
“Ka, apa kau akan lebih menyayangi anak kita daripada aku ketika anak ini lahir?” tanya Riri dengan tatapan sendunya. Hal itu membuat Raka menghentikan aktifitasnya dan menatap istri tercintanya dengan intens.
“Kenapa kau berkata seperti itu? Tentu saja kau yang menjadi prioritasku daripada yang lainnya termasuk anak kita nanti. Kau ratunya sayang.”
“Tapi semenjak tahu jika aku hamil, kau lebih sering membelai perutku daripada kepalaku. Padahal aku lebih suka jika kau membelai kepalaku seperti dulu.” Adu Riri menahan tangisannya. Semenjak hamil wanita yang satu ini memang lebih sensitif jika menyangkut perhatian dari Raka.
__ADS_1
“Astaga, aku benar-benar menikahi seorang kucing besar.” Raka tergelak mendengar ucapan Riri. Dibawanya istrinya itu untuk beristirahat diranjang dan dengan telaten Raka mulai membelai kepala Riri. “Maaf sayang, aku tidak tahu jika kau merasa seperti itu. Katakan saja jika kau ingin dibelai, aku dengan senang hati pasti akan melakukannya. Bukan maksudku lebih menyayangi anak kita, tapi aku bahagia saat tahu ada kehidupan baru di rahimmu yang merupakan keturunan Janitra.” Raka mencoba memberi penjelasan sehalus dan selembut mungkin agar Riri tidak tersinggung.
“Aku pikir kau akan lebih menyayangi anak kita daripada aku. Dia yang masih berada dalam kandungan saja sudah mendapat perhatian darimu dan kau melupakan aku.” Manja Riri yang lagi-lagi membuat Raka tertawa geli. Istrinya benar-benar memiliki pemikiran yang lucu.
“Kalian berdua adalah hidupku, duniaku dan kau ratuku. Tidak ada yang bisa menggantikanmu. Aku tidak mungkin melupakanmu sayang, kau tahu dengan jelas jika aku sangat mencintaimu bukan? Maka dari itu jika kau menginginkan sesuatu dariku katakan saja. Aku bukan dukun atau peramal yang bisa membaca pikiran orang.” Ujar Raka yang hanya dibalas anggukan oleh Riri. Wanita itu sudah setengah terpejam dengan nyaman di dada bidang milik suaminya.
__ADS_1
“Aku pikir tidak penting untuk membuka aib seseorang. Apalagi seseorang itu adalah mantan suamiku sendiri. Tapi ternyata dia sendiri yang justru membukanya. Aku hanya membantu membukanya sampai tuntas.”
“Aku sunguh tidak menyangka jika Dewa seperti itu. Untung saja kak Lin tidak terpengaruh dan setia kepadamu. Kau tahu sejak lama jika suamimu menggoda tangan kananmu tapi kenapa kau diam saja?” tanya Raka lagi yang tidak mengerti jalan pikirannya.
“Arlin tidak bodoh dan aku tahu bagaimana kesetiannya. Jadi mana mungkin dia tergoda dengan Dewa yang seperti itu. Aku diam saja karna aku malas berdebat, membuang-buang waktu. Sedari awal aku sudah tahu jika pernikahanku dengannya akan berujung dengan perceraian. Makanya saat dulu kau memintaku untuk menjalani pernikahan ini aku juga menolaknya bukan? Aku takut kalau kejadian seperti itu terulang lagi, maksudku aku takut kau tidak bisa mencintai aku.”
__ADS_1
“Aku tidak sepertinya sayang!” ucap Raka menegaskan. “Aku ingin menjalani pernikahan denganmu bukan hanya karna takut jika dicoret sebagai ahli waris. Tapi aku merasa pilihan orang tuaku mungkin tepat dan mungkin sudah saatnya aku menurut pada orang tua. Karna pilihanku sendiri ternyata memang buruk.” Tambah Raka sedikit mengenang masa lalu. Pilihannya adalah Jessi dan ternyata berakhir dengan tidak baik.