Cinta Raka Buat Riri

Cinta Raka Buat Riri
Kita akhiri secepatnya


__ADS_3

Setelah Raka membersihkan diri dan mengistirahatkan tubuhnya, Riripun memberanikan diri untuk membicarakan hal ini pada Raka karna waktu yang ia miliki semakin sedikit. Ia menatap Raka lamat-lamat saat suaminya itu tengah berbaring diranjang sambil memainkan ponselnya.


Riri mendekat dan duduk disebelah Raka. “Ka, ada yang ingin aku bicarakan.” Ujar Riri menatap Raka dengan tatapan yang sulit diartikan. Suaminya itupun meletakkan ponsel dan memberi atensi penuh pada istrinya.


“Aku ingin kita secepatnya mengurus perceraian. Kau sudah menemukan seseorang yang akan kau jadikan pendamping hidup begitupun denganku. Dan aku rasa ini saatnya untuk kita bercerai, karna kurang dari dua minggu lagi aku harus pergi bersama Gerry kembali ke negaranya.” Ucap Riri dengan menahan gejolak di dadanya. Rasanya berat dan sedih saat ia harus mengatakan hal tersebut namun semua itu harus dilakukan. Karna waktunya disini sudah tidak lama lagi saat ia memutuskan akan bersama Gerry.


Raka menegakkan tubuhnya dan ikut duduk berhadapan dengan Riri. Tidak pernah ia sangka kalimat itu akan muncul secepat ini. Setelah mengatakan hal tadi, Riri memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Wanita itu tidak berani menatap Raka.


Suami singa betina tersebut tertegun dan terdiam beberapa saat ketika mendengar perkataan istrinya. Setelah beberapa menit mereka saling diam dalam keheningan, akhirnya Raka mulai mengeluarkan suaranya. “Kau serius dengan ucapanmu?” tanya Raka menatap Riri tidak percaya.

__ADS_1


“Tentu saja, ayo kita akhiri secepatnya. Bahkan ketika semuanya masih belum berakhir aku akan tetap pergi dan memasrahkan urusan perceraian pada pengacara yang sudah Gerry siapkan. Akan lebih baik bagi kita berdua untuk segera berpisah daripada seperti ini, aku selingkuh kaupun selingkuh. Tidak baik dipandang orang.” Jelas Riri lagi.


“Apa kau mencintai Gerry?” Raka menatap mata Riri yang tidak berani menatapnya kembali. "Apa kau akan bahagia jika hidup bersamanya?" Tanya Raka kembali.


“Kau sudah tahu jawabannya kenapa harus kau tanya lagi. Aku hanya akan memberitahumu itu, kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Dalam gugatan perceraian semua kesalahan akan dilimpahkan kepadaku.” Riri beranjak dari duduknya lalu pergi menuju kamar mandi. Ia sudah tidak sanggup menahan air matanya.


“Baiklah kalau itu maumu.” Jawab Raka dingin dan memilih keluar dari kamar mereka.


Cukup lama Riri menangis di dalam kamar mandi sampai iapun akhirnya memilih berendam untuk membuat pikirannya lebih rileks. Setelah itu ia memutuskan akan menyuruh Mbok Ila pulang kampung, memberinya libur agar wanita tua itu tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya.

__ADS_1


*


*


*


“Apa kau lihat tadi bagaimana sepanjang Raka bernyanyi pandangannya menatap lekat pada Riri?” Arlin bertanya pada Eric selepas kepergian sepasang suami istri tersebut.


“Semutpun bisa melihatnya Lin, semuanya begitu jelas.” sahut Eric yang masih memilih lagu. Ia ingin melanjutkan berkaroke meskipun hanya dengan Arlin saja. “Aku merasa mereka sedang mengutarakan perasaannya melalui lagu yang mereka nyanyikan. Aku mendengar lagu terakhir yang Riri nyanyikan. Sepertinya bos mu itu sudah tahu perasaannya sendiri.” Telaah Eric lalu menatap Arlin yang terlihat sedang berpikir.

__ADS_1


“Aku juga menduganya seperti itu, tapi dia masih saja mengelak.” Arlin menghela nafasnya dengan kasar. “Kenapa kalian pulang lebih awal? Apa ada masalah disini?” lanjutnya.


__ADS_2