
“Ceritalah, aku tahu kau butuh teman cerita. Jika tidak, mana mungkin kau menerima ajakanku.” Bujuk Gerry yang juga ikut menikmati gelato yang ia pesan.
“Aku sudah menceritakan kesepakatanku dengan suami keduaku padamu tempo lalu kan? Apa kau masih mengingatnya?” tanya Riri pada Gerry yang langsung saja diangguki oleh pria bule tersebut. Tentu saja Gerry mengingatnya dengan jelas. Baginya cerita Riri sangatlah bekesan. Ada wanita asing yang tiba-tiba menceritakan masalah pribadi pada dirinya yang baru pertama kali ditemui. “Sepertinya suami keduaku ini sudah menemukan calon pendamping hidupnya. Dan tadi aku datang saat mereka sedang berduaan, lebih tepatnya sigadis itu tengah menyuapi suamiku yang sedang sakit.” Riri menatap gelatonya dengan tatapan kosong.
Dia sendiri bingung dengan apa yang ia rasakan. Bukankah selama ini ia yang gencar menyuruh Raka dan mencarikan calon istri masa depan untuk Raka? Tapi kenapa mendapati Raka bersama perempuan lain ada rasa aneh di dalam dirinya.
“Lalu?” pancing Gerry karna baginya cerita Riri belum tuntas.
__ADS_1
“Bagaimana nasibku kelak jika dia yang lebih dulu memiliki calon pendamping masa depan sedangkan aku saja masih belum menemukan suami impianku.” Bahu Riri merosot, mulutnya mengerucut, matanya sendu.
“Jadi kau takut bercerai tapi dia yang lebih dulu memiliki pengganti sedangkan kau belum memiliki calon suami masa depanmu begitu?” tebak Gerry ke intinya. Riri menggeleng karna ia sendiri tidak tahu sebenarnya apa yang ia takutkan dan apa yang ia inginkan.
“Entahlah, aku tadi mulai berfikir bagaimana menjalani kehidupan tanpanya karna selama ini kami terbiasa bersama. Tapi aku juga tahu kebersamaan kita tidak mungkin terjalin selamanya karna dari awal kita sudah menuliskan jalan ceritanya.” Jawab Riri tidak yakin.
“Ya kau benar, itu hanya soal kebiasaan. Apa kau punya kenalan bule tampan dengan mata indah sepertimu? Kalau ada, coba kenalkan padaku karna sudah hampir setengah tahun aku tinggal di pulau ini tapi tidak ada satupun pria bule yang melirik atau bahkan tertarik padaku. Apa bagi mereka aku ini kurang menarik?”
__ADS_1
“Setiap orang memiliki daya tariknya sendiri-sendiri. Teman-teman buleku disini sudah memiliki kekasih. Hanya aku saja yang masih sendiri menunggu seseorang yang mungkin tidak akan pernah datang.” Gerry tersenyum kecut mengingat kisah cintanya yang tidak terbalaskan.
“Kau itu tidak layak menunggu. Pria sepertimu aku yakin pasti banyak yang mengantri.” Ujar Riri dengan polosnya memuji Gerry terang-terangan. Pria bule itupun tertawa mendengar pujian tulus dari Riri.
“Oh ya ngomong-ngomong kenapa suamimu sampai dirawat dirumah sakit?” Gerry tiba-tiba teringat ucapan Riri yang mengatakan jika tadi ia baru saja menjenguk suaminya yan dirawat dirumah sakit.
“Kalau menurutku dan perkataan dokter yang menangani, dia masuk rumah sakit karna makan seblak yang aku buat. Namun dia mengelak akan hal itu saat aku bertanya. Jadi entahlah aku tidak tahu apa sebab pastinya. Dia memiliki penyakit maag kronis, dan pemicu utama penyakitnya bisa kambuh jika ia makan makanan asam. Dia juga bukan penggila makanan pedas. Tapi kemarin malam dia mencicipi seblak buatanku yang sangat pedas. Dia masih sempat mandi bahkan tidur, tapi tiba-tiba tengah malam dia bangun, muntah-muntah lalu pingsan tidak sadarkan diri. Setelah itu aku membawanya kerumah sakit. Dan ya begitulah, menurutmu apa aku yang membuatnya celaka?” Riri bertanya meminta jawaban Gerry karna seingatnya tadi dia berkata jika Gerry adalah seorang dokter.
__ADS_1