Cinta Pertamaku Menjadi Suamiku

Cinta Pertamaku Menjadi Suamiku
117


__ADS_3

Laura menatap bintang bintang dan lampu –lampu yang menyala


indah mempercantik kota serta mobil dan motor yang hilir mudik seakan


mengatakan kalau kota itu tidak pernah tidur.


Air mata yang sedari tadi dia tahan akhirnya tak terbendung


lagi mengalir deras di kedua pipinya.


Dia menumpahkan sakit hati dan kekecewaan nya,hanya malam ini


aja dia akan menangis dan mengubur rasa cintanya pada Davian ah ralat tapi


melupakannya.


‘’Hiks..hiks…hiks..hiks...’’Laura terus menangis.


Tuk


Merasa ada yang hangat di telapak tangannya Laura menundukan


kepalanya.


Dia menyeritkan dahi bingung melihat secangkir teh hijau yang


ada di telapak tangannya.


‘’Dingin.’’Kata Satria mendudukkan diri di samping Laura.


Laura menoleh kesamping saat mendengar suara yang tidak


asing.


Mata Laura melotot melihat Satria di sampingnya terlebih


dengan keadaannya yang sekarang,berantakan ,mata  dan hidung yang merah serta air mata yang


mengalr deras,dia tidak mau terlihat lemah apa lagi di kasihani.


Satria mengikuti Laura setelah dia pergi dari kafe,dia khawatir


saat melihat  matanya yang sayu dan


berkaca kaca.


Dan dia semakin cemas saat Laura pergi keatap gedung terlebih


dia menangis pilu karna takut kalau Laura nekat jadi di memberanikan diri


menghampirinya.


‘’Minumlah biar tenang dan hangat.Angin malam enggak baik


untuk kesehatan.’’Kata Satria sambil tersenyum pada Laura.


‘’Sorry,aku cuman khawatir kamu nekat.’’Kata Satria lagi melihat


raut tak suka Laura.


‘’Kalau kamu tidak keberatan aku bisa meminjakan bahu ku pada


mu.’’Kata Satria.


‘’Menangis lebih enak berdua dari pada sendirian,nanti malah


di sangka mbak kunti lagi apa lagi malam malam.’’Canda Satria,dia ingin


menghibur Laura walau dia tahu candaannya garing.


‘’Huff.’’Laura membuang nafas dan meletakan kepanya di bahu


Satria.


‘’Aku tidak tahu kamu kenapa tapi menangislah sepuas mu malam


ini dan besok kembalilah tersenyum.’’Kata Satria.


Entah kenapa malam ini menurut Laura Satria terlihat dewasa


dan keren tidak seperti biasanya.


‘’Hiks…hiks …hiks…huuaaa.’’ Laura kembali menangis seperti


yang di suruh Satria.


Satria hanya diam memdengarkan Laura menangis tanpa ingin


menghentikan atau pun memenangkan.


‘Menangislah sepuas mu malam ini dan besok tersenyum lagi,aku


lebih suka kamu tersenyum walau senyuman mu bukan untuk ku.’Kata Satria di


dalam hati.


Sementara itu


‘’Ini Satria kamana sih ,lama banget.’’Kata Marsel kesal.


Tadi Satria izin untuk membeli barang yang lupa dia bawa tapi


dia belum kembali juga .


‘’Sudah satu jam lebih dia kemana membelinya,Jogya lama


bener.’’Lanjutnya.


Kevin memasang earphone jengah mendengar gerutuan Marsel dari


tadi.


‘’Hei,Vin……ya elah malah santay dengerin music.’’Marsel


berbalik melihat Kevin yang santai mendengarkan music.


Brummm


Brummm


Brummm


Datang tiga motor menghampiri Marsel dan Kevin yang sedang


bersantai di pinggir jalan.


‘’Kalian ngapain masih di sini.’’Tanya salah satu dari mereka


lalu membuka helmnya.


‘’Kaya gelandangan aja.’’Lanjutnya mengejek.


‘’Sialan e’lo Yon,ngatain kita gelandangan.’’Kata Marsel

__ADS_1


kesal.


‘’Kalau bukan gelandangan apa? Gembel.’’Kata Dion orang yang


mengejek Marsel tadi.


‘’Sama aja bego.’’Kata Marsel


‘’Salah kalian nongrong di teras toko,apa coba kalu bukan


gelandangan.’’Kata Samuel teman Dion.


‘’Serahlah,terserah kalian saja,gue ngalah.’’Kata Marsel


mengalah.


‘Lagi pula gue enggak akan dapat hadiah kalau debat dengan


mereka terus.’pikir Marsel.


‘’Eh, Satria mana?’’Tanya Andreas baru sadar kalau Satria


tidak ada ,yang dari tadi diam mendengar perdebatan mereka.


‘’Justru karna dia kami di sangka gelandangan.’’Kata Marsel.


‘’Dia bilang ada barang yang mau di beli,tapi sampai sekarang


belum juga balik.’’Kata Kevin yang dari tadi diam saja.


‘’Kenapa tidak meneleponnya.’’Kata Andreas.


‘’Ahh…benar juga kenapa enggak kepikiran dari tadi.’’Teriak


Marsel yang baru menyadari kebodohannya.


‘’Kalau gini kan tidak perlu menunggunya.’’Marsel


mengeluarkan ponselnya dan mencari kontak Satria lalu menghubunginya.


‘’Bodoh.’’Kata Samuel dan Dion.


‘’Ck.’’Marsel mendecik sebal.


‘’Kenapa?’’Tanya Kevin.


‘’Tidak di angkat.’’Kata Marsel.


‘’Sudahlah mending kita duluan,nanti dia juga nyusul.’’Kata


Andreas.


‘’Kita sekalian numpang kalian yah.’’Kata Marsel


‘’Ngak modal e’lo maunya gratisan.’’Sindir Dion.


‘’Selagi ada yang gratisan untuk apa memilih yang


berbayar.’’Kata Marsel sambil tersenyum.


‘’Jangan berdebat lagi,kalau kalian berdebat terus kapan kita


mainnya.’’Kata Andreas memasang helmnya lalu menyalakan mesin motornya.


‘’Lho,Kevin kemana?’’Kata Marsel saat berbalik mengambil


tasnya dia tak melihat Kevin.


‘’Dia sudah duluan bareng Samuel.’’Jawab Andreas lalu pergi.


menyusul teman temannya yang sudah pergi ke tempat tujuan mereka.


Kembali ke Satria


 Laura mengangkat


kepalanya dan menghapus bekas air matanya dengan sapu tangan yang di berikan


Satria.


‘’Sudah puas.’’Kata Satria.


‘’Hm.’’Balas Laura.


Laura beranjak dari duduknya lalu pergi tapi sebelumnya di


berbalik menghadap Satria.


‘’Terima kasih.’’Kata Laura sambil tersenyum tulus.


Satria tertegun,terpesona melihat senyuman Laura,ini pertama


kalinya Laura tersenyum tulus padanya.


‘’Manis.’’Gumam Satria.


‘’Eh,ngapain gue masih di sini.’’Kata Satria tersadar.


‘’Laura tunggu.’’Satria berlari menyusul Laura yang sudah


turun dari tadi.


‘’Laura.’’Panggil Satria.


‘’Hm.’’Laura berbalik.


‘’Aku anterin kamu pulang yah!’’Kata Satria.


‘’Tidak usah senior.’’Tolak Laura.


‘’Ini sudah malam,lho.’’Kata Satria.


‘Benar juga jam segini taxi sudah jarang lewat.’Pikir Laura.


‘’Baiklah.’’Kata Laura.


‘’Benarkah.’’Kata Satria berbinar.


‘’Ayo motor ku ada di sana.’’Laura berjalan kea rah yang di


tunjuk Satria.


‘’Yes…akhirnya bisa mengantar pulang Laura.’’Kata Satria


girang..


‘’Eh,sepertinya gue melupakan sesuatu,tapi apa yah?’’Satria


memegang dgunya mengingat ngingat.


‘’Ah…sudahlah enggak penting.’’Lanjutnya.


‘’Sebaiknya aku menyusul Laura takut nanti berubah pikiran

__ADS_1


lagi.’’Kata Satria lalu pergi.


‘’Adel.’’Kata Laura saat melihat Adel sedang bersama ayahnya.


‘’Kamu yakin hanya saja.’’Tanya Tomi pada putrinya.


‘’Daniel bilang sih hanya ini saja.’’Jawab Adel.


Saat Adel mau pulang dari rumah sakit Daniel menelepon Adel


untuk memberikan barang untuk tugasnya besok karna tadi siang dia lupa dan pak


Doni sudah tidak bekerja lagi di rumahnya jadi tidak ada yang mengantarnya


untuk membelinya dan Davian juga belum pulang.


‘’Permisi.’’Kata Laura,Adel dan ayahnya menoleh.


‘’Bisa pinjam Adelnya sebentar,om.’’Kata Laura sopan.


‘’Iya silahkan.’’Jawab Tomi.


‘’Terima kasih.’’Balas Laura.


‘’Ada apa?’’Tanya Adel.


‘’Ayo ke sana,kita bicara di sana saja.’’Tunjuk  Laura ,Adel berjalan mengikuti Laura.


‘’Jadi?mau apa?’’Tanya Adel.


‘’Bagaimana hubungan e’lo dengan Davian?’’Tanya Laura.


‘’Baik.’’Kata Adel sedikit kesal karna pertanyaan Laura dia


jadi ingat kembali perlakuan Davian tadi.


‘Kenapa tiba tiba Laura bicara begitu?apa dia mau pamer kalau


hubungannya dengan Davian berjalan dengan lancar.’Pikir Adel jengkel.


‘’Gue baru saja menyatakan perasaan gue pada Davian.’’Kata


Laura.


Deg


Dadanya terasa sakit Adel mencengkram plastic belanjaannya


dengan erat.


‘’Lalu,e’lo mau maner gitu sama gue karna sudah jadian.’’Kata


Adel sembari menahan air matanya.


‘’Kalau begitu selamat yah.’’Lanjutnya,Adel berbalik pergi


kembali ke ayahnya namun jawaban yang Laura berikan mengurungkan niatnya.


‘’Gue enggak perlu ucapan ‘selamat’ dari e’lo,karna Davian


menolak gue.’’Kata Laura.


‘’Hah.’’Kata Adel terkejut.


‘Davian menolak Laura,bagaimana bisa?’Pikir Adel heran.


‘’Gue akan pindah ke Inggris,ikut bokap dan nyokap


gue.’’Lanjutnya membuat Adel tambah terkejut.


Yah! Alasan Laura memberanikan diri untuk menyatakan


perasaannya pada Davian sekarang adalah karna keluarganya akan pindah ke


Inggris mengurusi bisnis disana jadi sebelum pergi dia tidak mau ada penyesalan


sedikit pun.


‘’E’lo pindah bukan karna di tolak Davian kan.’’Tanya Adel.


‘’Enggaklah,bukan gaya gue kabur karna di tolak cowok.’’kata


Laura.


‘’Itu semua murni karna bokap gue mau mengurusi


perusahannya.’’Lanjutnya.


‘’E’lo enggak apa apa.’’Kata Adel khawatir.


‘’E’lo mengcemaskan gue,hahaha.’’Laura tertawa.


‘’Dari pada mencemaskan orang lain cemaskan diri e’lo


sendiri, mungkin setelah kepergian gue akan ada cewek yang lebih hebat


mendekati Davian.’’ Lanjutnya sambil tersenyum misterius.


Saat Davian bertanya soal om Dirga ,pirasatnya mengatakan


kalau om Dirga tertarik dengannya dan tidak menutup kemungkinan kalau om Dirga


memiliki rencana.


‘’Hah…maksud e’lo apa?’’Tanya Adel bingung.


‘’Selamat berjuang.’’Laura menepuk kepala Adel seperti


seorang kakak menyemangati  adik


kecilnya.


‘’Semangat.’’Katanya lagi sambil tersenyum tak lupa tangannya


mengepal ke atas.


‘’Dah sampai jumpa.’’Kata Laura berpamitan saat melihat


Satria sudah duduk di atas motornya.


‘’Apa maksud Laura tadi ,yah?’’Kata Adel


‘’Kenapa perasaan gue semakin gelisah saat Laura mengatakan


itu.’’Lanjutnya.


Adel memegang dadanya yang berdebar gelisah seolah tengah


memperingatkannya.


SEBELUMNYA AKU INGIN MENGUCAPKAN TERIMA KASIH UNTUK YANG MAU


MEMBACA NOVEL SAYA YANG TAK JELAS INI DAN YANG MAU MENUNGGU UPDEATANNYA YANG

__ADS_1


ENGGAK JELAS JUGA KAPAN UP’NYA.


OH...MOHON TANDAI KALAU ADA TYPO YAH SOALNYA BELUM SEMPAT REVIRI KARNA KAOTA SAYA LAGI DALAM MASA SEKARAT NIH.


__ADS_2