
Bukan karena malu atas omongan orang, Mami Vindi sama sekali tidak malu memiliki anak seperti Riri. Karna dia sendiri tahu pasti kenapa dulu Riri menceraikan Dewa, jika itu diposisinya mungkin Mami Vindi juga akan melakukan hal yang sama seperti yang Riri lakukan.
Mami Vindi hanya ingin Riri membuang impiannya yang baginya tidak masuk akal. Bukan tidak mau memiliki menantu seorang bule atau pria asing, tapi sudah ada Raka. Laki-laki yang ia tahu dengan jelas siapa dan bagaimana kehidupannya. Dan Vindi tahu jika Raka tidak mungkin menyakiti anaknya. Apalagi Riri adalah salah satu seseorang yang berarti didalam hidup Raka. Sudah tentu ia tenang jika suatu saat meninggalkan dunia ini, salah satu tugasnya sudah selesai yaitu menikahkan anaknya dengan laki-laki yang tepat meskipun dengan cara yang kurang tepat.
__ADS_1
Buliran air mata Mami Vindi turun begitu saja. Tak ingin istrinya berada dalam kesedihan seorang diri, Papi Gun mendekap wanita yang sudah menemaninya selama tiga puluh tahun itu. “Kau tahu Mi, rencana Tuhan akan selalu lebih indah dari rencana kita. Tidak ada takdir yang buruk, semua takdir yang Tuhan gariskan adalah takdir yang baik. Hanya saja terkadang kita yang menganggapnya sebagai hal yang buruk karna kita tidak menyukai takdir itu. Kau ibunya, kau yang mengandung dan melahirkannya dan kau tahu dengan jelas bahwa doamu tidak akan ditolak oleh Tuhan. Maka berdoalah dan mintalah kepada Tuhan agar Raka dan Riri selalu bersama.” Papi Gun mengusap lembut lengan sang istri dengan sayang.
Jujur dari dalam hatinya, ia sendiri tidak mau jika sampai hal buruk itu terjadi. Tapi dia sendiri juga tidak bisa memaksa Riri dan Raka untuk terus bersama karna kedua orang itulah yang menjalani dan merasakannya. Sebagai orang tua, tentu saja dirinya hanya bisa berdoa agar perpisahan tersebut tidak benar-benar terjadi.
__ADS_1
“Mami jangan bertanya atau mengatakan apapun pada Riri. Biarkan dia menentukan jalan hidupnya sendiri. Papi tahu kalau Mami tidak ingin jika Riri bercerai dari Raka dan menjadi janda kembali. Tapi kita hanya sebagai penonton bukan pemerannya, kita hanya melihat tidak merasakannya sendiri. Apapun yang terjadi nanti Papi harap Mami tidak akan kecewa dan marah pada Riri. Kebahagiaan anak kita jauh lebih penting dari apapun bukan? “ tambah Papi Gun karna tidak ingin jika istrinya sampai bertanya atau mengatakan sesuatu pada Riri yang nantinya akan membuat anak sulungnya tersebut menjadi enggan untuk menceritakan masalah atau persoalan yang sedang dihadapinya pada dirinya lagi.
Mami Vindi menyeka air matanya ketika ia mengingat sesuatu hal. Wanita paruh baya itupun mengurai pelukan dari sang suami lalu menatap lekat kearah Papi Gun. “Pi, bukankah kita pulang lebih awal dari acara tadi karna Raka menelponmu, mengatakan jika Riri tidak membalas pesannya? Itu berarti Raka serius menjalani pernikahan ini dan Riri yang enggan menjalankannya? Mami ingat dengan jelas sewaktu Riri menelpon Papi ketika Raka tiba di villanya dulu, dia sangat marah dan murka atas keputusan yang kita ambil dengan mendaftarkan pernikahannya secara resmi.” Mami Vindi buru-buru beranjak bangun. Berencana untuk pergi ke kamar Riri.
__ADS_1