Cinta Raka Buat Riri

Cinta Raka Buat Riri
Menjemput Eric


__ADS_3

Saat ini Raka sedang menjemput Eric yang merupakan tangan kanan ayahnya. Pemuda yang seumuran dengan Kakak sulungnya itu ditugaskan oleh Papa Rendra untuk membantu sekaligus mengawasi Raka selama mengerjakan proyek yang berada di Bali.


Setelah kemarin Raka menyelesaikan pekerjaannya di Jakarta yang memakan waktu selama dua bulan yang membuat ia harus berpisah sementara dengan Riri, kini Papa Rendra menugaskan Raka untuk menghandle proyek pembuatan resort yang akan dibangun didaerah Pecatu. Dengan begitu Raka akan berada didekat Riri sehingga diharapkan hubungan keduanya lebih dekat dan membaik.


Pemuda bertinggi badan seratus delapan puluh empat centimeter dengan kulit yang cukup putih, namun tidak terlalu putih. Hidung mancung bagaikan perosotan anak TK dengan kacamata hitam yang bertengger dihidungnya terlihat melambaikan tangan saat seseorang yang ditunggunya sudah keluar dari pintu kedatangan.


“Kau akan bekerja disini menemaniku dalam waktu yang cukup lama kak. Apa hanya segini barang-barangmu?” tanya Raka yang melihat Eric hanya membawa tas ransel tanpa koper.


“Untuk apa membawa barang-barang yang memberatkan itu. Aku bisa membelinya disini Ka, ayoo” ucap Erik sambil merangkul Raka, keduanya pun berjalan menuju parkiran. Eric sedikit membuka mulutnya saat melihat Raka menggunakan motor sport berwarna merah.

__ADS_1


“Baru tadi pagi kau tiba di Bali lalu kau langsung membeli motor Ka?” tanya Eric berdecak tidak percaya. Ia tahu jika Raka lebih menyukai untuk mengendarai motor sport daripada mobil. Bahkan anak bosnya itu memiliki beberapa koleksi motor sport dirumahnya.


“Ini milik Riri kak.” Sahut Raka sambil menyerahkan helm pada Eric.


“Wow… selera istrimu luar biasa. Kalian mungkin akan cocok satu sama lain.”


“Aku harap begitu tapi sepertinya agak susah. Riri sangat menentang pernikahan ini. Bahkan dia menolak mahar cincin yang aku berikan padanya padahal cincin itu sudah kutukar dengan cincin yang baru namun dengan carat yang sama. Tapi dia justru meminta All New Range Rover Evoque berwarna merah dan minggu depan unit tersebut harus sudah berada digarasinya.” Jelas Raka mulai menjalankan kendaraannya saat Eric sudah naik di kursi penumpang.


“Masalahnya dia meminta aku untuk membelikannya menggunakan uangku sendiri. Tidak boleh menggunakan uang Papa dan Mama. Kau tau sendiri kak, aku bekerja masih asal-asalan dan tidak pernah memikirkan gaji yang kuterima. Sepertinya uang yang ada direkeningku tidak cukup untuk membelikan mobil tersebut. Riri ingin membuatku bekerja keras.” Raka sedikit berteriak agar Eric bisa mendengarnya karna ia sudah melajukan kendaraannya.

__ADS_1


“Kalau begitu tinggal kau jual saja cincin yang istrimu tolak itu ditambah salah satu koleksi motor sportmu. Setelah itu bekerjalah dengan serius. Tak perlu waktu sampai satu tahun uang itu pasti akan kembali ke rekeningmu.”


“Kalau aku menjual cincinnya lalu cincin apa yang akan Riri gunakan sebagai cincin kawin? Aku tahu dia tidak suka sesuatu yang merupakan bekas Jessi. Makanya cincin itu kujual lalu ku tukar dengan yang baru. Tentu saja berbeda model tapi dengan carat yang sama. Tapi tetap saja dia menolaknya. Aku memang sudah berencana akan menjual salah satu motor sportku demi memenuhi permintaannya.”


“Kau tanyalah padanya, cincin apa yang ia inginkan. Atau kau kan bisa menanyakan bagaimana selera Riri pada Arlin. Mintalah pendapatnya agar kau bisa membeli cincin yang sesuai dengan selera istrimu. Jadi tidak akan ditolak lagi.” Eric memberi saran.


“Betul juga apa yang kau katakan, baiklah kak nanti akan kutanyakan lagi pada kak Lin.”


“Hmm.. ngomong-ngomong kau akan membawaku kemana Ka? Aku belum membooking hotel sama sekali. Dan bukannya selama menghandle proyek disini kau akan tinggal bersama Riri? Berarti aku harus tinggal sendirian nantinya?” tanya Eric yang memang ia belum memikirkan dimana harus tinggal. Karna perintah dari Pakdhe Rendra untuk mengikuti Raka juga baru turun beberapa hari yang lalu. Jadi belum ada persiapan yang mereka lakukan.

__ADS_1


“Tinggalah bersama kami. Villa milik Riri berukuran cukup besar dan memiliki banyak kamar. Kak Lin juga tinggal bersamanya. Nanti coba akan aku tanyakan pada Riri apa boleh kau tinggal disana juga atau tidak. Kalau memang tidak di ijinkan, nanti kita bisa menyewa apartment untuk sementara.”


“Baiklah, aku menurut padamu saja.”


__ADS_2