
Beberapa bulan kemudian,
Kini seluruh keluarga Janitra dan juga Huleeo tengah berkumpul dikediaman Raka dan Riri. Mereka sengaja untuk berlibur bersama sekaligus menjenguk anak-anak mereka yang tidak pernah pulang sama sekali apalagi Raka. Semenjak bertugas di Bali, laki-laki itu belum pernah pulang ke Solo sekalipun.
Dimana Jessi? Gadis itu masih berada ditempat Om Darrel untuk mendapatkan pendidikan dan pelatihan bisnis. Lagipula Jessi juga tidak mau ikut, entah karna ia malas bertemu dengan kakak dan mantan kekasihnya atau karena dia merasa sungkan. Hanya dia yang tahu.
“Bby, bisakah kau menggeser tubuhmu? Kau terus saja menempeliku seolah-olah aku akan pergi darimu.” Riri berusaha menggeser tubuh Raka yang terus saja menempelinya seperti lem. Akhir-akhir ini tingkah suaminya menjadi aneh.
Raka tidak bisa jauh sedikit saja darinya, dan selalu merengek. Sewaktu bekerja pun Raka menonton cctv di villa agar bisa memantau keadaan istrinya dirumah. Riri sendiri heran sekaligus sebal jika Raka terlalu menempelinya. Membuatnya kesulitan beraktifitas.
__ADS_1
Tingkat kemanjaan suaminya berubah drastis, bahkan Raka tidan sungkan memeluk, menciumnya bahkan mendusel padanya didepan Mbok Ila, Arlin maupun Eric. Sama seperti saat ini, ia terus menenggelamkan wajahnya diceruk leher milik Riri sambil memeluk istrinya dari samping. Ia tidak peduli padahal disitu ada seluruh keluarga besarnya dan kedua mertuanya.
“Bby….” Geram Riri saat Raka tidak mau beranjak sedikitpun, yang justru semakin mengeratkan pelukannya. Tentu saja ia malu karna Raka melakukan hal itu ditempat umum. Jika mereka sedang berdua dikamar, dengan senang hati Riri dipeluk oleh suaminya itu.
“Kenapa tingkahmu seperti bayi besar? Tenanglah tidak akan ada yang mencuri istrimu.” Ledek Bisma yang melihat bagaimana manjanya sikap Raka pada Riri. Ia tahu Riri tengah menahan malu sekaligus risih karna suaminya bermanja padanya didepan banyak orang.
Papi dan Maminya serta Papa dan Mama Raka hanya bisa menggeleng melihat tingkah Raka yang begitu manja. Mereka tahu Raka memang sangat mencintai istrinya, bahkan tidak sungkan menunjukkannya didepan siapapun.
“Ma, bukankah Mama pernah bercerita padaku sewaktu hamil kak Elang dan hamil Raka sikap Papa berubah menjadi manja?” ujar Bela tiba-tiba. Mama Maira tersenyum dan mengangguk. Didetik berikutnya ia kegirangan sendiri saat menyadari arah ucapan anak perempuannya itu.
__ADS_1
“Ri, kapan terkahir kali kau haid nak?” Mama Maira sudah mengembangkan senyumnya. Mami Vindi yang kini mengerti pun ikut berbinar dan menanti jawaban dari anak sulungnya. Lain halnya dengan Papa Rendra dan Papi Gun yang belum mengerti arah pembicaraan mereka.
“Mmm kapan ya?” Riri berusaha mengingat-ingat.
“Sepertinya sudah lama sekali, aku bahkan tidak pernah libur setiap harinya.” Sahut Raka tiba-tiba yang langsung membuat Riri melotot dan memukul keras paha suaminya hingga Raka mengaduh. Suaminya ini benar-benar tidak bisa menyimpan rahasia.
“Pantas saja sekarang setiap pagi kau sudah jarang memasak, rupanya kau sibuk berolah raga bersama Raka.” Sindir Arlin yang lagi-lagi membuat Riri malu. Ia melempar asistennya itu dengan bantal sofa yang ada disebelahnya. Namun Arlin bisa menghindar lalu tertawa mengejek Riri karna lemparannya tidak mengenainya.
“Sudah stop, lebih baik kita periksa saja ke dokter.” Mama Maira menengahi, ia sudah tidak sabar menunggu jika hasilnya sesuai dugaannya.
__ADS_1