
Hari ini hari Daniel pulang dari
rumah sakit seminggu sudah Daniel di rawat di rumah sakit,Adel juga sering
menjenguk Daniel dan Ruri tapi kalau Davian datang dia langsung pulang.
Marisa meninta Adel untuk menemani
Davian menjemput Daniel di rumah sakit karna dia masih harus menyiapkan pesta
untuk kesembuhan dan kepulangan Daniel.
‘’Apa semua sudah siap? tidak ada
yang ke tinggalan.’’Tanya Davian.
‘’Tidak ada.’’Jawab Daniel sedih.
‘’Daniel selamat kamu sudah
sembuh.’’Ruri memberi salam pada Daniel.
‘’Ehm.’’Kata Daniel.
‘’Kapan –kapan kita main lagi
nanti akan aku beritahu alamat rumahku kalau sudah pulang dari rumah
sakit.’’Kata Ruri sambil tersenyum.
‘’Iyah,aku akan menemui mu.’’Kata
Daniel ceria.
‘’Sampai nanti.’’Lanjutnya lalu
memeluk Ruri.
‘’Sampai jumpa.’’Balas Ruri.
‘’Sampai jumpa Ruri cepat sembuh
supaya kita bisa bermain lagi.’’Adel memeluk Ruri.
‘’Iyah kak Adel,terima kasih sudah
menemani ku selama ini.’’Kata Ruri.
‘’Sampai nanti Ruri.’’Kata Davian
mengusap kepala Ruri.
Daniel menatap jendela kamar
rawatnya ,Ruriberdiri dekat jendela sambil tersenyum dan melambaikan tangan
saat melihat Daniel masuk ke mobil Daniel pun melambaikan tangannya,Davian
menjalankan mobilnya meninggalkan rumah sakit.
‘’Ruri anak yang tegar yah.’’Kata
Adel mengusap matanya yang berkaca kaca.
‘’Dia pasti sudah sering melihat
teman sekamarnya pulang duluan.’’Kata Davian.
‘’Kakak,seandainya kalau kakak
menjadi dokter apa kakak bisa menyembuhkan penyakit Ruri.’’Tanya Daniel,dia
sedih harus berpisah dengan Ruri.
‘’Kakak tidak tahu.’’Jawab Davian.
‘’Penyakit Ruri termasuk penyakit
yang langka.’’Lanjutnya.
Di sepanjang perjalanan Adel hanya
mendengarkan percakapan kedua adik kakak tersebut di bangku belakang,setelah
memasuki perkarangan rumah mereka segera turun dan masuk ke dalam rumah.
‘’SELAMAT DATANG KE RUMAH.’’Teriak
Marisa dan Marselo serta Tomi menyambut Daniel,Davian dan Adel saat masuk
rumah.
‘’Ada apa ini?’’Tanya Davian.
‘’Ah …perayaan kesembuhan dan ke
pulangan Daniel.’’Kata Marisa.
‘’Ayo mama sudah masak banyak buat
kalian.’’Marisa menarik Adel ke ruang makan.
‘’Ayo…ayo.’’Ajak Marselo
Davian,Daniel dan Tomi mengikuti
dari belakang,mereka duduk di tempat masing –masing dan memulai makan dengan
hidmat.
‘’Adel ada yang mau tante
berikan.’’Kata Marisa,saat ini mereka sedang duduk di ruang keluarga.
Marisa pergi mengambil hadiah yang
akan di berikan pada Adel.lalu Marisa datang membawa sebuah sepeda.
‘’Tante ini…..’’Kata Adel saat
melihat Marisa membawa sepeda.
‘’Tante ingin memberikan kamu
hadiah sebagai ucapan terima kasih karna sudah menolong Daniel.’’Kata Marisa.
‘’Tidak perlu tante Adel senang
bisa membantu Daniel.’’kata Adel.
‘’Tolong jangan di tolak
yah.’’Marisa memegang tangan Adel.
‘’Hm…’’Adel merasa tak enak pada
__ADS_1
Marisa.
‘’Bukannya sia-sia memberikan dia
sepeda diakan tidak bisa naik sepeda.’’Kata Daniel acuh,Adel tak merasa sakit
hati akan ucapan Daniel karna itu memang benar.
‘’Tidak masalah,lagian sepeda
inikan sepeda listrik jadi Adel bisa mengendarainya seperti motor metik.’’kata
Marisa.
‘’Sebenarnya mama ingin memberikan
Adel motor tapi pasti Adel akan menolaknya jadi papa menyarankan mama untuk memberi sepeda
listrik saja.’’Kata Marselo.
‘’Kalian terlalu berlebihan.’’Kata
Tomi yang merasa tak enak.
‘’Tidak ini hanya sebuah sepeda
,justu apa yang Adel lakukan lebih berharga dari apa pun.’’Kata Marisa.
‘’Jadi mohon di terima
yah.’’lanjutnya.
‘’Baiklah akan Adel terima,Terima
kasih tante.’’Kata Adel,Marisa tersenyum senang dan memeluk Adel.
Marisa meminta Adel dan Tomi
menginap untuk malam ini,Adel berjalan keluar mencari angin dia melihat Davian
yang duduk di tangga luar melihat bintang –bintang.
‘’E’lo belum tidur.’’Adel
menghampiri Davian dan duduk di sampingnya.
‘’Kamu juga.’’Kata Davian menoleh.
‘’Em…..e’lo sedang apa?’’Tanya
Adel.
‘’Hanya melihat bintang saja.’’Jawab
Davian.
‘’Gue mau membuat teh e’lo mau di
buatkan juga.’’Tanya Adel menoleh ke Davian.
‘’Kopi.’’Kata Davian,Adel berdiri pergi
ke dapur membuat kopi dan teh.
Adel keluar dari dapur membawa
nampan dengan berisi teh dan kopi pesanan Davian serta cemilan.
‘’Ini kopinya, tapi maaf
Adel dan meletakan nampan di tengah – tengah mereka.
‘’Tidak masalah.’’Davian mengambil
cangkir kopi dan meminumnya dia sedikit terkejut dengan rasa kopi buatan Adel.
‘Lumayan.’Batin Davian tersenyum.
‘’Kenapa?tidak enak
yah,maaf.’’Kata Adel yang melihat raut wajah Davian berubah walau sebentar.
‘’Diki bilang nilai ujian kamu
dapat B.’’Kata Davian tak menjawab pertanyaan Adel.
‘’Iyah….seperti gue gagal
lagi.’’Kata Adel sendu.
‘’Kau sudah berusaha dengan
baik.’’Kata Davian.
‘’Apa kau kecewa?’’Lanjutnya.
‘’Tentu saja tidak !itu adalah
hasil dari kerja keras gue sendiri.’’Kata Adel tegas.
Walau dia merasa kecewa karna
tidak bisa mendapatkan nilai A tapi dia di dalam hati terdalamnya dia merasa
bangga dengan pencapaiannya sendiri.
‘’Bagus.’’Davian menepuk kepala
Adel membuat Adel terkejut dengan tindakannya Davian.
‘’Terima kasih.’’Kata Adel yang
menunduk menyembunyikan pipinya yang merona merah.
Davian pun kembali meminum kopinya
lalu melihat ke atas langit lagi, Adel menatap Davian diam –diam lalu melihat
langit malam seperti yang di lakukan Davian sambil meminum tehnya.
Mereka terdiam tak ada satu pun di
antara mereka yang memulai pembicaraan,mereka hanya memandangi bintang –bintang
yang bertabur indah di langit malam.
…………….
Pagi ini di dapur keluarga Pratama
sangat heboh, karna sang nyonya rumah sedang bersemangat dia sangat senang bisa memasak lagi bersama Adel.
‘’Semuanya sarapan sudah
siap.’’Teriak Marisa memangil anggota keluara yang lain untuk sarapan.
__ADS_1
‘’Wah….hari ini mamah terlihat
senang sekali.’’Kata Marselo yang datang lalu duduk di kursinya.
‘’Ada apa kau terlihat bersemangat
begitu Marisa?’’Tanya Tomi dan duduk juga.
‘’Tidak ada apa apa,aku hanya
sangat senang bisa memasak lagi bersama dengan Adel.’’Jawab Marisa senang.
Di susul Davian dan Daniel
,setelah semuanya berkumpul mereka mulai sarapannya dengan hening hanya
dentingan sendok dan piring yang terdengar.
‘’Davian kamu berangkat ke
kampusnya dengan papah.’’Kata Marselo setelah selesai sarapan.
‘’Ada yang mau papah
bicarakan.’’Tambahnya.
‘’Baik pah.’’Jawab Davian.
Mereka pun pamitan berangkat
duluan setelahnya Tomi juga pamit ,Daniel berdiri untuk pergi ke sekolah tapi
dia berbalik lagi.
‘’Terima kasih.’’Kata Daniel pada Adel
lalu dia langsung pergi.
‘’Dasar tsundere.’’Kata Adel
dengan senyum manis
‘’Adel, tante pergi mengantar
Daniel dulu ke sekolah yah.’’Kata Marisa yang sudah rapi
‘’Kamu tidak apa –apakan berangkat
ke kampus sendiriankan.’’Tanya Marisa.
‘’Tidak apa –apa tante,tak perlu
khawatir.’’Kata Adel.
‘’Ahh….kamu bisa memakai sepeda
kamu ke kampus, tante sudah mengisi batrainya penuh.’’Kata Marisa.
‘’Iyah tante.’’Kata Adel.
‘’Mamah cepetan nanti Daniel
terlambat.’’Teriak Daniel di luar.
‘’Iyah mamah segera ke sana.’’Teriak
Marisa.
‘’Ya sudah yah Adel tante
berangkat dulu.’’Lanjut Marisa lalu pergi.
‘’Hati –hati di jalannya
Tante.’’Kata Adel.
‘’Hah….walau pun tidak di kayuh
sekali pun gue kan tetap tidak bisa menaiki sepeda.’’Kata Adel setelah Marisa
pergi.
‘’Kenapa juga tante Marisa malah
memberikan gue sepeda?’’Tanya Adel entah pada siapa.
‘’Sudahlah sebaiknya gue berangkat
juga.’’Adel membereskan semua piring setelah di mencucinya Adel berangkat naik
bis.
Sementara itu Marselo sedang
bertanya serius pada Davian di mobil.
‘’Davian papah mau tanya kapan
kamu mau mengambil kuliah utama apa?’’Tanya Marselo.
‘’Kamu sudah harus mulai
serius ini sudah hampir tahun
kedua.’’Lanjutnya.
‘’Dan papah harap kamu mengambil
bisnis sebagai kuliah utama mu.’’Kata Marselo,dia melihat ke samping Davian
tidak merespon satu pun ucapan Marselo.
Davian terus menatap lulus ke
depan tak menjawab satu pun pertanyaan papahnya,dia bingung sesungguhnya dia
tidak tertarik pada bisnis atau pun kuliah.
Secara tidak sengaja Davian kuliah juga karna
perkataan Adel dan ingin tahu hal apa lagi yang akan di bawa Adel di
kehidupannya kali ini.
Marselo menghela nafasnya dia tahu
kalau anak sulungnya itu memang dari awal tidak tertarik kuliah tapi entah
kenapa besok paginya dia pergi mengikuti ujian dan masuk ke Universitas BIMA
DARMA yang mana Adel pun masuk kesana.
‘Apa yang harus aku lakukan’Batin
Marselo
__ADS_1