Cinta Pertamaku Menjadi Suamiku

Cinta Pertamaku Menjadi Suamiku
85


__ADS_3

‘’Baiklah untuk hari ini sampai di sini saja.’’Kata pak


Gunawan.


‘’Istirahatkan tubuh kalian untuk menghadapi babak penyisihan


besok,mengerti.’’Lanjut pak Gunawan tegas.


‘’Mengerti pak.’’Jawab mereka serempak.


‘’Laura tolong kamu persiapkan semuanya untuk besok


yah.’’Kata Pak Gunawan ramah.


‘’Baik pak.’’Jawab Laura sambil tersenyum manis.


Setelah mengatakan itu pak Gunawan pergi dan menyerahkan


sisanya pada Laura dan Satria.


Laura sudah menggantikan Adel beberapa hari yang lalu atas


permintaan Davian yang di paksa Satria dan yang lainnya.


‘’Reno,tumben e’lo tidak memakan bekal lo.’’Tanya


Toni,biasanya Reno akan memakan bekal yang di buat Adel sambil menyombongkannya


pada Rendy dan Davian.


Reno tidak menjawab pertanyaan Toni dia terus saja meminum


air yang di berikan Laura tadi pada mereka.


‘’Panjang umur tuh anak.’’Kata Marsel saat melihat Adel


berjalan menghampiri mereka.


‘’Baru saja tadi di bicarakan.’’Lanjutnya membuat yang lain


menoleh ke arah pintu masuk lapangan.


‘’Ini….maaf tadi pagi gue lupa memberikannya pada e’lo.’’Kata


Adel menyerahkan sebuah kotak bekal pada Reno.


‘’Tidak apa apa.’’Reno menerimanya dengan senang.


‘’Aku kira kamu tidak akan membuatkan aku bekal lagi.’’Lanjut


Reno.


‘’Terima kasih yah.’’Reno tersenyum senang,matanya mengejek


Davian.


‘’Gue kan udah janji akan membuatkan e’lo bekal sampai


turnamen di berakhir kalau e’lo tetap di klub.’’Kata Adel.


‘’Hehehe.’’Reno cengengesan lalu membuka tutup bekalnya.


‘’Ayam rica-rica.’’Kata Reno senang.


‘’Wah terima kasih Adel.’’Kata Reno senang karna itu makanan


ke sukaannya lalu dia memakannya dengan lahap.


‘’Senang amat e’lo,padahal kan yang memakan duluan


itu……’’Diki tak melanjutkan ucapannya saat dia merasakan aura dan tatapan


membunuh dari belakangnya.


Glek


Diki menelan ludah nya kasar saat dia sadar siapa yang ada di


belakannya sekarang.


Dia tidak mau mengalami hal menakutkan itu lagi,dia benar


benar menyesal telah membeberkan rahasia Davian.


Dia tidak mau kejadian kemarin marin terulang lagi,Davian


sangat mengerikan saat marah.


‘’Apa?’’Tanya Reno polos.


‘’Ti-tidak apa apa.’’Kata Diki


‘’Dasar bodoh.’’Guman Rendy pada Reno yang tak mengerti


ucapan Diki.


‘’Del,besok e’lo bakalan datangkan ke pertandingan penyisihan


babak pertamakan.’’Tanya Rendy tak lupa menatap Reno sinis.


‘’Entahlah, gue enggak tahu.’’Kata Adel bingung.


‘’Sebaiknya e’lo datang,biar kedua curut itu bisa bersemangat


bermainnya.’’Kata Kevin sambil menatap Reno dan Rendy bergantian.


‘’Bukannya yang main itu senior ,kak Satria,Diki,Davian dan


kak Marsel yah? Kan kalian yang menjadi tim inti .’’Kata Adel heran.


‘’Apa hugungannya dengan Reno dan Rendy yang harus


bersemangat besok?’’Tanya Adel.


‘’Mereka berdua ada di bangku cadangan utama untuk mengganti


Marsel dan Davian saat babak ke dua.’’Jawab Satria.

__ADS_1


‘’Hai Adel.’’Sapa Laura sambil tersenyum.


‘’Hai.’’Jawab Adel canggun.


‘’Gue denger e’lo mau pindah jurusan yah! mangkaya e’lo


keluar untuk belajar menghadapi ujian masuk,yah.’’Kata Laura,dia duduk


disamping Davian.


‘’Iyah.’’Jawab Adel.


‘’Semangat yah.’’Laura memberi Adel semangat.


‘’Tapi gue salut dengan e’lo,maaf sebelumnya gue kira di


pikiran e’lo cuman mau menarik perhatian Davian saja dan menjadikan Davian


tujuan e’lo.’’Kata Laura,walau perkataan Laura terdengar sebagai pujian tapi


bagi mereka yang paham maksud dari perkataan Laura sebenarnya sedang menyindir


Adel.


‘E’lo enggak salah Davian memang tujuan gue selama ini.’Pikir


Adel,dia ingin sekali mengatakan itu.


Adel mengeratkan tangannya dan tersenyum menanggapi ucapan


yang Laura katakan.


‘’Hei apa apaan perkataan e’lo itu.’’Kata Reno tidak suka


dengar ucapan Laura.


‘’Dengar yah Adel itu tidak menjadikan Davian


tujuannya.’’Lanjut Reno kesal,dia melangkul bahu Adel.


‘’Jadi jangan mengatakan hal itu.’’Tambahnya,tubuh Adel


tersentak saat Reno melangkul bahunya,dia sedikit bergetar wajahnya pun sedikit


pucat.


Pluk


‘’Tangan e’lo bau.’’Kevin mengingkirkan tangan Reno dari bahu


Adel saat dia melihat Adel menegang.


Adel memandang Kevin berterima kasih padanya kalau lebih lama


lagi dia mungkin akan pinsang atau lebih buruk lagi.


‘’Enak saja tangan gue tidak bau,senior jangan fitnah.’’Kata


Reno mencium tangannya sendiri.


‘’Tangan e’lo emang bau, hidung masih normal.’’Kata Kevin


‘’Ka-kalau begitu gue permisi,sampai jumpa.’’Adel pamit dan


pergi dari lapangan.


‘’Eh Adel kok pergi ,tunggu.’’Kata Reno dan mengejarnya tapi


di tahan Kevin.


‘’Senior lepaskan baju gue.’’Kata Reno.


‘’Kita masih belum selesai latihan jangan main pergi.’’Kata


Kevin.


‘’Bukannya tadi kata pak Gunawan sudah selesai.’’Kata Reno


sambil memberontak melepaskan diri.


‘’Masih ada yang perlu kita bahas.’’Kata Kevin.


Davian beranjak berjalan pergi meninggalkan lapangan.


‘’Itu Davian pergi kok malah di biarkan ,senior curang!pilih


kasih.’’Keluh Reno saat melihat Davian tidak di hentikan oleh Kevin.


‘’Davian e’lo mau kemana?’’Tanya Diki.


‘’Toilet.’’Jawab Davian .


‘’E’lo denger dia mau ke toilet masa gue harus


melalangnya.’’Kata Kevin,Reno masih mengeluh dan terus bergumam.


Davian berjalan menusuri jalan dia tidak pergi ke arah toilet


tapi pergi ke belakang gedung lapangan basket.


Adel duduk sambil memeluk lututnya dia masih bergemetaran


dari tadi, dia berusaha menenangkan dirinya sebelum menemui teman –temannya.Dia


tidak mau mereka curiga dan menanyakan pertanyaan yang ingin Adel lupakan.


‘’Minumlah.’’Davian berdiri di samping Adel menyodorkan botol


minuman miliknya.


Adel menoleh lalu menatap Davian dia mengambil botol itu lalu


meminumnya hingga habis.


‘’Terima kasih.’’Kata Adel.


‘’Masih takut.’’Tanya Davian.

__ADS_1


‘’Iyah.’’Jawab Adel sambil menundukan kepalanya.


‘’Jika kamu seperti ini terus kamu  tidak akan bisa jadi seorang perawat.’’Kata


Davian,dia mendudukkan dirinya di samping Adel..


‘’Gue tahu,tapi…..’’Davian memegang tangan Adel yang gemetar


memagang botol,Adel mengangkat kepalanya dan menatap mata Davian yang


memberinya ketenangan dan rasa aman.


‘’Aku sudah pernah bilang lupakan.’’Davian menutup mata Adel


dengan tangan satunya dan Adel menutup matanya.


‘’Lupakan ,jangan mengingatnya,jangan merasakannya.’’Kata


Davian.


‘’Lupakan,jangan mengingatnya,jangan merasakannya.’’Adel


mengulang perkataan Davian.


‘’Iyah bagus,lupakan kejadian itu anggap tidak pernah


terjadi.’’Kata Davian.


‘’Hm.’’Guman Adel.


‘’Merasa lebih baik.’’Tanya Davian dan melepaskan tangannya.


‘’Iyah,terima kasih.’’Kata Adel setelah menbuka matanya.


‘’Kalau kamu serius dengan ucapan yang kamu ucapkan waktu


itu,maka kamu harus siap menghadapi kejadian buruk itu dengan berani.’’Kata


Davian.


‘’Buktikan pada ku bahwa ucapan mu bukan hanya sekedar


pelarian dan alasan saja dan tunjukan sosok seorang Adel yang berani dan tak


kenal takut meski sudah berkali kali aku marahi dan tolak.’’Lanjut Davian.


‘’Jadilah Adel yang seperti dulu.’’Tambahnya.


‘’Tapi yang jauh lebih pintar.’’Kata Davian lalu menyentil


dahi Adel.


‘’Oke akan gue buktikan semua yang gue ucapkan bukan bohongan


atau pun hanya untuk terlihat keren di mata e’lo doang.’’Kata Adel sengan


semangat.


‘Kalau e’lo memperlakukan gue seperti ini gue enggak bakalan


bisa move on .’Pikir Adel sendu.


‘’Bisa bisa gue makin suka dengan e’lo,padahal kan gue mau


menyerah dan melelakan e’lo dengan Laura.’’Kata Adel pelan.


‘’Kamu mengatakan sesuatu.’’Tanya Davian.


‘’Ti-tidak.’’Adel menggelengkan kepala cepat.


‘’Yah sudah aku akan kembali.’’Davian berdiri.


‘’Iyah! Sekali lagi terima kasih sudah menenangkan gue.’’Kata


Adel sambil tersenyum manis.


Saat Davian berbalik kembali dia terkejut melihat Satria ada


di sana bukan hanya Satria tapi Diki juga ada di sana tanpa Satria sadari.


Setelah Davian pergi Satria pun ikut menusul Adel dia juga


khawatir pada Adel jadi dia pergi menyusul mereka dan Diki yang curiga dengan


kelakuan seniornya itu dan dia juga melihat sekilas tubuh Adel yang gemetar


saat di rangkul Reno,dia pikir itu cuman imajinasinya saja tapi melihat Davian


langsung pergi setelah Adel pergi dan Satria juga mengikuti mereka dia jadi


penasaran.


Davian tidak mengatakan apa pun dan terus saja berjalan


melewati Satria dan Diki,Satria pun ikut pergi dari sana dan dia terkejut


melihat Diki ada di belakangnya.


Tanpa mengatakan apa apa dia pun ikut pergi walau sebenarnya


dia ingin bertanya pada Davian dan juga Diki tentunya.


‘Sebenarna apa yang mereka sembunyikan,dan juga ada apa


dengan Adel.’Pikir Diki.


‘Gue enggak mengerti apa yang terjadi dengan Adel tapi,Davian


jika seperti ini bukannya e’lo malah menjerat Adel lebih dalam dan membuat Adel


semakin ketergantungan dengan e’lo.’Batin Diki sambil menatap punggung Davian.


‘Jika e’lo tidak bisa memberi Adel kepastian e’lo hanya akan


membuatnya terluka karna  mengharapkan


e’lo.’Lanjunya lalu mengikuti kedua orang itu pergi dari sana.

__ADS_1


Adel melangkah pergi tanpa tahu kalau ada dua orang yang


mendengarkan obrolan dia dan Davian tadi.


__ADS_2