
‘’Hai bro,bagaimana kabar mu?’’Sapa Tomi seperti anak muda
saat masuk ke kamar rawat Marselo.
‘’Kau seperti ABG saja bra bro,sudah tua juga.’’Kata Marselo
yang geli mendengar sapaan temannya itu.
‘’Aku ini masih muda kali,masih bugar dan kuat.’’Tomi mengangkat
lengannya berpose seperti popaye si pelaut.
[yang pernah nonton kartun pasti tahu,hehe]
‘’Alah paling tersengol dikit langsung encok tuh
pinggang.’’Kata Marselo.
‘’Adel liat tuh,ayah mu belagu, sok kuat.’’Adu Marselo pada
Adel yang sedang cekikikan melihat mereka di ambang pintu.
‘’Tante ini pakaian om dan sedikit cemilan.’’Kata Adel
menghampiri Marisa yang duduk di kursi samping Marselo.
‘’Terima kasih yah Adel,maaf merepotkan mu terus.’’Kata
Marisa yang tak enak menyuruh Adel.
‘’Tidak apa apa tante.’’Kata Adel.
‘’Om ,bagaimana keadaannya udah baikan?.’’Tanya Adel pada
Marselo.
‘’Sudah baik kok,tinggal pemulihan saja.’’Jawab Marselo.
‘’Syukurlah.’’kata Adel tersenyum lega.
‘’Oh ya Adel bagaimana keadaan kantor?’’Tanya Marselo.
‘’Kata Tante kamu bekerja di kantor .’’Lanjutnya.
‘’Lancar om,semuanya baik baik saja. Davian juga sudah
mendapatkan dana untuk membuat game baru.’’Kata Adel sedikit menjelaskan, karna
hanya sebatas itu yang dia tahu, itu pun dia tanya pada karyawan yang lain.
‘’Benarkah.’’Kata Marselo tak percaya dan senang karna Davian
bisa mendapatkan insvestor untuk game barunya.
Dia sudah melihat data yang di berikan Davian dan dia tahu
kalau game yang di rancang Davian dan timnya kali ini bukan game biasa dan
membutuhkan dana yang besar untuk membuatnya.
‘’Sudah –sudah jangan bicarakan bisnis terus.’’Kata Tomi
menghentikan pembicaraan mereka.
Dia tahu betul kelakuan Marselo kalau sudah membahas game dan
pekerjaan dia selalu lupa waktu bahkan mengabaikan kesehatannya.
‘’Ini aku bawakan makanan ke sukaan mu.’’Tomi memasang meja
kecil dan meletakannya makanan di atas meja.
‘’Aku tahu kau sudah bosan dengan makanan rumah sakitkan,
jadi aku bawakan special untuk mu.’’Lanjutnya sambil membuka rantang berisi
makanan.
‘’Wah…! Kau memang sahabat paling pengertian.’’Kata Marselo
senang.
Sejujurnya dia memang sudah bosan dengan makanan yang di
berikan rumah sakit,dengan semangat Marselo melahap makanannya.
……..
Drrttt…drrtttt…drrrrtttt
Davian menoleh mendengar ponselnya berdering,dia
menyengritkan dahi saat melihat berapa banyak panggilan yang masuk.
‘’Kok aku enggak sadar,yah!’’ Tanya Davian pada dirinya
sendiri karna tak menyadari panggilan telepon dari Laura.
‘’Hallo Laura ada apa?’’Kata Davian mengangkat telepon dari
Laura.
‘’Ah…akhirnya kamu mengangkatnya juga.’’Kata Laura lega dan
senang Davian mau mengangkat teleponnya setelah menunggu lama.
‘’Maaf, agak sibuk jadi baru sempet lihat ponsel.’’Kata
Davian berbohong.
__ADS_1
Dia bahkan belum menyentuk berkas berkas yang sengaja dia
bawa.
‘’Apa aku menganggu mu?’’Kata Laura merasa tak enak.
‘’Tidak apa apa? Jadi kenapa menelepon gue.’’Kata Davian.
‘’Mm,bisa kita ketemuan ada yang mau aku sampaiin .’’Kata
Laura
‘’Boleh,dimana?’’Kata Davian
‘’Beneran.’’Kata Laura senang.
‘’Kalau gitu kita ke temu di kafe flawers.’’Kata Laura
‘’Baiklah, jam berapa?’’Tanya Davian lagi.
‘’Kalau sekarang bagaimana? Apa kamu bisa?’’Tanya Laura hati
hati karna dia tahu sekarang Davian punya tanggung jawab yang besar.
‘’Bisa kok.’’Jawab Davian.
‘’Ya udah,thanks yah! Sampai ketemu di sana.’’Kata Laura
ceria dan menutup teleponnya.
‘’Mungkin dengan pergi ke luar bisa menenangkan hati dan
pikiran ku.’’Kata Davian memijit hidungnya.
‘’Nanti malam saja aku menyelesaikan berkas berkas ini.’’Kata
Davian menatap tumpukan berkas berkas.
Davian bangkit dari kursinya .mengambil jaket dan kunci motor
di kamar. Lalu Davian mengetuk pintu kamar Daniel untuk berpamitan.
Tok tok tok
Cklek
‘’Ada apa kak?’’Tanya Daniel
‘’Kakak mau pergi ke luar sebentar.’’Kata Davian.
‘’Oke,hati hati yah kak.’’Jawab Daniel.
‘’Iyah,jangan nakal.’’Davian tersenyum sambil mengacak acak
rambut Daniel.
merapikan rambutnya kembali
Davian tersenyum melihat Daniel yang cemberut sambil
merapikan rambutnya tapi senyuman itu berubah menjadi sendu.
‘Aku akan melindungi keluargaku,apa pun akan aku lakukan
untuk kebahagiaan kalian termasuk masa depan ku.’Batin Davian
‘’Kakak pergi dulu,yah.’’Kata Davian kembali tersenyum.
‘’Hm.’’Jawab Daniel.
Davian menaiki motornya dan pergi menuju kafe Flawers yang
dikatakan Laura.
Sesampainya di sana Davian lansung masuk,dia menoleh saat
mendengar ada yang memanggilnya.
‘’Davian di sini.’’panggil Laura saat melihat Davian memasuki
kafe.
‘’Cepat banget sudah sampai.’’Kata Davian sambil menarik
kursi di depan Laura untuk duduk.
‘’Hehehe,aku sudah enggak sabar soalnya.’’Kata Laura .
‘’Wih setelah jadi direktur kamu semakin keren aja Dav.’’Kata
Laura melihat penampilan Davian yang terlihat dewasa dan elegan di matanya, dia
juga semakin keren setelah dua minggu lebih mereka tak bertemu Laura sedikit
pangling.
‘’Jadi ada apa?’’Tanya Davian langsung.
‘’astaga to the point sekali.’’Kata Laura.
‘’Sesibuk itu kah menjadi direktur sampai tidak bisa basa
basi sebentar. ’’Lanjutnya.
‘’Kita kan sudah dua minggu enggak ketemu,kamu juga enggak
bisa di hubungi.’’Kata Laura sambil mengaduk ngaduk minumannya.
‘’Gue sedang sibuk, maaf.’’Davian menyesap kapi yang sudah di
__ADS_1
pesan Laura tadi.
‘Kenapa rasanya lebih enakan buatan Adel.’Batin Davian.
‘’Baiklah.’’Laura menarik nafas.
‘’Mm,aku ingin berbicara serius dengan mu Davian. ’’Kata
Laura serius.
‘’Ada apa serius sekali.’’Kata Davian.
‘’Jangan menyela dan dengarkan.’’Kata Laura
‘’Aku mencintai mu..ah ,tidak sangat mencintai mu,aku sudah
menyukaimu saat awal kita ketemu tadinya ku pikir ini hanya sekedar rasa kagum
akan kepintranmu saja tapi saat kita bertemu lagi di kampus dan kita mulai
dekat aku mulai menyadari kalau aku mencintai mu.’’Kata Laura,
Davian hanya menyimak ucapan Laura dia tidak menyangka kalau
Laura sudah menyukainya sejak pertama mereka bertemu saat olimpiade dulu.
‘’Kamu tahu Davian terkadang aku iri dengan perlakuan yang
kamu berikan pada Adel.’’Laura menjeda ucapannya.
‘’Meski kamu dan aku terlihat dekat tapi aku selalu merasa
kalau aku dan kamu jauh berbeda dengan Adel kalian terlihat jauh tapi aku
merasa kalian dekat dan saling melengkapi.’’Kata Laura.
‘’Menurut e’lo begitu.’’Tanya Davian karna menurutnya dia dan
Adel tidak sedekat itu.
‘’Ya,itu yang aku lihat bahkan Diki juga beranggapan sama
dengan ku.’’Jawab Laura ,dia dan Diki pernah mengobrol soal Davian.
‘Kalau dia sih sejak pulang dari latihan basket dia seperti
menjodohkan ku dengan Adel.’Pikir Davian
‘’Sorry Laura tapi gue sudah nyaman dengan e’lo sebagai teman
.’’Kata Davian.
Sebenarnya dia sudah tahu kalau Laura punya perasaan lebih
padanya, karna itu dia memperlakukan Laura tidak berlebihan agar dia tidak
terlalu berharap padanya.
‘’Aku tahu, kalau aku tidak punya kesempatan tapi apa kamu
tidak bisa membuka hati mu untuk ku.’’Kata Laura,meski dia sudah tahu tapi
hatinya tetap merasa sakit mendengar penolakan dari Davian langsung.
‘’Gue enggak bisa,Maaf Laura.’’Kata Davian.
‘’Bagitu yah.’’Laura menunduk sebentar lalu mengangkat
kepalanya lagi.
‘’Apa boleh buat.’’Kata Laura sambil tersenyum berusaha
menyembunyikan rasa sakit hatinya.
‘’Hah..ini pertama kalinya aku di tolak laki laki,biasanya
aku yang menolak para laki laki.’’Kata Laura dengan nada bercanda,
‘’Maaf yah.’’Kata Davian tak enak.
‘’Tidak apa apa,lagian kita masih bisa jadi teman kan.’’Kata
Laura.
‘’Tentu saja e’lo masih teman gue.’’Kata Davian sambil
tersenyum.
‘’Jangan tersenyum gitu nanti aku tidak bisa move on,memang
kamu mau tanggung jawab.’’Kata Laura bercanda ,Davian hanya terkekeh menanggapi
ucapan Laura.
‘’Oh yah Laura boleh gue tanya sesuatu.’’Kata Davian,Laura
mengangguk mengiakan.
‘’E’lo kenal dengan pak Dirga Wijaya.’’Tanya Davian.
‘’Kenal,dia om aku kenapa emang?’’Tanya Laura balik.
‘’Om!’’Kata Davian terkejut.
Sebenarnya dia memang sudah menebak kalau Laura itu ada hubungannya
dengan pak Dirga, tapi dia tidak menyangka kalau itu memang benar dia pikir itu
hanya kebetulan saja nama belakang mereka sama.
__ADS_1