Cinta Pertamaku Menjadi Suamiku

Cinta Pertamaku Menjadi Suamiku
53


__ADS_3

Davian membawa Adel ke taman yang biasa dia dan Daniel untuk


bermain basket karna di sana terdapat lapangan basket yang bisa di gunakan


untuk umum.


Sesampainya di lapangan Davian menderibel bola basket dan


meminta Adel untuk pemanasan terlebih dahulu agar tak cidera ,hal pertama yang


ada di kepala Adel saat melihat Davian menderibel bola adalah.


‘’Darimana Davian dapat bola yah!bukannya tadi dia tidak


bawa bola.’’Gumam Adel yang sedang melakukan pemanasan.


‘’Sekarang lo coba perhatikan caranya  merebut bola .’’Kata Davian melemparkan bola


pada Adel


‘’Baik.’’Jawab Adel yang berhasil menangkap bola yang di


lempar Davian.


‘’Lo deribel bolanya dan perhatikan gerakan gue.’’Kata


Davian dan Adel menuruti perkataannya


‘’Pandangan mu jangan lepas dari bola.’’Kata Davian


mengarahkan.


‘’Iyah.’’Kata Adel lagi memperhatikan gerakan Davian.


‘’Saat ada kesempatan, rebut bolanya.’’Davian berhasil


merebut bola dari Adel.


‘’Kalau lo ngerasa tak bisa mempertahankan bola setelah


merebutnya langsung lempar aja ke gue.’’Kata Davian memainkan bola nya.


‘’Sekarang lo coba.’’Kata Davian.


‘’Baik.’’Adel memperhatikan bolanya seperti yang Davian


lakukan.


Selama hampir satu jam Adel terus  berusaha merebut bola dari Davian dia juga


sudah kena marah beberapa kali membuat Adel kesal dan bertekad untuk


mendapatkannya dan……hap,Adel berhasil merebut bola dari Davian.


‘’Yeee,akhirnya dapat.’’Kata Adel senang.


‘’Lumayan.’’Kata Davian


Davian berjalan ke belakang Adel tangannya memegang tangan


Adel yang sedang membawa bola mengangkat ke atas seperti posisi akan menembak


seolah olah sedang memeluknya dari belakang.


Deg deg deg


‘Duh jantung gue kok dag ding dug terus,plis jangan copot


..jangan copot.’Pikir Adel,kedua pipinya sudah memerah jantung berdebar seperti


gendering mau perang.


‘’Lempar bolanya ke keranjang.’’Kata Davian yang tidak di


ketahui Adel bahwa dia sedang tersenyum sekarang.


Adel melempar bolanya ke keranjang namun tak masuk. Mereka


terus berlatih di taman sampai hari mulai sore


Marselo dan Marisa mengunjungi restoran tempat Adel dan ayahnya


tinggal sekarang mereka akan membujuk Tomi supaya mengijinkan Adel tinggal di


rumah mereka lagi.


‘’Selamat sore.’’Sapa Marisa setelah memasuki restoran.


‘’Selamat sore.’’Balas Tomi lalu berbalik.


‘’Oh kalian, mari duduk.’’Kata Tomi saat tau siapa yang


menyapanya.


‘’Kayanya restorannya makin rame.’’Kata Marselo setelah


mereka duduk.


‘’iyah begitulah.’’Kata Tomi senang.


‘’Oh yah Adel mana dari tadi tidak kelihatan.’’Tanya Marisa.


‘’Adel lagi pergi bersama teman temannya.’’Jawab Tomi.


‘’Begitu yah,padahal aku kangen banget dengannya.’’Kata


Marisa.


‘’Tomi apa kamu benar benar tak mau kembali ke rumah kami

__ADS_1


lagi.’’Tanya Marselo,dia langsung menanyakan hal yang memang tujuan mereka


menemui Tomi.


‘’Selo aku berterima kasih atas tawaran kalian tapi kami tak


mau merepotkan kalian.’’Kata Tomi memanggil nama kecilnya.


‘’Kami tak merasa tak di repotkan.’’Kata Marisa.


‘’Apa kamu tidak kasihan dengan Adel kalau harus tinggal di


restoran.’’Kata Marisa lagi mencoba membujuknya.


‘’Pikirkan ini semua untuk kebaikan Adel juga.’’Kata Marselo


juga membujuknya.


Tomi juga tak tega membiarkan Adel tinggal di loteng


restoran tapi mau bagaimana lagi rumah mereka belum juga beres dan dia pun tak


mau kalau Adel terus bersama Davian, itu hanya akan membuatnya bertambah


tersakiti .  terlebih Davian yang sudah


menyukai wanita lain,dia pasti merasa sakit hati di saat melihat mereka bersama


sama.


Adel pulang saat jam makan malam dengan lesu dan kelelahan


membuat Tomi heran serta khawatir,setelah mandi dan makan Adel langsung tidur


seluluh tubuhnya benar benar lelah karna seharian bermain basket.


Hari ini adalah hari pertandingan antara Davian dan


Satria,kemarin Adel benar benar berlatih dengan keras dan pertandingannya akan


di lakukan setelah latihan selesai.


Adel sangat gugup entah dia harus senang atau sedih.Senang  karna tidak harus di latih mati matian lagi


tapi dia juga sedih karna dia tidak bisa menghabiskan waktu berdua dengan


Davian lagi.


Semuanya sudah berkumpul di lapangan termasuk Laura,Adel melakukan


latihan terakhir dia juga sudah lumayan mahir menderibel bolanya.


 Davian memperhatikan


Adel dengan tersenyum ada rasa bangga di wajahnya Laura yang duduk di


‘’Mau gue temanni latihannya.’’Kata Diki menghampiri Adel .


‘’Boleh,lebih baik kalau ada lawan.’’Kata Adel


menyetujui,Diki pun ikut bermain.


‘’Bagaimana perkembangan lo sama Laura.’’Tanya Kevin pada


Satria yang sedang melihat Adel melawan Diki.


‘’Tidak ada kemajuan.’’Kata Satria lesu.


‘’Bukannya lo mengajari Laura di puncak.’’Tanya Kevin.


‘’Iyah tapi dia ……’’Kata Satria memberitau Kevin.


KILAS BALIK.


‘’Laura ayo kita berlatih juga.’’Kata Satria ,dia membawa


Laura ke lapangan.


‘’Gue akan mengajari lo.’’Kata Satria lagi sambil menderibel


bola basket.


Laura merebut  bola


yang di mainkan Satria dengan mudah dan memasukannya ke keranjang lalu dia


mengambil bolanya lagi sambil menderibelnya ke  arah Sartia dan menyerahkan bolanya ke Satria.


‘’Terima kasih senior tapi tak perlu .’’Kata Laura lalu


pergi meninggalkan Satria yang mematung.


KILAS BALIK SELESAI.


‘’Jadi Laura itu pintar juga bermain basket.’’Kata Kevin


,Satria mengangguk.


‘’Jenius dengan ke sempurnaanya.’’Katanya lagi


Adel berhasil merebut bola dari Diki dan melemparnya ke


keranjang ….bruukkk..bola yang di lempar Adel masuk tepat ke keranjang,dia


sangat senang terlebih itu adalah tembakan tiga poin membuat yang lain terkejut


Davian yang melihat itu tersenyum lebar.


Adel yang senang melompat lompat saking senangnya dia melompat

__ADS_1


cukup tinggi hingga kakinya tergelincil dan terjatuh.


Brugg


‘’Awww.’’


‘’E’lo engak apa apa.’’Tanya Diki,melihat Adel jatuh Davian


mengdatanginya bersama Laura.


‘’Gue baik baik saja.’’Jawab Adel sambil tersenyum


‘’Good job….kau berhasil.’’Kata Davian.


‘’Lemparan mu cukup baik dan akurat.’’Tambahnya.


‘’Apa kali ini gue melakukannya dengan benar?’’Tanya Adel


‘’Iyah….kau melakukannya dengan baik.’’Davian tersenyum dan


tak ada yang memperhatikan kalau Davian  tidak menggunakan ’lo’ tapi ‘kau’ pada Adel.


‘Dia tersenyum…’Batin Adel senang karna ini pertama klinya


dia melihat Davian tersenyum padanya.


‘Dia menatap gue dengan tersenyum…untuk melihat wajah


tersenyumnya,untuk dapat bisa mendengar dia mengatakan ‘good job’ rasanya semua


rasa lelah capek selama seminggu ini bernar benar terbayar.’Pikir Adel,saat


Adel mau bangun kakinya terasa sakit.


‘’Aww.’’Kata Adel meringis.


‘’Kau terluka?’’Tanya Davian sedikit khawatir.


‘’Tidak….tidak apa apa.’’Kata Adel berusaha bangun namun


kakinya benar benar sakit.


‘’Kau terluka…’’Davian memegang kaki Adel membuatnya


meringis.


‘’Yah ,itu bukan Adelia Putri namanya kalau tak


ceroboh.’’Kata Davian ,Adel cemberut mendengar perkataan Davian.


‘Bisa bisanya dia mengejek Adel di situasi seperti ini,dasar


Davian.’Pikir Diki sambil menggelengkan kepalanya.


‘’Ada apa?’’Tanya Satria.


‘’Senior kita batalkan saja taruhannya.’’Kata Davian.


‘’Kenapa lo minta di batalkan?’’Tanya Marsel.


‘’Adel cidera.’’Jawab Davian


‘’Enggak,kita tetap akan melakukannya.’’Kata Adel,dia sudah


berlatih mati matian masa harus batal.


‘’Bagaimana kau bisa melakukannya dengan keadaanmu seperti


ini?’’Tanya Davian


‘’Kau saja tak dapat bangun.’’Tambahnya,Adel hanya menunduk


merasa bersalah.


‘’Bukannya lo bilang kita harus menang,bahkan lo melatih gue


dengan sangat keras.’’Kata Adel tak mau membuat Davian kecewa.


‘’Dan kaki mu.’’Kata Davian.


‘’Lagian tak ada yang bisa kita lakukan dengan ini.’’Katanya


lagi.


‘’Maaf karna gue kita….’’Kata Adel sendu.


‘’Aku bahkan tak mengandalkan mu untuk menang.’’Potong


Davian.


‘’Ayo naik.’’Davian menyuruh Adel naik ke punggungnya.


‘’Bisa.’’Tanya Diki sambil membantu Adel naik kepunggung


Davian.


Davian mengendong Adel meninggalkan lapangan,dia tersenyum saat


Adel menduselkan wajahnya di punggungnya seperti anak kecil ,Adel juga


tersenyum senang bisa di gendong lagi Davian dan kali ini tidak ada paksaan.


Mereka  tak menduga


Davian akan melakukan hal itu pada Adel ,Laura menatapnya dengan sendu


sementara Diki untuk kedua kalinya terkejut dengan tindakan yang di lakukan


Davian.

__ADS_1


__ADS_2