
“Itu motor siapa kak? Kau baru membelinya?” tanya Riri pada Eric tanpa menghiraukan ejekan Eric, sama seperti Raka tadi. Ada sebuah motor sport dengan merk yang sama dengan milik Riri namun berbeda type dan warna. Motor yang baru terparkir di parkirannya itu berwarna dark grey dengan sedikit corak hijau khas dari merk motor tersebut.
“Itu milik Raka, kemarin dia yang memintaku untuk membelikannya.” Sahut Eric santai lalu mengambil Alih koper yang didorong Riri. Wanita itu menahan tangan suaminya agar Raka berbalik menatapnya.
“Untuk apa membelinya? Kau kan bisa menggunakan motorku, jangan buang-buang uang Ka. Kau baru saja bekerja.” Riri menasehati Raka dengan halus agar suaminya tidak tersinggung.
“Jujur saja aku tidak enak menggunakan barang-barangmu terus menerus. Apalagi sewaktu kita bertengkar seperti kemarin. Rasanya sangat tidak tahu diri jika aku masih menggunakan barang-barangmu.” Jawab Raka dengan jujur. Riri hanya menghela nafasnya, mencoba memahami maksud Raka.
“Baiklah, terserah kau saja lagipula juga sudah terlanjur dibeli. Lain kali jangan gegabah, aku tidak pernah merasa keberatan kalau kau atau kak Eric menggunakan sesuatu yang merupakan milikku. Sudah ku katakan berulang kali, aku ini istri rasa kakak. Milikku juga milikmu.” Ucap Riri lalu mendahului Raka masuk kedalam villa. Ia harus segera membersihkan badan, selain itu ia masih mengantuk dan ingin tidur kembali.
__ADS_1
“Apa Jessi sudah pergi?” tanya Raka pada Eric dan Arlin sebelum melangkahkan kakinya memasuki villa.
“Sudah, kau tenang saja. Lebih baik kau beristirahat saja, biar aku dan Arlin yang menyiapkan makan malam.” Jawab Eric yang diangguki oleh Arlin. Ketiganya pun memasuki villa bersama-sama. Raka segera menyusul Riri yang ternyata sedang berada didalam bathroom, mungkin mandi atau berendam Raka juga kurang tahu. Karna ia juga merasa kegerahan akhirnya Raka memutuskan untuk mandi di kamar mandi yang ada di lantai dua tidak jauh dari kamarnya. Selesai Raka membersihkan tubuhnya ia mendapati Riri sudah tidur terlelap diatas ranjang mereka. Raka pun ikut berbaring dan akhirnya sama-sama terlelap mengarungi alam mimpi.
*
*
*
__ADS_1
“Aku mau menjemput kakakku Ri, dia datang kemari. Aku sudah sangat merindukannya.” Jawab Raka dengan girang tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
“Kakakmu? Bela maksudmu?”
“Bukan, kakak sulungku. Kak Elang namanya, kau belum pernah menemuinya karna dia sudah lama bersekolah di luar negri.“ Jelas Raka sambil memandang Riri yang masih berusaha untuk bangun tapi matanya masih minta untuk dipejamkan.
“Tidurlah lagi jika masih mengantuk. Aku akan ke bandara dulu untuk menjemput kak Elang. Kau ingin titip sesuatu? Oh ya, aku pinjam mobilmu ya?” ijin raka pada istrinya.
“Pakailah sesukamu, aku sedang tidak ingin apa-apa, hati hati menyetirnya Ka. Apa kakakmu akan tidur disini? Jika iya, minta tolonglah pada Mbok Ila untuk menyiapkan kamar tamu.” Saran Riri yang merebahkan tubuhnya kembali diatas kasur nan empuk lagi nyaman. Matanya pun sudah terpejam.
__ADS_1
“Aku tidak tahu kakakku mau tidur disini atau dihotel. Aku pergi dulu ya.” Raka berpamitan lalu bergegas keluar kamar untuk berangkat ke Bandara. Ia sudah sangat tidak sabar untuk bertemu dengan kakak sulungnya. Sudah beberapa tahun Kak Elang tidak pulang bahkan kakaknya itu tidak tahu sama sekali jika ia kini malah menikah dengan kakak dari mantan kekasihnya itu.
Cukup lama Raka menunggu, tapi itu semua terbayarkan saat ia melihat sosok pria yang wajahnya, postur tubuhnya nyaris sama persis dengan dirinya. Hanya saja pria itu adalah Raka versi dewasa. Raka berlari menghambur kepelukan Elang, sungguh rasanya masih tidak menyangka ia melihat kakaknya kini berdiri dihadapannya.