Cinta Pertamaku Menjadi Suamiku

Cinta Pertamaku Menjadi Suamiku
140


__ADS_3

Adel menurusuri setiap etalase di toko perhiasan untuk  mencari cincin yang cocok untuk pernikahannya,


senyuman tak pernah hilang dari bibir Adel sejak Marisa mengatakan kalau mereka


akan menikah seminggu lagi.


Davian dengan malas berdiri di depan etalase dengan seorang


pegawai yang menanyakan cincin seperti apa yang mereka butuhkan.


Bukan berarti Davian tidak senang dengan pernikahan nya tapi


menurutnya ada hal yang paling penting yang lebih dulu harus di lakukan dari


pada memilih cincin dan gaun pernikahan.


Kalau bukan paksaan mama nya dan juga Adel yang menyeretnya


ke toko perhiasan mana mau dia pergi.


Adel kembali ke tempat Davian karna tak menemukan cincin yang


dia suka. Dia menanyakan pendapat Davian ketika melihat sebuah cincin yang


menurutnya cantik.


‘’Bagaimana dengan yang ini.’’Tunjuk Adel pada sebuah cincin


dengan belian biru di tengahnya.


‘’Itu terlalu berkilau,aku tidak menykainya.’’ Tolak Davian.


Adel cemberut mendengar pendapat Davian,melihat hal itu


Davian menghela nafas.


‘’Haruskah kita membeli cincin? Bukannya tanpa cincin kita


juga bisa menikah.’’ Tanya Davian ,sesungguhnya dia kurang nyaman bila


mengenakan cincin.


‘’Memang sih,tapi kan cincin dalam sebuah pernikahan itu


seperti tanda cinta pada pasangan.’’Jawab Adel.


‘’Tanda cinta?’’Kata Davian.


‘’Bagaimana mungkin sesuatu yang materialistis bisa menjadi


tanda cinta?’’Lanjutnya.


Mendengar pertanyaan Davian Adel hanya menunduk,yang di


katakan Davian memang ada benarnya namun dia juga ingin seperti pasangan yang


lain yang di lamar secara romantic.


‘’Tapi cincin pernikahan juga tanda ikatan sebuah


hubungan.’’Kata Adel.


‘’Ikatan!.’’Kata Davian dan di angguki Adel.


‘’Kalau begitu kamu saja yang pilih cincinnya.’’Kata Davian


lalu melangkah keluar.


‘’Hah.’’Adel menghela nafas nanar.


Bohong kalau dia tidak sedih dan kecewa dengan sikap Davian


terlebih saat tak sengaja melihat pasangan yang sedang memilih cincin terlihat


romantic dan senang, dia sangat iri.


Adel keluar menyusul Davian menyembunyikan raut kecewa dan


membawa Davian ke butik untuk memesan gaun pengantin.


‘’Untuk apa lagi kita kesini?’’Tanya Davian.


‘’Membeli gaun dan jas untuk penikahan kita.’’ Jawab Adel


seraya tersnyum.


‘’Tidak perlu aku memiliki banyak jas.’’Kata Davian.


‘’Kalau begitu kita ke studio saja,ayo.’’Adel menarik tangan


Davian.

__ADS_1


‘’Studio? Untuk apa lagi?’’Tanya Davian.


‘’Foto pernikahan.’’Kata Adel


[tadinya saya mau pake b.inggris biar keren tapi enggak tahu


nulisnya hehe]


‘’Tidak,aku tidak mau melakukan hal bodoh seperti itu.’’Jawab


Davian dingin,dia paling malas berurusan dengan berfoto karna dulu ketika dia


masih kecil dia pernah di dandani dengan hanfu untuk anak gadis saat mereka


mereka melakukan foto keluarga di Korea saat liburan.


‘’Sebenarnya kamu itu benar benar mau menikah dengan ku atau


tidak sih.’’Kata Adel yang sudah kesal dan kecewa.


‘’Tidak mau beli cincin pernikahan ,tidak mau juga membeli


gaun dan sekarang kamu juga tidak mau di ajak buat foto pernikahan.’’Teriak


Adel


‘’Apa salahnya jika aku  menginginkan semua itu sama seperti pasangan yang lain di hari pernikahan


ku sendiri?’’Kata Adel.


‘’lebih baik kita pergi dari sini,malu di lihat banyak


orang.’’Kata Davian


karna teriakan Adel tadi banyak pengunjung moll melihat kea


rah mereka dan berbisik bisik membicarakan mereka.


‘’Malu,yang seharus malu itu aku,apa kamu lihat raut mengejek


pagawai di toko perhiasan tadi pada ku saat kita tak jadi membeli cincin.’’Kata


Adel nanar.


Tadi dia tak sengaja melihat pegawai tadi melihat Adel dengan


tatapan mengejek  di balik senyum yang di


perlihatkan atau lebih tepatnya dia tidak sengaja melihat pantulan wajah saat


Deg


Davian tersentak mendengar pengakuan Adel atas hinaan tak


langsung yang di terimanya.


‘’Kurasa ini lah alasan banyak pasangan yang putus di saat


saat akan menikah.’’Kata Davian lelah.


‘’Putus!’Kata Adel,jauh di lubuk hatinya dia takut dan kecewa


dengan ucapan Davian.


‘’Kalau kamu tidak mau melakukan semua ini untuk apa kamu


pergi dengan ku.’’Tanya Adel.


‘’Memangnya siapa yang memaksa ku untuk pergi tadi.’’Tanya Davian


datar.


‘’Karna ini lah aku bilang akan menikah setelah kelulusan,


masih banyak hal yang harus ku urus dan mungkin aku tidak akan memiliki waktu


untuk mu.’’Lanjutnya.


‘’Begitu yah.’’Adel tersenyum sendu.


‘’Seharusnya kamu tidak pernah bilang akan menikahiku,sehingga


tante Marisa tidak akan melakukan hal dadakan seperti ini.’’Kata Adel.


‘’Yah,sakarang aku menyesal telah mengatakan itu.’’Kata


Davian.


Maksud Davian adalah dia menyesal telah mengatakan itu


sekarang seharusnya nanti saja setelah mereka lulus agar bisa leluasa

__ADS_1


menyiapkan hari pernikahan mereka dengan baik dan santai tidak dadakan seperti


ini,tapi Adel salah mengartikan maksud Davian dia berpikir kalau Davian


menyesal telah mengatakan ingin menikahinya.


‘’Sudahlah ayo,kita pulang saja.’’Kata Davian,saat akan


menggandeng tangan Adel,Adel menarik tangannya.


‘’Kamu pulang duluan saja,aku bisa pulang sendiri.’’kata Adel


dengan mata yang berkaca kaca lalu berbalik pergi meninggalkan Davian.


Davian menatap punggung Adel dengan tatapan yang sulit di


artikan.


‘’Ck.’’Davian mengacacak acak rambutnya.


‘’Aku tidak suka melakukan ini!Kenapa orang orang sangat suka


dan mudahnya melakukan hal yang merepotkan seperti ini.’’Kata Davian frustasi.


Dia masuk ke mobil lalu menjalankan mobilnya pergi ke suatu


tempat.


…….


Adel melangkah masuk ke dalam restoran saat akan naik ke


lantai atas,dia menyeritkan dahinya heran melihat ayahnya turun dengan


mengenakan kemeja hitam dan di lengan kirinya tersampir jas ,tidak memakai baju


koki seperti biasanya.


‘’Adel kamu di sini? Ayah baru saja ingin menghubungi mu.’’Kata


Tomi ketika menyadari kehadiran Adel.


‘’Em,ayah mau kemana? Dengan pakaian rapi begitu.’’ Tanya


Adel.


Tomi tersenyum mendekat kea rah Adel lalu menusap kepalanya.


‘’Ada apa hm,kenapa wajah mu terlihat sedih begitu?’’ Tanya


Tomi walau Adel terlihat seperti biasa namun sebagai ayahnya dia tahu dengan


baik bagaimana setiap raut wajah putri semata wayang itu meski Adel berusaha


menyembunyikannya.


‘’Adel baik baik aja kok ayah, hanya kepanasan saja tadi


habis pergi jalan jalan dengan Davian.’’Jawab Adel sambil tersenyum.


‘’Ya sudah,ayo ikut ayah.’’Kata Tomi tak memaksa Adel


mengatakan yang sejujurnya.


‘’Mau kemana yah?’’Tanya Adel.


‘’Nanti juga kamu tahu.’’Balas Tomi.


Adel tak bertanya lagi dan mengikuti ayahnya naik ke mobil


setelah Adel naik Tomi menjalankan mobilnya meninggalkan restoran.


Sepanjang perjalanan Adel terus memikirkan ucapan Davian yang


mengatakan kalau dia menyesal ingin menikahinya hingga tak menyadari mereka


pergi kemana.


‘’Kita sudah sampai ayo turun.’’Kata Tomi memberitahu Adel


dan turun dari mobil.


‘’Ah ,sudah sampai yah.’’Adel terbagun dari lamunanya.


Alisnya naik ke atas bingung saat melihat Davian berdiri di


samping mobilnya dengan membawa keranjang piknik dan ayah pegi menghampiri


Davian.


‘’Kenapa Davian juga ada ke sini?’’Tanya Adel bingung.

__ADS_1


‘’Loh,ini kan pemakaman! Ngapain ayah mengajak ke pemakaman?’’Kata


Adel saat menyadari dia ada dimana bertambah bingung.


__ADS_2