
Riri merasa tidurnya terusik saat ponselnya terus saja berdering. Sepertinya si penelpon benar-benar ingin membahas sesuatu yang penting. Riri meraba-raba sekitarnya untuk mencari ponselnya. Tanpa melihat siapa yang menelpon, ia langsung menjawabnya dengan asal-asalan.
“Halo?”
“Kau baru bangun tidur nak? Apa karna ada suamimu jadi kau bangun se siang ini?” dari seberang sana terdengar suara Tante Maira yang sedang menggodanya. Hal itu membuat Riri terbangun dari tidurnya dan langsung membuka timun yang menutup matanya. Ia melihat nama Tante Maira tertera sebagai penelpon yang sedang menelponnya.
“Oh hai Tante, apa kabar? Aku tadi sudah bangun tapi tidur lagi karna hari ini aku off.”
“Mulai saat ini stop memanggilku Tante, panggilah aku Mama. Kau sudah menikah dengan Raka maka otomatis kau adalah anak menantuku Ri. Panggil Mama saja oke”
“Baiklah Ma.” Jawab Riri Kaku. Hal itu sangat terasa aneh dimulutnya. Tapi mau bagaimana lagi, memang benar apa yang dikatakan Tante Maira bahwa ia harus memanggilnya Mama karna sudah menikah dengan Raka. “Ada apa Mama menelponku? Apa ada hal yang penting?” tanya Riri kemudian.
“Ya ini sedikit penting Ri. Berhubung kau sudah menjadi istri Raka maka Mama akan memberitahumu. Raka memiliki maag yang cukup kronis dan dia tidak bisa telat makan sedikit saja. Untuk sarapan tolong kau selalu sediakan nasi dengan sayur ya nak. Raka tidak bisa sarapan tanpa nasi, dan ia harus mengisi perutnya setiap minimal empat jam sekali agar maagnya tidak kambuh. Tidak perlu makanan yang berat, yang penting ada yang masuk ke perutnya. Dan tolong hindari makanan yang asam. Raka sangat tidak menyukai makanan asam dan makanan itu cepat memicu maag Raka kambuh.” Jelas Mama Maira panjang lebar.
“Bagaimana dengan makanan pedas Ma? Apa Raka bisa memakannya?” tanya Riri lagi karna ia sendiri sangat menyukai makanan pedas. Akan sangat merepotkan baginya jika Raka tidak bisa memakan makanan pedas. Itu berarti ia harus menyiapkan makanan lain tiap makan bersama.
__ADS_1
“Raka bisa memakan makanan pedas selama hal itu masih wajar sayang. Jika terlalu pedas biasanya Raka akan mencucinya jika ia benar-benar ingin memakannya. Tolong jaga dan rawat anak Mama ya Ri. Mama tahu kau bisa menjadi istri yang baik. Segeralah beri kami momongan.” Tambah Mama Maira diakhir kalimatnya yang membuat Riri bergidik ngeri. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana bercumbu dan bercinta dengan Raka. Oh itu tidak mungkin, batinnya.
“Baik Ma, doakan yang terbaik untuk kami. Apa Raka memiliki alergi makanan Ma?” tanya Riri memastikan supaya ia tidak memasak makanan yang bisa memicu alergi jika suaminya itu memiliki alergi terhadap makanan tertentu.
“Tidak ada nak, Raka pemakan segalanya. Tapi usahakan disetiap makanannya harus ada sayur karna Raka lumayan susah untuk memakan sayur apalagi sayuran mentah.”
“Baiklah, akan aku ingat dengan baik. Apa Mama mau berbicara dengan Raka?”
“Tidak nak, tadi saat dia baru saja sampai Mama sudah menelponnya. Baiklah Mama tutup dulu ya Ri, kau lanjutkanlah me time mu itu.”
Meskipun selama ia tinggal di Bali ada asisten rumah tangga yang membantu mengurusi rumahnya, untuk urusan memasak makanan Riri-lah yang melakukannya sendiri. Asisten rumah tangganya hanya menyiapkan bahannya. Selebihnya ia eksekusi sendiri untuk pemasakannya. Jadi tidak heran jika orang-orang terdekatnya tahu kalau wanita itu bisa bahkan pandai memasak.
Riri membasuh mukanya sekalian mandi untuk membersihkan diri. Ternyata ia tertidur cukup lama hingga jam sudah menunjukan pukul dua siang. Setelah mandi ia berencana untuk memasak sehingga Raka tidak akan kelaparan jika ditinggal olehnya nanti.
Setelah selesai mandi dan membersihkan badannya, Riri bergegas turun menuju dapur untuk memeriksa bahan makanan yang ada sekalian meminta Mbok Ila untuk mempersiapkan bahan masakannya.
__ADS_1
“Mau masak apa Ndoro?” tanya Mbok Ila ketika melihat Riri sedang memeriksa isi kulkas. Mbok Ila merupakan salah satu asisten keluarga Riri yang bekerja dari Mami Vindi baru menikah dengan Papi Gruno. Dan karena Mami Vindi masih memiliki darah dari keraton Surakarta maka dari itu Mbok Ila memanggil keluarga mereka dengan panggilan Ndoro. Ndoro Ajeng untuk anak perempuan dan Ndoro Mas untuk anak laki-laki.
“Aku ingin membuat laksa udang, apa bahan-bahannya ada? Selain itu aku juga ingin membuat spring roll. Oh ya Mbok, tolong setiap pagi buatkan nasi jika aku belum bangun. Tidak usah terlalu banyak. Nanti biar aku yang memasak lauknya karna Raka tidak bisa sarapan tanpa nasi.”
“Bahan-bahannya ada Ndoro, biar saya siapkan. Nggih Ndoro ajeng, mulai besok pagi Simbok akan memasak nasi untuk Den Raka.” Jawab Mbok Ila sambil mengeluarkan bahan-bahan yang akan digunakan Riri untuk memasak dan membuat spring roll.
Riri mengamati lingkungan tempat tinggalnya. Ia bahkan sampai berjalan ketepian kolam renang. Mencari keberadaan suaminya yang entah berada dimana. Semenjak selesai brunch tadi ia sama sekali tidak melihat Raka.
“Mbok, dimana Raka?” tanya Riri yang tidak menemukan keberadaan Raka.
“Tadi Den Raka pergi keluar menggunakan sepeda motor. Maaf tadi Simbok tidak sempat ijin pada Ndoro ajeng karna kata Non Arlin Ndoro Ajeng sedang istirahat.” Sahut Mbok Ila sambil sedikit meremas celemek yang ia kenakan. Takut jika Ndoro Ajeng-nya marah. Karna setahunya Riri sangat benci jika sesuatu yang menjadi miliknya disentuh tanpa seijinnya.
“Tidak perlu takut Mbok, aku tidak akan marah. Lagipula yang memakai motorku adalah suamiku sendiri. Tolong layani Raka seperti Mbok Ila melayaniku. Bagaimanapun saat ini dia sudah menjadi suamiku. Biarkan dia menggunakan sesuatu yang ingin ia gunakan meskipun itu milikku. Tidak perlu meminta ijin dariku mbok.” Jelas Riri sambil tersenyum yang membuat Mbok Ila bernafas lega.
Ia mengira jika Riri sudah mulai menerima pernikahannya. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah Riri sedang mencoba untuk mengendalikan emosinya dalam menghadapi Raka dan menghadapi pernikahan konyol ini. Ia tidak boleh terus menerus mengedepankan emosinya karna semuanya bisa dibicarakan dengan baik-baik.
__ADS_1
Selain itu Riri juga harus lebih berhati-hati di depan Mbok Ila. Ia tahu pasti jika asistennya itu juga merangkap sebagai mata-mata yang akan melapor tiap tindak tanduknya kepada kedua orang tuanya. Oleh karena itu ia tidak boleh bertindak gegabah yang justru nanti akan menjadi bumerang baginya.