
“Baiklah panggil sesukamu saja, tapi aku tetap akan memanggilmu Gerry. Aku tidak terbiasa dengan panggilan sayang. Karna sejujurnya aku hanya berkenalan selama empat bulan dengan suami pertamaku lalu kami menikah. Selain dia aku tidak pernah berkencan dengan siapapun.” Riri menceritakan masa lalunya yang membuat Gerry semakin yakin untuk menjalani kencan dengan wanita dihadapannya ini. Riri merupakan wanita polos yang memiliki nasib percintaan kurang baik menurutnya.
"Tidak masalah, lama-lama kau pasti akan belajar.” Gerry menatap jam dipergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul empat sore. Mereka harus segera kembali jika tidak ingin kemalaman. “Ayo kita pulang, setelah itu pergilah ke rumah sakit bae. Kalau kau membutuhkanku hubungi segera. Lagipula kau sudah tahu alamat villaku yang tidak jauh dari rumah sakit bukan?” ajak Gerry sambil membantu Riri merapikan barang-barangnya. Wanita itu hanya mengangguk lalu mereka berdua mulai menyusuri jalan pulang dengan status yang baru.
Kekasih? Teman kencan? Entahlah, yang jelas mulai saat ini Riri dan Gerry akan memulai hubungan mereka. Saling mengenal satu sama lain dan hingga akhirnya perasaan merekalah yang akan menuntun kemana muara hubungan keduanya.
__ADS_1
Gerry mengantarkan Riri terlebih dulu untuk kembali ke villanya karna wanita itu harus berganti pakaian dan membersihkan diri. Sebelum dirinya kembali ke villa Gerry untuk mengambil mobilnya dan pergi kerumah sakit dimana Raka dirawat yang tidak jauh dari villa Gerry.
Mbok Ila sampai berdecak kagum melihat Gerry yang tengah duduk diruang tamu. Laki-laki itu adalah bentuk nyata dari ciptaan Tuhan yang sempurna. Begitu tampan khas pria barat dengan wajah putih bersih, hidung mancung. Mata yang tajam dengan manik berwarna biru keabu abuan dan warna rambut coklat. Siapapun pasti akan dengan mudah jatuh cinta padanya. Ia sendiri sampai heran dimana majikannya menemukan pria bule seperti itu.
Riri hanya mengatakan pada Mbok Ila jika Gerry adalah temannya dan ia merupakan seorang dokter. Setelah itu Riri dan Gerry kembali melajukan sepeda motornya untuk menuju tempat selanjutnya. Riri juga tidak sempat mampir ke villa milik Gerry karna sudah baginya sudah malam dan ia juga mengkhawatirkan kondisi Raka.
__ADS_1
Riri membuka pintu kamar Raka perlahan, ia melongokkan kepalanya terlebih dahulu. Rupanya Raka masih terjaga sambil berbincang dengan Shelo dan bisa ia lihat jika kini Shelo tengah tertawa. Keduanya menoleh bersamaan saat Riri mulai memasuki ruangan tersebut.
“Hai, apa aku mengganggu?” Riri berbasa-basi sambil tersenyum.
“Tentu saja tidak. Daritadi aku menunggumu kak, sangat melelahkan seharian menunggui Raka. Karna kau sudah ada disini maka sekarang aku akan pulang.” Jawab Shelo tersenyum balik dan beranjak dari kursi yang dia duduki.
__ADS_1
“Ah maafkan aku, banyak pekerjaan yang harus aku tangani.” Sahut Riri dengan nada tidak enak karna meninggalkan Raka cukup lama sehingga Shelo menjaganya seharian.
“Tak apa, kalau begitu aku pergi dulu. Bye Ka, bye kak.” Pamit Shelo lalu berjalan keluar kamar. Sepeninggal Shelo kini tinggalah Raka dan Riri yang saling berdiam. Riri memilih duduk di sofa yang agak jauh dari Raka karna dia juga lelah beberapa jam ini naik motor. Sehingga ia butuh space untuk merentangkan tubuhnya.