
“Baiklah lebih baik kita memesan makanan lebih dulu. Perkenalannya bisa dilanjutkan lagi setelahnya.” Sela Eric yang sudah jengah dengan situasi seperti ini. Mereka kebetulan berada di sebuah café pinggir pantai dengan konsep fushion food. Jadi tidak hanya menghadirkan makanan western saja, tapi banyak berbagai makanan dari nusantara dan negara asia lainnya.
Riri terkejut saat Raka ikut memesan tomyam seperti Shelo. Suaminya itu baru saja beberapa hari yang lalu keluar dari rumah sakit dan dia tidak bisa makan makanan asam. Setahunya tomyam merupakan makanan dengan kuah asam dan sedikit pedas dari negara Thailand. Dokter bahkan menyuruh Raka untuk memakan makanan yang lembut dan tidak melanggar pantangannya.
“Kau tidak boleh makan tomyam! Apa kau lupa jika kau belum diijinkan memakan makanan asam dan pedas? Meskipun tomyam tidak terlalu asam dan pedas, tapi lebih baik kau jangan memakannya dulu. Pesanlah sesuatu yang lembut Ka. Kau bisa memesan pumpkin soup, creamy tomato soup atau zuppa soup. Ah ya aku ingat waktu dirumah sakit kau ingin memakan pumpkin soup tapi aku belum sempat membuatkannya. Pesanlah itu saja Ka.” Ucap Riri mencegah Raka untuk memesan tomyam.
Ia tidak menyadari jika kini Raka, Shelo, Gerry, Arlin dan Eric sedang memandanginya yang masih sibuk membuka buku menu. “Aku pesan ikan bakar, dan extra lalapan saja. Oh ya, mintalah sambal matang Lin karna kau tahu aku tidak suka sambal mentah.” Tambahnya sambil menutup buku. Riri memang menyuruh Arlin yang memesan karna gadis itulah yang sedang mencatat pesanan mereka. “Kenapa kalian menatapku seperti itu?” tanya Riri saat mendongakkan wajahnya dikala selesai menyebutkan pesanannya. Ia tak paham karna ditatap oleh semua orang yang ada di meja.
__ADS_1
“Kak Riri sungguh sangat manis. Kau beruntung Ka memiliki kakak sepertinya.” Pujian Shelo terasa seperti menusuk telinga Riri. Riri pun memaksakan senyumnya.
“Kau sudah menjadi kekasih Raka, jadi mulailah untuk mengetahui hal-hal yang disukai dan tidak disukainya. Makanan apa saja yang boleh dan tidak boleh ia makan. Kau sudah mengenal Raka cukup lama, aku rasa tidak akan susah untukmu melakukan itu semua Shel.” Ujar Riri lagi.
“Jadi kau akan pesan apa Ka ?” kini gantian Arlin yang bertanya karna lelaki itu belum juga memesan makanannya setelah tadi ia ingin memesan tomyam namun ditahan oleh Riri.
“Baiklah, akan aku tulis pumpkin soup ya?” Arlin memastikan lagi namun hanya dijawab deheman oleh Raka.
__ADS_1
Setelah menyerahkan pesanan mereka kepada waitress, kini keenam anak manusia itu mulai berbincang untuk lebih mengenal satu sama lain. Khususnya lebih mengenal Gerry.
“Jadi kau seorang dokter rupanya? Pantas saja jika Riri menyukaimu, kau sungguh lelaki yang sangat sesuai dengan kriterianya. Apa kau tahu jika Riri juga dulu ingin menjadi dokter?” jelas Eric yang dengan santai, mencoba mengakrabkan diri dengan Gerry, lelaki yang seusia dengannya. Gerry pun menatap wanita disampingnya itu, heran dengan apa yang Eric baru saja ucapkan.
“Apa itu benar? Kau pernah ingin menjadi seorang dokter?” tanyanya pada Riri dan wanita itupun mengangguk mengiyakan pertanyaan dari Gerry.
“Itu semua hanya masa lalu. Aku pernah menempuh pendidikan dokter selama satu tahun namun aku harus berganti jurusan untuk meneruskan bisnis keluargaku.” Jawabnya datar sambil menatap mata Gerry dengan intens. Mata itu selalu saja membiusnya, membuatnya ingin terus menatapnya.
__ADS_1