
Dan ternyata dugaannya benar saat kini ia sudah melihat Riri dengan jelas. Fairylynx, juniornya dulu yang pernah menempuh jurusan kedokteran selama satu tahun kemudian tiba-tiba menghilang.
Riri yang dipanggil begitu tentu saja langsung bisa menebak siapa laki-laki yang diakui Raka sebagai kakaknya. Karna didunia ini hanya ada satu orang yang memanggilnya Lynx, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Kak Rafa. Seniornya semasa ia kuliah kedokteran dulu.
“Kak Rafa? Kau benar kak Rafa? Jadi kau itu kak Elang kakaknya Raka?” Riri menatap tidak percaya pada laki-laki yang duduk dihadapannya. Sementara Raka, Eric dan Arlin sama-sama bingung, tidak menyangka jika Riri justru mengenal kakak Raka.
__ADS_1
Pantas saja saat Raka bertranformasi menjadi laki-laki dewasa yang tampan dan memiliki bentuk tubuh yang proporsional, Riri merasa Raka mirip dengan seseorang tapi entah siapa. Dan kini terjawab sudah pertanyaan yang pernah ada dalam benak wanita tersebut.
“Iya, keluargaku memanggilku Elang tapi teman-teman memanggilku Rafa. Apa kabar Lynx? kenapa kau dulu tiba-tiba menghilang? Aku sangat menyayangkan dan mencarimu beberapa kali saat kau hilang tanpa kabar.” Mendengar pertanyaan dari Elang barusan, entah kenapa membuat hati Raka sedikit terusik. Apakah kakaknya itu pernah menjalin hubungan dengan Riri dimasa lalu? tadi juga kakaknya memanggil istrinya dengan ‘Lynx’ ? Bahkan kakaknya menyematkan panggilan khusus untuk Riri.
“Menjadi dokter memang impianku kak, tapi meneruskan usaha keluarga adalah kewajibanku. Aku tidak bisa menjalani keduanya jadi aku memutuskan untuk fokus pada salah satunya. Dulu aku mengambil dua jurusan sekaligus tapi hanya bertahan di kedokteran selama satu tahu, setelah itu aku fokus pada ilmu management dan bisnis.” Riri menjelaskan sambil membelai lembut paha suaminya. Ia tahu Raka sedikit tegang dan kaku saat mendengar pertanyaan dari Rafa untuknya, suaminya itu pasti berfikiran yang tidak-tidak.
__ADS_1
“Ya kau benar Lynx. Susah untuk menjalani keduanya dan aku dengan egois tetap memilih impianku dengan menumbalkan adikku untuk meneruskan usaha keluarga kami.” Ucap Elang sambil menatap Raka dengan perasaan sedihnya.
“Ini pilihanku kak. Aku memang menyukai dunia arsitektur yang juga relevan dengan bisnis keluarga kita. Kau tidak usah merasa bersalah padaku terus menerus. Lebih baik jadilah dokter yang baik dan banyak menolong orang.” Jawab Raka membesarkan hati kakaknya.
“Sudah lebih baik kita makan dulu, nanti lagi nostalgianya.” Ajak Eric yang disetujui oleh semuanya. Raka sudah memisahkan sate khusus milik istrinya. Sate kambing dengan irisan bawang merah cukup banyak tanpa irisan cabai. Meskipun menyukai makanan pedas tapi Riri sama sekali tidak menyukai cabai mentah. Dengan telaten Raka melayani Riri. Hal itu tidak luput dari pengamatan Elang, Eric dan juga Arlin. Mereka sudah sangat yakin jika Raka sudah jatuh cinta pada istrinya. Sementara Raka melayaninya, Riri melayani suami dan kakak iparnya. Menyiapkan makanan untuk mereka, memisahkan antara sate ayam dan kambing sehingga mereka bebas memilih.
__ADS_1
Beruntung sebelum Raka pulang, Riri tetap meminta Mbok Ila untuk membersihkan kamar tamu. Berjaga-jaga jika kakak Raka ternyata menginap di villanya dan ternyata dugaannya benar. Selesai makan, semua orang kembali ke kamarnya masing-masing. Apalagi Eric, pemuda itu sedang kurang sehat jadi buru-buru ijin untuk beristirahat.
Setelah menggosok gigi dan membersihan tubuhnya, Raka meminta ijin pada Riri untuk menemui Elang dikamarnya. Raka masih sangat merindukan kakaknya. Bahkan Riri menyuruh Raka untuk tidur bersama kakaknya jika memang suaminya itu masih sangat merindukannya. Ia memaklumi, jika suaminya tengah rindu pada saudara yang sudah lama tidak ditemui. Kadang ia merasa iri, Raka sangat akur dengan kedua kakaknya sangat berbeda dengan dirinya dan Jessi.