
“Pi …”
“Hmm, ada apa nak? Katakanlah…” Papi Gun menatap manik mata anaknya dengan lurus sambil membelai surai Riri yang cukup panjang.
“Apa Papi akan malu jika aku bercerai lagi?” Papi Gun menghentikan belaiannya untuk Riri lalu menatap anaknya dengan serius. Sesaat kemudian ia kembali membelai surai Riri dengan sangat lembut dan perlahan.
“Apa kau akan bercerai darinya? Bukankah Papi pernah bilang padamu jika Raka bisa menjadi suami yang baik untukmu Ce.”
“Ya memang, aku juga ingat dengan baik perkataan Papi. Tapi apa Papi pernah berfikir, apakah aku bisa menjadi istri yang baik untuk Raka? Dia berhak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku Pi.”
__ADS_1
“Lebih baik darimu? Maksudmu? Kau wanita baik Ce, Papi tahu betul siapa kau dan bagaimana kau menjalani kehidupanmu.” Papi Gun masih mencerna ucapan Riri dan membesarkan hati anaknya.
“Aku seorang janda Pi, sedangkan Raka masih perjaka. Dia juga lebih muda dariku, dia pantas bahkan sangat pantas mendapatkan yang lebih baik dariku. Terlebih dia juga pernah menjadi kekasih Jessi. Papi tahu bagiku sulit untuk menjalani pernikahan ini.” Adu Riri mengenai hal yang ia pendam selama ini dan tidak pernah ia katakan kepada orang tuanya.
“Itu hanya masa lalu nak. Kau tahu gunanya spion pada kendaraan?” tanya Papi Gun namun Riri hanya diam, membiarkan Papinya meneruskan perkataannya. “Gunanya adalah untuk menengok kebelakang agar langkah kita kedepan tidak membuat celaka. Spion dan masa lalu itu sama, sesekali kita perlu menengoknya untuk mengambil pelajaran. Namun jangan terlalu sering kau tengok karna justru bisa membuatmu celaka dan tidak bisa melihat masa depan.” Lanjutnya sambil tersenyum pada Riri.
“Tentu saja Papi berharap kebahagiaan untuk kalian.”
“Tapi bagaimana jika aku dan Raka sama-sama tidak bahagia dan terpaksa menjalaninya? Kami terikat dalam hubungan yang tidak kami inginkan.”
__ADS_1
“Kau ingat Ce, namamu yang menjadi taruhannya jika kalian bercerai. Tidak akan ada nama Darelona Fairylynx Huleeo sebagai salah satu pewaris Huleeo Grup.” Papi Gun mengingatkan dengan sedikit bercanda.
“Papi tahu bukan, ancaman seperti itu tidak mempan padaku. Aku bahkan bisa melepas semuanya jika aku mau. Dulu aku melakukannya karna Jessi tidak mau mengurus bisnis keluarga kita, tapi sekarang lain ceritanya. Jessi bahkan sudah dititipkan pada Om Darrel, itu artinya dia siap meneruskan bisnis keluarga.” Sahut Riri jujur lalu berbaring dan menyenderkan tubuhnya pada lengan Papinya.
“Pi, berjanjilah jangan membenciku jika aku dan Raka tidak bisa terus bersama. Karna Papi harus sadar satu hal, kebahagiaan tidak akan datang dari sebuah paksaan.” Tambahnya sambil memandang wajah Papinya dengan sendu.
“Papi tidak akan pernah membencimu dan Raka apapun yang terjadi, tapi Papi akan selalu mendoakan agar kalian berdua selalu bersama dan selalu berbahagia.” Selesai mengatakan hal itu, Papi Gun mengecup kening Riri lalu memeluk anak sulungnya tersebut.
Meskipun tidak tahu pasti apa yang sedang terjadi antara anak dan menantunya, ia berharap hubungan Raka dan Riri masih bisa dipertahankan. Ia sudah tahu ada sesuatu yang tidak beres saat Riri tiba-tiba mengatakan padanya jika akan pulang ke Solo. Anaknya itu lebih memilih mendatangkan orang tuanya daripada harus pulang. Sama seperti saat Riri kuliah dulu. Dia jarang sekali pulang dan selalu menyuruh orang tuanya yang datang jika ia merindukannya.
__ADS_1