
“Baiklah” Ujar Raka menurut tidak tahu harus berbicara apalagi.
“Kalau begitu aku pergi dulu bersama Arlin, kau bisa beristirahat bersama kak Eric atau kalau kalian mau ikut juga bisa. Bagaimana? Siapa tahu kau dan kak Eric bisa menemukan jodoh disana. Aku juga berharap bisa menemukan jodoh buleku disana” Riri mengatakan hal tersebut dengan mata yang berbinar-binar.
Arlin yang gemas dengan tingkah Riri hanya menoyor kepala bosnya itu lalu berlari keluar rumah mendahului Riri agar tidak terkena amukan dari bos singanya.
Raka menahan lengan Riri yang hendak mengejar Arlin karna sudah berani menoyor kepalanya. “Sudah kau tidak perlu marah-marah. Namamu itu benar-benar mencerminkan dirimu yang sesungguhnya.”
“Ah, kau menghalangiku Ka.” Ucap Riri sebal sembari mengerucutkan bibirnya yang justru terlihat begitu menggemaskan dimata Raka. Benar kata Bela, jika Riri memiliki wajah baby face sehingga orang tidak akan ada yang mengira jika Riri lebih tua darinya.
“Aku ikut Ri, tunggulah aku mandi dan berganti pakaian dulu. Kau mau ikut tidak Ka?” Eric bertanya sambil beranjak pergi sekaligus meminta Riri untuk menunjukkan kamar yang akan ditempatinya.
“Tentu saja, untuk apa aku berdiam sendiri dirumah.” Sahut Raka sambil ikut masuk ke kamar Riri untuk mandi dan juga berganti pakaian sama seperti Eric.
“Cepat jangan pakai lama, dimana barang-barangmu Ka? Aku akan meminta Mbok Ila untuk menata barang-barangmu dikamarku.” Tambah Riri lalu kembali duduk dimeja makan sambil menikmati pomelo yang tadi belum sempat dinikmatinya setelah mengantarkan Eric menuju kamarnya yang berada tidak jauh dari kamar Arlin di lantai satu.
__ADS_1
“Entah tadi diletakkan dimana oleh Mbok Ila, kau tanya saja dia. Kalau koperku sudah ketemu tolong siapkan baju ganti untukku Ri. Aku akan mandi untuk mempersingkat waktu.” Teriak Raka dari kamar Riri yang sudah berada di lantai dua.
Mau tidak mau akhirnya Riri mencari keberadaan Mbok Ila lalu menanyakan dimana koper suaminya itu. Untungnya koper Raka sudah Mbok Ila letakkan di living room lantai dua yang berdekatan dengan kamarnya. Dengan begitu ia lebih mudah untuk membantu mengambilkan Raka baju.
Setelah meminta tolong pada Mbok Ila untuk merapikan barang-barang Raka dikamarnya, ia bergegas menuju lantai dua lalu mencari koper Raka. Didorongnya koper tersebut hingga sampai ke kamarnya. Dengan cepat Riri membuka koper Raka untuk mencari baju ganti suaminya dan meletakkanya di dekat kamar mandi agar Raka lebih mudah untuk berganti.
*
*
*
“Auchhh sakit Ri” keluh Arlin sambil menghempaskan tangan Riri.
“Rasakan, berani-beraninya kau kurang aja padaku.” Riri bersedekap sambil melirik Arlin tajam. Asistennya itu mengatupkan kedua tangannya di dadanya, memohon maaf atas candaannya tadi.
__ADS_1
“Tunggu sebentar lagi, pesanan telor gulungku hampir selesai. Setelah itu kita berangkat.” Kata Arlin menyuruh Riri untuk menunggu.
“Tidak masalah, kita juga sedang menunggu Kak Eric dan Raka. Mereka berdua ingin ikut.” Riri menjawab sambil berlalu dan duduk diatas motor sportnya, menunggu kedatangan kedua pemuda tampan yang sedang membersihkan tubuhnya.
“Bagaimana bisa kau bersikap baik pada Raka secepat ini? Bukankah tadi pagi kau menolak keras pernikahan ini? Dan seingatku kau kan kurang menyukai Raka.” Tanya Arlin yang sejak tadi sudah menahan rasa penasarannya.
“Yang kau katakan benar, aku memang kurang menyukai Raka. Tapi entah kenapa, melihatnya hari ini dirumahku rasanya seperti melihat sosok Raka yang lain. Bukan Raka yang selama ini bersama Jessi. Dan rasa tidak sukaku menjadi menguap begitu saja, aneh bukan. Apa kau merasakan hal yang sama? Ternyata Raka tidak semenyebalkan seperti yang aku kira selama ini.” Riri menerawang lalu mengingat kejadian mulai saat ia bangun tidur sampai barusan saat Raka menahan lengannya agar tidak mengejar Arlin.
Rasa tidak sukanya pada Raka entah menghilang kemana dan justru menjadi biasa saja. Ia mulai menganggap Raka seperti adik lelakinya sendiri. Karna itu yang ia tanamkan pada dirinya untuk mejalani hubungan rumah tangganya bersama Raka dengan asas bro and sist relationship.
“Ya kau benar, hari ini saat aku melihat kedatangan Raka, mulai dari aku menjemputnya di bandara, mengantarkan ia kemari dan sampai tadi saat kita berada di meja makan, aku merasa Raka bukanlah Raka yang dulu. Dia benar-benar seperti bukan sosok Raka yang berpacaran dengan Jessi. Laki-laki yang dingin, cuek, tidak peduli sekitar dan sangat apatis. Oh ya satu lagi, dia bagai anak itik yang sering mengekori Jessi, tapi saat ini aku tidak melihat sosok yang seperti itu.”
“Raka yang aku lihat hari ini lebih ramah, lebih banyak berbicara, aku merasa dia lebih dewasa juga karna mengganti cincin kawin kalian. Cincin yang tadinya akan ia berikan untuk Jessi namun karna menikah denganmu kemudian ia menggantinya agar kau tidak merasa menggunakan barang bekas Jessi. Ya semoga saja perubahan Raka bukan sementara.” Pendapat Arlin sambil melahap telor gulungnya, ia menawari Riri namun bosnya itu menolak.
“Kau juga merasakannya kan? Yaa semoga saja, sehingga tidak mempersulit kehidupan yang akan kami jalani nantinya.”
__ADS_1
“Oh ya, kau tidak menerima cincin dari Raka?” Riri hanya menggeleng sambil menatap intens pada layar ponselnya.
“Teganya, terimalah Ri. Kau hargai Raka.” Arlin mengingatkan.