Cinta Pertamaku Menjadi Suamiku

Cinta Pertamaku Menjadi Suamiku
116


__ADS_3

‘’Hai bro,bagaimana kabar mu?’’Sapa Tomi seperti anak muda


saat masuk ke kamar rawat Marselo.


‘’Kau seperti ABG saja bra bro,sudah tua juga.’’Kata Marselo


yang geli mendengar sapaan temannya itu.


‘’Aku ini masih muda kali,masih bugar dan kuat.’’Tomi mengangkat


lengannya berpose seperti popaye si pelaut.


[yang pernah nonton kartun pasti tahu,hehe]


‘’Alah paling tersengol dikit langsung encok tuh


pinggang.’’Kata Marselo.


‘’Adel liat tuh,ayah mu belagu, sok kuat.’’Adu Marselo pada


Adel yang sedang cekikikan melihat mereka di ambang pintu.


‘’Tante ini pakaian om dan sedikit cemilan.’’Kata Adel


menghampiri Marisa yang duduk di kursi samping Marselo.


‘’Terima kasih yah Adel,maaf merepotkan mu terus.’’Kata


Marisa yang tak enak menyuruh Adel.


‘’Tidak apa apa tante.’’Kata Adel.


‘’Om ,bagaimana keadaannya udah baikan?.’’Tanya Adel pada


Marselo.


‘’Sudah baik kok,tinggal pemulihan saja.’’Jawab Marselo.


‘’Syukurlah.’’kata Adel tersenyum lega.


‘’Oh ya Adel bagaimana keadaan kantor?’’Tanya Marselo.


‘’Kata Tante kamu bekerja di kantor .’’Lanjutnya.


‘’Lancar om,semuanya baik baik saja. Davian juga sudah


mendapatkan dana untuk membuat game baru.’’Kata Adel sedikit menjelaskan, karna


hanya sebatas itu yang dia tahu, itu pun dia tanya pada karyawan yang lain.


‘’Benarkah.’’Kata Marselo tak percaya dan senang karna Davian


bisa mendapatkan insvestor untuk game barunya.


Dia sudah melihat data yang di berikan Davian dan dia tahu


kalau game yang di rancang Davian dan timnya kali ini bukan game biasa dan


membutuhkan dana yang besar untuk membuatnya.


‘’Sudah –sudah jangan bicarakan bisnis terus.’’Kata Tomi


menghentikan pembicaraan mereka.


Dia tahu betul kelakuan Marselo kalau sudah membahas game dan


pekerjaan dia selalu lupa waktu bahkan mengabaikan kesehatannya.


‘’Ini aku bawakan makanan ke sukaan mu.’’Tomi memasang meja


kecil dan meletakannya makanan di atas meja.


‘’Aku tahu kau sudah bosan dengan makanan rumah sakitkan,


jadi aku bawakan special untuk mu.’’Lanjutnya sambil membuka rantang berisi


makanan.


‘’Wah…! Kau memang sahabat paling pengertian.’’Kata Marselo


senang.


Sejujurnya dia memang sudah bosan dengan makanan yang di


berikan rumah sakit,dengan semangat Marselo melahap makanannya.


……..


Drrttt…drrtttt…drrrrtttt


Davian menoleh mendengar ponselnya berdering,dia


menyengritkan dahi saat melihat berapa banyak panggilan yang masuk.


‘’Kok aku enggak sadar,yah!’’ Tanya Davian pada dirinya


sendiri karna tak menyadari panggilan telepon dari Laura.


‘’Hallo Laura ada apa?’’Kata Davian mengangkat telepon dari


Laura.


‘’Ah…akhirnya kamu mengangkatnya juga.’’Kata Laura lega dan


senang Davian mau mengangkat teleponnya setelah menunggu lama.


‘’Maaf, agak sibuk jadi baru sempet lihat ponsel.’’Kata


Davian berbohong.

__ADS_1


Dia bahkan belum menyentuk berkas berkas yang sengaja dia


bawa.


‘’Apa aku menganggu mu?’’Kata Laura merasa tak enak.


‘’Tidak apa apa? Jadi kenapa menelepon gue.’’Kata Davian.


‘’Mm,bisa kita ketemuan ada yang mau aku sampaiin .’’Kata


Laura


‘’Boleh,dimana?’’Kata Davian


‘’Beneran.’’Kata Laura senang.


‘’Kalau gitu kita ke temu  di kafe flawers.’’Kata Laura


‘’Baiklah, jam berapa?’’Tanya Davian lagi.


‘’Kalau sekarang bagaimana? Apa kamu bisa?’’Tanya Laura hati


hati karna dia tahu sekarang Davian punya tanggung jawab yang besar.


‘’Bisa kok.’’Jawab Davian.


‘’Ya udah,thanks yah! Sampai ketemu di sana.’’Kata Laura


ceria dan menutup teleponnya.


‘’Mungkin dengan pergi ke luar bisa menenangkan hati dan


pikiran ku.’’Kata Davian memijit hidungnya.


‘’Nanti malam saja aku menyelesaikan berkas berkas ini.’’Kata


Davian menatap tumpukan berkas berkas.


Davian bangkit dari kursinya .mengambil jaket dan kunci motor


di kamar. Lalu Davian mengetuk pintu kamar Daniel untuk berpamitan.


Tok tok tok


Cklek


‘’Ada apa kak?’’Tanya Daniel


‘’Kakak mau pergi ke luar sebentar.’’Kata Davian.


‘’Oke,hati hati yah kak.’’Jawab Daniel.


‘’Iyah,jangan nakal.’’Davian tersenyum sambil mengacak acak


rambut Daniel.


merapikan rambutnya kembali


Davian tersenyum melihat Daniel yang cemberut sambil


merapikan rambutnya tapi senyuman itu berubah menjadi sendu.


‘Aku akan melindungi keluargaku,apa pun akan aku lakukan


untuk kebahagiaan kalian termasuk masa depan ku.’Batin Davian


‘’Kakak pergi dulu,yah.’’Kata Davian kembali tersenyum.


‘’Hm.’’Jawab Daniel.


Davian menaiki motornya dan pergi menuju kafe Flawers yang


dikatakan Laura.


Sesampainya di sana Davian lansung masuk,dia menoleh saat


mendengar ada yang memanggilnya.


‘’Davian di sini.’’panggil Laura saat melihat Davian memasuki


kafe.


‘’Cepat banget sudah sampai.’’Kata Davian sambil menarik


kursi di depan Laura untuk duduk.


‘’Hehehe,aku sudah enggak sabar soalnya.’’Kata Laura .


‘’Wih setelah jadi direktur kamu semakin keren aja Dav.’’Kata


Laura melihat penampilan Davian yang terlihat dewasa dan elegan di matanya, dia


juga semakin keren setelah dua minggu lebih mereka tak bertemu Laura sedikit


pangling.


‘’Jadi ada apa?’’Tanya Davian langsung.


‘’astaga to the point sekali.’’Kata Laura.


‘’Sesibuk itu kah menjadi direktur sampai tidak bisa basa


basi sebentar. ’’Lanjutnya.


‘’Kita kan sudah dua minggu enggak ketemu,kamu juga enggak


bisa di hubungi.’’Kata Laura sambil mengaduk ngaduk minumannya.


‘’Gue sedang sibuk, maaf.’’Davian menyesap kapi yang sudah di

__ADS_1


pesan Laura tadi.


‘Kenapa rasanya lebih enakan buatan Adel.’Batin Davian.


‘’Baiklah.’’Laura menarik nafas.


‘’Mm,aku ingin berbicara serius dengan mu Davian. ’’Kata


Laura serius.


‘’Ada apa serius sekali.’’Kata Davian.


‘’Jangan menyela dan dengarkan.’’Kata Laura


‘’Aku mencintai mu..ah ,tidak sangat mencintai mu,aku sudah


menyukaimu saat awal kita ketemu tadinya ku pikir ini hanya sekedar rasa kagum


akan kepintranmu saja tapi saat kita bertemu lagi di kampus dan kita mulai


dekat aku mulai menyadari kalau aku mencintai mu.’’Kata Laura,


Davian hanya menyimak ucapan Laura dia tidak menyangka kalau


Laura sudah menyukainya sejak pertama mereka bertemu saat olimpiade dulu.


‘’Kamu tahu Davian terkadang aku iri dengan perlakuan yang


kamu berikan pada Adel.’’Laura menjeda ucapannya.


‘’Meski kamu dan aku terlihat dekat tapi aku selalu merasa


kalau aku dan kamu jauh berbeda dengan Adel kalian terlihat jauh tapi aku


merasa kalian dekat dan saling melengkapi.’’Kata Laura.


‘’Menurut e’lo begitu.’’Tanya Davian karna menurutnya dia dan


Adel tidak sedekat itu.


‘’Ya,itu yang aku lihat bahkan Diki juga beranggapan sama


dengan ku.’’Jawab Laura ,dia dan Diki pernah mengobrol soal Davian.


‘Kalau dia sih sejak pulang dari latihan basket dia seperti


menjodohkan ku dengan Adel.’Pikir Davian


‘’Sorry Laura tapi gue sudah nyaman dengan e’lo sebagai teman


.’’Kata Davian.


Sebenarnya dia sudah tahu kalau Laura punya perasaan lebih


padanya, karna itu dia memperlakukan Laura tidak berlebihan agar dia tidak


terlalu berharap padanya.


‘’Aku tahu, kalau aku tidak punya kesempatan tapi apa kamu


tidak bisa membuka hati mu untuk ku.’’Kata Laura,meski dia sudah tahu tapi


hatinya tetap merasa sakit mendengar penolakan dari Davian langsung.


‘’Gue enggak bisa,Maaf Laura.’’Kata Davian.


‘’Bagitu yah.’’Laura menunduk sebentar lalu mengangkat


kepalanya lagi.


‘’Apa boleh buat.’’Kata Laura sambil tersenyum berusaha


menyembunyikan rasa sakit hatinya.


‘’Hah..ini pertama kalinya aku di tolak laki laki,biasanya


aku yang menolak para laki laki.’’Kata Laura dengan nada bercanda,


‘’Maaf yah.’’Kata Davian tak enak.


‘’Tidak apa apa,lagian kita masih bisa jadi teman kan.’’Kata


Laura.


‘’Tentu saja e’lo masih teman gue.’’Kata Davian sambil


tersenyum.


‘’Jangan tersenyum gitu nanti aku tidak bisa move on,memang


kamu mau tanggung jawab.’’Kata Laura bercanda ,Davian hanya terkekeh menanggapi


ucapan Laura.


‘’Oh yah Laura boleh gue tanya sesuatu.’’Kata Davian,Laura


mengangguk mengiakan.


‘’E’lo kenal dengan pak Dirga Wijaya.’’Tanya Davian.


‘’Kenal,dia om aku kenapa emang?’’Tanya Laura balik.


‘’Om!’’Kata Davian terkejut.


Sebenarnya dia memang sudah menebak kalau Laura itu ada hubungannya


dengan pak Dirga, tapi dia tidak menyangka kalau itu memang benar dia pikir itu


hanya kebetulan saja nama belakang mereka sama.

__ADS_1


__ADS_2