
“Iya, aku akan menemanimu.” Riri memaksakan senyumnya untuk Raka. Dia tidak ingin membahas sesuatu hal lagi yang akan membuat mereka bertengkar.
Seperti malam sebelumnya, malam ini Riri sendiri yang menemani Raka. Suaminya itu mengatakan jika ia sudah mengabari kak Eric mengenai kondisinya dan memintanya untuk merahasiakan dari keluarganya. Tentu saja Eric menyanggupi permintaan Raka dan mengatakan besok akan kembali ke Bali dengan penerbangan pertama.
“Apa kau sudah makan? Apa kau makan sup ikan yang tadi aku bawakan?” Riri menatap Raka sekilas lalu menyibukkan dirinya dengan laptop karna ia harus mengerjakan beberapa pekerjaannya yang hampir seharian ini dia tinggalkan.
“Sudah ku makan, besok bisakah kau membuatkanku pumpkin soup. Entah kenapa tiba-tiba aku ingin memakan itu.” Pinta Raka sambil menonton televisi tanpa menatap Riri.
__ADS_1
“Ya baiklah, besok akan kubuatkan.” Riri menatap sosok Raka beberapa saat karna sepertinya suaminya itu tidak mempedulikannya sama sekali. Berbeda dengan Shelo, tadi saja Riri sempat melihat saat kedunya tengah bercanda. “Apa kau sudah lama mengenal Shelo?” tanya Riri berusha menyembunyikan rasa penasarannya. Ia bertanya dengan nada yang dibuat sedatar mungkin agar Raka tidak bisa merasakan gejolak didalam hatinya. Bahkan Riri berpura-pura sibuk dengan laptopnya sehingga ia bertanya tanpa menatap wajah Raka.
Mendengar pertanyaan Riri, Raka menoleh pada istrinya. Dilihatnya istrinya masih berkutat dengan laptop miliknya. Mungkin pekerjaan Riri saat ini sedang banyak-banyaknya. “Sedari aku kuliah.” Jawab Raka singkat lalu kembali menatap layar televisi yang menayangkan pertandingan sepak bola.
Rupanya Raka mengenal Shelo cukup lama, berarti sekitar hampir sepuluh tahun yang lalu. apakah Shelo menyukai Raka sejak lama? Kenapa mereka bisa bertemu kembali disini? Bukankah Raka berkuliah di Bandung waktu itu? Beberapa pertanyaan itu hanya bisa berputar-putar di kepalanya. Ia belum memiliki cukup keberanian untuk bertanya lebih lanjut pada Raka. Apalagi ini adalah hari pertamanya bertemu dengan Shelo.
“Eh, maaf aku terlalu fokus. Tentu saja Shelo cantik, apa kau menyukainya?” tanya Riri yang kini tidak berani menatap Raka. Entah kenapa dia justru menanyakan hal tersebut.
__ADS_1
“Tentu saja aku menyukainya. Kalau aku tidak menyukainya mana mungkin aku mau ditunggui olehnya.”
“Baguslah kalau begitu, kalian berdua juga sudah mengenal cukup lama. Jadi tidak akan ada kendala kedepannya.” Riri memberi respon sedatar mungkin meskipun hatinya merasa seolah tidak rela. Ia terus berpikiran mungkin Bela juga merasakan hal yang sama saat Raka akan menikah. Terbiasa hidup bersama Raka, terbiasa memiliki adik laki-laki dan kini adik lelakinya akan menemukan seseorang yang mewarnai hidupnya.
“Aku rasa juga begitu. Apa kau setuju jika aku berkencan dengannya?” kini Raka menatap Riri dengan seksama. Menunggu istrinya juga menoleh ke arahnya dan memberikan jawaban.
Riri menatap Raka dengan intens, sambil berucap “Selagi membuatmu bahagia aku pasti akan mendukungmu. Istirahatlah jangan tidur terlalu malam, kau masih seorang pasien.” Riri beranjak dari sofa lalu mengambil remote televisi yang dibawa oleh Raka. Ia mematikan televisi tersebut lalu membaringkan tempat tidur Raka. Setelah itu ia merapikan selimut Raka dan kembali ke sofa untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda sedari tadi.
__ADS_1
Ia mencoba untuk fokus kembali pada pekerjaannya meskipun susah. Akhirnya Riri mengabaikan pekerjaannya dan segera menghubungi Arlin. Memintanya agar besok segera kembali ke Bali karna Raka masuk rumah sakit. Ia juga berpesan pada Arlin agar jangan memberi tahu siapapun. Bahkan tanpa persetujuan Arlin, Riri sudah membelikan tiket pesawat untuk asistennya tersebut. Dan hal itu tentu saja membuat Arlin membabi buta karna Riri benar- benar memaksanya untuk kembali ke Bali lebih cepat.