
Tepat tengah malam Raka baru kembali ke villa. Untung saja dia sudah membawa kunci cadangan sehingga tidak akan merepotkan orang rumah untuk membukakan pintu. Ia langsung menuju lantai dua karna sudah merindukan istri yang sangat ingin ia temui sejak tadi. Lampu kamarnya mati total, itu berarti sang istri sudah tidur.
Berbekal flashlight dari ponselnya, Raka memasuki kamarnya lalu bergegas membersihkan diri untuk segera bergabung dengan Riri. Karna besok pagi-pagi buta ia harus segera kembali menyelesaikan permasalahan hari ini.
“Aku merindukanmu.” Raka menarik Riri kedalam dekapannya, mendaratkan ciuman di bibir, pipi dan kening wanitanya. Sejak penyatuan mereka semalam, ia sudah tidak sungkan lagi untuk mencium wanita yang berstatus istrinya tersebut.
Riri tidak menyahuti Raka sama sekali meskipun ia tahu suaminya sudah pulang. Aroma maskulin dari tubuh Raka yang terhirup oleh indra penciumannya menandakan kini ada suami disebelahnya. Karna rasa kantuk yang luar biasa, Riri lebih memilih untuk membiarkan Raka.
*
__ADS_1
*
*
Ada sedikit perasaan kecewa saat menyadari suaminya sudah tidak ada disampingnya saat ia bangun tidur. Semenjak pergulatan panas mereka, Riri masih belum bisa bertemu Raka meskipun ia tahu semalam Raka pulang dan tidur disampingnya.
Wanita itu enggan untuk menanyakan keberadaan Raka pada Eric. Bukankah seharusnya Eric selalu bersama Raka karna ia merupakan asisstennya? Tapi kenapa Raka justru berangkat pagi-pagi buta sendiri dan tanpa Eric. Sedangkan pria itu kini tengah sarapan pagi bersamanya dan Arlin.
“Tidak, hari ini aku ada janji dengan Gerry.” Tolak Riri sambil mengaduk-aduk mangkuk serealnya tanpa berniat untuk memakannya.
__ADS_1
“Apa kau ada masalah dengan Gerry? Kenapa mukamu sangat lesu dan makananmu tidak kau sentuh sama sekali?” kini Eric yang bertanya pada Riri. Heran dengan sikap Riri yang akhir-akhir ini seperti bukan dirinya.
“Ah tidak kak, aku hanya sedang berpikir bagaimana hidup di negara orang tanpa Arlin.” Bohong Riri sambil mencoba tersenyum.
“Kalau begitu ajaklah aku.” Rengek Arlin manja yang mebuat Eric mencebikkan bibirnya.
“Kalau kau ikut denganku, bagaimana dengan kak Eric?” goda Riri yang membuat Arlin dan Eric saling berpandangan namun sedetik kemudian saat kedua tatapan mereka bertemu baik Arlin maupun Eric langsung membuang muka.
“Dia sudah menolakku Ri, semalam aku sudah mengajaknya untuk menikah tapi Arlin justru menolakku mentah-mentah.” Adu Eric yang membuat Arlin melotot tajam padanya sedangkan Riri menggeleng tidak percaya.
__ADS_1
“Mana ada orang melamar seperti itu, paling tidak contohlah Raka ketika melamar istri singanya dengan makan malam romantis ya meskipun akhirnya berujung dengan penolakan yang Riri lakukan.” Ucap Arlin tanpa sengaja. Gadis itu buru-buru menutup mulutnya saat dirinya sadar sudah keceplosan.
Riri hanya tersenyum getir mengingat peristiwa itu. Entah mengapa saat ini ia berharap jika apa yang dulu Raka lakukan adalah karena Raka memang benar-benar mencintainya bukan karena Raka salah mengartikan perasaanya seperti yang ia duga selama ini. “Dengar itu kak, perempuan suka diperlakukan romantis. Lain kali lamarlah Arlin dengan benar, aku pastikan dia tak akan menolakmu.” Sahut Riri dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Kemudian ia menyelesaikan sarapnnya karna ia sendiri harus membersihkan villa setelah sarapan. Mengingat dia sedang meliburkan Mbok Ila.