
Eric dan Arlin pun memilik ke beach club dimana pertama kali mereka pergi saat bersama Raka dan Riri. Suasana sabtu menjelang malam minggu tentu saja membuat suasana semakin ramai. Jika ada Riri sudah dapat dipastikan wanita itu pasti menolak dan memilih mencari tempat yang lebih sepi karna Riri tidak terlalu menyukai keramaian yang terlalu berlebih.
Setelah memesan makanan dan minuman, Eric memerika ponselnya dan tidak melihat balasan dari Raka sama sekali. Sepertinya sepasang suami istri itu benar-benar tidak ingin bulan madunya diganggu, Eric berdecak sambil menggelengkan kepalanya. Arlin yang melihat hal tersebut merasa heran.
“Kau kenapa kak?” tanya Arlin menuntaskan rasa penasarannya.
“Sudah dari tadi siang aku mengirim pesan pada Raka, namun satupun tidak ada yang dibalas. Sepertinya mereka benar-benar ingin bulan madu tanpa gangguan.” Eric terkekeh sendiri.
“Riri juga sama, pesanku tidak ada yang dibalas. Mungkin disana tidak ada sinyal.” Sahut Arlin.
“Ya sudah biarkan saja, kalau mereka membutuhkan kita pasti akan segera menghubungi. Jadi coba sekarang kau ceritakan yang sebenarnya terjadi antara Jessi dan Riri. Aku sungguh sudah sangat penasaran lin.”
Akhirnya Arlin pun menceritakan kejadian selama ini antara Jessi dan Riri. Bagaimana sikap Jessi yang mengidap syndrom Tuan Putri dimana segala keinginannya harus terpenuhi. Impian Riri yang harus dikubur jauh-jauh. Lalu awal mula pernikahan Dewa dan Riri sampai berakhir selanjutnya kisah Raka dan Riri yang bermula karna Riri dijadikan istri pengganti.
Cerita dari Arlin membuat Eric melongo tidak percaya. Bahkan makanan dan minuman yang sudah dipesannya pun tak tersentuh sama sekali. Ia tidak menyangka Jessi bisa berbuat demikian teganya pada kakak kandungnya sendiri.
__ADS_1
“Wow, pantas saja sikap Riri begitu dingin pada Jessi. Mungkin jika aku diposisi Riri aku juga akan bersikap demikian.” Eric berkomentar lalu meneguk minumannya, begitu juga dengan Arlin.
“Iya kak, aku juga menjadi kurang suka pada Jessi. Makanya sewaktu kau memintaku untuk membantu membuat Raka dan Riri bersama aku langsung menolaknya bukan? Karna aku ingin Riri sekali saja mewujudkan impiannya tanpa harus berkorban lagi.”
“Tapi sepertinya ideku berhasil kan? Mereka semakin dekat dan terikat. Tunggulah sebentar lagi pasti mereka akan saling mencintai.” Ucap Eric percaya diri yang diangguki oleh Arlin karna setuju dengan perkataan Eric.
“Iya kau benar, Riri terlihat nyaman saat bersama Raka. Bahkan sikap Riri pada Raka lebih hangat daripada sikap Riri pada Dewa dulu.”
“Oh ya? setauku Dewa memang orang yang kaku.” Jawab Eric karna ia memang mengenal Dewa yang merupakan teman kuliahnya dulu. “Sebenarnya Jessi mirip dengan kakak sulung Raka, namanya Elang. Dia bercita-cita menjadi dokter dan meninggalkan semuanya. Elang yang tidak mau berurusan dengan bisnis keluarganya dan memilih untuk mengejar cita-citanya. Bahkan Elang sudah mendirikan beberapa klinik kesehatan. Beruntungnya Pakdhe Rendra masih memiliki Raka yang akan menggantikannya mengurusi bisnis.” Cerita Eric yang membuat Arlin sedikit tertarik karena sejak dulu ia tidak pernah melihat kakak sulung Raka kecuali Bela.
“Elang sedang melanjutkan studi S3 kedokterannya di luar negri. Seharusnya tahun ini dia sudah selesai dan sudah kembali ke Indonesia. Raka begitu merindukan kakaknya itu, tapi Elang selalu sibuk dan jarang memberi kabar.” Jelas Eric
“Oh begitu, sudah setua apa kakak Raka?”
“Seusiaku Lin, kenapa kau tertarik padanya? Tapi sepertinya dia tidak tertarik pada perempuan.”
__ADS_1
“Maksudmu dia gay kak?” Arlin setengah berteriak lalu buru-buru menutup mulutnya saat ada beberapa orang yang melihat ke arahnya.
“Tidak, maksudku dia tidak tertarik berhubungan dengan wanita karna dia itu gila dengan dunianya.”
“Ohh aku kira, kau sendiri juga tidak tertarik dengan wanita kak? Aku tidak pernah melihatmu berkencan.” Ejek Arlin yang tidak sadar jika dirinya sendiri juga tidak pernah berkencan dengan pria manapun.
“Heeyyyy kau tidak bercermin hah?” ucap Eric pura-pura marah. “Kau saja tidak pernah berkencan bukan?” Eric menatap kesal pada Arlin yang hanya dibalas cengiran oleh gadis itu.
“Nanti aku akan berkencan saat Riri sudah menemukan pelabuhan terakhirnya kak, saat itulah tugasku selesai. Mungkin setelah itu aku baru akan memikirkan diriku, lagipula aku menikmati kesendirianku Kak, bebas dan tidak terikat siapapun.” Arlin membeberkan alasannya sementara Eric mengguk-anggukan kepalanya menyimak ucapan Arlin.
“Aku setuju denganmu, aku juga menikmati kesendirianku. Belum ada perempuan yang membuat hatiku bergetar Lin. Lagipula betul katamu, sendiri itu bebas dan tidak terikat.” Eric menyetujui pendapat Arlin.
Malam itu keduanya menghabiskan waktu untuk saling mengobrol dan bercengkram satu sama lain. Sesuatu yang tidak pernah mereka lakukan sebelumnya.
Sementara ditempat lain…
__ADS_1