
“Terserah kau, apalah arti sebuah panggilan. Aku tidak peduli!” jawab Riri acuh sambil beranjak meninggalkan Raka dan Arlin yang masih duduk dimeja makan karna ia sudah menyelesaikan sarapan yang merangkap dengan makan siang. Apalagi suaminya itu sama sekali belum makan karna Mbok Ila selaku asisten rumah tangganya belum pulang dari membeli nasi untuk Raka.
“Disini ada banyak kamar, pilihlah yang kau sukai. Kau bebas menggunakan kamar yang mana. Lebih baik kau tinggal disini. Tidak perlu tinggal di hotel daripada menimbulkan banyak pertanyaan dari kedua orang tua kita nantinya.” Ujar Riri setengah berteriak karna kini dirinya sudah menaiki tangga menuju kamarnya.
Kini tinggalah Raka dan Arlin yang berada dimeja makan. Sama seperti Riri, sebenarnya Arlin juga kurang akrab dengan Raka. Hanya bertegur sapa sesekali saja saat mereka bertemu. Dulu Raka adalah kekasih Jessi sekaligus calon adik ipar Riri.
Tapi kini keadaan berbalik seratus delapan puluh derajat. Raka justru menikah dengan Riri dan Jessi yang kini menjadi adik iparnya.
Dunia memang aneh. Tidak bisa ditebak kejadian semenit bahkan sedetik kedepan. Arlin menggeleng geli mengingat hal itu. Kini ia harus bersikap seperti apa kepada Raka? Suami bosnya itu. Enggan berada lama-lama dalam situasi yang canggung, Arlin pamit undur diri untuk menyusul Riri.
Didalam kamar Riri,
__ADS_1
Wanita itu tengah membersihkan wajahnya. Sepertinya hari ini ia akan melakukan me-time. Arlin sudah hapal betul tabiat sahabat sekaligus bosnya itu. Jika ada kejadian diluar nalar yang membuat mood bosnya itu down, wanita itu pasti akan melakukan me-time seharian tanpa mau diganggu urusan pekerjaan se-urgent apapun.
“Ri, apa kau serius dengan persayaratan yang kau berikan pada Raka? Bukankah Papi bos sendiri melarangmu untuk membeli mobil mewah itu?” Arlin mengingatkan. Memang betul Papi Gun dan Mami Vindi melarang anak sulungnya itu untuk memiliki kendaraan yang tergolong langka di kotanya. Bukan tanpa alasan, Papi Gun terbiasa hidup sederhana dan tidak suka kalau kekayaannya diperlihatkan kepada orang-orang.
“Kau mengenalku sudah berapa lama Lin? Mobil itu memang mobil impianku. Apalagi setelah dua kali melihat mobil itu ada di drama Korea yang pernah ku tonton, Love Rain dan Crash Landing of You. Aku semakin menginginkannya. Lagipula ini Bali, banyak mobil-mobil yang lebih mewah dari Range Rover.” Sahut Riri beragumen.
“Harga mobil itu lebih dari satu milyar Ri. Apa tidak terlalu mahal jika kau meminta mobil itu kepada Raka? Kau bisa menggantinya dengan yang harganya tidak sampai satu Milyar lebih. Kau ingat, harga cincin yang Jessi minta sebagai mahar jauh sekali dibawah harga mobil yang kau minta itu. Aku khawatir Raka akan kesusahan membelinya mengingat kau menyuruhnya untuk membeli dengan uang hasil kerja kerasnya sendiri.”
“Tapi Riri yang ku kenal tidak mungkin sekejam ini. Darimana Raka akan mendapatkan uang sebanyak itu jika harus membeli mobil itu dalam waktu yang cepat. Ingat kau meminta minggu depan mobil itu sudah harus ada di garasi. Sedangkan kau tau sendiri selama ini Raka bekerja asal-asalan. Masih banyak bermain dan selalu mengandalkan orang tuanya. Aku saja ragu apakah dia memiliki tabungan atau tidak. Lain halnya jika dia bekerja dengan benar. Pasti uang segitu tidak ada artinya sama sekali mengingat perusahaan keluarganya bergerak dibidang konstruksi.” Arlin kembali mengingatkan.
“Aku tahu, sangat amat tahu malahan. Maka dari itu aku meminta persyaratan seperti itu agar dia tahu dan dia sadar kalau menikah itu tidak segampang dan seenak yang dia kira. Sebagai laki-laki dia harus bertanggung jawab pada istrinya. Dia perlu kerja ekstra keras untuk menjadi suami seorang Darelona. Hidup itu tidak mudah Lin.” jawab Riri santai sambil mengaplikasi masker ke wajahnya.
__ADS_1
“Lalu jika Raka berhasil membelikan kau mobil itu, apakah kau bersedia menjalani pernikahan ini bersamanya?” ujar Arlin serius. Ia membuat Riri menghentikan gerakan tangannya lalu menatap sahabatnya itu dengan intens.
“Nope! Aku akan membuat dia sadar kalau kita tidak akan bisa bersama. Terlampau banyak hal yang harus disesuaikan dari kita berdua. Dan rasanya sangat aneh Lin. Seseorang yang awalnya akan menjadi Adik iparmu justru berbalik arah menjadi suamimu. Dan aku tidak ingin berurusan dengan Jessi, kau tahu dia seperti apa. Aku sudah cukup lelah dengan mengurusi bisnis keluarga dan tidak ingin ditambah dengan mengurusi Jessi. Lagipula tidak mungkin Raka segampang itu berpaling dari Jessi lalu mencoba menjalani hidup denganku. Perasaannya pasti masih utuh milik Jessi dan aku tidak mau nantinya yang menjadi berkorban lagi dan lagi.” Jelas Riri tanpa menatap kearah sahabatnya.
“Lalu bagaimana nasibmu jika kau meninggalkan Raka? Ingat Ri namamu akan dicoret sebagai ahli waris.” pancing Arlin. Ia tahu meskipun Riri sering hidup sederhana, tapi tetap saja sedari kecil wanita itu tidak terbiasa hidup susah. Tampilan Riri memang sederhana. Tapi bagi orang yang tahu semua yang wanita itu kenakan adalah barang branded.
“Gampang, aku tinggal mencari suami bule yang kaya raya. Tidak masalah tua asalkan duda hahaha…” jawab Riri cuek sambil terbahak. Arlin hanya berdecak sambil menggelengkan kepalanya. Heran dengan isi kepala sahabat baiknya itu. Riri benar-benar terobsesi memiliki suami bule.
“Sudahlah, aku rasa percuma berbicara denganmu saat ini. Lebih baik aku mandi dan bersiap untuk mengecek beberapa minimarket sambil keluar cari angin. Hari ini kau akan berdiam diri dirumah kan?” ujar Arlin sambil berdiri, mulai melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar Riri.
“Iya aku ingin me time, nanti sore kita jalan ke Beach Club seperti biasanya. Cuci mata sekalian mencari bule.” Riri terkekeh sambil merebahkan dirinya dikasur, wajahnya sudah tertutup masker dengan sempurna. Kedua matanya juga sudah ditutup oleh timun. Ia memilih untuk tidur sebentar sambil menunggu maskernya mengering.
__ADS_1