
“Secantik apa hingga kau justru mengejar seorang gadis sampai ke Indonesia, hmm?” ledeknya yang membuat Gerry mati kutu tak bisa berkutik. “Menjalin hubungan bukan karna fisik semata bukan bro? Lalu kapan kau akan kembali mengunjungi kami? Riri pasti akan sangat merindukanmu, dia menyayangimu meskipun tidak menganggapmu sebagai kekasih.” Lanjut Eric yang kini keduanya jusru tertawa bersamaan,
“Kau pintar menganalisa rupanya.” Gerry memuji Eric karna analisa pria itu memang benar, Riri menyayanginya tapi tidak pernah menganggapnya sebagai kekasih, hanya sebagai teman dekat, as a brother. “Rasa sayang Riri padaku sama seperti rasa sayangnya padamu, pada Arlin. Dia nyaman didekatku karna aku selalu menyediakan bahu dan telinga untuknya berkeluh kesah tanpa menghakiminya. Selain itu kau tahu betul jika ia benar-benar terobsesi pada warna mataku ini.” Gerry menunjuk matanya sendiri. Eric dan Arlin mengangguk mengiyakan, Riri memang sebatas terobsesi pada warna mata milik Gerry yang merupakan warna mata yang sangat ia sukai. ”Aku akan kembali saat kau dan Arlin menikah, oleh karena itu segera atur rencana pernikahan kalian.” Lanjutnya lagi. yang justru membuat Arlin dan Eric saling pandang kemudian sama-sama membuang wajahnya ketika tatapan mereka bertemu.
“Aku harus segera kembali, karna aku masih ada urusan.” Gerry berdiri dari duduknya dan bersiap untuk pergi.
__ADS_1
“Kak, bolehkah aku ikut pulang bersamamu, nanti cukup turunkan aku didekat apotik depan, karna aku juga harus segera kembali.” Shelo memberanikan diri untuk mengutarakan maksudnya menumpang pada Gerry.
“Sure, kau akan pergi kemana? Jika searah denganku bisa aku antarkan.” Jawab Gerry ramah
“Aku mau ke Koffietons kak.” Sahut Shelo cepat. Gerry pun mempersilahkan Shelo untuk naik ke atas motornya karna saat ini ia memang sedang membawa motornya. Dan ia memutuskan untuk mengantar Shelo terlebih dahulu meskipun tujuannya agak sedikit berbeda dengan gadis tersebut tapi itu tidak masalah karna tujuannya tidak begitu jauh dari tempat yang Shelo tuju.
__ADS_1
“Kau berhutang penjelasan padaku mengenai Shelo dan Raka. Sekarang jelaskan padaku.” Titah Arlin menatap Eric dengan serius.
Pemuda itu hanya melirik Arlin sekilas lalu kembali fokus pada ponselnya. “Apa yang harus kuceritakan? Tadi kan kau sudah mendengar semuanya dari Raka dan Shelo.” Sahutnya datar
Arlin berdecak sebal. Ia meraih ponsel Eric dan menyimpannya dibelakang tubuhnya agar Eric tidak bisa mengambilnya. “Aku ingin cerita lengkapnya, kenapa kau menutupi hal itu dariku? Bagiamana kalau aku justru mendukung Gerry dan Riri untuk bersama saat tahu Raka menjalin hubungan dengan Shelo. Untung saja aku tidak melakukan hal itu, jika sampai iya maka tamatlah riwayat Raka. Tidak akan ada kisah cinta Raka untuk Riri yang ada hanyalah cinta Riri untuk Gerry.” Arlin melipat tangannya kesal. Kenapa hal sepenting ini Eric tutupi dari dirinya.
__ADS_1
“Hei apa kau sendiri tidak sadar? Kau bekerja sama dengan Gerry tanpa sepengetahuanku bukan?’ Eric mencubit gemas hidung Arlin. Gadis itu langsung mengibaskan tangan Eric agar terlepas dari hidungnya. “Raka yang memintaku untuk melakukannya. Awalnya aku sudah menolak dan terus berusaha untuk menyemangati Raka agar bisa menaklukan Riri. Tapi Raka ingin melihat sejauh mana Riri menganggapnya selama ini, selain itu dia bosan mendengar ocehan Riri yang terus menerus menyuruhnya mencari gadis lain padahal sudah jelas jika yang di inginkan Raka adalah Riri, istrinya sendiri.”