
Davian membawa Adel ke taman yang biasa dia dan Daniel untuk
bermain basket karna di sana terdapat lapangan basket yang bisa di gunakan
untuk umum.
Sesampainya di lapangan Davian menderibel bola basket dan
meminta Adel untuk pemanasan terlebih dahulu agar tak cidera ,hal pertama yang
ada di kepala Adel saat melihat Davian menderibel bola adalah.
‘’Darimana Davian dapat bola yah!bukannya tadi dia tidak
bawa bola.’’Gumam Adel yang sedang melakukan pemanasan.
‘’Sekarang lo coba perhatikan caranya merebut bola .’’Kata Davian melemparkan bola
pada Adel
‘’Baik.’’Jawab Adel yang berhasil menangkap bola yang di
lempar Davian.
‘’Lo deribel bolanya dan perhatikan gerakan gue.’’Kata
Davian dan Adel menuruti perkataannya
‘’Pandangan mu jangan lepas dari bola.’’Kata Davian
mengarahkan.
‘’Iyah.’’Kata Adel lagi memperhatikan gerakan Davian.
‘’Saat ada kesempatan, rebut bolanya.’’Davian berhasil
merebut bola dari Adel.
‘’Kalau lo ngerasa tak bisa mempertahankan bola setelah
merebutnya langsung lempar aja ke gue.’’Kata Davian memainkan bola nya.
‘’Sekarang lo coba.’’Kata Davian.
‘’Baik.’’Adel memperhatikan bolanya seperti yang Davian
lakukan.
Selama hampir satu jam Adel terus berusaha merebut bola dari Davian dia juga
sudah kena marah beberapa kali membuat Adel kesal dan bertekad untuk
mendapatkannya dan……hap,Adel berhasil merebut bola dari Davian.
‘’Yeee,akhirnya dapat.’’Kata Adel senang.
‘’Lumayan.’’Kata Davian
Davian berjalan ke belakang Adel tangannya memegang tangan
Adel yang sedang membawa bola mengangkat ke atas seperti posisi akan menembak
seolah olah sedang memeluknya dari belakang.
Deg deg deg
‘Duh jantung gue kok dag ding dug terus,plis jangan copot
..jangan copot.’Pikir Adel,kedua pipinya sudah memerah jantung berdebar seperti
gendering mau perang.
‘’Lempar bolanya ke keranjang.’’Kata Davian yang tidak di
ketahui Adel bahwa dia sedang tersenyum sekarang.
Adel melempar bolanya ke keranjang namun tak masuk. Mereka
terus berlatih di taman sampai hari mulai sore
Marselo dan Marisa mengunjungi restoran tempat Adel dan ayahnya
tinggal sekarang mereka akan membujuk Tomi supaya mengijinkan Adel tinggal di
rumah mereka lagi.
‘’Selamat sore.’’Sapa Marisa setelah memasuki restoran.
‘’Selamat sore.’’Balas Tomi lalu berbalik.
‘’Oh kalian, mari duduk.’’Kata Tomi saat tau siapa yang
menyapanya.
‘’Kayanya restorannya makin rame.’’Kata Marselo setelah
mereka duduk.
‘’iyah begitulah.’’Kata Tomi senang.
‘’Oh yah Adel mana dari tadi tidak kelihatan.’’Tanya Marisa.
‘’Adel lagi pergi bersama teman temannya.’’Jawab Tomi.
‘’Begitu yah,padahal aku kangen banget dengannya.’’Kata
Marisa.
‘’Tomi apa kamu benar benar tak mau kembali ke rumah kami
__ADS_1
lagi.’’Tanya Marselo,dia langsung menanyakan hal yang memang tujuan mereka
menemui Tomi.
‘’Selo aku berterima kasih atas tawaran kalian tapi kami tak
mau merepotkan kalian.’’Kata Tomi memanggil nama kecilnya.
‘’Kami tak merasa tak di repotkan.’’Kata Marisa.
‘’Apa kamu tidak kasihan dengan Adel kalau harus tinggal di
restoran.’’Kata Marisa lagi mencoba membujuknya.
‘’Pikirkan ini semua untuk kebaikan Adel juga.’’Kata Marselo
juga membujuknya.
Tomi juga tak tega membiarkan Adel tinggal di loteng
restoran tapi mau bagaimana lagi rumah mereka belum juga beres dan dia pun tak
mau kalau Adel terus bersama Davian, itu hanya akan membuatnya bertambah
tersakiti . terlebih Davian yang sudah
menyukai wanita lain,dia pasti merasa sakit hati di saat melihat mereka bersama
sama.
Adel pulang saat jam makan malam dengan lesu dan kelelahan
membuat Tomi heran serta khawatir,setelah mandi dan makan Adel langsung tidur
seluluh tubuhnya benar benar lelah karna seharian bermain basket.
Hari ini adalah hari pertandingan antara Davian dan
Satria,kemarin Adel benar benar berlatih dengan keras dan pertandingannya akan
di lakukan setelah latihan selesai.
Adel sangat gugup entah dia harus senang atau sedih.Senang karna tidak harus di latih mati matian lagi
tapi dia juga sedih karna dia tidak bisa menghabiskan waktu berdua dengan
Davian lagi.
Semuanya sudah berkumpul di lapangan termasuk Laura,Adel melakukan
latihan terakhir dia juga sudah lumayan mahir menderibel bolanya.
Davian memperhatikan
Adel dengan tersenyum ada rasa bangga di wajahnya Laura yang duduk di
‘’Mau gue temanni latihannya.’’Kata Diki menghampiri Adel .
‘’Boleh,lebih baik kalau ada lawan.’’Kata Adel
menyetujui,Diki pun ikut bermain.
‘’Bagaimana perkembangan lo sama Laura.’’Tanya Kevin pada
Satria yang sedang melihat Adel melawan Diki.
‘’Tidak ada kemajuan.’’Kata Satria lesu.
‘’Bukannya lo mengajari Laura di puncak.’’Tanya Kevin.
‘’Iyah tapi dia ……’’Kata Satria memberitau Kevin.
KILAS BALIK.
‘’Laura ayo kita berlatih juga.’’Kata Satria ,dia membawa
Laura ke lapangan.
‘’Gue akan mengajari lo.’’Kata Satria lagi sambil menderibel
bola basket.
Laura merebut bola
yang di mainkan Satria dengan mudah dan memasukannya ke keranjang lalu dia
mengambil bolanya lagi sambil menderibelnya ke arah Sartia dan menyerahkan bolanya ke Satria.
‘’Terima kasih senior tapi tak perlu .’’Kata Laura lalu
pergi meninggalkan Satria yang mematung.
KILAS BALIK SELESAI.
‘’Jadi Laura itu pintar juga bermain basket.’’Kata Kevin
,Satria mengangguk.
‘’Jenius dengan ke sempurnaanya.’’Katanya lagi
Adel berhasil merebut bola dari Diki dan melemparnya ke
keranjang ….bruukkk..bola yang di lempar Adel masuk tepat ke keranjang,dia
sangat senang terlebih itu adalah tembakan tiga poin membuat yang lain terkejut
Davian yang melihat itu tersenyum lebar.
Adel yang senang melompat lompat saking senangnya dia melompat
__ADS_1
cukup tinggi hingga kakinya tergelincil dan terjatuh.
Brugg
‘’Awww.’’
‘’E’lo engak apa apa.’’Tanya Diki,melihat Adel jatuh Davian
mengdatanginya bersama Laura.
‘’Gue baik baik saja.’’Jawab Adel sambil tersenyum
‘’Good job….kau berhasil.’’Kata Davian.
‘’Lemparan mu cukup baik dan akurat.’’Tambahnya.
‘’Apa kali ini gue melakukannya dengan benar?’’Tanya Adel
‘’Iyah….kau melakukannya dengan baik.’’Davian tersenyum dan
tak ada yang memperhatikan kalau Davian tidak menggunakan ’lo’ tapi ‘kau’ pada Adel.
‘Dia tersenyum…’Batin Adel senang karna ini pertama klinya
dia melihat Davian tersenyum padanya.
‘Dia menatap gue dengan tersenyum…untuk melihat wajah
tersenyumnya,untuk dapat bisa mendengar dia mengatakan ‘good job’ rasanya semua
rasa lelah capek selama seminggu ini bernar benar terbayar.’Pikir Adel,saat
Adel mau bangun kakinya terasa sakit.
‘’Aww.’’Kata Adel meringis.
‘’Kau terluka?’’Tanya Davian sedikit khawatir.
‘’Tidak….tidak apa apa.’’Kata Adel berusaha bangun namun
kakinya benar benar sakit.
‘’Kau terluka…’’Davian memegang kaki Adel membuatnya
meringis.
‘’Yah ,itu bukan Adelia Putri namanya kalau tak
ceroboh.’’Kata Davian ,Adel cemberut mendengar perkataan Davian.
‘Bisa bisanya dia mengejek Adel di situasi seperti ini,dasar
Davian.’Pikir Diki sambil menggelengkan kepalanya.
‘’Ada apa?’’Tanya Satria.
‘’Senior kita batalkan saja taruhannya.’’Kata Davian.
‘’Kenapa lo minta di batalkan?’’Tanya Marsel.
‘’Adel cidera.’’Jawab Davian
‘’Enggak,kita tetap akan melakukannya.’’Kata Adel,dia sudah
berlatih mati matian masa harus batal.
‘’Bagaimana kau bisa melakukannya dengan keadaanmu seperti
ini?’’Tanya Davian
‘’Kau saja tak dapat bangun.’’Tambahnya,Adel hanya menunduk
merasa bersalah.
‘’Bukannya lo bilang kita harus menang,bahkan lo melatih gue
dengan sangat keras.’’Kata Adel tak mau membuat Davian kecewa.
‘’Dan kaki mu.’’Kata Davian.
‘’Lagian tak ada yang bisa kita lakukan dengan ini.’’Katanya
lagi.
‘’Maaf karna gue kita….’’Kata Adel sendu.
‘’Aku bahkan tak mengandalkan mu untuk menang.’’Potong
Davian.
‘’Ayo naik.’’Davian menyuruh Adel naik ke punggungnya.
‘’Bisa.’’Tanya Diki sambil membantu Adel naik kepunggung
Davian.
Davian mengendong Adel meninggalkan lapangan,dia tersenyum saat
Adel menduselkan wajahnya di punggungnya seperti anak kecil ,Adel juga
tersenyum senang bisa di gendong lagi Davian dan kali ini tidak ada paksaan.
Mereka tak menduga
Davian akan melakukan hal itu pada Adel ,Laura menatapnya dengan sendu
sementara Diki untuk kedua kalinya terkejut dengan tindakan yang di lakukan
Davian.
__ADS_1