
“Ehem..” Raka berdehem untuk menarik perhatian Riri dan benar saja wanita itu langsung membuka matanya lalu duduk bersila diatas kasur sambil memandangi Raka dengan intens. Riri beberapa kali mengambil nafas dan menghela nafas dengan perlahan. Wanita itu terlihat sedang mencoba untuk mengendalikan emosinya dan menenangkan gejolak jiwanya.
“Raka, ada yang perlu aku beritahu padamu.” Riri menatap lelaki di hadapannya dengan intens.
“Katakan.” Sahut Raka datar tanpa ekspresi.
“Yang pertama aku tidak pernah mau berurusan dengan yang namanya berondong. Yang kedua impian suamiku selanjutnya itu harus bule. Ingat Raka bule bukan laki-laki lokal sepertimu. Dan yang terakhir aku tidak pernah mau menerima sesuatu yang menjadi bekas Jessi. Jadi aku harap kau bisa berfikir bagimana caranya agar kita bisa terlepas dari pernikahan konyol ini karna aku juga tau kau terpaksa menjalani ini.”
“Sudah?” tanya Raka santai sementara Riri hanya mengangguk malas sebagai jawabannya.
“Ya sudah ayo kita makan, aku sudah lapar daritadi” Ajak Raka sambil beranjak bangun dari tempat tidur lalu mengambil buku nikah yang tadi sempat ia lempar ke kasur kemudian ia masukkan ke nakas samping tempat tidur milik istrinya itu.
__ADS_1
“RAKA ! Kau mendengarkan aku berbicara tidak?” Ujar Riri kesal sambil menarik tangan Raka yang mulai berjalan untuk keluar dari kamarnya agar berhenti dan memberi atensi penuh kepada Riri.
“Aku mendengarkan daritadi Cece bicara. Tapi sekarang aku lapar dan mau makan. Badanku sangat lelah harus ke bandara pagi-pagi buta untuk mengejar penerbangan awal agar bisa sampai disini sebelum kau bangun.” Sahut Raka santai sambil melangkah pergi.
Setelah mengacak rambutnya dengan kasar. Mau tidak mau Riri mengikuti Raka menuju dapur untuk sarapan yang sudah kesiangan karna jam sudah menunjukkan pukul 11 siang.
Dimeja makan sudah ada Arlin dan Raka yang menunggu Riri untuk ikut bergabung. Tidak ada menu sarapan yang special karna untuk sarapan pagi Riri selalu meminta Susu dicampur sereal dan segelas jus ataupun smoothies. Selain Sereal dan susu, roti dan aneka selai juga tersedia di meja karna Arlin tinggal bersama dengannya dan terbiasa untuk sarapan dengan roti selai.
“Ce, disini tidak ada nasi?” tanya Raka celingukan karna memang ia tidak menemukan menu nasi di meja makan.
Raka hanya menanggapi ucapan ketus Riri dengan diam. Ia tidak ingin membuat istrinya itu kembali mengaum. Arlin yang melihat hal itu hanya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Kenapa kau ikut makan!” ucap Riri judes sambil menahan tangan Arlin yang hendak menyuapkan roti isi kedalam mulutnya itu.
“Aku makan tentu saja karna aku lapar.” Sahut Arlin bingung dengan perkataan Riri.
“Bagus ya, kau sudah berkhianat dan masih saja berani makan semeja yang sama denganku.” desis Riri sambil melotot kearah Arlin sementara Arlin hanya tersenyum kikuk. Kini ia menyadari kalau Riri jengkel kepadanya karna mengijinkan Raka untuk masuk kedalam rumah.
“Sorry Ri, kali ini Papi bos yang memberi mandat agar membukakan pintu untuk menantu barunya alias suamimu. Mana bisa aku menolaknya. Aku masih ingin bekerja Ri.” jawab Arlin sambil menepis perlahan tangan Riri untuk meneruskan sarapannya.
“Dia menantu Papi? Aku saja baru mengingat. Seingatku dia merupakan kekasih Jessi.” Tunjuk Riri menggunakan sendok yang akan ia gunakan untuk melahap sereal.
“Tentu saja aku menantu Papi Gun. Saat ini aku sudah menjadi suamimu Ce.” Jawab Raka dengan polosnya yang membuat Riri terdiam karna malas mendebat.
__ADS_1
“Sepertinya kau sangat berkeinginan menjadi suamiku? Dibayar berapa kau?” tanya Riri menyelidik
“Sama sepertimu, kita diancam dengan dalih akan dicoret sebagai ahli waris keluarga. Maka dari itu bekerja samalah denganku Ce. Kita jalani pernikahan ini sebaik mungkin jadi kita berdua sama-sama diuntungkan.” Raka memberi saran yang membuat Riri langsung merubah raut wajahnya menjadi semakin marah.