau kau hidup dengan orang yang kamu sayangi dan menyanyangi
mu.’’Kata Marisa.
‘’Bukan perjodohan yang bahkan kami tak mengenal siapa wanita
tersebut.’’ Tambah Marisa.
Davian sudah menduga kalau ke dua orang tuanya tidak akan
menyetujuinya.
‘’Vian melakukannya bukan karna papa atau apa pun.’’Kata
Davian.
‘’Jangan berbohong.’’Kata Marisa.
‘’Kamu benar benar tak melakukan itu karna perusahaan
kan.’’Tanya Marselo.
‘’Tidak! Aku..tertarik padanya saat pertama bertemu.’’Kata
Davian beralasan agar mama nya tak menekannya lebih dari ini.
‘’Vian cape,mau istirahat! Selamat malam.’’Kata Davian pemit
__ADS_1
pada kedua orang tuanya lalu keluar tanpa mendengar jawaban mereka.