
Adel menurusuri setiap etalase di toko perhiasan untuk mencari cincin yang cocok untuk pernikahannya,
senyuman tak pernah hilang dari bibir Adel sejak Marisa mengatakan kalau mereka
akan menikah seminggu lagi.
Davian dengan malas berdiri di depan etalase dengan seorang
pegawai yang menanyakan cincin seperti apa yang mereka butuhkan.
Bukan berarti Davian tidak senang dengan pernikahan nya tapi
menurutnya ada hal yang paling penting yang lebih dulu harus di lakukan dari
pada memilih cincin dan gaun pernikahan.
Kalau bukan paksaan mama nya dan juga Adel yang menyeretnya
ke toko perhiasan mana mau dia pergi.
Adel kembali ke tempat Davian karna tak menemukan cincin yang
dia suka. Dia menanyakan pendapat Davian ketika melihat sebuah cincin yang
menurutnya cantik.
‘’Bagaimana dengan yang ini.’’Tunjuk Adel pada sebuah cincin
dengan belian biru di tengahnya.
‘’Itu terlalu berkilau,aku tidak menykainya.’’ Tolak Davian.
Adel cemberut mendengar pendapat Davian,melihat hal itu
Davian menghela nafas.
‘’Haruskah kita membeli cincin? Bukannya tanpa cincin kita
juga bisa menikah.’’ Tanya Davian ,sesungguhnya dia kurang nyaman bila
mengenakan cincin.
‘’Memang sih,tapi kan cincin dalam sebuah pernikahan itu
seperti tanda cinta pada pasangan.’’Jawab Adel.
‘’Tanda cinta?’’Kata Davian.
‘’Bagaimana mungkin sesuatu yang materialistis bisa menjadi
tanda cinta?’’Lanjutnya.
Mendengar pertanyaan Davian Adel hanya menunduk,yang di
katakan Davian memang ada benarnya namun dia juga ingin seperti pasangan yang
lain yang di lamar secara romantic.
‘’Tapi cincin pernikahan juga tanda ikatan sebuah
hubungan.’’Kata Adel.
‘’Ikatan!.’’Kata Davian dan di angguki Adel.
‘’Kalau begitu kamu saja yang pilih cincinnya.’’Kata Davian
lalu melangkah keluar.
‘’Hah.’’Adel menghela nafas nanar.
Bohong kalau dia tidak sedih dan kecewa dengan sikap Davian
terlebih saat tak sengaja melihat pasangan yang sedang memilih cincin terlihat
romantic dan senang, dia sangat iri.
Adel keluar menyusul Davian menyembunyikan raut kecewa dan
membawa Davian ke butik untuk memesan gaun pengantin.
‘’Untuk apa lagi kita kesini?’’Tanya Davian.
‘’Membeli gaun dan jas untuk penikahan kita.’’ Jawab Adel
seraya tersnyum.
‘’Tidak perlu aku memiliki banyak jas.’’Kata Davian.
‘’Kalau begitu kita ke studio saja,ayo.’’Adel menarik tangan
Davian.
__ADS_1
‘’Studio? Untuk apa lagi?’’Tanya Davian.
‘’Foto pernikahan.’’Kata Adel
[tadinya saya mau pake b.inggris biar keren tapi enggak tahu
nulisnya hehe]
‘’Tidak,aku tidak mau melakukan hal bodoh seperti itu.’’Jawab
Davian dingin,dia paling malas berurusan dengan berfoto karna dulu ketika dia
masih kecil dia pernah di dandani dengan hanfu untuk anak gadis saat mereka
mereka melakukan foto keluarga di Korea saat liburan.
‘’Sebenarnya kamu itu benar benar mau menikah dengan ku atau
tidak sih.’’Kata Adel yang sudah kesal dan kecewa.
‘’Tidak mau beli cincin pernikahan ,tidak mau juga membeli
gaun dan sekarang kamu juga tidak mau di ajak buat foto pernikahan.’’Teriak
Adel
‘’Apa salahnya jika aku menginginkan semua itu sama seperti pasangan yang lain di hari pernikahan
ku sendiri?’’Kata Adel.
‘’lebih baik kita pergi dari sini,malu di lihat banyak
orang.’’Kata Davian
karna teriakan Adel tadi banyak pengunjung moll melihat kea
rah mereka dan berbisik bisik membicarakan mereka.
‘’Malu,yang seharus malu itu aku,apa kamu lihat raut mengejek
pagawai di toko perhiasan tadi pada ku saat kita tak jadi membeli cincin.’’Kata
Adel nanar.
Tadi dia tak sengaja melihat pegawai tadi melihat Adel dengan
tatapan mengejek di balik senyum yang di
perlihatkan atau lebih tepatnya dia tidak sengaja melihat pantulan wajah saat
Deg
Davian tersentak mendengar pengakuan Adel atas hinaan tak
langsung yang di terimanya.
‘’Kurasa ini lah alasan banyak pasangan yang putus di saat
saat akan menikah.’’Kata Davian lelah.
‘’Putus!’Kata Adel,jauh di lubuk hatinya dia takut dan kecewa
dengan ucapan Davian.
‘’Kalau kamu tidak mau melakukan semua ini untuk apa kamu
pergi dengan ku.’’Tanya Adel.
‘’Memangnya siapa yang memaksa ku untuk pergi tadi.’’Tanya Davian
datar.
‘’Karna ini lah aku bilang akan menikah setelah kelulusan,
masih banyak hal yang harus ku urus dan mungkin aku tidak akan memiliki waktu
untuk mu.’’Lanjutnya.
‘’Begitu yah.’’Adel tersenyum sendu.
‘’Seharusnya kamu tidak pernah bilang akan menikahiku,sehingga
tante Marisa tidak akan melakukan hal dadakan seperti ini.’’Kata Adel.
‘’Yah,sakarang aku menyesal telah mengatakan itu.’’Kata
Davian.
Maksud Davian adalah dia menyesal telah mengatakan itu
sekarang seharusnya nanti saja setelah mereka lulus agar bisa leluasa
__ADS_1
menyiapkan hari pernikahan mereka dengan baik dan santai tidak dadakan seperti
ini,tapi Adel salah mengartikan maksud Davian dia berpikir kalau Davian
menyesal telah mengatakan ingin menikahinya.
‘’Sudahlah ayo,kita pulang saja.’’Kata Davian,saat akan
menggandeng tangan Adel,Adel menarik tangannya.
‘’Kamu pulang duluan saja,aku bisa pulang sendiri.’’kata Adel
dengan mata yang berkaca kaca lalu berbalik pergi meninggalkan Davian.
Davian menatap punggung Adel dengan tatapan yang sulit di
artikan.
‘’Ck.’’Davian mengacacak acak rambutnya.
‘’Aku tidak suka melakukan ini!Kenapa orang orang sangat suka
dan mudahnya melakukan hal yang merepotkan seperti ini.’’Kata Davian frustasi.
Dia masuk ke mobil lalu menjalankan mobilnya pergi ke suatu
tempat.
…….
Adel melangkah masuk ke dalam restoran saat akan naik ke
lantai atas,dia menyeritkan dahinya heran melihat ayahnya turun dengan
mengenakan kemeja hitam dan di lengan kirinya tersampir jas ,tidak memakai baju
koki seperti biasanya.
‘’Adel kamu di sini? Ayah baru saja ingin menghubungi mu.’’Kata
Tomi ketika menyadari kehadiran Adel.
‘’Em,ayah mau kemana? Dengan pakaian rapi begitu.’’ Tanya
Adel.
Tomi tersenyum mendekat kea rah Adel lalu menusap kepalanya.
‘’Ada apa hm,kenapa wajah mu terlihat sedih begitu?’’ Tanya
Tomi walau Adel terlihat seperti biasa namun sebagai ayahnya dia tahu dengan
baik bagaimana setiap raut wajah putri semata wayang itu meski Adel berusaha
menyembunyikannya.
‘’Adel baik baik aja kok ayah, hanya kepanasan saja tadi
habis pergi jalan jalan dengan Davian.’’Jawab Adel sambil tersenyum.
‘’Ya sudah,ayo ikut ayah.’’Kata Tomi tak memaksa Adel
mengatakan yang sejujurnya.
‘’Mau kemana yah?’’Tanya Adel.
‘’Nanti juga kamu tahu.’’Balas Tomi.
Adel tak bertanya lagi dan mengikuti ayahnya naik ke mobil
setelah Adel naik Tomi menjalankan mobilnya meninggalkan restoran.
Sepanjang perjalanan Adel terus memikirkan ucapan Davian yang
mengatakan kalau dia menyesal ingin menikahinya hingga tak menyadari mereka
pergi kemana.
‘’Kita sudah sampai ayo turun.’’Kata Tomi memberitahu Adel
dan turun dari mobil.
‘’Ah ,sudah sampai yah.’’Adel terbagun dari lamunanya.
Alisnya naik ke atas bingung saat melihat Davian berdiri di
samping mobilnya dengan membawa keranjang piknik dan ayah pegi menghampiri
Davian.
‘’Kenapa Davian juga ada ke sini?’’Tanya Adel bingung.
__ADS_1
‘’Loh,ini kan pemakaman! Ngapain ayah mengajak ke pemakaman?’’Kata
Adel saat menyadari dia ada dimana bertambah bingung.