
‘’Huff.’’Adel menghela nafas untuk kesekian kalinya,raut
wajah terlihat muram.
‘’Kenapa sih lo Del? Dari tadi menghela nafas mulu.’’Tanya
Lili, mengangkat kepala dari note booknya.
‘’E’lo bertengkar dengan Davian.’’Tanya Lili.
‘’Ya elah baru aja e’lo senang kemaren,udah berantem
aja.’’Kata Tia sambil memasang plester.
‘’Tangan mu kenapa Tia?’’Tanya Adel melihat jari jari tangan
Tia.
‘’Oh ini,beberapa hari ini gue di suruh mengeramasi
pelanggan,jadinya kaya gini deh.’’Kata Tia cemberut.
‘’Benar benar menyebalkan.’’ Lanjutnya.
‘’Jangan mengeluh itu kan kemau e’lo sendiri.’’Kata Lili.
‘’Iyah sih! Ah gue iri sama kalian berdua,Lili udah jadi
komikus dan Adel sebenatar lagi jadi nyonya muda Pratama ,setiap bulan uang
mengarir tanpa perlu bekerja keras.’’Keluh
Tia.
‘’Pala e’lo tanpa berkerja keras!lalu setiap hari apa yang
gue lakuin sampai tangan gue kram.’’Bantah Lili menatap tajam Tia.
‘’Hehehe,peach! sorry.’’Tia mengacungkan jari tengah dan
telunjuknya membentuk huruf V.
‘’Jadi e’lo benaran berantem sama Davian yah?Kalau ada
masalah cerita ke kita kita siapa tahu bisa bantu e’lo ?’’Tanya Tia menoleh ke
Adel mengalihkan pembicaraan karna Lili masih menatapnya.
‘’Hah….sebenarnya aku lagi bingung.’’JAwab Adel
‘’Davian menanyakan kelanjutan kuliah ku ,aku jadi bingung
dan seperti Davian marah deh.’’Kata Adel lesu.
‘’Bukannya,e’lo tahun depan mau ikut lagi ujian keperawatan,kok malah
bingung!.’’Tanya Lili.
‘’Setelah apa yang di beritahukan propesor yang mewawancara waktu itu aku jadi sensi dan
agak takut.’’Jawab Adel.
‘’Ya udah balik aja lagi ke menejemen,ngapin repot.’’Kata
Tia.
‘’Masalahnya ,jadi perawat itu keingin ku sejak kecil walau
semakin kesini sini agak ragu dan memilih menyerah gara gara pas jadi PMR waktu
SMP di marahi terus sama guru pembimbing.’’Jelas Adel sendu.
‘’Lah terus ngapain masih mau jadi perawat kalau gitu.’’Tanya
Tia heran.
‘’Setelah kejadian yang menimpa Daniel waktu itu,mengingatkan
ku lagi dengan ke inginan ku,aku hanya ingin bisa membantu orang lain yang
membutuhkan pertolongan seperti yang selalu di lakukan oleh ibu ku dan itu juga alasan ku ingin jadi perawat.’’Jawab Adel.
‘’Tapi sekarang e’lo jadi takut.’’Tanya Lili,Adel mengangguk.
‘’Astaga Adel,kenapa sih e’lo itu suka sekali melakukan hal
hal yang sulit di lakukan oleh kapasitas diri e’lo sendiri? Cari aja yang
gampang, jangan ngambil yang susah ,jadi pusing sendiri kan?suka amat sih e’lo menyiksa diri.’’Kata Tia kesal
dengan kelakuan Adel yang tak pernah berubah dari dulu.
‘’Ah sudahlah, aku mau pulang. malah tambah pusing aku
bersama kalian.’’Kata Adel pamit pulang.
‘’Kebiasaan.’’Kata Tia dan Lili bersamaan.
…….
Reina melihat tayangan dimana Davian di wawancara perihal
game buatannya yang menjadi trending topic dan lansung populer setelah louncing
__ADS_1
perdananya dengan senyum manisnya.
‘’Hm,dia melakukannya dengan baik.’’Komentar Dirga .
Dirga dan Reina sedang bersantai di ruangan kerja Dirga sambil
menonton berita di televisi.
‘’Tentu saja!aku tidak akan menyukai pria sembarangan.’’Kata
Reina bangga seraya tersenyum manis.
‘’Ya,benar dan akan sangat baik jika dia menikah dengan
mu.’’Kata Dirga.
‘’Ayolah papa,jangan katakan itu lagi.’’Kata Reina.
‘’Nantinya aku malah jadi serakah dan menginginkan nya.
’’Lanjutnya cemberut.
‘’Apa sekarang kamu menyesal melepaskan nya?’’Tanya Dirga.
‘’Mungkin.’’Reina tersenyum.
‘’ini sangat melelahkan. ’’menyandarkan kepalanya di kepala
kursi.
‘’Kamu belum bisa menghapus perasaan mu padanya? Mau ayah
kenalkan pada anaknya rekan bisnis papa?’’Tanya Dirga.
‘’Biar kamu cepat melupakan si brengsek itu.’’Kata Dirga.
‘’Hm,boleh! Itu ide bagus,cara tercepat melupakan seeseorang
adalah dengan orang lain.’’Kata Reina setuju.
……
Brug
‘’Aduh.’’Adel meringis saat bokongnya mendarat ke trotoar
karna menabrak.
‘’Maaf…maaf gue enggak sengaja.’’Kata pria yang tadi
menabraknya lalu membantunya berdiri.
‘’Eh Adel!’’Katanya saat tahu siapa yang dia tabrak.
soalnya.’’Katanya menyesal.
‘’Enggak apa kok, Ham.’’Kata Adel.
Ilham nama pria yang menabraknya,dia adalah teman sekelas
Adel waktu di SMA.
‘’Bukannya e’lo kuliah yah,ngapain e’lo di jalan emangnya
enggak kuliah.’’Tanya Ilham heran melihat Adel di luar pada jam segini.
‘’Aku lagi cuti jadi tidak kuliah.’’Jawab Adel.
‘’Oh…eh tunggu,sejak kapan e’lo bicara pake aku/kamu.’’Kata
Ilham heran dan terkejut.
‘’Belum lama,bukannya kau tadi bilang sedang buru buru,yah.’’Kata
Adel mengalihkan pembicaraan.
‘’Ah benar,bagaiman bisa gue lupa.’’Ilham menepuk dahinya.
‘’Sebentar,tadi e’lo bilang sedang cutikan.’’Tanya Ilham
memastikan.
‘’Hm.’’Adel mengangguk.
‘’Bisa gantiin gue kerja dulu enggak,ibu gue masuk rumah
sakit dan enggak ada yang menjaganya.’’Pinta Ilham.
‘’Emang ayah mu kemana?’’Tanya Adel.
‘’Bokap gue meninggal 10 bulan lalu,pas pabrik milik keluarga
gue ludes terbakar,dia terkena serangan jantung.’’Kata Ilham sendu.
‘’Eh…Maaf,aku enggak tahu.’’Kata Adel merasa tak enak..
‘’Udah lah itu juga udah berlalu,jadi e’lo mau bantuin gue
enggak cuman beberapa hari doang kok.’’Kata Ilham bersikap seperti biasa ketika
melihat raut wajah Adel yang terlihat tidak enak padanya.
‘’Baiklah.’’Jawab Adel.
__ADS_1
‘Itung itung buat permintaan maaf dan mungkin dengan kerja
aku bisa sekalian memikirkan kembali apa yang ingin ku lakukan ke
depannya.’Pikir Adel.
‘’Terus kau kerja dimana?’’Tanya Adel.
‘’ini alamat tempat gue bekerja.’’Ilham menulis alamat di
secari kertas lalu memberikannya pada Adel.
‘’e’lo tinggal bilang sama menejernya namanya kak Ali.’’Kata
Ilham.
‘’Kalau gitu gue pergi,makasih yah udah mau membantu
gue.’’Kata Ilham pamit lalu pergi meninggalkan Adel.
‘’Baiklah,semangat Adel.’’Kata Adel menyemangati dirinya
sendiri.
……
Sudah seminggu sejak Adel bekerja menggantikan Ilham ,Adel
selalu berangkat pagi setelah ayahnya berangkat dan pulang agak larut karna
Ilham di percaya untuk mengunci dan membuka kafe,karna dia pengganti Ilham jadi
dia terpaksa berangkat lebih awal dan pulang paling akhir.
Marisa yang melihat merasa heran dan bingung pasalnya anak
dan menantunya seperti sedang bertengkar tidak terlihat bertegur sapa jadi dia
memutuskan untuk bertanya pada Davian.
‘’Vian.’’Panggil Marisa masuk ke dalam kamar Davian.
‘’Ada apa mah?’’Tanya Davian.
‘’Mama boleh tanya enggak?’’Tanya Marisa.
‘’Boleh.’’Jawab Davian.
‘’Apa kamu sama Adel ada sedang bertengkar?’’Tanya Marisa.
‘’Tidak .’’Jawab Davian.
‘’Kenapa mama menanyakan itu?’’Lanjutnya bingung.
‘’Tidak mungkin, kamu pasti memarahi Adel kan.’’Tuduh Marisa.
‘’Mengapa mama menuduh Vian.’’Kata Davian.
‘’Buktinya Adel selalu pergi pagi pagi dan pulang agak lalut
dan mama liat juga kalian sepertinya tidak pernah bertegur sapa.’’Kata Marisa.
Memang selama seminggu ini Davian sangat sibuk dengan
penjualan game dan pengembangan perusahaan, membuatnya tak sempat mengobrol
dengan Adel karna biasanya Adel yang selalu mengajaknya bicara lebih dulu.
‘’Itu bagus dong mah.’’Jawab Davian.
‘’Dengan berpisah dengan ku sementara waktu, dia bisa
memikirkan apa yang akan dia lakukan untuk dirinya sendiri.’’Lanjut Davian.
‘’Biarkan dia mandiri dan mengambil keputusannya sendiri agar
tidak selalu tergantung pada ku dan orang lain terus.’’Kata Davian
‘’Hah,mama mengerti dengan apa yang kamu inginkan itu, tapi
bukannya ini terlalu keras.’’Kata Marisa agak tenang.
‘’Kamu harus tahu kalau perasaan dan hati manusia itu tidak
sama dengan soal soal matematika atau pun fisika.’’Kata Marisa.
‘’yang dimana selalu
memiliki jawaban yang benar….berbeda dengan perasaan, kita tidak pernah tahu
yang mana jawaban yang benar.’’Lanjutnya.
‘’Mungkin menurut mu itu adalah jawaban yang benar tapi belum
tentu benar dan tepat untuk orang lain. ’’Marisa menepuk bahu Davian sebelum
keluar dari kamarnya.
Davian yang tertegun mendengar ucapan mama lalu mengambil
ponselnya dan mencari nomor nya dan menghubunginya namun tak kunjung di jawab
oleh Adel.
__ADS_1
‘’Ck,kenapa di angkat sih.’’Kata Davian kesal.