Cinta Raka Buat Riri

Cinta Raka Buat Riri
Suami


__ADS_3

Hampir satu jam lamanya Riri menetralisir mulutnya. Setelah itu barulah ia kembali ke kamar dan mendapati Raka tengah tertidur. Wanita itu akhirnya menggosok giginya dan membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum akhirnya ikut menyusul Raka untuk tidur. Sekelebat kejadian tadi membuatnya kembali terjaga, saat ia teringat Raka membantu mengusap keringatnya.


Setelah penolakannya tempo lalu, sikap Raka perlahan-lahan berubah sedikit menjauhinya. Entah hanya perasaannya atau memang Raka melakukan hal itu. Yang jelas, kini Raka menjaga jarak dengannya. Sudah jarang kontak fisik yang mereka lakukan. Bahkan Raka sudah tidak pernah kedapatan memeluknya lagi saat bangun tidur. Raka juga sudah tidak pernah memainkan rambutnya lagi dan membelai lembut kepalanya. Jujur saja Riri merindukan itu semua dalam hati kecilnya.


Ia miringkan tubuhnya agar bisa menatap wajah Raka dengan leluasa karna kebetulan lampu tidur yang berada di atas nakas dekat sisinya belum ia matikan. Suaminya itu tidur dengan gelisah dan banyak mengeluarkan keringat. Sepertinya Raka mengalami mimpi buruk. Riri mencoba untuk menggoyangkan tubuh Raka dengan sedikit keras agar suaminya terbangun. Namun Raka tidak juga bangun.


Baru saja Riri menemukan remote lampu kamar utama dan menyalakannya, Raka sudah lebih dulu berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Apakah Raka bermimpi buruk ataukah dia masuk angin sehingga memuntahkan isi perutnya. Riri mengikuti Raka dengan cepat, namun Raka lebih dulu mengunci pintu kamar mandi.

__ADS_1


“Ka, kau kenapa?” Tok tok tok, Riri terus mengetuk pintu bathroomnya agar Raka membukakan pintu. Namun suaminya itu tidak meresponnya sama sekali karna sibuk memuntahkan isi perutnya.


“Ka bukalah pintunya biar aku membantumu.” Riri semakin khawatir karna suara Raka yang ia dengar terasa sangat menyakitkan.


“Kaa.. buka pintunya Kaa…” teriak Riri sambil terus menggedor pintunya saat ia sudah tidak mendengar suara Raka dari dalam tepat saat suaminya selesai menekan tombol flush pada toilet. Riri menjadi semakin gusar karna tidak ada sahutan dan tidak ada suara apapun dari kamar mandi. Hingga akhirnya ia membuka pintu bathroomnya dengan kunci cadangan namun tidak terbuka karna kunci utamanya masih menggantung di sebalik pintu.


“Mbok, suamiku Mbok… Raka Mbok, apa yang harus aku lakukan?” Tangis Riri pecah saat mendapati suaminya jatuh pingsan dikamar mandi dengan pakaian yang cukup kotor terkena muntahan.

__ADS_1


Dan tanpa merasa jijik, Riri langsung mengganti baju suaminya dan membawa suaminya ke rumah sakit ditemani dengan Mbok Ila. Cukup lama Riri menangis hingga dokter mengatakan padanya jika suaminya menderita maag kronis yang saat ini kambuh sehingga ia muntah-muntah dan pingsan.


“Apakah sebelum ini pasien memakan makanan yang merupakan pantangannya?” tanya dokter saat kini sedang berbicara pada Riri untuk membahas kondisi Raka.


“Seingatku dia memiliki pantangan untuk makan asam dok. Biasanya dia bisa memakan makanan pedas. Tapi tadi dia mencoba makan makanan yang sangat pedas sebelum akhirnya ia muntah-muntah dan pingsan.


“Untuk memastikan apakah cairan asamnya mengenai ginjalnya atau tidak, besok kami akan melakukan USG pada suami ibu karna ditakutkan lambung mengalami kebocoran. Menganalisa dari keterangan yang ibu berikan dan kondisi pasien saat ini ditakutkan hal itu terjadi.” Jelas dokter pada Riri namun Riri justru salah fokus pada perkataan ‘suami’ yang dikatakan oleh dokter tersebut. Apa benar jika Raka terlihat seperti suaminya.

__ADS_1


“Suami? Dokter berkata suami?” tanya Riri tidak percaya


__ADS_2