
‘’Baiklah untuk hari ini sampai di sini saja.’’Kata pak
Gunawan.
‘’Istirahatkan tubuh kalian untuk menghadapi babak penyisihan
besok,mengerti.’’Lanjut pak Gunawan tegas.
‘’Mengerti pak.’’Jawab mereka serempak.
‘’Laura tolong kamu persiapkan semuanya untuk besok
yah.’’Kata Pak Gunawan ramah.
‘’Baik pak.’’Jawab Laura sambil tersenyum manis.
Setelah mengatakan itu pak Gunawan pergi dan menyerahkan
sisanya pada Laura dan Satria.
Laura sudah menggantikan Adel beberapa hari yang lalu atas
permintaan Davian yang di paksa Satria dan yang lainnya.
‘’Reno,tumben e’lo tidak memakan bekal lo.’’Tanya
Toni,biasanya Reno akan memakan bekal yang di buat Adel sambil menyombongkannya
pada Rendy dan Davian.
Reno tidak menjawab pertanyaan Toni dia terus saja meminum
air yang di berikan Laura tadi pada mereka.
‘’Panjang umur tuh anak.’’Kata Marsel saat melihat Adel
berjalan menghampiri mereka.
‘’Baru saja tadi di bicarakan.’’Lanjutnya membuat yang lain
menoleh ke arah pintu masuk lapangan.
‘’Ini….maaf tadi pagi gue lupa memberikannya pada e’lo.’’Kata
Adel menyerahkan sebuah kotak bekal pada Reno.
‘’Tidak apa apa.’’Reno menerimanya dengan senang.
‘’Aku kira kamu tidak akan membuatkan aku bekal lagi.’’Lanjut
Reno.
‘’Terima kasih yah.’’Reno tersenyum senang,matanya mengejek
Davian.
‘’Gue kan udah janji akan membuatkan e’lo bekal sampai
turnamen di berakhir kalau e’lo tetap di klub.’’Kata Adel.
‘’Hehehe.’’Reno cengengesan lalu membuka tutup bekalnya.
‘’Ayam rica-rica.’’Kata Reno senang.
‘’Wah terima kasih Adel.’’Kata Reno senang karna itu makanan
ke sukaannya lalu dia memakannya dengan lahap.
‘’Senang amat e’lo,padahal kan yang memakan duluan
itu……’’Diki tak melanjutkan ucapannya saat dia merasakan aura dan tatapan
membunuh dari belakangnya.
Glek
Diki menelan ludah nya kasar saat dia sadar siapa yang ada di
belakannya sekarang.
Dia tidak mau mengalami hal menakutkan itu lagi,dia benar
benar menyesal telah membeberkan rahasia Davian.
Dia tidak mau kejadian kemarin marin terulang lagi,Davian
sangat mengerikan saat marah.
‘’Apa?’’Tanya Reno polos.
‘’Ti-tidak apa apa.’’Kata Diki
‘’Dasar bodoh.’’Guman Rendy pada Reno yang tak mengerti
ucapan Diki.
‘’Del,besok e’lo bakalan datangkan ke pertandingan penyisihan
babak pertamakan.’’Tanya Rendy tak lupa menatap Reno sinis.
‘’Entahlah, gue enggak tahu.’’Kata Adel bingung.
‘’Sebaiknya e’lo datang,biar kedua curut itu bisa bersemangat
bermainnya.’’Kata Kevin sambil menatap Reno dan Rendy bergantian.
‘’Bukannya yang main itu senior ,kak Satria,Diki,Davian dan
kak Marsel yah? Kan kalian yang menjadi tim inti .’’Kata Adel heran.
‘’Apa hugungannya dengan Reno dan Rendy yang harus
bersemangat besok?’’Tanya Adel.
‘’Mereka berdua ada di bangku cadangan utama untuk mengganti
Marsel dan Davian saat babak ke dua.’’Jawab Satria.
__ADS_1
‘’Hai Adel.’’Sapa Laura sambil tersenyum.
‘’Hai.’’Jawab Adel canggun.
‘’Gue denger e’lo mau pindah jurusan yah! mangkaya e’lo
keluar untuk belajar menghadapi ujian masuk,yah.’’Kata Laura,dia duduk
disamping Davian.
‘’Iyah.’’Jawab Adel.
‘’Semangat yah.’’Laura memberi Adel semangat.
‘’Tapi gue salut dengan e’lo,maaf sebelumnya gue kira di
pikiran e’lo cuman mau menarik perhatian Davian saja dan menjadikan Davian
tujuan e’lo.’’Kata Laura,walau perkataan Laura terdengar sebagai pujian tapi
bagi mereka yang paham maksud dari perkataan Laura sebenarnya sedang menyindir
Adel.
‘E’lo enggak salah Davian memang tujuan gue selama ini.’Pikir
Adel,dia ingin sekali mengatakan itu.
Adel mengeratkan tangannya dan tersenyum menanggapi ucapan
yang Laura katakan.
‘’Hei apa apaan perkataan e’lo itu.’’Kata Reno tidak suka
dengar ucapan Laura.
‘’Dengar yah Adel itu tidak menjadikan Davian
tujuannya.’’Lanjut Reno kesal,dia melangkul bahu Adel.
‘’Jadi jangan mengatakan hal itu.’’Tambahnya,tubuh Adel
tersentak saat Reno melangkul bahunya,dia sedikit bergetar wajahnya pun sedikit
pucat.
Pluk
‘’Tangan e’lo bau.’’Kevin mengingkirkan tangan Reno dari bahu
Adel saat dia melihat Adel menegang.
Adel memandang Kevin berterima kasih padanya kalau lebih lama
lagi dia mungkin akan pinsang atau lebih buruk lagi.
‘’Enak saja tangan gue tidak bau,senior jangan fitnah.’’Kata
Reno mencium tangannya sendiri.
‘’Tangan e’lo emang bau, hidung masih normal.’’Kata Kevin
‘’Ka-kalau begitu gue permisi,sampai jumpa.’’Adel pamit dan
pergi dari lapangan.
‘’Eh Adel kok pergi ,tunggu.’’Kata Reno dan mengejarnya tapi
di tahan Kevin.
‘’Senior lepaskan baju gue.’’Kata Reno.
‘’Kita masih belum selesai latihan jangan main pergi.’’Kata
Kevin.
‘’Bukannya tadi kata pak Gunawan sudah selesai.’’Kata Reno
sambil memberontak melepaskan diri.
‘’Masih ada yang perlu kita bahas.’’Kata Kevin.
Davian beranjak berjalan pergi meninggalkan lapangan.
‘’Itu Davian pergi kok malah di biarkan ,senior curang!pilih
kasih.’’Keluh Reno saat melihat Davian tidak di hentikan oleh Kevin.
‘’Davian e’lo mau kemana?’’Tanya Diki.
‘’Toilet.’’Jawab Davian .
‘’E’lo denger dia mau ke toilet masa gue harus
melalangnya.’’Kata Kevin,Reno masih mengeluh dan terus bergumam.
Davian berjalan menusuri jalan dia tidak pergi ke arah toilet
tapi pergi ke belakang gedung lapangan basket.
Adel duduk sambil memeluk lututnya dia masih bergemetaran
dari tadi, dia berusaha menenangkan dirinya sebelum menemui teman –temannya.Dia
tidak mau mereka curiga dan menanyakan pertanyaan yang ingin Adel lupakan.
‘’Minumlah.’’Davian berdiri di samping Adel menyodorkan botol
minuman miliknya.
Adel menoleh lalu menatap Davian dia mengambil botol itu lalu
meminumnya hingga habis.
‘’Terima kasih.’’Kata Adel.
‘’Masih takut.’’Tanya Davian.
__ADS_1
‘’Iyah.’’Jawab Adel sambil menundukan kepalanya.
‘’Jika kamu seperti ini terus kamu tidak akan bisa jadi seorang perawat.’’Kata
Davian,dia mendudukkan dirinya di samping Adel..
‘’Gue tahu,tapi…..’’Davian memegang tangan Adel yang gemetar
memagang botol,Adel mengangkat kepalanya dan menatap mata Davian yang
memberinya ketenangan dan rasa aman.
‘’Aku sudah pernah bilang lupakan.’’Davian menutup mata Adel
dengan tangan satunya dan Adel menutup matanya.
‘’Lupakan ,jangan mengingatnya,jangan merasakannya.’’Kata
Davian.
‘’Lupakan,jangan mengingatnya,jangan merasakannya.’’Adel
mengulang perkataan Davian.
‘’Iyah bagus,lupakan kejadian itu anggap tidak pernah
terjadi.’’Kata Davian.
‘’Hm.’’Guman Adel.
‘’Merasa lebih baik.’’Tanya Davian dan melepaskan tangannya.
‘’Iyah,terima kasih.’’Kata Adel setelah menbuka matanya.
‘’Kalau kamu serius dengan ucapan yang kamu ucapkan waktu
itu,maka kamu harus siap menghadapi kejadian buruk itu dengan berani.’’Kata
Davian.
‘’Buktikan pada ku bahwa ucapan mu bukan hanya sekedar
pelarian dan alasan saja dan tunjukan sosok seorang Adel yang berani dan tak
kenal takut meski sudah berkali kali aku marahi dan tolak.’’Lanjut Davian.
‘’Jadilah Adel yang seperti dulu.’’Tambahnya.
‘’Tapi yang jauh lebih pintar.’’Kata Davian lalu menyentil
dahi Adel.
‘’Oke akan gue buktikan semua yang gue ucapkan bukan bohongan
atau pun hanya untuk terlihat keren di mata e’lo doang.’’Kata Adel sengan
semangat.
‘Kalau e’lo memperlakukan gue seperti ini gue enggak bakalan
bisa move on .’Pikir Adel sendu.
‘’Bisa bisa gue makin suka dengan e’lo,padahal kan gue mau
menyerah dan melelakan e’lo dengan Laura.’’Kata Adel pelan.
‘’Kamu mengatakan sesuatu.’’Tanya Davian.
‘’Ti-tidak.’’Adel menggelengkan kepala cepat.
‘’Yah sudah aku akan kembali.’’Davian berdiri.
‘’Iyah! Sekali lagi terima kasih sudah menenangkan gue.’’Kata
Adel sambil tersenyum manis.
Saat Davian berbalik kembali dia terkejut melihat Satria ada
di sana bukan hanya Satria tapi Diki juga ada di sana tanpa Satria sadari.
Setelah Davian pergi Satria pun ikut menusul Adel dia juga
khawatir pada Adel jadi dia pergi menyusul mereka dan Diki yang curiga dengan
kelakuan seniornya itu dan dia juga melihat sekilas tubuh Adel yang gemetar
saat di rangkul Reno,dia pikir itu cuman imajinasinya saja tapi melihat Davian
langsung pergi setelah Adel pergi dan Satria juga mengikuti mereka dia jadi
penasaran.
Davian tidak mengatakan apa pun dan terus saja berjalan
melewati Satria dan Diki,Satria pun ikut pergi dari sana dan dia terkejut
melihat Diki ada di belakangnya.
Tanpa mengatakan apa apa dia pun ikut pergi walau sebenarnya
dia ingin bertanya pada Davian dan juga Diki tentunya.
‘Sebenarna apa yang mereka sembunyikan,dan juga ada apa
dengan Adel.’Pikir Diki.
‘Gue enggak mengerti apa yang terjadi dengan Adel tapi,Davian
jika seperti ini bukannya e’lo malah menjerat Adel lebih dalam dan membuat Adel
semakin ketergantungan dengan e’lo.’Batin Diki sambil menatap punggung Davian.
‘Jika e’lo tidak bisa memberi Adel kepastian e’lo hanya akan
membuatnya terluka karna mengharapkan
e’lo.’Lanjunya lalu mengikuti kedua orang itu pergi dari sana.
__ADS_1
Adel melangkah pergi tanpa tahu kalau ada dua orang yang
mendengarkan obrolan dia dan Davian tadi.