
Sepulang dari kampus Davian langsung ke kamarnya dan
membanting pintu kamarnya dengan keras.
Marisa yang terkejut dengan tindakan putra sulungnya
mengangkat alisnya bingung.
‘’Ada apa dengan Vian?’’Tanya Marisa heran.
‘’Apa dia bertengkar dengan Reina? Kalau iyah,syukurlah
semoaga mereka bertengkar setiap hari.’’Kata Marisa senang lalu turun ke bawah.
Davian menjatuhkan tubuhnya ke sofa,menutup matanya untuk
menenangkan emosi yang bergejolak tak terkendli rasanya dia ingin memukul
seseorang.
Suara rintik air hujan yang jatuh ke genteng serta suara
petir yang sekali kali terdengar walau kecil ,membuat membuka matanya tiba tiba
hati gelisah dan khawatir terbesit satu nama di pikirannya,Adel!
Dia bangun untuk mengecek keadaan Adel karna kalau hujan
begini apa lagi kalau ada petir dia akan menggulung tubuhnya dengan selimut
seperti kepompong.
Tapi saat mencapai pintu Davian ingat kalau Adel sedang ke
apartemen Andreas jadi dia kembali lagi.
Merki tahu Adel tidak sendirian atau pun sedang ketakutan
hatinya tetap gelisah. Akhirnya dia mengambil jaketnya dan turun setelah
mengambil payung dia pergi keluar tanpa membawa mobil.
Davian duduk di halte dekat komplek perumahannya
memperjatikan setiap orang yang melintas.
‘’Sebenarnya apa yang sedang aku lakukan sih? ’’Tanya nya
pada dirinya sendiri.
‘’Mungkin saja sekarang ini dia sedang bercanda gurau dengan
Andreas.’’Lanjutnya.
‘’Sebaiknya aku pulang saja.’’Namun hatinya tak mengijin
kannya untuk pulang.
‘’Mungkin dengan melihat hujan akan membantu ku menjernihkan
hati dan pikiran ku ketimbang tinggal di dalam kamar.’’Kata Davian.
Beberapa menit kemudian bis berhenti lalu pintunya
terbuka,Davian memperhatikan orang yang keluar.
Adel melangkah keluar
sambil menunduk dengan tangan yang menghalau air hujan ke kepalanya saat di
tempat teduh dia mengangkat kepalanya,dia terkejut melihat Davian ada di halte
terlebih dengan tatapan yang dia tunjukan padanya.
‘’Sedang apa e’lo di sini?’’Tanya Adel menghampiri Davian.
‘’Merepotkan.’’Kata Davian lalu membuka payung dan melangkah
pergi karna tak mendapati Adel mengikuti di sampingnya dia berbalik dan menatap
Adel.
Adel yang mengerti dengan kode Davian berjalan ke samping
__ADS_1
Davian,mereka pun pulang dengan berbagi payung. Selama perjalanan hening tak
satu pun di antara mereka yang berbicara.
‘’Apa kau sudah memberikan jawabannya?’’Tanya Davian memecah
keheningan di antara mereka.
‘’Hah.’’Adel terkejut dan tak mengerti apa yang di maksud
Davian.
‘’Ku dengar Andreas melamar mu,jadi apa kau sudah memberinya
jawaban.’’Kata Davian.
‘’oh ,iyah.’’Jawab Adel yang sudah mengerti,tapi dia tidak
melihat raut wajah Davian yang terlihat menyeramkan.
‘Eh,darimana Davian tahu soal itu?’Pikir Adel heran.
Padahal ayahnya saja tidak tahu,dia belum memberitahunya dan
darimana Davian tahu soal itu,tapi Adel menanyakan keherannya itu.
‘’Besok gue juga akan pergi dari rumah e’lo .’’Kata Adel
sambil memeluk tubuhnya yang tiba tiba terasa dingin.
‘’Dan juga,gue akan melepaskan e’lo seutuhnya untuk bersama
Reina.’’Lanjutnya.
Davian menoleh pada Adel lalu melangkah cepat meninggalkan
Adel. Adel berlari kecil menyusul Davian.
‘’Karna kak Andreas baik dan dia juga orang yang sopan Ayah
juga menyukainya. ’’ Jelas Adel agar Davian tidak berpikir kalau dia tak mau
kalah dengannya tapi Davian menyalah artikan ucapan Adel.
berajar memasak agar bisa jadi istri yang baik seperti tante Marisa.’’
Lanjutnya yang membuat Davian mengeraskan rahangnya.
‘’Apa kau menyukainya?’’ Tanya Davian.
‘’Kenapa gue harus tidak menyukainya?kak Andreas itu baik dan
orangnya juga menyenangkan.’’Jawab Adel.
‘’Dan juga kak Andreas juga menyukai ku.’’Lanjutnya.
‘’Jadi kau akan menerima begitu saja hanya karna seseorang
bilang menyukai mu.’’Kata Davian kesal.
‘’Memangnya kenapa? Tidak boleh?’’Tanya Adel yang kesal.
‘’Sekarang gue lelah untuk mengejar ngejar lagi.’’Kata Adel.
‘’Gue juga ingin di pandang penuh cinta oleh orang yang ku
sukai dan menyukai ku.’’Lanjutnya.
‘’Bukankah kau mencintai ku.’’Kata Davian.
‘’Kau hanya mencintai ku.’’Kata Davian lagi karna Adel tak
menjawabnya.
‘’Kenapa e’lo begitu percaya diri?’’Tanya Adel remeh.
‘’Apa aku salah?’’Kata Davian angkuh.
‘’Ya,e’lo benar.’’Kata Adel mengakuinya.
‘’Gue hanya mencintai e’lo! Lalu apa yang harus gue lakukan,bahkan
e’lo tidak pernah sedikit pun memandang gue selama 4 tahun ini.’’Kata Adel,air
__ADS_1
matanya sudah menggenang di pelupuk matanya.
‘’Gue juga ingin seperti perempuan lainnya yang di pandang
lembut oleh laki laki yang di sukai,jika ada laki laki yang memandang ku penuh
cinta,apa salah jika guea menerimanya……’’Davian membuang payung yang dia pegang
lalu menarik rahang Adel dan menciumnya.
Dia ******* lembut bibir mungil Adel penuh cinta dan
kerinduan,dia tidak suka saat bibir mungil Adel memuji laki laki lain ,apa lagi
saat bilang menyukai laki laki lain ,dia juga tak suka saat Adel berbicara
ingin bersama dengan laki laki lain dan melepaskan dirinya.
Bibirnya hanya boleh memuji diarinya,hanya boleh bicara
menyukainya ,hanya boleh menyebut namanya saja.
Egois!
Ya Davian akui kalau dia memang egois,dia hanya ingin Adel
memujinya , menatapnya penuh cinta,dia ingin mengurung Adel agar tak di ambil
laki laki lain.
Adel yang shok dengan apa yang di lakukan Davian hanya diam.
‘’Jangan pernah bilang lagi kau menyukai orang lain.’’Kata
Davian tegas namun lembut setelah melepaskan ciuman.
Bagai tersihir Adel menganggukan kepalanya menyiakan
perkataan Davian.
Lalu Davian memeluk Adel setelah melihat menjawab
perkataannya.
‘’Ini ke tiga kalinya.’’Kata Adel yang sudah sadar.
‘’Apanya?’’Tanya Davian.
‘’E’lo mencium gue.’’Jawab Adel.
‘’Ini yang ke 5.’’Kata Davian.
‘’Hah.’’Tanya Adel bingung.
‘Bukannya yang ke 3,terus kapan yang 2 nya lagi.’Batin Adel.
‘’Sudahlah jangan di hitung lagi.’’Kata Davian ,dia merasa
lucu melihat raut kebingungan Adel.
Adel menganguk mengiakan walau sebenarnya dia ingin tahu.
‘’Karna ke depannya kamu akan menerima lebih banyak lagi
ciuman bahkan lebih.’’Lanjutnya.
Adel tak mendengarkan ucapan yang Davian katakan barusan.
‘Kalau ini mimpi gue harap gue enggak pernah bangun lagi.’Batin
Adel.
Adel mempererat pelukannya,dia takut jika pelukannya terlepas
maka Davian akan menghilang. Adel tak menghiraukan rasa dingin yang menyerang
tubuhnya akibat guyuran air hujan yang membasahi tubuhnya.
Begitu pun Davian dia juga mengeratkan tangannya tak ingin
melepaskan rasa hangat serta ketenangan yang baru dia sadari.
‘Ahh,seperti aku kalah.’Kata Davian di dalam hati meski nada
__ADS_1
terdengan kecewa tapi bibirnya tersenyum bahagia.